Mengenal Tarekat Alawiyah

Istilah Alawiyah berawal dari nama pendiri aliran ini yaitu Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Alawi, cucu dari Imam Ahmad bin Isa Al-Alawi (260-345 H) yang juga dikenal dengan al-Muhajir ila Allah.

Imam Ahmad ibn Isa (Al-Muhajir ila Allah) adalah Ahmad bin Isa bin Muhammad An-Naqieb bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Imam Ahmad merupakan keturunan Nabi Muhammad saw, melalui garis Sayyidina Husain bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib atau Fatimah Az Zahra binti Rasulullah saw. Ia lahir di Bashrah, Irak, pada tahun 260 H. Ayahnya, Isa bin Muhammad, sudah lama dikenal sebagai orang yang memiliki disiplin tinggi dalam beribadah dan berpengetahuan luas.

Mula-mula keluarga Isa bin ibn Muhammad tinggal di Madinah, namun karena berbagai pergolakan politik, ia kemudian hijrah ke Bashrah dan Hadhramaut. Sejak kecil hingga dewasa, Imam Ahmad sendiri lebih banyak ditempa oleh ayahnya dalam soal spiritual. Sehingga kelak ia terkenal sebagai tokoh sufi. Bahkan oleh kebanyakan para ulama pada masanya, Imam Ahmad dinyatakan sebagai tokoh yang tinggi hal-nya (keadaan rohaniah seorang sufi selama melakukan proses perjalanan menuju Allah).

Selain itu, Imam Ahmad juga dikenal sebagai seorang saudagar kaya di Irak. Tapi semua harta kekayaan yang dimilikinya tak pernah membuat Imam Ahmad berhenti untuk beribadah, berdakwah, dan berbuat amal saleh. Sebaliknya, semakin ia kaya semakin intens pula aktivitas kerohanian dan sosialnya.

Selama di Bashrah, Imam Ahmad sering sekali dihadapkan pada kehidupan yang tak menentu. Misalnya oleh berbagai pertikaian politik dan munculnya badai kedzaliman dan khufarat. Sadar bahwa kehidupan dan gerak dakwahnya tak kondusif di Bashrah, pada tahun 317 H, Imam Ahmad lalu memutuskan diri untuk berhijrah ke Hijaz.

Dalam perjalanan hijrahnya ini, Imam Ahmad ditemani oleh istrinya, Syarifah Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali Al-Uraidhi, dan putra kecilnya, Abdullah. Setelah itu ia hijrah ke Hadhramaut dan menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Tapi dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sewaktu Imam Ahmad tinggal di Madinah Al-Munawwarah, ia pernah menghadapi pergolakan politik yang tak kalah hebat dengan yang terjadi di kota Bashrah. Pada saat itu, tepatnya tahun 317 H, Kota Makkah mendapat serangan sengit dari kaum Qaramithah yang mengakibatkan diambilnya Hajar Aswad dari sisi Ka’bah. Sehingga pada tahun 318 H, tatkala Imam Ahmad menunaikan ibadah haji, ia sama sekali tidak mencium Hajar Aswad, kecuali hanya mengusap tempatnya saja dengan tangan. Barulah setelah itu, ia pergi menuju Hadhramaut.

Istilah Alawiyah atau Alawi juga digunakan bagi siapa saja yang menisbatkan diri kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Bahkan, simpatisan (mawali) dari mereka pun juga disebut Alawi. Di Maghrib juga ditemukan gelar Alawi, termasuk raja-raja mereka sekarang, dan moyang mereka masih keturunan dari Al-Hasan bin Qasim Al-Hasani, imigran dari Yanbu’ Al-Nakhl ke Maghrib (Maroko) pada 664 H / 1265 M.

Di Sinqith Muritania juga demikian. Ada gelar Al-Alawiyyin bagi kelompok simpatisan Imam Ali bin Abi Thalib, meskipun bukan karena adanya hubungan nasab (tali keturunan) dengannya. Adapun di Yaman, Arab Selatan, Hijaz, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, istilah Al-Alawiyyin hanya diperuntukan bagi mereka yang masih bersambungan keturunan dengan Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir. Mereka juga disebut dengan Ba Alawi. Jadi, Tarekat Alawiyah adalah tarekat kelompok Ba Alawi atau Al-Alawiyyin dari keturunan Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir di provinsi Hadhramaut, Yaman Selatan.

Hijrahnya Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir dari Bashrah ke Hadhramaut pada 317 H, merupakan embrio lahirnya Tarekat Alawiyah. Dari keturunan Al-Muhajir ini lahir beberapa tokoh. Adapun yang paling menonjol dari tokoh-tokoh tersebut adalah Muhmmad bin Ali Ba Alawi (w. 653 H), yang dikenal dengan sebutan Al-Faqih Al-Muqaddam.

Tarekat Alawiyah juga boleh dikatakan memiliki kekhasan tersendiri dalam pengalaman wirid dan dzikir bagi para pengikutnya, yakni tidak adanya keharusan bagi para murid untuk terlebih dulu diba’iat atau ditalqin atau mendapatkan khirqah jika ingin mengamalkan tarekat ini. Dengan kata lain ajaran Tarekat Alawiyah boleh diikuti oleh siapa saja tanpa harus berguru sekalipun kepada mursyidnya. Demikian pula, dalam pengamalan ajaran dzikir dan wiridnya, Tarekat Alawiyah termasuk cukup ringan, karena tarekat ini hanya menekankan segi-segi amaliyah dan akhlak (tasawuf ’amali, akhlaqi). Sementara dalam tarekat lain, biasanya cenderung melibatkan riyadlah-riyadlah secara fisik dan kezuhudan ketat. Tarekat Alawiyah memiliki cabang besar dengan jumlah pengikut yang juga sama banyak, yakni Tarekat’ Aidrusiyah dan Tarekat Athassiyah.

Awal Perkembangan Tarekat Alawiyah
Tonggak perkembangan Tarekat Alawiyah dimulai pada masa Muhammad bin Ali, atau yang akrab dikenal dengan panggilan Al-Faqih Al-Muqaddam (seorang ahli agama yang terpandang) pada abad ke-6 dan ke-7 H. Pada masanya, kota Hadhramaut kemudian lebih dikenal dan mengalami puncak kemasyhurannya.

Muhammad bin Ali adalah seorang ulama besar yang memiliki kelebihan pengetahuan bidang agama secara mumpuni, di antaranya soal fiqih dan tasawuf. Di samping itu, konon ia pun memiliki pengalaman spiritual tinggi hingga ke Maqam Quthbiyyah (puncak maqam kaum sufi) maupun khirqah shufiyyah (legalitas kesufian). Mengenai keadaan spiritual Muhammad bin Ali ini, Al-Khatib pernah menggambarkan sebagai berikut ,”Pada suatu hari, Al-Faqih Al-Muqaddam, tenggelam dalam lautan Asma, Sifat dan Dzat Yang Suci.”

Pada hikayat ke-24, para syekh meriwayatkan bahwa Syekh syuyukh kita, Al-Faqih Al-Muqaddam, menjelang akhir hidupnya tidak makan dan tidak minum. Semua yang ada dihadapannya sirna dan yang ada hanya Allah. Dalam keadaan fana’ seperti ini datang Khidir dan lainnya mengatakan kepadanya: “Segala sesuatu yang mempunyai nafs (ruh) akan merasakan mati.” Dia mengatakan, ”Aku tidak mempunyai nafs.” Dikatakan lagi, “Semua yang berada di atasnya (dunia) akan musnah.” Dia menjawab, “Aku tidak berada di atasnya.” Dia mengatakannya lagi, ”Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya (Dia).” Dia menjawab, ”Aku bagian dari cahaya wajah-Nya.” Setelah keadaan fana’-nya berlangsung lama, lalu para putranya memintanya untuk makan, walaupun sesuap. Menjelang akhir hayatnya, mereka memaksa untuk memasukan makanan ke dalam perutnya. Setelah makanan tersebut masuk mereka mendengar suara (hatif). “Kalian telah bosan kepadanya, sedang kami menerimanya. Seandainya kalian biarkan dia tidak makan, maka dia akan tetap bersama kalian.”

Setelah wafatnya Muhammad bin Ali, perjalanan Tarekat Alawiyah lalu dikembangkan oleh para syekh. Di antaranya ada empat syekh yang cukup terkenal, yaitu Syekh Abdur Rahman As-Saqqaf (w. 739 H), Syekh Umar al Muhdhar bin Abdur Rahman as saqqaf (w. 833 H), Syekh Abdullah Al-Aidarus bin Abu Bakar bin Abdur Rahman As-Saqqaf (w. 880 H), dan Syekh Abu Bakar As-Sakran (w. 821 H).

Al-Faqih Al-Muqaddam, selain sebagai orang pertama yang mengajarkan dan mempraktikkan tradisi kaum sufi di Hadhramaut, ia adalah orang pertama yang memperkenalkan tata cara khusus praktik ajaran sufistik (tahkim atau tarekat) di Hadhramaut, juga ia merupakan central figure bagi dunia tasawuf di wilayah Arab Selatan, serta tokoh yang membawa karakteristik ajaran sufistik dari Tarekat Alawiyah.

E.J Brill mengatakan tentang Al-Faqih Al-Muqaddam, “Ia adalah figur utama dalam dunia tasawuf dan tarekat di Arab Selatan, dan dia perintis Tarekat Alawiyah”. Sedangkan Khairuddin Az-Zarkali (1311-1396 H), penulis biografi para tokoh Islam dalam karyanya Al-A’lam mengatakan, bahwa Al-Faqih Al-Muqaddam sebagai ahli fikih yang sufi, dan ia telah menulis sebuah risalah tentang masalah-masalah spiritual dalam Islam, yaitu Risalah Bada’i Ulum Al-Mukasyafat wat Tajalliyat. Tetapi risalah itu tidak sampai kepada kita sekarang.

Menurut Sayyid Muhammad bin Ahmad As-Syathiri, penulis kitab Adwar At-Tarikh Al-Hadhrami, ia adalah figur tokoh yang membawa kedamaian dan semaraknya keilmuan di Hadhramaut. Lebih lanjut ia tumbuh dalam suatu keluarga yang dikenal memiliki keturunan mulia dan kredibilitas keilmuan yang tinggi.

Ia hidup pada abad VI dan VII H, dan masa pada abad V dan VI merupakan masa awal puncak kegiatan sufistik. Di abad itu, di sebelah Timur Arab didominasi Syekh Abdul Qadir Al-Jilani (w. 561 H / 1166 M) dan para pengikutnya, sedangkan di sebelah Barat Arab oleh Syekh Abu Madyan (w. 549 H / 1197 M) dan para pengikutnya.

Al-Faqih Al-Muqaddam mendapatkan khirqah shufiyyah dari Abu Madyan Al-Maghribi sebagaimana juga diungkapkan oleh Wusten dalam Ufisten, bahwa Al-Faqih Al-Muqaddam mendapatkan khirqah shufiyyah melalui perantara Abdullah bin Ali Al-Maghribi dan Abdur Rahman Al-Muk’ad bin Muhammad Al-Hadhrami, yang keduanya membawakan ajaran Abu Madyan Syuaib bin Al-Husain at-Tilimsani, tetapi pada sisi lain secara garis besar ajarannya juga bersambung pada As-Syibli. As-Syibli sendiri mendapatkan ijazah dari Al-Junaid (221 H), dari Sirri As-Saqathi (155-253 H / 772-867 M), dari Ma’ruf Al-Karkhi (w. 200 H), dari Dawud at-Tha’i (w. 162 H), dari Abu Muhammad Habib Al-Ajami, seorang sufi dari Bashrah, dan dari Al-Hasan Al-Bashri dari Imam Ali bin Abi Thalib.

Adapun terkait dengan silsilah yang diperoleh Al-Faqih Al-Muqaddam, Ma’aruf Al-Karkhi juga mendapatkan ijazah dan khirqah shufiyyah dari Imam Ali Ar-Ridha (153-203 H / 770-817 M), dari Imam Musa Al-Kadzim (128-183 H / 743-789 M), dari Imam Ja’far As-Shadiq (83-148 H / 702-767 M), dari Imam Muhammad Al-Baqir (57-114 H / 675-732 M), dari Imam Ali Zainal Abidin (38-95 H/653-712 M), dari Imam Al-Husain (26-61 H/ 625-680 M), dari Imam Ali, dan dari Rasullulah saw.

Bisa dilihat dari silsilah ijazah yang didapat oleh Al-Faqih Al-Muqaddam, maka pada dirinya telah menyatu dua fenomena yang menarik; tradisi para salaf mereka dari ajaran ahlul bayt, seperti Imam Zainal Abidin, Al-Baqir, As-Shadiq, Al-Kadzim, Ar-Ridha, dan tarekat sufiyah dari Abu Madyan Al-Maghribi yang mengkristal menjadi satu tradisi Tarekat Alawiyah yang berkembang kemudian.

As-Syathiri menyebut fase Al-Muhajir, Al-Faqih Al-Muqaddam hingga Syekh Abdur Rahman As-Saqqaf (w. 739 H) sebagai masa para imam (dawr al-a’immah) dalam Tarekat Alawiyah. Kemudian diteruskan dengan fase selanjutnya yang disebut dengan fase para syekh (dawr al-syuyukh). Pada fase kedua ini lahir tokoh-tokoh Tarekat Alawiyah, seperti Umar Al-Mudhar (w. 883 H), Abdullah Al-Aidarus (w. 880 H) dan Abu Bakar As-Sakran (w. 821 H). Pada fase para syekh ini, ajaran fase tarekat sebelumnya tentang al-khumul dan al-faqr sangat menonjol.

Dua ajaran tersebut kemudian tetap menjadi simbol ajaran para tokoh Tarekat Alawiyah, dan oleh Syekh Al-Haddad (1044 / 1110 H / 1634-1700 M) dijadikan sebagai pendidikan moral yang penting bagi para muridnya dalam meniti jalan spiritual menuju Allah SWT.

Abu Madyan Al-Maghribi berkata, “al-khumul merupakan kenikmatan bagi seorang hamba seandainya ia tahu cara mensyukurinya. Adapun tentang al-faqr ia mengatakan, “al-faqr adalah suatu kebanggaan, dan al-faqr yaitu bila Anda tidak lagi menyaksikan selain dia”.

Dengan ajaran al-khumul dan al-faqr, para tokoh Tarekat Alawiyah memandang bahwa amal merupakan satu bagian dari ketaatan kepada Allah, tetapi dalam mengadakan hubungan dengan-Nya amal bukan menjadi satu tujuan. Bahkan, tidak memandangnya sebagai suatu yang penting karena akan dapat memutuskan konsentrasi hubungannya dengan Tuhan. Amal, menurut ajaran mereka, tidak menjadi penting meskipun tidak boleh ditinggalkan. Karena itu, para salaf shalih mendidik para muridnya untuk menjadi alim (pintar) dan amil (beramal sesuai dengan ilmu) tanpa merasa bahwa dirinya alim dan amil. Ini yang disebut dalam tradisi Tarekat Alawiyah dengan istilah al-khumul dan al-faqr.

Pada awalnya, tarekat ini diperuntukan bagi masyarakat umum, agar mereka menemukan jalan yang sederhana dalam mengamalkan agama dan dalam melakukan perjalanan spiritual menuju Allah SWT. Dalam perkembangannya, tepatnya pada masa Syekh Al-Haddad sebagai masa akhir fase para syekh menurut As-Syathiri, ajaran Tarekat Alawiyah menemukan wujud-utuhnya sebagai thariqah ammah, tarekat yang ajaran-ajaran sangat sederhana dan diperuntukkan bagi masyarakat umum. Tarekat Alawiyah dikemas dalam ajaran-ajaran Al-Haddad sedemikian sederhana sehingga dapat dipahami oleh masyarakat luas.

Pada masa Syekh Al-Haddad ini, kesederhanaannya itu dapat dilihat pada lima ajaran pokok Tarekat Alawiyah, yaitu:
1. Ilmu
2. Amal
3. Wara
4. Khauf (takut) kepada Allah
5. Mengikhlaskan amal hanya untuk Allah.

Dalam kelima ajaran Tarekat Alawiyah, kelima ajaran tersebut harus di bawah bimbingan seorang syekh, sebagaimana yang ada pada tradisi-tradisi tarekat-tarekat yang termasyhur.

Ajaran katarekatan dalam Tarekat Alawiyah hampir sama dengan tarekat-tarekat pada umumnya, seperti tradisi baiat, silsilah, ijazah khirqah, dan keterikatan dengan syekh dan lainnya. Hanya saja dalam Tarekat Alawiyah, tradisi-tradisi seperti itu dilihat sebagai afdhaliyyah (keutamaan), bukan suatu keharusan.

Dengan usaha Al-Haddad mengembalikaan Tarekat Alawiyah sebagai thariqah ammah, dan meletakan ajaran-ajaran dasar yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat umum maka dalam sejarah Tarekat Alawiyah, ia di kenal sebagai mujaddid (pembaharuan) XII H.

Pendiri: Ahmad bin Isa (Al-Muhajir ila Allah)
Lahir: Bashrah 260 H / 820 M
Wafat: Hadhramaut 345 H / 924 M
Pusat Penyebaran: Hadhramaut Yaman, Indonesia, Hijaz, Asia Timur
Sumber: Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf oleh KH. A. Aziz Masyhuri

Komentar
Loading...