Connect with us

Tokoh

Mengenal Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Ulama Besar dari Tanah Borneo

Published

on

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (1702-1807) atau yang dikenal juga dengan sebutan Datuk Kalampayan Martapura adalah seorang ulama yang menganut Madzhab Syafi’i. Ia dilahirkan di Desa Lok Gabang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Syekh Arsyad adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ia lahir dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang yang zuhud, alim dan pernah juga menjadi seorang pimpinan panglima dalam melawan penjajahan Portugis dan Belanda.

Dari jalur ayah, nasabnya sampai pada Rasulullah saw. yaitu, Maulana Muhammad Arsyad Al-Banjari, bin Abdullah, bin Tuan Penghulu Abu Bakar, bin Sultan Abdurrasyid Mindanao, bin Abdullah, bin Abu Bakar Al-Hindi, bin Ahmad Ash-Shalaibiyyah, bin Husein bin Abdullah, bin Syekh Abdullah Al-Idrus Al-Akbar (datuk seluruh keluarga Al-Aidrus), bin Abu Bakar As-Sakran, bin Abdurrahman As-Saqaf, bin Muhammad Maula Dawilah, bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al-Ghoyyur, bin Muhammad Al-Faqih Muqaddam (574-653 H), bin Ali Faqih Nuruddin, bin Muhammad Shahib Mirbath, bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah,bin Alawi Abi Sadah, bin Ubaidillah, bin Imam Ahmad Al-Muhajir (820-924) dikenal dengan panggilan Al-Imam Ahmad bin Isabin Imam Isa Ar-Rumi, bin Al-Imam Muhammad An Naqib, bin Al-Imam Ali Uraidhy, bin Al-Imam Ja’far As-Shadiq, bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir, bin Al-Imam Ali Zainal Abidin, bin Al-Imam Sayyidina Husein, bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah, wa Sayyidah Fatimah Az Zahra, binti Rasulullah saw.

Sejak kecil, Syekh Arsyad sudah menunjukkan keahliannya di bidang seni lukis. Suatu ketika, Sultan Kerajaan Banjar (Sultan Tahmidullah) mengelilingi kampung-kampung dengan tujuan untuk melihat keadaaan rakyatnya. Kemudian ia terhenti pada sebuah rumah yang terletak di Desa Lok Gabang. Ia merasa kagum dan terkesima ketika menemui sebuah lukisan yang ada di rumah tersebut. Alhasil Sultan Banjar tersebut menanyai siapakah yang membuat lukisan seindah ini. Karena merasa kagum dan terkesima akhirnya Sultan Banjar menemui yang mempunyai rumah tersebut dan bertanyalah tentang perihal lukisan yang telah membuat hatinya senang. Dan ternyata yang melukis itu masih anak-anak.

Melihat kelebihan yang ada pada Syekh Arsyad, terbesitlah di hati Sultan untuk mengasuh dan mendidik Syekh Arsyad di Istana. Sebetulnya, sang ibu sangat berat hati menerima tawaran tersebut. Namun ia sadar, jika puteranya itu perlu mendapat pendidikan yang lebih baik dan bagus. Otak secerdas Syekh Arsyad perlu diasah supaya menghasilkan sebuah berlian. Akhirnya Sang Sultan membawanya ke kerajaan.

Di istana, Sultan memperlakukannya seperti anak kandung sendiri. Para ulama terbaik didatangkan untuk mengajar di sana. Dengan kecerdasannya, Syekh Arsyad mampu menyerap semua materi-materi yang diajarkan guru-gurunya. Sekitar umur 7 tahun ia sudah fasih membaca al-quran. Di saat itu pula bakat tulis menulis sudah tampak pada dirinya.

Setelah dewasa, Syekh Arsyad menikahi wanita pilihan Sultan yang bernama Siti Aminah. Ia adalah perempuan yang shalihah dan juga sangat taat serta berbakti kepada suaminya.

Sanad Keilmuan Syekh Muhammad Arsyad

Setelah 35 tahun tinggal di istana dan mendapatkan pendidikan yang sangat baik, terlintas dalam hati  Syekh Arsyad untuk menimba ilmu ke Haramain.

Selama belajar di Haramain, Syekh Arsyad dibiayai oleh kerajaan. Sehingga Arsyad Al-Banjari mampu membeli rumah di daerah Syamsiyah, Makkah, yang sampai saat ini masih di pertahankan oleh imigran Banjar. Kampung Syamsiyah ini juga sebut dengan Barhat Banjar.

Kebetulan pada saat itu tidak hanya Syekh Arsyad saja yang diberangkatkan. Ada dua tokoh yang ikut diberangkatkan oleh Sultan Tahlilullah, yaitu Syekh Abdul Hamid yang dikenal dengan sebutan Datuk Ambuluang dan Syekh Muhammad Nafis bin Idris Al-Husain, yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Nafis.

Selain dari rombongan Borneo, pada saat itu ada pula tokoh-tokoh Nusantara lain yang menempuh pendidikan agama di tanah haram, mereka adalah Syekh Abdus Shamad al-Falimbani, Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dan Syekh Abdul Wahab al-Bugisi.

Selama di Haramain, Syekh Arsyad mengambil sanad keilmuan dari beberapa ulama Arab antara lain:

1. Syekh Athaillah bin Ahmad Al-Mihsri Al-Azhar.
2. Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurd, Madinah.
3. Syekh Muhammad bin Abdu Karim as-Samany Al Madany.
4. Syekh Ahmad bin Abdul Mun’in Ad-Damanhuri
5. Syekh Sayyid Abdul Faydh Muhammad Murtadha Az-Zabidi.
6. Syekh Hasan bin Ahmad ‘Akisy Al-Yamani.
7. Syekh Salim bin Abdullah Al-Bashri.
8. Syekh Shiddiq bin Umar Khan.
9. Syekh Abdullah bin Hijazi bin Asy-Syarqawi.
10. Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz Al-Maghrabi.
11. Syekh Sayyid Abdurrahman bin Sulayman Al Ahdal.
12. Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin Al-Fathani.
13. Syekh ‘Abid as-Sindi.
14. Syekh Abdul Wahab Ath-Thanthawi.
15. Syekh Maulana Sayyid Abdullah Mirghani.
16. Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Jawahir.
17. Syekh Muhammad Zayn bin Faqih Jalaludin Aceh Sang Pembaharu di Borneo

Selain itu, Syekh Arsyad juga berguru kepada ulama-ulama dari Nusantara yang sudah lama mukim di Haramain seperti Syekh Abdur Rahman bin Abul Mubin Pauh Bok al-Fathani, Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh, Syekh Muhammad Aqib bin Hasanudin al-Palimbani, dan masih banyak lagi guru-gurunya yang berasal dari Nusantara.

Syekh Arsyad menghabiskan waktu selama 35 tahun di sana dan akhirnya kembali ke Nusantara bersama Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Betawi, dan Syekh Abdul Wahab al-Bugisi pada tahun 1186 H/1773 M.

Jasa Syekh Muhammad Arsyad di Bidang Sosial dan Keagamaan

Setelah kembali ke Nusantara, Syekh Arsyad diminta oleh Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Betawi untuk singgah di rumahnya, Batavia. Di sana, Syekh Arsyad sempat mengajarkan ilmu dan membetulkan arah kiblat beberapa masjid.

Dua bulan lamanya tinggal di Batavia, akhirnya Syekh Arsyad berpamitan untuk kembali ke Banjar. Meskipun di Banjar sudah berdiri kesultanan Islam sejak kepemimpinan Sultan Surian Syah atau Sulan llah, namun perkembangan Islam di sana tidak berkembang secara signifikan. Pemeluknya hanya berasal dari kalangan muslim Melayu dan sedikit sekali yang menjalani syariat dengan ketat.

Melihat hal tersebut, Syekh Arsyad kemudian mendirikan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Martapura agar ia dapat mengenalkan gagasan-gagasan keagamaan terhadap masyarakat sekitar.

Mula-mula Syekh Arsyad mendirikan sebuah langgar untuk menampung para pembelajar. Namun semakin hari malah semakin bertambah banyak murid-murid yang datang. Bahkan tidak hanya di satu desa, mereka datang dari beberapa desa.

Melihat murid-muridnya semakin banyak, Syekh Arsyad meminta pada Sultan Tahmi Allah II untuk memberikan sebidang tanah yang luas yang terletak di luar kesultanan.

Di lembaga pendidikan tersebut, Syekh Arsyad mengajarkan beberapa bidang keilmuan seperti al-Quran, baca tulis Arab Melayu, Ibadah (Fikih), Nahwu, Sharaf, Tafsir, Hadis, Tauhid, dan lain-lain.

Dalam berdakwa Syekh Muhammad Arsyad memiliki metode tersendiri, yang mana di antara satu dan yang lainnya saling menunjang. Adapun metode yang digunakan:

1. Bil Hal
Keteladanan yang baik (Uswatun Hasanah) yang direfleksikan dalam tingkah laku, gerak gerik dan tutur kata, sehari-hari dan disaksikan secara langsung oleh murid-muridnya

2. Bil Lisan
Dengan mengadakan pengajaran dan pengajian yang bisa diikuti siapa saja, baik keluarga, kerabat dan sahabat

3. Bil Kitabah
Menggunakan bakat yang ia miliki dibidang tulis menulis, sehingga lahirlah lewat ketajaman penanya kitab-kitab yang menjadi pegangan umat

Karena kealimannya yang sudah popular di masyarakat, akhirnya Syekh Arsyad diangkat menjadi Mufti yang bertanggung jawab mengeluarkan fatwa-fatwa mengenai masalah keagamaan dan sosial.

Di samping mengajar, Syekh Arsyad adalah ulama produktif. Ada banyak karya yang ia hasilkan. Bahkan di antaranya sudah tersebar di beberapa negara tetangga, seperti kitab Sabil Al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, yang di seselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiul Akhir 1195 H/1780 M. kemasyhurannya sampai ke Malaysia, Brunei, dan Pattani (Thailand Selatan). Sedangkan karya-karya yang lainnya adalah sebagai berikut:

1. Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman Al Mu’minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M
2. Luqtah Al-‘Ajlan fi Al-Haidhi wa Al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192H/1778M.
3. Sabil Al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiul akhir 1195 H/1780 M.
4. Risalah Qaul Al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.
5. Kitab Bab an-Nikah.
6. Bidayah Al-Mubtadi wa ‘Umdah Al-Auladi
7. Kanzu Al-Ma’rifah
8. Ushul ad-Din
9. Kitab Al-Faraid
10. Hasyiyah Fat-h Al-Wahhab
11. Mushaf Al-Quran Al-Karim
12. Fathu ar-Rahman
13. Arkanu Ta’lim as-Shibyan
14. Bulugh Al-Maram
15. Fi Bayani Qadha’ wa Al-Qadar wa
16. Tuhfah Al-Ahbab Al-Waba’
17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna.

Wafatnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Pada tahun 1807 M, Allah Swt. memanggil Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menghadap kehadirat-Nya di usia yang ke-105 tahun. Ia dimakamkan di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Continue Reading

Tokoh

Guru, Karya dan Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul yang lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Memiliki kisah akhir yang penuh semangat meski dalam kondisi sakit beliau tetap mengajar dan mengisi pengajian meski tidak rutin seperti biasa dilakukan di tempatnya.

Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Pada awal tahun 2000-an, kesehatan Guru Sekumpul mulai menurun dan sakit-sakitan. Pada tahun 2002 beliau harus melakukan cuci darah. Dengan semakin menurunnya kesehatan sang guru, maka pengajian tidak lagi dapat berlangsung secara rutin. Beberapa kali pengajian diliburkan, bahkan ada yang diliburkan berbulan-bulan. Dalam kondisi menurun itu beliau menyampaikan pengajian dari dalam rumah yang disiarkan lewat TV, baik dengan kondisi duduk atau sambil berbaring. Jamaah yang datang tetap dapat menyaksikan dan menyimak pengajian beliau meski tidak datang ke Mushalla Arraudhah seperti biasa.

Pada tahun 2005 kondisi beliau semakin kritis hingga kemudian diterbangkan ke Singapura untuk dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Setelah 10 hari dirawat di sana, Guru Sekumpul dikembalikan ke Martapura. Tepat subuh Rabu 5 Rajab 1424 H/10 Agustus 2005 ulama kharismatik ini wafat pada usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Sekumpul di samping Mushalla Arraudhah berdampingan dengan makam pamannya (Syekh Semman Mulya) dan ibunda beliau.

Beliau meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Hj. Juwairiyah, Hj. Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, dan dua anak yaitu Muhammad Amin Badali Al-Banjari dan Ahmad Hafi Badali Al-Banjari. Beliau juga meninggalkan Komplek Arraudhah Sekumpul yang sampai saat ini masih semarak dengan kegiatan keagamaan, meski tidak seperti ketika beliau masih hidup.

Guru-Guru Pendidikannya

Berikut ini adalah beberapa guru KH. Muhammad Zaini selama belajar di Martapura baik di pesantren maupun luar pesantren. Gurunya di tingkat Ibtida’iy adalah KH. Sulaiman, KH. Abdul Hamid Husein, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rafi’i dan KH. Syahran. Gurunya di tingkat Tsanawiy/’Aliy adalah KH. Husein Dahlan, KH. Salman Yusuf, KH. Semman Mulia, KH. Salman Jalil, KH. Salim Ma’ruf, KH. Husin Qadri, dan KH. Sya’rani Arif.Guru-gurunya di bidang Tajwid adalah KH. Sya’rani Arif, KH. Nashrun Thahir, KH. Semman Mulia, dan KH. M. Aini.

Kitab yang Diajarkan dan Karyanya

Ada sejumlah kitab mu’tabarah dan terkenal yang pernah dikaji dalam pengajian. Di bidang Tafsir dan hadis ada beberapa kitab yang dikaji, yaitu Tafsir Jalalayn, Tafsir Khazin, Tafsir Marah al-Labid, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadh ash-Shalihin. Di bidang ilmu Kalam, beberapa kitab yang dikaji, yaitu Sifat Dua Puluh (Habib ‘Utsman Batawi), Kifayah al-‘Awwam, Jawahir al-Murid, dan Syarah ‘Abd al-Salam ‘ala Jawharah fi ‘Ilm al-Kalam. Di bidang fiqih, beberapa kitab yang dikaji adalah Parukunan Besar, Sabil al Muhtadin, Syarh Sittin, Syarh Matan Zubad, Bajuri ‘ala al Qasimi, Syarh Matan Hadhramiy, dan Qalyubiwa Humayrah Syarh Minhaj an-Nawawi. Di bidang Tasawuf dan akhlak, cukup banyak kitab yang telah dikaji, yaitu Penawar Bagi Hati, Sayr as-Salikin, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam at-Tawfiq, Kitab Arba’in, Bidayah al-Hidayah, Irsyad al-‘Ibad, Kifayah al Atqiya`, Mursyid al-Amin, Minhaj al-‘Abidin, Ihya` ‘Ulum ad Din, Syarh Hikam/iqazh al-Himam, Wujud an-Nabiy fi Kulli Makan, Insan al-Kamil, Fath ar-Rahman, Zad al-Muttaqin, Syarh ‘Ainiyyah, Taqrib al-Ushulfi at-Tashil al-Wushul, al-Fusul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikmiyyah, al-‘Alamah al-Kibriyyah, wa al-Fahhamah, Tafrih al-Qulub wa at-Tafrij al-Kurub, ‘Ilm an Nibras manhat al-Akyas, al-Mawa`id fi al-Fawa`id, ar-Risalah an-Nuraniyyah, Syarh Ardabiliy, Tanbih al-Mugharrin, Maraqiy al-‘Ubudiyyah, Nasha`ih ad-Diniyyah, Nur azh-Zhulam, Ayyuha al-Walad dan Khulashah at-Tashanif. Ada beberapa lagi kitab yang dikaji yang tidak disebutkan di sini terkait pengajian kitab sirah dan manaqib.

Peninggalan yang tidak kalah pentingnya adalah beberapa risalah yang ditulis oleh Guru Sekumpul. Beberapa risalah tersebut adalah: (1) Risalah Mubarakah, (2) Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadirial Hasani as-Samman al-Madani, (3) Ar-Risalah an-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulat as-Sammaniyyah, (4) Nubdzah min Manaqib al-Imam Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi, dan (5) al-Imdad fi Awrad Ahl al-Widad.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Thariqah

Biografi dan Silsilah Thariqah Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul memiliki nama asli KH. Muhammad Zaini Ghani. Beliau dikenal diseluruh pelosok negeri Indonesia terutama masyarakat Banjarmasin. Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Banjarmasin dan merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Yakni, KH. Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Lakab Guru Sekumpul merupakan panggilan akrab dari jamaahnya. Beliau lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Abah Guru Sekumpul ketika lahir diberi nama Qusyairi, namun karena sering sakit kemudian namanya diganti menjadi Muhammad Zaini.

Sewaktu kecil, ia tinggal di Kampung Keraton. Ayahnya, Abdul Ghani, dan ibunya, Masliah merupakan keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh penggosok batu intan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Meski hidup prihatin dan sederhana, Zaini muda mendapat pendidikan yang baik dari ayahnya dan neneknya yang bernama Salabiah. Di lingkungan keluarga ia mendapat didikan yang ketat dan disiplin serta mendapat pengawasan dari pamannya, Syekh Semman Mulya. Pada usia 5 tahun ia belajar al-Qur`an dengan Guru Hasan Pesayangan dan pada usia 6 tahun menempuh pendidikan di Madrasah Kampung Keraton. Pada usia 7 tahun ia masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Abah Guru Sekumpul muda menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam selama 12 tahun (1949-1961 M). Pada tahun 1949 (usia 7 tahun) ia masuk tingkat Tahdhiry/ Ibtida’iy dan pada tahun 1955 (usia 13 tahun) ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Pesantren yang sama. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1961 (usia 19 tahun), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Selain belajar secara formal di pondok pesantren Darussalam, beliau juga menuntut ilmu di sejumlah halaqah di kediaman para ulama di sekitar Martapura sebagaimana lazim dilakukan oleh para santri di pesantren Darussalam. Tidak hanya itu, ia juga belajar dengan sejumlah guru di luar daerah Martapura, di antaranya ia pernah belajar dengan KH. M. Aini di Kampung Pandai Kandangan dan pernah belajar dengan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Sekitar tahun 1965 (usia 23 tahun), Abah Guru Sekumpul berangkat bersama pamannya, KH. Semman Mulya ke Bangil. Di Bangil ia dibimbing oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan selama beberapa waktu. Setelah memperoleh bimbingan spiritual, Zaini Muda disuruh sang guru untuk berangkat ke Mekkah menemui Sayyid Muhammad Amin Qutbi untuk mendapat bimbingan sufistik darinya. Sebelum berangkat ke Makkah, ia terlebih dahulu menemui Kyai Falak (Mama Falak) Bogor dan di sini ia memperoleh ijazah dan sanad suluk dan thariqah. Sambil menunaikan ibadah haji, Abah Guru Sekumpul mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi dan dihadiahi sejumlah kitab tasawuf.

Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul telah belajar secara khusus tentang Tasawuf dan Suluk kepada tiga ulama, yaitu Syekh Syarwani Abdan di Bangil, Mama Falak di Bogor dan Sayyid Muhammad Amin Qutbiy di Makkah. Selain itu, rantai keilmuannya tersambung dengan sejumlah ulama besar di Makkah. Hal ini terlihat dari beberapa sanad bidang keilmuan dan thariqah yang diambilnya dari beberapa ulama diantaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbiy, Sayyid ‘Abd al-Qadir al-Bar, Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kyai Falak Bogor dan Syekh Isma’il al-Yamani. Kegemarannya menuntut ilmu dan bersilaturrahmi ke sejumlah ulama membuatnya memiliki banyak guru baik di Kalimantan, Jawa dan Madura maupun di Timur Tengah (Makkah). Ada yang menyebutkan bahwa gurunya berjumlah sekitar 179 hingga mendekati 200 orang. Wallahua’lam.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Profil Thariqah

Thariqah Qadiriyah: Karya dan Murid Syekh Abdul Qadir al-Jilani (2)

Published

on

Karya-Karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani merupakan salah satu ulama yang cukup produktif di masanya. Beliau banyak membahas mengenai hal-hal yang sangat mendasar, seperti tata cara shalat, puasa, haji dan sebagainya. Selain itu, beliau juga membahas mengenai aqidah serta membuat tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz. Beliau juga menuliskan beberapa nasehat penting bagi umat islam.

Menurut cucu ke-25 Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jailani, beliau telah berkunjung ke 50 perpustakaan resmi dan puluhan perpustakaan lainnya di lebih dari 20 negara sejak tahun 1977 hingga saat ini, Ia menemukan tafsir al-jailani yang merupakan tafsir al-Qur’an 30 Juz di perpustakaan Vatikan setelah 8 abad dinyatakan hilang. Hingga saat ini, beliau telah menemukan 17 kitab dan 6 manuskrip termasuk kitab tafsir al-Jailani, yang ia syarahi dan menghasilkan sekitar 9752 lembar.

Berikut adalah diantara karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani:

1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq

Kitab tersebut terdiri dari beberapa pembahasan, diantaranya:

  1. Fiqih ibadah, yang menerangkan hal-hal pokok dalam islam, seperti bersuci, salat, zakat, puasa, I’tikaf, haji, keutamaan bulan Rajab, dan keutamaan bulan Sya’ban.
  2. Aqidah, yang di dalamnya menerangkan makna iman, mengenal Allah, kedudukan Al-Qur’an, kedudukan orang mukmin di akhirat, beriman pada qada’ dan qodar, iman terhadap siksa dan nikmat kubur, surga dan neraka adalah mahluk, kenabian Nabi Muhammad Saw., kehalifahan pasca Rasulullah, dan kelompok-kelompok dalam Islam.
  3. Tafsir, di dalamnya menerangkan isi tafsir surat an-Nahl ayat 98, surat An-Namlayat 30, surat An-Nur ayat 31, surat Al-Hujurat ayat 13, surat At-Taubah ayat 36, dan tafsir dari lafal bismillahirrahmanirrahim
  4. Tasawwuf, yang di dalamya menerangkan etika bermasyarakat, etika personal, etika pernikahan, dan amar makruf nahi munkar.

2. Al-Fathu Ar-Rabbani wa Al-Faydur Ar-Rahmani

Merupakan sebuah kitab yang mencakup wasiat, nasehat-nasehat, dan petunjuk-petunjuk di 62 (enam puluh dua) yang diasuhnya sejak tanggal 3 Syawal 545 H/5 Februari 1151 M sampai tanggal 6 Sya’ban 546 H/30 Nopember 1152 M yang membahas ihwal permasalahan keimanan, keihlasan, dan sebagainya.

3. Tafsir Al-Jailani

Merupakan salah satu karya beliau berupa tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz yang mengulas ayat-ayatnya. Kini tafsir tersebut telah berhasil di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 6 (enam) jilid dan diterbitkan atas kerjasama antara Zawiyah Ar-Raudlah, Markaz Al-Jailani Asia Tenggara dan Qaf Media.

4. Futuh Al-Ghoib

Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat, pemikiran dan pendapat mengenai berbagai permasalahan, seperti penjelasan tentang keadaan dunia, keadaan jiwa syahwat, dan ketundukan kepada perintah Allah Swt.

5. Sirrul Asrar

Kitab ini berisi tuntunan bagi para salik (orang yang menjalani kesufian) menapaki jalan-jalan yang sunyi menuju rahasi di balik rahasia. Syaikh Abdul QAdir Al-Jailani mengajak untuk menelusuri jejak-jejak (ayat-ayat) Allah yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita. Selain itu dibahas pula mengenai ajaran-ajaran dasar Islam, seperti shalat, puasa, dan haji. Panduan shalat-shalat sunnah dan zikir-zikir penyejuk qalbu juga dibahas pada kitab ini. Karya ini memandu untuk meraih hakikat kelembutan, mencapai keihlasan, dan menghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Prinsip-prinsip spiritualitas Islam diulas secara lugas.

6. As-Shalawat wa Al-Aurad

7. Ar-Rasail

8. Ad-Diwan

9. Ya Waqit Al-Hikam

10. Asrar Al-Isra`

11. Jala’ Al-Khathir fi Al-Zhahir wal Bathin Al-Amru Al-Muhkam

12. Aurâd al-Ayyam As-Sabah

13. Muhtasar Ihya’ Ulumuddin

14. Usuluddin

15. Hizib al-Washilah

16. Maratib Al-Wujud

17. Wirid Shalat Kubrâ

18. Hizib Al-Raja

19. Hizib Al-Washilah

Murid-Murid Syaikh Abdul Qadir alJailani

Imam al-Syathnufi menyebutkan dalam kitab Bahjah al-Asrar, ulama-ulama besar dan para wali yang telah belajar ilmu dan tharîqah dari Syaikh Abdul Qadir. Kebanyakan dari mereka adalah ahli fatwa, ahli hukum (pengadilan) atau orang yang mumpuni di bidang ilmu syari’at khususnya hadits, fiqih, dan al-Qur’an.

Murid-murid beliau yang ahli di bidang hukum (pengadilan):

  1. Abu Ya’la Muhammad al-Fara`
  2. Qadhi Al-Qudhah Abu Hasan Ali
  3. Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan
  4. Qadhi al-Qudhah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas al-Maridini,
  5. Al-Imam Abu Amr Utsman,
  6. Al-Qadhi Abu Thâlib Abdur Rahman Mufti Irak
  7. Syaikh al-Qudhah Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Qadhi Ahmad bin Bakhtiyar Al-Wasithi yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Munadi, (Adhwa’, halaman: 177)

Murid-murid beliau di bidang fatwa:

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini
  2. Ahmad bin Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini,
  3. Abu Bakar Abdullâh bin Nashar bin Hamzah Al-Tamimi Al-Bakri Al-Baghdadi penyusun kitab Anwar Al-Nazhir fi Ma’ifati Akhbari al-Syaikh Abdul Qâdir
  4. Al-Imam Abu Amr Utsman bin Ismail bin Ibrahim Al-Sa’di
  5. Al-Hasan bin Abdullâh al-Dimyati
  6. Syaikh Al-Fuqaha’ Abu Abdillah bin Sanan
  7. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Muhammad Al-Azhari Al-Sharbini
  8. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Shâlih Bahauddin
  9. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Abdullâh bin Al-Husain bin Al-Akbari Al-Bashri Al-Dharir,
  10. Abu Muhammad Al-Hasan Al-Farisi
  11. Abdul Karim Al-Farisi
  12. Abu Al-Fadhl
  13. Ahmad bin Shâlih bin Syafi’ al-Hambali
  14. Abu Ahmad Yahya bin Barokah bin Mahfuzh Al-Daibaqi Al-Babishri Al-Iraqi
  15. Abu Al-Qasim Khalaf bin Iyasy bin Abdul Aziz al-Mishri
  16. Najm Al-Din Abu Al-Faraj Abdul Mun’im bin Ali bin Nashir bin
    Shuqail Al-Harani.

Murid-murid beliau yang terkenal ahli fiqh:

  1. Muhammad bin Abi Al-Makarim Al-Fadhl bin Bakhtiyar bin Abi Nashr Al-Ya’qubi
  2. Abu Abdul Malik Dziyan bin Abu al-Ma’ali Rasyid bin Nabhan Al-Iraqi,
  3. Al-Imam Abu Ahmad yang terkenal memiliki banyak kelebihan, karya tulis dan karamah,
  4. Abu Al-Farj Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Hambali
  5. Al-Mufti Abu ‘Ali bin Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji
  6. Abu Muhammad Yusuf bin Al-Muzhaffar bin Syuja’ Al-‘Aquli Al-Aziji Al-Shahari
  7. Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail al-Aziji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Thabal
  8. Abu Al-Ridha Hamzah bin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail Al-Aziji
  9. Muhammad bin Ismail Al-Aziji
  10. Abu Al-Fath Nashar bin Fatayan bin Muthahar al-Mutsni,
  11. Ali bin Abi Thâhir bin Ibrahîm bin Naja Al-Mufashir Al-Wa’izh Al-Anshari. Dan masih banyak lagi yang lain (Adhwa’, halaman: 178).

Murid-murid beliau yang hafal al-Qur’an dan ahli hadits fiqhiyah:

  1. Abu Hafs Amr bin Abi Nashr bin ‘Ali al-Ghazal
  2. Al-Imam Muhammad Mahmud bin Utsman Al-Ni’al
  3. Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi. Dan masih banyak yang lain.

murid-murid beliau yang menjadi guru tharîqah:

  1. Abu Al-Sa’ud Ahmad bin Abu Bakar Al-Harami yang dijuluki Sirajul
    Auliyâ’
  2. Al-Syahid Abu Abdillah Muhammad bin Abu Ma’ali
  3. Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Wahab al-Aziji
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Dalaf Al-Bagdadi yang mana dari beliaulah silsilah tharîqah Qâdiriyah menyebar ke Indonesia. Dan masih banyak yang lain, (Adhwa, halaman: 179).

Editor: Hamzah Alfarisi

Sumber:

  1. Tim Penyusun (Idarah Aliyah JATMAN). 2022. Menyimak Biografi Pendiri Thariqah Mu’tabarah. Pekalongan (ID): JATMAN.
  2. Tim Penyusun. 2012. Sabilus Salikin, Jalan Para Salik. Pasuruan (ID): Pondok Pesantren Ngalah.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending