Mengenal Tarekat Khalwatiyah

Umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani atau Naqsyabandiyah dari Baha’uddin Naqsyabandi. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Nama ini diambil karena seringnya Syaikh Muhammad Al-Khalwati, pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syaikh Syihabuddin Abi Hafs Umar As-Suhrawardi Al-Baghdadi (539-632 H).

Tarekat Suhrawardiyah sendiri didirikan di Baghdad oleh Abu Najib As-Suhrawardi (w. 1167 M) dan Syihabuddin Abu Hafs Umar bin Abdullah As-Suhrawardi (1145-1234 M). Mereka sering menyebut dirinya golongan Shiddiqiyah, karena mereka berasal dari keturunan khalifah kedua, Abu Bakar As- Shiddiq. Tarekat ini sangat besar pengaruhnya di Afghanistan dan India. Cabang-cabangnya yang terkenal antara lain Jalaliyah, Jamaliyah, Rawsaniyah, Safawiyah, Zainiyah, dan Khalwatiyah sendiri.

Cabang-Cabangnya

Dalam perkembangannya yang pesat, Tarekat Khalwatiyah melahirkan pula cabang-cabangnya. Seperti di Anatolia Asia Kecil: Jarrahiyah, Ighithashiyah, Usysyaqiyah, Niyaziah, Sunbuliyah, Syamaiyah, Gulsaniyah dan Syujaiyah; di Mesir, Daifiyah, Hafnawiyah, Saba’iyah, Sawiah Dardiyah, dan Magaziyah di Nubia, Hijaz dan Somalia: Salihiyah dan Indonesia: Khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyah Samman.

Tarekat Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. la dibawa oleh Musthafa Al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali Al-Bakri As-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syaikh Abdul Latif bin Syaikh Husamuddin Al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa Al-Bakri dianggap bagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyatul Ahzan (Pelipur Duka).

Musthafa Al-Bakri sejak kecil dikenal sebagai seorag zahid yang cerdas. Menurut salah satu bukunya, Al-Bakri menceritakan, bahwa dirinya pernah mengalami hidup sebatang kara. Pada waktu kecil, tepatnya ketika berumur dua tahun, ayah dan ibunya sempat bercerai. Ia kemudian tinggal bersama ayahnya setelah ibunya kawin lagi dengan lelaki lain. Al-Bakri juga menyatakan, secara geneologis, ayahnya masih memiliki nasab sampai kepada Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq. Sedangkan dari sisi ibunya, nasabnya sampai cucu Rasulullah saw, Al-Husain, putra Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Musthafa Al-Bakri suka berkeliling, terutama ke negeri- negeri yang ada di kawasan Timur Tengah. Hal itu dilakukannya tak lain guna menambah wawasan dan pengetahuan, dan belajar pada guru-guru yang dianggapnya memiliki ilmu tinggi. Dari Damaskus, kampung halamannya, ia pergi ke kota Quds di Palestina, kemudian ke Tripoli (Libanon Utara), ke kota Akka dan kemudian singgah di kota Sidon atau Shaida. Setelah menikah dengan sepupunya tahun 1141 H, ia melanjutnya perjalanannya ke Makkah Al-Mukarramah sambil menunaikan ibadah haji. Di sana, ia banyak melakukan kontemplasi untuk memperdalam pengalaman batinnya.

Setelah tinggal beberapa lama di Makkah, ia melanjutkan perjalannya ke Mesir. Kemudian kembali ke Quds dan Irak (Baghdad dan Bashrah). Tak lama, ia kembali pergi ke Makkah untuk berhaji yang terakhir kalinya. Tahun 1161 H, ia pergi ke Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya setahun kemudian.

Di Mesir inilah, ia banyak berdakwah melalui Tarekat Khalwatiyah yang diambil dari gurunya, Syaikh Abdul Latif bin Husamuddin Al-Halabi. Tarekat Khalwatiyah nampaknya telah banyak memberi pengaruh pada pemikiran pun amaliyah Al-Bakri sehari-hari. Sehingga dari sekitar 200 karya Al-Bakri, sebagian di antaranya banyak berupa amaliyah praktis.

Khalwatiyah Masuk ke Indonesia

Tarekat Khalwatiyah Yusuf masuk ke Indonesia melalui Syaikh Yusuf Makasar pada tahun 1644 M. Syaikh Yusuf memperoleh ijazah Tarekat Khalwatiyah di negeri Syam (Suriah) dari Abul Barakat Ayyub bin Alimad Al-Khalwati Al-Quraisy, imam Masjid Syaikh Al-Akbar Muhyiddin bin Arabi. Ulama inilah yang memberi gelar Syaikh Yusuf Tajul Khalwati Hidayatullah

Adapun Tarekat Khalwatiyah Samman masuk ke Indonesia melalui Syaikh Muhammad bin Abdul Karim As-Sammani. Kedua cabang Tarekat Khalwatiyah ini bersumber dari satu silsilah yang bercabang sesudah Syaikh Maulana Affandi Umar Al-Khalwati. Dua murid Umar Al-Khalwati adalah Yahya Asy-Syarwani yang menurunkan Tarekat Khalwatiyah Yusuf dan Muhammad Amir Ummul Khalwati yang menurunkan Tarekat Khalwatiyah Samman.

Pokok-pokok ajaran Tarekat Khalwatiyah berkisar pada usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah swt (taqarrub ila Allah) dengan penekanan melakukan amalan dan latihan kerohanian. Amalan Tarekat Khalawatiyah terletak pada pelaksanaan shalat dan dzikir yang tertib dan teratur.

Dalam pelaksanaan dzikir, penganut Tarekat Khalwatiyah Yusuf berdzikir dengan suara yang samar-samar atau dzikir khafi, baik dilakukan secara berjamaah maupun sendiri-sendiri. Dzikir ini dilakukan tanpa bergoyang, kecuali memiringkan kepala ke kanan pada saat mengucapkan kalimat la ilaaha dan ke kiri saat mengucapkan illa Allah.

Adapun penganut Tarekat Khalwatiyah Samman berdzikir dengan suara keras atau dzikir jahr. Selanjutnya berdzikir, badan mereka bergoyang ke kanan dan ke kiri. Umumnya dzikir dilakukan secara berjamaah di masjid atau di rumah keluarga. Meskipun demikian, syarat berdzikir keras tidaklah  mutlak, melainkan dapat pula dilakukan dengan suara pelan. Dzikir merupakan jalan utama bagi salik (penganut tarekat) melakukan latihan kerohanian untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dzikir kepada Allah SWT bagi penganut Tarekat Khalwatiyah termasuk perkara yang hukumnya wajib ‘ain (wajib bagi setiap individu). Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT yang artinya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya…”  (QS. Al Ahzab: 41)

Pengertian dzikir menurut Tarekat Khalwatiyah adalah mengingat Allah swt dengan menyebut lafadz-lafadz dzikir, seperti kalimat tauhid la ilaha illa Allah, lafadz jalalah, Allah- Allah, dan lafadz Huwa-Huwa. Lafadz-lafadz dzikir tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi penganutnya, yang harus dipahami bahwa hanya Allah swt yang berhak disembah, dituju, dicintai, dan tempat bergantung segala sesuatu. Tidak ada dzat yang mutlak hakikatnya kecuali Allah swt.

Di samping itu, ketiga macam dzikir tersebut digunakan juga untuk membawa jiwa dari tingkat yang terendah ke tingkat yang tertinggi melalui tiga martabat jiwa, yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah, dan nafsu muthma’innah.

3 Macam Dzikir

Pertama     : Lafadz la ilaha illa Allah sebagai perbandingan nafsu ammarah

Kedua        : Lafadz Allah-Allah sebagai perbandingan nafsu lawwamaah

Ketiga        : Lafadz Huwa-Huwa sebagai perbandingan nafsu muthma’inah.

Dalam hubungan dengan ibadah shalat, Tarekat Khalwatiyah Yusuf mengupas rahasia-rahasia shalat yang berbeda dengan uraian dalam kitab-kitab fiqih yang ada. Dalam Risalah Asrarus Shalah (buku mengenai rahasia-rahasia kebaikan) diuraikan mengenai muqaranah (perbedaan, perbandingan) niat dengan takbiratul ihram.

Hakikat niat ialah, mengingat Allah swt dengan martabat alam lahut. Qiyam (berdiri dalam shalat) berarti roh salik berdiri para martabat alam asrar dan melihat dirinya dalam keadaan berdiri pada martabat alam lahut, sementara jasadnya berada pada alam asy-syahadah. Demikian seterusnya rahasia-rahasia shalat dibahas dalam Tarekat Khalwatiyah Yusuf secara mendalam.

Oleh karena itu, dalam Tarekat Khalwatiyah ibadah shalat dan dzikir tidak dapat dipisahkan, sebagaimana firman Allah swt yang artinya:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah, shalar untuk mengingat Aku” (QS. Thaha[20]:14).

Ajaran dan Dzikir Tarekat Khalwatiyah

Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-sab’ah (tujuh nama). Yakni 7 macam dzikir atau 7 tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap salik.

Pertama: La ilaha illa Allah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah). Dzikir pada tingkatan jiwa pertama ini disebut An-Nafs Al-Ammarah (nafsu yang menyuruh pada keburukan, amarah). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang paling terkotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau buruk, seperti mencuri, berzina, membunuh, dan lain-lain.

Kedua: Allah. Pada tingkatan jiwa kedua ini disebut An-Nafs Al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan- kebaikan pada pemiliknya dan menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ketiga: Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini di- sebut An-Nafs Al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah swt, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Keempat: Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut An- Nafs Al-Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa ini selain bersih juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problema hidup maupun guncangan jiwa lainnya.

Kelima : Hayy (Maha Hidup). Disebut juga dzikir An-Nafs Ar-Radhiyah (jiwa yang ridha). Jiwa ini semakin bersih, tenang dan ridha (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari pemberian Allah.

Keenam: Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga An-Nafs Al-Mardhiyah (jiwa yang diridhai). Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridha terhadap semua Allah juga mendapatkan keridhaan-Nya.

Ketujuh: Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga An-Nafs Al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup dari pemiliknya.

Ketujuh tingkatan (dzikir) jiwa ini intinya didasarkan kepada ayat Al-Qur’an.

Tingkatan pertama didasarkan pada surat Yusuf ayat 53

إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan”

Tingkatan kedua dari surat Al-Qiyamah ayat 2:

وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)”

Tingkatan ketiga dari surat As-Syams ayat 7 dan 8:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا

 فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Demi jiwa dan Yang menyempurnakannya. Allah mengilhami jiwa tersebut kejahatan dan ketakwaannya”.

Tingkatan keempat dari surat Al-Fajr ayat 27

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةَ

“Wahai jiwa yang tenang”

Tingkatan kelima dan keenam dari surat Al-Fajr ayat 28

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keridlaan dan diridhai”

Sementara untuk tingkatan ketujuh yang sudah sempurna, atau yang berada di atas semua jiwa, secara eksplisit tidak ada dalam Al-Qur’an, karena Al-Qur’an seluruhnya merupakan kesempurnaan dari semua dzikir dan jiwa pemiliknya.

Pendiri: Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Karimuddin Al-Khalwat
Wafat: 986 H / 1397 M
Pusat Penyebaran: Yordania, Palestina, Mesir, Turki

Sumber: Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf oleh KH. A. Aziz Masyhuri

Komentar
Loading...