Connect with us

Thariqah

Mengenal Tarekat Syadziliyah: Dari Abu Abbas Al Mursi Hingga Al Busyiri (2)

Published

on

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Berdasarkan ajaran yang diturunkan oleh Imam Syadzili kepada para muridnya, terbentuklah tarekat yang dinisbatkan kepadanya, yaitu tarekat As-syadziliyah. Tarekat ini berkembang pesat antara lain di Tunisia, Mesir, Aljazair, Sudan, suriah hingga ke wilayah Asia termasuk Indonesia.

Tarekat Syadziliyah memulai keberadaannya di bawah salah satu dinasti Muwahhidun yakni Hafsiyah di Tunisia. Tarekat ini kemudian berkembang dan tumbuh subur di Mesir dan Timur Dekat di bawah kekuasaan dinasti Mamluk.

Dalam hal ini yang menarik, sebagaimana dicatat oleh Victor Danner (seorang peneliti tarekat Syadziliyah) yaitu meskipun tarekat ini berkembang pesat di daerah Timur (Mesir), namun awal perkembangannya adalah dari Barat (Tunisia).

Tarekat ini pada umumnya tumbuh dan berkembang di wilayah perkotaan (Tunisia dan Alexanderia) tetapi kemudian juga mempunyai pengikut yang luas sampai daerah pedesaan.

Bergabungnya tokoh terkenal daerah Maghrib pada abad ke-10 Hijriyah seperti Ali al-Shanaji dan muridnya Abdu Rahman al-Majdzub adalah bukti dari pernyataan tersebut. Sejak dahulu tarekat ini juga diikuti oleh sejumlah intelektual terkenal, misalnya ulama terkenal abad ke-9 H yaitu Imam Jalaluddin al-suyuthi.

Sepeninggal Imam syadzili, kepemimpinan tarekat ini diteruskan oleh Abu al-Abbas al-Mursi yang ditunjuk langsung oleh Imam Syadzili. Al-Mursi termasuk murid yang memiliki kualitas spiritual paling tinggi dibandingkan murid Imam Syadzili lainnya.

Suatu ketika Imam Syadzili pernah berkata, “Wahai Abbas! Pandangan luarku telah menyatu dengan batinku, aku merasa bersatu dengan Tuhan. Selama saya hidup saya tidak akan meninggalkan orang-orang kepercayaan dan para pengikutku dan demi Allah, engkaulah yang paling utama di antara mereka”.

Seperti gurunya, al-Mursi di samping mempunyai kualitas spiritual yang tinggi ia juga seorang humanis. Dia sangat concern terhadap kehidupan masyarakat, terhadap orang-orang miskin dan kelaparan.

Seperti juga gurunya, al-Mursi tidak meninggalkan buku atau risalah tasawuf karena beranggapan bahwa karya-karya semacam itu hanyalah buih yang terdampar di tepian samudera kesadaran spiritual yang tanpa batas. Namun sebagaimana gurunya, al-Mursi mewariskan bacaan-bacaan hizib .

Di antara murid-murid al-Mursi adalah al-Busyiri, penyair Mesir terkenal yang berasal dari Berber, yang amat terkenal dengan dua syairnya berupa puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW, yakni al-Burdah dan Hamziyah, yang keduanya sering dilantunkan pada peringatan Maulid Nabi.

Murid yang lainnya adalah Syeikh Najm al-Din al-Ishfahani, murid al-Mursi berkebangsaan Persia yang lama menetap di Mekkah dan menyebarkan ajaran Syadziliyah kepada para jamaah haji. Dan yang termasuk murid al-Mursi adalah Ibn Athoillah Guru Ketiga yang terkemuka dari rantai silsilah tarekat ini.

Melalui tangannyalah dituliskan ajaran, pesan-pesan serta doa-doa Imam Syadzili dan al-Mursi. Ia pula yang menyusun berbagai aturan tarekat ini dalam bentuk buku-buku dan karya-karya yang tak ternilai untuk memahami perspektif Syadziliyah bagi angkatan sesudahnya.

Syeikh Ibn Athoillah mewariskan sebuah katalog yang berisi tema-tema penting yang diajarkan oleh sang guru, syaikh Abu Abbas al-Mursi. Ia menulis beberapa buku antara lain: Kitab al-Hikam; al-Tanwir fi Isqoth at-Tadbir; Lathaif al-Minan; al-Qashd al-Mujarrod fi Ma’rifat al-Ism al-Mufrod; Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah; dan sejumlah karya yang banyak lagi jumlahnya.

Seluruh karyanya ini akhirnya mendominasi karya-karya tarekat As-syadziliyah, sebab dialah Syeikh pertama yang menorehkan pena demi menuliskan ajaran-ajaran tarekat As-Syadziliyah itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, muncul cabang-cabang dalam Tarekat As-Syadziliyah. Pada abad ke-8 H di Mesir muncul sebuah cabang yang akhirnya dinamakan Wafaiyyah, yang didirikan oleh Syamsyuddin Muhammad bin Ahmad Wafa yang juga dikenal dengan Bahr al-Shafa, ayah dari tokoh terkenal Ali bin Wafa.

Wafaiyah berkembang dengan jalannya sendiri seiring dengan pergantian generasi, tersebar di sebagian wilayah Timur Dekat di luar Mesir. Setelah abad ke-9 H mereka menggunakan model pakaian sufi mereka sendiri, seakan gaya Syadziliyah yang umumnya tidak menonjolkan diri tidak diperhatikan lagi dan tidak dapat ditetapkan dengan sejumlah alasan.

Di samping cabang itu, muncul cabang-cabang lainnya yaitu Hanafiyyah, Jazuliyyah, Nashriyyah, ‘Isawiyyah, Tihamiyyah, Darqawiyyah dan sebagainya. (Aktual.com)

Oleh: Mabda Dzikara

Continue Reading

Artikel

Maqam Ihsan Menurut Syekh Yusri

Published

on

By

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah pada pengajiannya menjelaskan tentang maksud dari ilmu tasawuf adalah sampai kepada maqam ihsan.

Tidaklah setiap orang melakukan pekerjaan kemudian ia menyempurnakannya. Begitu pula dengan seorang yang beribadah, maka tidak semua mengerjakannya dengan sempurna sesuai dengan yang dipinta oleh Allah Ta’ala.

Ilmu tasawuf ini mengajarkan kita untuk mewujudkan makna dari maqam ihsan, sehingga kita menjadi orang yang ahli ihsan. Makna ini lebih penting dari pada membahas asal kata tasawuf itu sendiri, karena terkadang lafaz itu membuat kegaduhan dari banyaknya pendapat.

Allah Ta’ala telah berfirman tentang makna ihsan ini, yaitu pada ayat:

“الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا”

Artinya: “Allah Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapakah diantara kalian yang paling baik amalnya “ (QS. Al Mulk: 2).

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa yang akan menjadi pertimbangan adalah kesempurnaan atau kwalitas dari amal kita, bukan kwantitasnya. Pada ayat lain Allah berfirman:

“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya Allah cinta kepada orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)” (QS. Al Baqarah: 195).

Allah mencintai orang yang ihsan dalam amalnya, sehingga maqam ihsan ini adalah maqam yang diridhaiNya. Sebagaimana orang yang bermaqamkan ihsan juga akan mendapatkan rahmatNya, sebagaimana disebutkan dalam Al qur’an:

“إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ”

Artinya: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan“ (QS. Al A’raf: 56).

Syekh Yusri mengatakan bahwa Maqam ihsan adalah menyempurnakan amal perbuatan, dan mempersembahkannya hanya kepada Allah Ta’ala. Tidak bermaksudkan dunia yang ia bisa dapatkan, atau perempuan yang akan ia nikahi sebagaimana dalam hadits baginda Nabi SAW. Yaitu dengan ikhlas dalam beramal dan tidak menyekutukannya dengan selain Allah Ta’ala:

“وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا”

Artinya: “Dan tidaklah ia menyekutukan Allah dalam beribadah kepada Tuhannya dengan sesuatu apapun“(QS. Al Kahfi: 110).

Bukan pula karena surga dan neraka, meskipun dia berharap untuk mendapatkan pahala dan diselamatkan dari neraka, karena dia adalah seorang hamba yang lemah, akan tetapi tidaklah hal ini sebagai faktor utama dalam ibadahnya.

Yang menjadi tujuan utama dalam ibadahnya adalah cinta kepada Allah Ta’ala, karena Allah cinta kepada orang yang ahli ihsan.

Maqam ihsan adalah derajat yang sangat mulia, yang tidak bisa dicapai kecuali dengan riyadhah nafsu dan mentarbiahnya hingga selamat dari perkara yang menghalangi dirinya dari tujuan ini.

Yaitu, menjadikan Allah sebagai tujuan kita, sesuai dengan sifat Allah dalam surat Al Ikhlas yaitu As Somadiyyah yang artinya Allah adalah yang Maha dituju pada setiap sesuatu. Wallahu A’lam.

Sumber: Akun Facebook Ahbab Maulana Syeikh Yusri Rusydi Al Hasany

Continue Reading

Thoriqoh Mu'tabaroh

Thoriqoh Uwaisiyah

Published

on

Thoriqoh Uwaisiyah

Penisbatan tharîqah kepada Uwais al-Qarni Ra (w. 36 H) Abu ‘Amir Uwais bin ‘Amir al-Muradi Tsumma al-Qarn. Beliau adalah termasuk golongan pembesar Tabi‟in (menurut Pendapat yang ashah) (Syaikh Ismâil haqqi bin Musthâfa al-Khalwati al-Barsawi, Tamâm al-Faidh fi Bâbi al-Rijâl. Libanon: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 18), bahkan termasuk pembesar Tabi‟in dan orang yang paling utama pada masanya. Kedudukan Uwais al-Qarni Ra disaksikan sendiri oleh Rasûlullâh Saw., beliau bersabda:

Thoriqoh Uwaisiyah

“Aku mencium nafas tuhan yang Maha Rahman dari arah tanah Yaman”

Yang dimaksud oleh nabi adalah mencium bau harum kekasih Allâh Swt. yaitu Uwais al-Qarni Ra.
Rasûlullâh Saw. menuturkan keistimewaan Uwais dikabarkan Allâh Swt. kepada Umar dan Ali bahwa: ”Ada seseorang dari umatku yang bisa memberikan syafaat di hari kiamat sebanyak bulu domba dari jumlah domba yang dimiliki oleh Rabbiah dan Mudhar (keduanya dikenal karena mempunyai domba yang banyak), lalu para sahabat bertanya: “Siapa dia wahai Rasûlullâh Saw.?”. Rasul Saw. Menjawab: “Ia adalah hamba Allâh Swt”. Siapa namanya ya Rasul? “Rasul menjawab: “Ia bernama Uwais al-Qarni Ra”.

Thoriqoh Uwaisiyah

Rasul Saw. bersabda: “Yang mencegah untuk menemuiku adalah dua hal (1) karena keadaan, dan (2) karena dia menghormati aturan. Sebab dia mengasuh ibunya yang sudah tua, buta matanya, lumpuh kedua tangan dan kakinya. Uwais bekerja sebagai pengembala unta di siang hari dengan upah yang cukup untuk dibelanjakan untuk ibunya, dirinya dan dishadaqahkan kepada tetangganya yang miskin. Para sahabat bertanya apakah kita bisa melihatnya atau tidak? Rasul Saw. bersabda: Abu Bakar al-Shiddiq r.a tidak bisa menemukannya, yang bisa menemukan dia adalah Umar dan Ali. Dia memiliki ciri-ciri berambut lebat, dan memiliki tanda putih sebesar dirham pada bahu kiri dan telapak tangannya tanda putih, tanda putih itu bukan penyakit belang (barosh). Jika kalian menemukan dia sampaikan salamku padanya, lalu mintakan doanya untuk umatku”, (Muslim, Shahih Muslim hadits, Libanon: Dar al-Fikr, nomor: 2542 jilid 4, juz 7, halaman: 188 & Farid al-Din al-Attor, Tadzkirat al-Auliyâ‟, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 49).

Setelah Rasûlullâh Saw. dan Abu Bakar al-Shiddiq r.a wafat, Umar diangkat menjadi Khalifah. Di sela-sela kesibukan Umar sebagai Khalifah beliau teringat tentang sabda Rasul tentang Uwais. Lalu Umar mengajak Ali bin Abi Thalib untuk mencarinya di kota Najt (Yaman). Umar mengumpulkan penduduk Najt dan bertanya: Apakah di antara kalian ada seseorang dari suku Qorn? penduduk Najt menjawab: “Ya”. Kemudian salah satu dari penduduk Qorn mendekati Umar, lalu Umar mengabarkan tentang Uwais dan para penduduk tidak mengenalnya. Dengan nada tinggi Umar berkata: “Nabi Muhammad Saw. pemilik syariat ini tidak berkata sembarangan”. Sebagian penduduk berkata: wahai pemimpin orang mukmin, Uwais adalah orang yang tidak pantas Engkau cari karena dia adalah orang gila lagi gelandangan. ‘Umar berkata: “Aku mendatangi kalian hanya untuknya, di mana dia?”. Para penduduk Najt menjawab: “Dia ada di lembah Uranah sedang mengembala unta di rerumputan, dia mengembala unta sampai waktu sore hari kemudian kami memberinya makan sore, dia tidak bergaul dalam keramaian penduduk, tidak berteman dengan siapapun, tidak memakan makanan orang pada umumnya, tidak bergembira seperti suka cita orang pada biasanya, justru dia menangis tatkala semua orang tertawa, dan dia tertawa tatkala banyak orang-orang menangis”. Umar berkata: “Bawalah aku menemui dia”. Lalu para penduduk mengantar Umar dan Ali menuju ke tempat Uwais, saat itu Uwais sedang shalat, ketika Uwais merasakan kedatangan Umar dan Ali, dia mempercepat shalatnya, lalu ketika Umar melihat Uwais selesai shalat, Umar langsung mengucapkan salam kepada Uwais. Lalu Uwais menjawab salam Umar dan Ali. Umar bertanya: “Siapa namamu?” Uwais menjawab: “Abdullah (hamba Allâh Swt.)”, Umar berkata, kita juga hamba-hamba Allâh Swt., siapa nama yang dikhususkan untukmu. Uwais menjawab: “Uwais”. Kemudian Umar berkata: “Tunjukkan tangan kananmu kepadaku”. Pada saat itu terlihat tanda putih di telapak tangan Uwais seperti yang disebutkan oleh nabi Muhammad Saw. Umar berkata: “Nabi kirim salam kepadamu dan berwasiat kepadamu untuk mendo‟akan aku”. Uwais berkata: “Engkau lebih utama mendo‟akan seluruh orang-orang muslim karena Engkau adalah orang yang paling utama di muka bumi ini”. Umar berkata: “Aku juga mendo‟akan orang mukmin tetapi seyogyanya Engkau mengikuti wasiat Nabi untuk berdo‟a”. Uwais keberatan untuk diminta mendo‟akan, sehingga Uwais berkata: “Wahai Umar mintalah do‟a kepada seseorang selain aku”. Umar membujuk Uwais untuk mau berdo‟a, lalu Umar berkata: “Rasul telah menunjukkan tanda-tandamu kepada kami, dan semua tanda itu ada padamu”. Uwais berkata: “Ambillah wasiat Nabi itu dariku”, lalu sahabat Umar dan Ali kembali ke Madinah, kemudian Uwais bersujud di tanah sambil berdo‟a: “Wahai Tuhanku, kekasihmu nabi Muhammad Saw. telah memindahkan keadaan ini kepadaku, kekasihmu berwasiat kepadaku untuk berdo‟a. Wahai tuhanku, Ampunilah seluruh umat nabi Muhammad Saw.”, (Farid al-Din al-Attor, Tadzkirat al-Auliyâ‟, Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 49-50).

Setelah pertemuan antara Uwais dengan Umar dan Ali, Lalu tersiar kabar bahwa Uwais memiliki derajat yang tinggi, sehingga penduduk kota Yaman selalu mencari dan mendatanginya. Dengan keadaan ini Uwais merasa terganggu untuk bermunajat kepada Allâh Swt., sehingga Ia meninggalkan Yaman agar tidak diketahui keberadaannya oleh penduduk, setelah itu tidak ada yang melihat Uwais di manapun kecuali Harim Bin Hayyan, dia berkata: “Aku mendengar bahwa Uwais bisa diterima syafa‟atnya pada hari qiamat, sehingga aku melakukan perjalanan untuk mencarinya, lama aku mencarinya sehingga hatiku terbuai kerinduan untuk bertemu dengan Uwais. Seluruh desa dan kota telah aku lalui, sehingga aku sampai di kota Kuffah. Pencarianku terhenti pada seorang laki-laki yang memiliki ciri-ciri yang persis seperti yang diceritakan Nabi, Umar, dan Ali. Laki-laki itu sedang berwudhu‟ di pinggir sungai Furadh. Hatiku senang sekali dan berucap salam padanya, kemudian dia menjawab dan melihat ke arahku, kemudian aku ingin mencium tangannya, tapi dia menolak. Aku berkata semoga Allâh Swt. mengasihimu dan mengampunimu wahai Uwais. Bagaimana kabarmu? Setelah aku bertanya seperti itu aku tidak kuasa membendung tangisku karena merasa kasihan terhadap keadaan Uwais yang lemah dan Uwais juga menangis. Usai menangis Uwais berkata: “Wahai Harim bin Hayyan, siapa yang menunjukkanmu kepadaku?”. Aku tidak menjawab pertanyaan itu lalu aku balik bertanya: “Bagaimana Anda tahu namaku dan bapakku ?” Uwais menjawab: “Dzat yang Maha Mengetahui dan Maha Waspada yang menceritakan kepadaku, ruhku telah mengenali ruhmu, karena antara ruh orang-orang mukmin saling mengenal”. Harim, berkata kepada Uwais: “Ceritakanlah kepadaku tentang haditsnya Rasul?” Uwais menjawab: “Aku tidak pernah bertemu dengan Nabi tetapi aku mendengar hadits Nabi yang diriwayatkan dari sahabatnya, aku tidak menyukai membuka pintu fatwa dan pengingat karena aku telah disibukkan selain hal itu”. Lalu aku berkata: “Aku menyukai mendengar ayat al-Qur‟an darimu, kemudian Uwais memegang tanganku sambil mengucapkan ta‟awudz, Uwais menangis tersedu-sedu, kemudian membaca ayat al-Quran:

Thoriqoh Uwaisiyah

Kemudian Uwais menjerit dengan keras, bahkan aku tidak mengetahui apakah akalnya masih ada atau tidak. Selang beberapa saat Uwais berkata: “Wahai Harim bin Hayyan, kenapa engkau mendatangiku?”. Aku menjawab: “Tujuanku mencarimu untuk merasa tenang dan nyaman bersamamu”, Uwais mengomentari jawabanku: “Aku tidak mengerti, bahwasanya orang yang mengenal Allâh Swt. bagaimana ia bisa merasa tenang dan nyaman bersama selain-Nya?”. Aku berkata: “Berilah aku wasiat”. Uwais berkata: “Jadikan kematian di bawah kepalamu (ingat pada kematian) dan di dalam kepalamu dan setelah itu tidak ada pengaruh kehidupan setelah kematian (tidak ingat pada kehidupan dunia dan yang diingat hanya Allâh Swt. semata), jangan Engkau memandang dosa kecil tapi pandanglah pada besarnya maksiat kepada Allâh Swt. karena jika Engkau meremehkan dosa maka Engkau telah meremehkan berpaling dari Allâh Swt”. Harim berkata: “Apa yang Engkau perintahkan kepadaku? Di tempat mana aku bermukim?” Uwais berkata: “Bertempatlah di Syam” Aku berkata: “Bagaimana aku mendapatkan penghidupan di kota Syam (Syiria)?” Uwais berkata: “Jauhkan perasaan itu dari hatimu, karena keragu-raguan telah mencemari hatimu, sehingga nasihat tidak bermanfaat”. aku berkata lagi: “Berilah aku wasiat” Uwais berkata: “Bapakmu Hayyan telah mati, Nabi Adam, Hawa, Nuh, Ibrahim, Musa, Nabi Muhammad Saw. dan seluruh Nabi dan Rasul telah meninggal semua, abu Bakar, Umar bin al-Khattab telah mati” aku bertanya kepada Uwais “apakah Umar bin al-Khattab telah mati?” Uwais menjawab: “Ya. Allâh Swt. telah memberikan kabar kepadaku melalui ilham tentang kematian Umar bin al-Khattab”. Kemudian Uwais berkata: “Wahai Harim, aku dan Engkau termasuk golongan orang-orang yang mati”. Kemudian Uwais membaca shalawat kepada Nabi, berdo‟a dengan do‟a yang pelan. Lalu Uwais berkata: “Wasiatku kepadamu bersuluklah dengan jalan sesuai syari‟at dan Tharîqah orang-orang yang baik, jangan Engkau melupakan dzikir kepada Allâh Swt. walaupun sekejap, jika Engkau sudah sampai kepada kaummu berilah nasihat kepada mereka, jangan Engkau memutus nasihat (mengharapkan kebaikan) dari Hamba Allâh Swt., jangan Engkau menyimpang dari taat kepada pemimpin umat sehingga imanmu tidak keluar tanpa kamu sadari, Engkau tidak mengetahui apakah Engkau akan jatuh ke neraka atau tidak”. Kemudian Uwais berkata: “Wahai Harim, Engkau dan aku tidak akan pernah bertemu sejak saat ini, jangan lupakan aku dalam do‟a, berangkatlah ketika aku berangkat, jangan Engkau tinggalkan aku sedetikpun sebelum kepergianmu”. Lalu aku dan Uwais menangis, kemudian Uwais pergi sementara aku memandanginya dari belakang sampai Uwais naik ke gunung. Setelah peristiwa itu aku tidak melihat dan mengetahui keadaannya, (al-Din al-Attar, Tadzkirat al-Auliyâ‟. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 51–52).

Nasihat-nasihat Uwais al-Qorn

Thoriqoh Uwaisiyah

Maksudnya adalah apabila seseorang sudah ma‟rifat kepada Allâh Swt. (pokok), maka akan mudah baginya semua mahluk (cabang)

Thoriqoh Uwaisiyah

Maksudnya adalah keselamatan itu ada pada menyendiri (secara ruhani bukan secara jasadi)

Thoriqoh Uwaisiyah

ٍMaksudnya adalah ingatlah kepada kematian dan janganlah ingat pada kehidupan dunia dan ingatlah hanya Allâh Swt. semata

Thoriqoh Uwaisiyah

Janganlah mengharap kehidupan setelah mati. Maksudnya adalah membekali hidup untuk menyongsong kematian.

  • Aku mencari kedudukan, maka aku temukan kedudukanku di dalam sifat tawadhu‟.
  • Aku mencari kepemimpinan, maka aku temukan kepemimpinan itu dalam (memberi) nasihat kepada orang.
  • Aku mencari keagungan, maka aku temukan keagungan di dalam sifat fakir.
  • Aku mencari sunnah dan aku temukan sunnah itu di dalam sifat takwa.
  • Aku mencari kemuliaan, maka aku temukan kemuliaan itu dalam sifat qona‟ah.
  • Aku mencari kenyamanan maka aku temukan kenyamanan itu dalam sifat zuhud.
  • Ingatlah kepada kematian.
  • Jika kamu mampu (untuk) tidak memisahkan hatimu dengan air mata, maka lakukanlah.
  • Bernadzarlah kepada kaummu ketika kamu kembali kepada mereka.
  • Dan bersungguh-sungguhlah dalam (menghidupi) dirimu.
  • Takutlah meninggalkan (sholat) jamaah.
  • Kamu meninggalkan agamamu sedangkan kamu tidak menyadarinya. Kemudian kamu mati dan masuk neraka pada hari kiamat, (al-Din al-Attar, Tadzkirat al-Auliyâ‟. Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2010. halaman: 54-55).

Penjelasan: Sebagian wali Allâh Swt. diberi julukan Uwais. Artinya tidak membutuhkan bimbingan dari seorang guru, karena Uwais adalah Faidhul Ilahi (anugerah Ilahi) tanpa perantara orang lain dan berkah cahaya kenabian. Derajat ini adalah maqâm yang sangat tinggi sebagaimana firman Allâh Swt:

Thoriqoh Uwaisiyah

Maka intisab Tharîqahnya secara hakikat langsung kepada Allâh Swt. dan proses suluknya sesuai dengan suluk Nabi sebagaimana sabda Nabi Saw:

Thoriqoh Uwaisiyah

Tuhanku telah mendidikku, maka Allâh Swt. lah yang memperbaiki adabku.

Sumber: Sabilussalikin-30 Thariqah

Continue Reading

Artikel

Al-Fuhum al-Yusriyah Menurut Syekh Yusri Rusydi

Published

on

By

Sudah menjadi maklum bahwa Maulana Syekh Yusri Rusydi tidak jarang menyampaikan pemahaman beliau di tengah penjelasan kitab, jika penjelasan yang beliau sampaikan itu belum pernah ada yang menyampaikannya, beliau akan menamakannya dengan istilah “al-Fuhum al-Yusriyah ‘ala…

Tak ayal. Contohnya, beliau sendiri berseberangan pendapat dengan sang Guru, syeikh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari dalam permasalahan lafadz أب dalam Quran tepatnya kisah Nabi Ibrahim yang mendoakan sang Ayah.

Menurut syekh Yusri hafizahullah, أب disitu berarti paman, bukan ayah kandung, karena lafadz أب dalam bahasa Arab tidak melulu berarti ayah kandung, tapi juga paman, kakek atau buyut. Ayah kandung Nabi Ibrahim bernama Tarih, wafat ketika sang Nabi masih kecil, kemudian sang pamanlah -Azar- yang mengasuhnya.

Juga pada hadis Nabi yang mengatakan, “Inna abi wa abaaka finnar” (Sungguh Abi dan abimu di Neraka), Abi di sini berarti paman Nabi (Abu Lahab), bukan Abdullah bin Abdul Muthallib, seperti yang dipahami kaum Wahabi.

Contoh lain, makna Sabar menurut “al-Fahmu al-Yusri” ada 4, Sabar dalam ketaatan menjalankan ibadah, Sabar untuk menjauhi maksiat, Sabar dan ridha atas qadar dan ketetapan Allah pada setiap makhluk, dan Istiqomah dengan manhaj ini selama hidup.

Ridha menurut “Al-Fahmu Al-Yusri” ialah merasa bahagia dalam setiap keadaan. Apapun itu, bahkan ketika tidak punya apa-apa, jika manusia merasa senang, sabar dan Qona’ah, disitu ia mencapai derajat ridha, untuk melaju derajat di atasnya, yaitu Mahabbah.

Fitnah, menurut “Al-Fahmu al-Yusri” ialah segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari Allah. Makna ini lebih umum dari makna biasanya.

Makna-makna semacam ini beliau dapatkan dari pemahaman yang luas terhadap al-Quran, Bahasa Arab, dan hadis-hadis Nabi. Tak perlu bertanya bagaimana dahsyatnya beliau kalau menjelaskan hadis, lengkap dengan hikmah dan kisah yang melatarbelakangi.

Laporan: Mohammad Hendri Alfaruq

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending