Mengenal Tarekat Ahmadiyah Badawiyah

Syekh Ahmad Al-Badawi dilahirkan pada tahun 569 H di Fes (disebut Fas di dalam Bahasa Arab), yang menjadi ibu kota negara Maroko pada waktu itu. Dia meninggal dunia pada hari Selasa, 12 Rabiul Awal tahun 675 Hijriah, ketika berumur 79 tahun, di kota Thanta, yang terletak di utara negara Mesir, dan berada lebih kurang 90 kilometer dari kota Kairo (pada masa dulu, Thanta pernah dikenal sebagai Thanandhita).

Di antara gelar yang telah diberikan kepada beliau ialah Syihabuddin (bintang agama), Al-Aqthab, Abu Al-Fityah (bapak para kesatria), Syekh Al-Arab dan Al-Quthab An-Nabawy. Malah, Syekh Ahmad Al-Badawi memiliki 29 nama gelar (laqab).

Nasabnya
Al-Ghautsul Kabir, Al-Quthbus Syahir, Shahibul Barakah wal Karamah Syekh Ahmad Al-Badawi adalah seorang lelaki keturunan Rasullullah SAW, melalui Sayyidina Al-Husain. Menurut Muhammad Murtadha Az-Zabidy (w. 1205 H), silsilah keturunan yang lengkap bagi Syekh Ahmad Al-Badawi ialah Ahmad ibn’ Ali ibn Ibrahim ibn Muhammad ibn Abi Bakar ibn Ismail ibn Umar ibn Ali ibn ’Utsman ibn Al-Husain ibn Muhammad ibn Musa al Asyhab ibn Yahya ibn ’Isa ibn Ali ibn Muhammad ibn Hasan ibn Ja’far ibn Ali Al-Hadi ibn Muhammad Al-Jawad ibn Ali Ar-Ridha ibn Musa Al-Kadzim ibn Ja’far As-Shadiq ibn Muhammad Al-Baqir ibn Zainal Abidin Ali ibn Al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib.

Ibu Syekh Ahmad Al-Badawi yang bernama Fathimah binti Muhammad ibn Ahmad ibn Adbullah ibn Musa ibn Syu’aib juga adalah seorang keturunan Rasulullah SAW. Adapun nenek Syekh Ahmad Al-Badawi yang bernama Asma’ binti Utsman adalah anak saudara seorang raja yang pernah memerintah Maroko.

Kota Thanta adalah sebuah kota yang secara geografis berada dalam kondisi “sederhana”. Di kota ini pula Universitas Al-Azhar mempunyai cabang. Tetapi, ketika semua sambutan maulid Syekh Ahmad Al-Badawi sedang diadakan, jumlah penduduk kota Thanta akan menjadi berlipat ganda. Ia seakan-akan kota Makkah al-Mukarramah pada waktu musim haji. Ini adalah sebagai satu tanda, Syekh Ahmad Al-Badawi masih populer di kalangan rakyat jelata, walaupun sudah lebih dari 700 tahun beliau meninggal dunia.

Orang-orang Mesir telah mengkhususkan tiga upacara tahunan untuk memperingati kelahiran Syekh Ahmad Al-Badawi. Sambutan maulid Syekh Ahmad Al-Badawi di Thantan ini dihadiri oleh khalayak ramai, sehingga kadangkala jumlah mereka mencapai 3 juta orang. Yang turut menghadiri sambutan maulid Syekh Ahmad Al-Badawi, bukan saja dari kalangan para pengamal tarekat Al-Ahmadiyah Al-Badawiyah, tapi juga dari kalangan pengamal tarekat-tarekat lain, termasuk beberapa orang pembesar negara Mesir. Malah, presiden Mesir mengutus seorang menteri sebagai wakil pribadinya dalam rangka menghadiri majelis maulid Syekh Ahmad Al-Badawi.

Silsilah Tarekatnya
Syekh Ahmad Al-Badawi adalah seorang waliyullah yang sangat terkenal di negara Mesir. Dia juga adalah pendiri Tarekat Ahmadiyah, yang juga dikenal sebagai Tarekat Badawiyah. Tarekat ini telah terbagi menjadi beberapa cabang dan ranting, seperti Tarekat Anbabiyah, Tarekat Al-Bandariyah, Tarekat Baiyimiah, Tarekat Halabiyah, Tarekat Hammidiyah, Tarekat Kannasiyah, Tarekat Salamiyah, Tarekat Syinnawiyah, Tarekat Suthhiyah, dan Tarekat Zahidiyah.

Syekh Ahmad Al-Badawi menerima ijazah tarekat dari Syekh Al-Birri yang telah menerima dari Syekh Abi Nu’aim Al-Baghdadi, yang telah menerima dari Syekh Abil Abbas Ahmad ibn Abi Al-Hasan ’Ali Ar-Rifai, yang telah menerima dari Syekh Manshur Al-Batha’ihy Ar-Rabbani, yang telah menerima dari Syekh Ali Al-Qari Al-Wasithi yang telah menerima dari Syekh Abil Fadhl ibn Kamikh, yang telah menerima dari Syekh Abi ’Ali Ghulam ibn Tarakan, yang telah menerima dari Syekh ‘Ali ibn Barbari (yang juga disebut sebagai ibn Al-Baranbary), yang telah menerima dari Syekh ’Ali Al-’Ajami (yang juga dikenal sebagai Asy-Syekh Mahalli Al-’Ajami), yang telah menerima dari Syekh Abi Bakr Dulaf ibn Jahdar Asy-Syibli, yang telah menerima dari Syekh Abil Qasim Al-Junaid ibn Muhammad Al-Baghdadi, yang telah menerima dari Syekh Abi Al-Hasan Sary ibn Al-Mughalis As-Saqathi, yang telah menerima dari Syekh Ma’ruf ibn Fairuz Al-Karkhi, yang telah menerima dari Syekh Abi Sulaiman Dawud Ibn Nasir At-Tha’i, yang telah menerima dari Syekh Abi Muhammad Habib ibn ’Isa Al-’Ajami, yang telah menerima dari Syekh Abi Sa’id Al-Hasan ibn Abi al-Hasan Yasar Al-Bashri yang telah menerima dari ayahnya yakni Al-Imam Al-Hasan ibn Ali, yang telah menerima dari ayahnya yakni Al-Imam Ali ibn Abi Thalib yang telah menerima dari sepupunya yang juga adalah bapak mertuanya yakni junjungan kita Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW.

Pada tahun 634 H, Syekh Ahmad Al-Badawi melakukan perjalanan ke Thanta, sebuah desa kecil di sebelah utara Kairo (Mesir), dan tinggal di sana sampai ia wafat. Di sinilah ia mulai mengarahkan hidupnya sebagai seorang sufi. Perjalanan kesufiannya dimulai ketika ia suatu waktu naik ke atap sebuah rumah, lalu mengarahkan matanya pada sinar matahari, sampai matanya terasa sakit dan menjadi merah bagaikan bara api. Sewaktu-waktu ia berteriak dengan keras dan sesekali ia diam tanpa bersuara sedikitpun. Dalam keadaan demikian, ia tidak makan dan minum selama kurang lebih 40 hari.

Ia selalu berusaha mengobati sakit matanya. Kemudian ia meminta Abdul Al, salah seorang anak muda yang selalu menemaninya, untuk mencari obat baginya. Anak muda tersebut lalu menjadi muridnya yang terkemuka dan setelah ia meninggal menjadi penggantinya sebagai pemimpin tarekat.

Di Thanta ia terkenal sebagai orang yang keramat dan memiliki kelebihan. Karena itu ia didatangi oleh banyak orang yang menyatakan diri sebagai muridnya. Kedatangan para murid yang belajar kepadanya membuat desa Thanta ramai. Tarekat yang dibawanya berkembang terus dan memberikan pengaruh besar dalam sejarah Mesir, baik dari segi agama, sosial, ekonomi dan pemikiran. Tarekat ini terkenal dengan nama Tarekat Ahmadiyah Badawiyah.

Wirid dan Hizib-nya
Menurut Syekh Abdul Mun’im Al-Hifni (ahli tasawuf), tidak banyak tulisan yang ditinggalkan oleh Al-Badawi. Ia hanya meninggalkan beberapa tulisan yang berisi bacaan dan doa yang berbentuk Hizib (kumpulan), wirid, wasiat, dan shalawat yang harus dibaca atau diamalkan oleh para muridnya. Bacaan yang termasuk dalam hizib diantaranya ialah:

  1. Basmalah,
  2. Rabbi la tadzarni fardan wa anta khair al-waritsin (ya Allah, janganlah tinggalkan aku sendirian, dan Engkau adalah sebaik-baik yang mewariskan),
  3. Surah Al-Fil,
  4. La haula wa la quwwata illa bi Allah Al-‘Aliyyi Al-‘Adzim (tidak ada kemampuan dan kekuatan selain dengan Allah yang Maha Tinggi dan Agung),
  5. Shalawat kepada Nabi SAW, dan
  6. Hamdalah.

Hizib ini dibaca setelah membaca surat al fatihah sebanyak 100 kali dan As-Shamadiyah Al Asma’ Al Husna) sebanyak 100 kali.

Dalam Tarekat Ahmadiyah terdapat wirid-wirid yang harus dibaca setiap hari sesudah shalat lima waktu, berdasarkan wasiat kepada Abdul Al, Syekh Ahmad Al-Badawi berkata: “Ya, Abdul Al, kuwasiatkan kepadamu untuk bertakwa kepada Allah dalam keadaan sunyi maupun ramai, dan senantiasalah melakukan shalat sunnah dan berjamaah setiap waktu. Setelah selesai salam, bacalah Ayat kursi sekali, Subhanallah 33 kali, shalawat kepada Nabi 100 kali, dan berdzikir 300 kali jika engkau sanggup membacanya setiap kali sesudah shalat fardlu, akan terbuka bagimu segala kebaikan. Jika tidak sanggup, bacalah sesudah Subuh, Maghrib, dan Isya’. Jika tidak sanggup pula, bacaah sekali sehari. Jika ketinggalan membacanya, bacalah seluruhnya pada hari lain sebagai gantinya. Senantiasalah berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Shalat dua rakaat tengah malam lebih baik bagimu daripada shalat 1000 rakaat di siang hari.”

Selain itu, ada pula wirid-wirid yang harus dibaca setiap hari tertentu. Misalnya, pada hari Ahad, shalawat kepada Nabi SAW 150 kali, serta hamdalah dan takbir sekurang-kurangnya 100 kali; dan pada hari Senin, Subbuh Quddus sekurang-kurangnya 100 kali. Di samping itu ada pula shalawat tertentu yang dibaca.

Menurut Al-Badawi, orang yang bertakwa dan berbuat kebajikan dekat dengan Allah SWT. Karena itu ia berwasiat kepada Abdul Al agar berbuat kebajikan, seperti menyayangi anak yatim, memberi makan yang lapar, dan memberi minum yang haus, memuliakan para tamu dan menutup aurat.

Ajarannya
Ajaran tarekat dan tasawuf yang dikembangkan Tarekat Ahmadiyah berkaitan dengan moral dan pengenalan Tuhan. Pokok ajarannya antara lain adalah Al-Hilm (sopan santun), Al-Ilmu (ilmu pengetahuan), As-Sakha (kedermawanan), Asy-Syafaqah (menyayangi), As-Shabr (bersikap sabar), At-Taqwa (bertakwa), Al-Faqr (bertasawuf/merasa butuh), At-Taubah (bertaubat), Az-Zuhd (bersikap zuhud) dan At-Tafakkur (berfikir tentang ciptaan Allah SWT).

Cabangnya
Ajaran tarekat ini dikembangkan oleh para murid dan pengikut Al-Badawi, terutama di Mesir. Di sana kini telah banyak didirikan berbagai tarekat kecil yang merupakan cabang Tarekat Ahmadiyah, di antaranya Tarekat Al-Halbiyah, Asy Syu’aibiyah, At-Tiqyaniyah, Al-Hamudiyah, Az-Zahidiyah, Al-Fargaliyah, dan Al-Bayumiyah.

Syekh Ahmad Al-Badawi tidak pernah mengarang kitab. Yang ada sebuah kitab yang telah ditulis oleh seorang muridnya, mengikuti petunjuk yang diberikan Syekh Ahmad Al-Badawi. Kitab ini tersimpan di dalam masjid Syekh Ahmad Al-Badawi di kota Thantha.

Shalawat dan Hizibnya
Di antara amalan-amalan Syekh Ahmad Al-Badawi yang masih popular dan diamalkan oleh umat Islam di seluruh dunia ialah shalawat Nuraniyah, shalawat Al-Anwar dan shalawat Nurul Qiyamah dan beberapa hizib ringkas seperti hizib Dar’ul Matin, Hizib Kabir dan Hizib Shaghir yang diamalkan oleh para pengikut Tarekat Al-Ahmadiyah.

Shalawat Nuraniyah

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلٰى سَيِّدِناَ وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ اْلأَصْلِ النُّوْرَانِيَّةِ، وَلَمْعَةِ الْقَبْضَةِ الرَّحْمَانِيَّةِ، وَأَفْضَلِ الْخَلِيْقَةِ اْلإِنْسَانِيَّةِ، وَأَشْرَفِ الصُّوْرَةِ الْجَسْمَانِيَّةِ، وَمَعْدِنِ اْلأَسْرَارِ الرَّبَّانِيَّةِ، وَخَزَائِنِ الْعُلُوْمِ اْلإِصْطِفَائِيَّةِ، صَاحِبِ الْقَبْضَةِ اْلأَصْلِيَّةِ، وَالْبَهْجَةِ السَّنِيَّةِ، وَالرُّتْبَةِ الْعَلِيَّةِ، مَنِ انْدَرَجَتِ النَّبِيُّوْنَ تَحْتَ لِوَائِهِ، فَهُمْ مِنْهُ وَاِلَيْهِ، وَصَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَيْهِ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ عَدَدَ مَاخَلَقْتَ، وَرَزَقْتَ وَأَمَتَّ وَأَحْيَيْتَ اِلَى يَوْمِ تَبْعَثُ مَنْ أَفْنَيْتَ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا الى يومِ الدين وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Shalawat Nurul Anwar

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ الْأَنْوَارِ وَسِرِّ الْأَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ الْأَغْيَارِ وَمِفْتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُخْتَارِ وَآلِهِ الْأَطْهَارِ وَأَصْحَابِهِ الْأَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللَّهِ وَإِفْضَالِه

Shalawat Nurul Qiyamah

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَــلَى سَيِّــدِنَا مُحَمَّدٍ بَحْرِ أَنْــوَارِكَ وَمَعْدِنِ أَسْرَارِكَ وَلِسَانِ حُجَّـــتِكَ وَعَرُوْسِ مَمْلَــكَــتِكَ وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ وَطِرَازِ مُــلْــكِـكَ وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ وَطَرِيْقِ شَرِيْعَــتِـكَ الْـمُتَــلَذِّذِ بِتَوْحِيْدِكَ إِنْسَانِ عَيْنِ اْلوُجُوْدِ وَالسَّبَبِ فِى كُلِّ مَوْجُوْدِ عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ الْـمُتَــقَدّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ صَلَاةً تَدُوْمُ بِدَوَامِكَ وَتَبْقٰى بِبَــقَائِكَ لَا مُنْـــتَهٰى لَهَا دُوْنَ عِلْمِكَ صَلَاةً تُرْضِيْكَ وَتُرْضِيْهِ بِـهَا عَنَّا يَارَبَّ الْعَالَـمِــيْنَ

Adapun nasihat-nasihatnya yang terkenal antara lain:

“Jauhilah cinta dunia, karena ia akan merusak amal saleh.”

“Sayangilah anak yatim, berilah mereka pakaian kepada orang yang telanjang, berilah makan orang yang lapar, muliakanlah orang asing dan para tamu sehingga kamu akan menjadi orang-orang yang diterima di sisi Allah SWT.”

“Janganlah merasa gembira atas musibah yang menimpa seorang mahluk Allah. Jangan berucap ghibah dan namimah. Jangan menyakiti orang yang menyakitimu, maafkanlah orang yang mendzalimimu, berbuatlah baik terhadap orang-orang yang berbuat jelek kepadamu, dan berilah orang yang menolak (memberi)mu.”

Pendiri: Ahmad Al-Badawi
Lahir: Fes Maroko 596 H / 119 M
Wafat: Thanta Mesir 675 H / 1276 M
Pusat: Mesir dan Maroko
Sumber: Ensiklopedi 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf oleh KH. A. Aziz Masyhuri

Komentar
Loading...