Mengenal Thariqah Mu’tabarah di NU

Tarekat yang diakui sah oleh jam’iyah NU. Berbagai thariqah yang dikategorikan mu’tabarah ini boleh diikuti oleh masyarakat luas. Kata thariqah mu’tabarah sendiri terdiri dari dua kata, yaitu thariqah dan mu’tabarah. Kata thariqah artinya “jalan” atau “cara”. Kata mu’tabarah adalah isim maf’ul yang berarti “sesuatu yang dianggap atau diperhitungkan”. Jadi, maksudnya adalah “jalan spiritual yang diperhitungkan sah untuk diikuti”.

Beberapa organisasi thariqah mengandung ke-mu’tabarah­-an karena ia memiliki sanad muttashil sampai kepada Rasulullah. Kebersambungan ini dipandang bahwa wirid-wirid yang diamalkan kalangan thariqah mu’tabarah diajarkan langsung oleh Rasulullah lewat orang-orang dekat beliau. Kebersambungan sanad thariqah menunjukkan guru-guru thariqah dalam silsilah sanad, sebagai mata rantai penyambung wirid-wirid itu dari Rasulullah.

Ke-mu’tabarah­-an beberapa organisasi thariqah tidak hanya diakui di kalangan NU. Di dunia Islam pun mereka diakui sebagai salah satu khazanah yang memperkukuh tradisi Islam dan diamalkan secara luas. Karena pengamal thariqah mu’tabarah di kalangan Nahdliyin begitu banyak, maka dirasa penting untuk diwadahi dalam organisasi payung.

Para kiai NU pengamal thariqah kemudian membentuk organisasi thariqah yang bernama Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah pada 10 Oktober 1957 di Magelang, Jawa Tengah. Organisasi ini mampu menghimpun dan menyatukan berbagai organisasi thariqah yang ada di kalangan NU. Thariqah yang dihimpun ini satu sama lain saling berbeda-beda. Namun, organisasi yang mampu menghimpun dan mempersatukan para pengamal thariqah mu’tabarah ini mengalami perpecahan pada tahun 1979.

Perpecahan organisasi thariqah mu’tabarah terjadi ketika dipimpin oleh KH. Musta’in Ramli. Saat itu, ia adalah mursyid Qadiriyah-Naqsyabandiyah dan diangkat sebagai pemimipin thariqah mu’tabarah. Pada 1979, ia masuk Golkar. Padahal, saat itu NU masih terikat menjadi partai di bawah fusi PPP.

Langkah KH. Musta’in Ramli itu membuat organisasi thariqah mu’tabarah mengalami perpecahan. Mereka yang tetap ada di bawah naungan NU menjadi Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nadhliyyah (JATMAN). Disini ada tambahan kata “an-Nahdhliyyah”-nya. Ketika organisasi ini dibentuk. Pemimpin umumnya dijabat oleh KH. Adlan Ali. Kiai ini juga penganut dan menjadi mursyid di Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah, memisahkan diri dari KH. Musta’in Ramli.

Sebagian yang tidak tergabung dalam JATMAN membentuk Jam’iyah Ahli ath-Thariqah al-Mu’tabarah Indonesia (JATMI). Organisasi ini di bawah pimpinan K.H. Musta’in Romli. Tokoh yang sebelumnya menjadi ketua umum Jam’iyyah Ahli ath-Thariqah al-Mu’tabarah sebelum ada perpecahan.

Berbagai thariqah mu’tabarah yang diakui NU diantaranya: (1) Umariyah; (2) Naqsyabandiyah; (3) Qadiriyah; (4) Syadziliyah; (5) Rifa’iyah; (6) Ahmadiyah; (7) Dasuqiyah; (8) Akbariyah; (9) Maulawiyah; (10) Kubrawiyah; (11) Suhrawardiyah; (12) Khalwatiyah; (13) Jalwatiyah; (14) Bakdasiyah; (15) Ghazaliyah; (16) Rumiyah; (17) Sa’diyah (18) Chistiyah; (19); Sya’baniyah; (20) Kalsyaniyah; (21) Hamzawiyah; (22) Bairumiyah; (23) Usysyaqiyah; (24) Bakriyah; (25) Idrusiyah; (26) Utsmaniyah; (27) Alawiyah; (28) Abbasiyah; (29) Zainiyah; (30) Isawiyah; (31) Buhuriyah; (32) Haddadiyah; (33) Ghaibiyah; (34) Qadiriyah Naqsyabandiyah; (35) Syathariyah; (36) Bayumiyah; (37) Malamiyah; (38) Uwaisyiyah; (39) Idrisiyah; (40) Thuruq Akabiral Auliya; (41) Matbuliyah; (42); Sunbuliyah (43) Tijaniyah; (44) Sammaniyah dan; (45) Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Selain 45 thariqah mu’tabarah di atas, Muktamar NU 1931 memutuskan hal penting lain yang memperluas cakupan thariqah mu’tabarah. Bagi NU, orang-orang Islam yang mendawamkan membaca Al-Quran, Dala’il Khairat, Fathul Qarib, Kifayatul Awam, dan sejenisnya, juga dipandang mengikuti thariqah mu’tabarah. Bahkan, berdasarkan rujukan yang digunakan dari kitab al-Adzkiya lebih luas lagi. Dalam kitab ini termasuk yang dianggap thariqah mu’tabarah adalah duduk di tengah khalayak sebagai guru, memperbanyak wirid-wirid seperti puasa, shalat, dan melayani masyarakat, dan mencari kayu bakar sebagai pemenuhan sedekah untuk logistik pangan.

Sebuah thariqah bisa menjadi dan diakui sebagai thariqah mu’tabarah kadangkala melewati jalan perdebatan dan diskusi panjang. Di kalagan kiai-kiai NU ini dilakukan untuk memastikan keabsahan sanad dan wirid-wirid yang ada di thariqah itu.

Tijaniyah termasuk thariqah yang pernah mengalami perdebatan untuk bisa disebut sebagai mu’tabarah. Perdebatan tentang Tijaniyah bermula dari pertanyaan, apakah Tijaniyah memilki sanad muttashil sampai kepada Nabi Muhammad? Apakah sah bai’at barzakhiyah dalam Tijaniyah itu? Pertanyaan ini menyiratkan adanya bahan perdebatan dan diskusi untuk bisa diakui sebagai mu’tabarah dengan berliku. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena ada sebagian masyarakat ada yang masih ragu dengan Tijaniyah.

Muktamar NU 1928 akhirnya memperdebatkan Tijaniyah. Muktamar memutuskan bahwa Tijaniyah termasuk thariqah yang memiliki sanad muttashil sampai kepada Rasulullah. Bahkan, bai’at barzakhiyah-nya juga dianggap muttashil. Oleh karena itu, Tijaniyah dapat dianggap sebagai thariqah yang sah untuk diikuti.

Keputusan Muktamar NU 1928 itu diperkuat kembali oleh Muktamar NU 1931. Muktamar ini menyebutkan bahwa Tijaniyah itu sanadnya muttashil sampai kepada Nabi. Semua wirid, dzikir, shalawat, dan istighfar Tijaniyah, telah sah dan benar.

Selain Tijaniyah, thariqah lain yang dianggap mu’tabarah tidak banyak melewati perdebatan dan diskusi panjang. Ini disebabkan berbagai thariqah itu telah diakui oleh dunia Islam dan pengamal thariqah sebagai sah dan sanadnya muttashil sampai kepada Nabi Muhammad saw.

Dari keseluruhan thariqah mu’tabarah itu tidak semuanya ada di Indonesia. Hanya beberapa yang ada dan diikuti masyarakat NU, yaitu: Qadiriyah (dan beberapa cabangnya), Naqsyabandiyah (dan beberapa cabangnya), Syadziliyah, Syathariyah, Sammaniyah, Tijaniyah, dan Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Sumber: Ensiklopedia Nadhlatul Ulama   

Komentar
Loading...