Mengenal Tarekat Dasuqiyah

Tarekat Dasuqiyah adalah sebuah tarekat sufi yang didirikan oleh Syekh Ibrahim ibn Abdul Majid Ad-Dasuqi Al-Quraisyi (lahir di Dasuq, Mesir, 653 H / 1255 M, wafat di Damaskus, Suriah 696 H / 1296 M). Tarekat ini biasa pula disebut Tarekat Ibrahimiyah, sebutan yang berasal dari nama pendirinya, Ibrahim. Juga bisa disebut Tarekat Burhaniyah, sebutan yang berasal dari nama panggilan Ibrahim Ad-Dasuqi, yaitu Burhanuddin.

Pada mulanya Ibrahim Ad-Dasuqi adalah murid setia Abul Hasan Ali As-Syadzili (w. 1258 M), pendiri Tarekat Syadziliyah. Ia belajar kepada As-Syadzili bersama Abul Abbas Al-Mursi (pengganti As-Syadzili, w. 1287 M) sampai memperoleh ijazah untuk mengajarkan Tarekat Syadziliyah. Kehausan jiwanya untuk mereguk piala kerohanian membuat ia tidak puas mempelajari satu tarekat saja. Oleh sebab itu ia pun mempelajari Tarekat Ahmadiyah kepada pendirinya, Sayyid Ahmad Al-Badawi (Maroko, w. 1276 M), yang bertempat tinggal di Thanta (Mesir), sehingga ia pun memperoleh ijazah untuk mengajarkan tarekat ini.

Bahkan ia mempelajari Tarekat Rifa’iyah yang sedang populer di Mesir ketika itu, terutama sekali karena keunikannya dalam mengajarkan permainan debus dan kekebalan terhadap benda-benda tajam. Tarekat Rifa’iyah dipelajari Ad-Dasuqi dari Abul Hasan Ali As-Syadzili, yang mempelajari tarekat ini dari kakek Ad-Dasuqi sendiri, yaitu Abul Fath Al-Wasithi (w. 1234 M). Disamping itu, Ad-Dasuqi mempelajari tarekat itu dari Sayyid Ahmad Al-Badawi, yang menerima baiat tarekat ini secara langsung dari pendirinya Syekh Ahmad ibn Ali Abul Abbas Ar-Rifa’i. Menurut sebuah sumber, Ad-Dasuqi juga mempelajari Tarekat Suhrawardiyah dari Najmuddin Mahmud Al-Isfahani, seorang sufi dari Isfahan.

Dari kajian panjang tentang tarekat yang telah dipelajarinya itu, Ad-Dasuqi merumuskan tarekat tersendiri, yang mengajarkan dzikir, doa, dan hizib (sejenis wirid) yang dirangkainya sendiri. Ajaran inilah yang disebut Tarekat Dasuqiyah. Tarekat ini berkembang di Mesir dan pada abad ke-19 telah meluas ke Suriah, Hijaz, dan Hadhramaut.

Dari tarekat ini kemudian muncul sempalan, yaitu Syarnubiah dan Sa’idiyah Syarnubiah. Dewasa ini Tarekat Dasuqiyah masih didapati di wilayah tersebut di atas dan masih mendapat banyak pengikut di Mesir.

Sepuluh Landasan Ajaran Tarekat Dasuqiyah
Pertama, memelihara adab dan aturan syariat, yang didasarkan atas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Mengenai hal ini, Ad-Dasuqi berkata, “Syariat adalah pohon dan hakikat buahnya. Barangsiapa yang ingin menjadi anakku (maksudnya: pengikut tarekatnya) hendaklah ia mengekang nafsunya di dalam botol syariat, yang ditutupnya dengan tutup hakikat dan dilemahkannya dengan mujahadah.” Selain itu ia berkata pula, ”Wahai buah hatiku, kuatkan cita-citamu untuk mengenal makna tarekat melalui ilmu, bukan hanya dengan sebutan bibir. Setiap makam yang engkau tempati akan mendindingmu dari Tuhan, jika tidak didasarkan atas petunjuk Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para tabiin, dan Kitab Suci-Nya.” Di tempat lain ia berkata, “Wahai anakku, lakukanlah cara ibadah menurut Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saw yang diridhai, karena hal demikian akan mendatangkan cahaya terang dan menghilangkan kegelapan”.

Kedua, menjauhi segala yang haram dan syubhat. Mengenai hal ini Ad-Dasuqi berkata, “Makanan yang haram menghambat amal dan merendahkan agama; perkataan yang haram merusak amal orang mubtadi (pemula yang mengamalkan tasawuf). Selama alat perasaanmu merasakan yang haram, jangan engkau berharap dapat merasakan kelezatan hikmat dan ma’rifat.” Dia juga berkata, “Pengikut ajaran Al-Qur’an tidak boleh mengisi rongganya dengan yang haram dan tidak boleh memakai pakaian yang haram. Karena jika ia berbuat demikian, niscaya ia akan dikutuk oleh Al-Qur’an”.

Ketiga, senantiasa waspada dalam menghadapi godaan hawa nafsu. Ad-Dasuqi bekata, “Minuman kaum ini (pengikut tarekatnya) tidak akan diminum oleh orang yang di dalam hatinya terdapat kekeruhan karena kotoran rohani, sisa-sisa kegelapan, gelora nafsu, godaan setan, kesombongan, dan dahaga jiwa kepada kebejatan”.

Keempat, senantiasa ingat akan Allah swt dalam keadaan bagaimanapun. Untuk itu, Ad-Dasuqi berkata, “Sang murid harus membersihkan dirinya dari kelalaian dan kelemahan dalam berdzikir kepada Allah swt, sebagaimana ia harus membersihkan dirinya dari maksiat. Wahai anakku, kalau kamu ingin dipanggil pada hari kiamat dengan panggilan ‘Wahai jiwa yang tentram‘, hendaklah kamu jadikan dzikir sebagai makananmu, berpikir sebagai wacanamu, uns (keintiman dengan Tuhan) sebagai khalwat-mu, dan kamu harus menumpahkan perhatianmu kepada Allah”.

Kelima, membiasakan lapar, karena lapar mempermudah pelaksanaan ibadah dan menghilangkan rasa malas. Ad-Dasuqi berkata, “Bekal pemula tarekat ialah kesanggupannya menahan lapar sementara matanya basah oleh air mata, niatnya senantiasa kembali kepada Tuhan; ia memperbanyak puasa. Karena puasa dapat memperlembut tabiatnya sehingga hatinya menjadi sumber kasih sayang; puasa membuka pendengaran batinnya dan menghilangkan ketuliannya, maka dengan itu ia dapat mendengar kandungan terdalam dari Al-Qur’an secara lahir-batin.”

Keenam, tidak terpesona oleh bunga-bunga dunia yang menyebabkan diri seseorang jatuh menjadi budaknya. Ad-Dasuqi memperingatkan, “Wahai anakku, janganlah kamu terpesona oleh hiasan duniawi, alat transportasinya, busananya, perabotannya, aksesorisnya, dan keuntungannya, tetapi ikutilah cara hidup Nabimu, kalau tidak sanggup, ikutilah cara hidup gurumu. Jika tidak kamu ikuti, niscaya kamu menjadi binasa”.

Ketujuh, bergaul dengan orang yang berakhlak luhur. Mengenai hal ini Ad-Dasuqi berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu bergaul dengan penipu, pembohong dan orang panjang lidah, tetapi bergaullah dengan orang yang memperkenankan imbauan Tuhannya, sehingga kamu pun bisa mendapat petunjuk dari padanya, dapat meneladani kedisiplinan diri, dan suatu saat kamu akan berpisah dengannya secara benar”.

Kedelapan, ikhlas melakukan segala amal. Ad-Dasuqi berkata, “Jika engkau anakku dan pengikutku yang sebenarnya, maka ikhlaskanlah ibadahmu karena Allah swt, minta nasihatlah kepada qalbumu, dan jangan engkau campurkan amalmu dengan dirham. Sesungguhnya inilah tarekatku. Barangsiapa yang mencintaiku, dia akan berjalan di jalan ini bersamaku”.

Kesembilan, patuh terhadap perintah dan larangan Syekh mursyid (pimpinan tarekat). Ad-Dasuqi berkata, “sesungguhnya seorang syekh adalah bapak rohani, maka anak tidak boleh membantah terhadap orangtuanya. Adalah suatu hal yang tidak dapat kami mengerti jika ada yang masih membandel, padahal perintah demikian bersifat umum dalam segala hal. Dalam hal ini, hendaklah murid menjadikan dirinya laksana mayat di hadapan orang yang memandikannya. Oleh sebab itu, wahai anakku, taatlah kepada bapak rohanimu.”

Kesepuluh, tujuan akhir yang hendak dicapai dalam tarekat ini ialah fana‘ dalam penyaksian wujud. Ini terkesan dari ucapan Ad-Dasuqi yang mengatakan bahwa taubat golongan istimewa (al-Khawwas) merupakan penghapus segala sesuatu selain Allah swt.

Adapun amalan yang dilakukan oleh penganut Tarekat Ad-Dasuqiyah ini mencakup: (1) shalat, baik fardlu maupun yang sunnah; (2) puasa, baik yang fardlu maupun yang sunnah; dan (3) dzikir, doa dan hizib.

Dzikir dan doa yang dilaksanakan meliputi dzikir dan doa yang ma’tsur (berasal dari ucapan Nabi saw) dan yang bebas. Dzikir yang ma’tsur meliputi tahlil, tahmid, takbir, tasbih, dan takdis; sedangkan yang bebas ialah dzikir yang dirumuskan oleh syekh, dan dalam hal ini yang paling banyak diucapkan ialah dzikir Ya Da’im (Wahai, Tuhanku Yang Maha Kekal).

Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani, seorang sufi asal Mesir, menceritakan pengalamannya sebagai berikut, “Suatu kali aku melihat Syekh Khalil Al-Majdzub (seorang sufi asal Mesir) naik ke sebuah bukit kecil, lantas aku berseru, ‘siapakah orang itu, apakah dia seorang Ahmadi (penganut Tarekat Ahmadiyah) atau Burhani (penganut Tarekat Dasuqiyah)?’ Kudengar ia mengucapkan Ya Da’im, Ya Da’im sebagai isyarat bahwa ia adalah penganut Tarekat Dasuqiyah”.

Adapun hizib yang diamalkan dalam tarekat ini ialah hizib yang dikarang oleh Ibrahim Ad-Dasuqi sendiri, yang dinamai ‘Hizib Ibrahim’. Kepada murid penganut Tarekat Dasuqiyah yang telah dipandang matang oleh syekh mursyid untuk dapat mengembangkan ajaran tarekatnya, diberikan sehelai sobekan kain atau jubah, yang disebut khirqah. Biasanya khirqah dalam tarekat dasuqiyah ini berwarna hijau. Dengan mendapat khirqah, seorang murid telah berhak menjadi khalifah (wakil, pengganti) syekh mursyid, dan ia telah berhak mengajar di tempat lain secara mandiri tentang ajaran tarekatnya.

Shalawat Dasuqiyah
Syekh Ibrahim Ad Dasuqi juga meninggalkan beberapa shalawat di antaranya Shalawat Dzatiyah Ahadiyah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ، اَللَّطِيْفَةِ اْلاَحَدِيَّةِ، شَمْسِ سَمَاءِ اْلأَسْرَارِ، وَمَظْهَرِ اْلأَنْوَارِ، وَمَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلاَلِ، وَقُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ، اَللَّهُمَّ بِسِرِّهِ لَدَيْكَ، وَبِسَيْرِهِ اِلَيْكَ، آمِنْ خَوْفِيْ، وَأَقِلَّ عَثْرَتِيْ، وَأَذْهِبْ حُزْنِيْ وَحِرْصِيْ، وَكُنْ لِيْ وَخُذْنِيْ اِلَيْكَ مِنِّيْ، وَارْزُقْنِيْ الْفَنَاءَ عَنِّيْ، وَلاَ تَجْعَلْنِيْ مَفْتُوْناً بِنَفْسِيْ مَحْجُوْباً بِحِسِّيْ وَاكْشِفْ لِيْ عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُوْمٍ ياَ حَيُّ ياَ قَيـُّوْمُ.

Nasihat-nasihatnya yang masyhur:

  • “Di antara yang wajib bagi murid adalah penelaahan terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat manaqib para shalihin dan peninggalan-peninggalan mereka berupa ilmu dan amal.”
  • “Barang siapa yang tidak bersifat iffah (menjaga kehormatan diri), bersih dan mulia, maka dia bukanlah anakku walau dari tulang rusukku.”
  • “Barang siapa yang menetapi tarekat, agama, zuhud, dan wira’I, maka dialah anakku sekalipun dari negeri yang jauh.”
  • “Demi Allah swt, tidaklah seorang murid itu benar mahabbah-nya kepada tarekat kecuali akan tumbuh hikmah di dalam hatinya.”

Itulah antara lain wasiatnya kepada muridnya, yang merupakan fondasi tarekatnya, di samping sejumlah dzikir, wirid, dan doa untuk taqarrub kepada ‘Allamul Ghuyub (Allah).

Pendiri: Syekh Ibrahim Ad-Dasuqi
Lahir: Dasuq, Mesir 653 H / 1255 M
Wafat: Dasuq, Mesir 696 H / 1279M
Pusat Penyebaran: Mesir, Sudan

Sumber: Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf oleh KH. A. Aziz Masyhuri

Komentar
Loading...