Mengenal Sanad dalam Tradisi NU

Istilah yang terkenal dalam jam’iyah NU dan masyarakat pesantren. Kata sanad disini dikenal dalam tiga pengertian: pertama, berkaitan dengan dunia ilmu hadits, kedua, berkaitan degan dunia tarekat. Dalam kedua dunia itu, istilah sanad kadang dirangkai dengan kata silsilah sehingga menjadi silsilah sanad. Ketiga, berkaitan dengan sanad keilmuan, yaitu tradisi belajar ilmu agama.

Kata sanad secara bahasa berasal dari kata sanada yang berarti “bersandar”. Dari kata sanada juga muncul kata asnada yang berarti “menyandarkan sesuatu”. Sedangkan kata sanad berarti “sesuatu yang dibuat sandaran”.

Sanad dalam pengertian ilmu hadits dihubungkan dengan sesuatu yang disandarkan oleh seorang perawi (yang meriwayatkan hadits) kepada perawi di atasnya. Sang perawi ini mendapatkan sumber periwayatannya dari perawi di atas. Persambungan sanad ini, ada yang terus sampai kepada Nabi dari awal sampai akhir, disebut muttashil.

Ada juga sanad yang bersambung dari seorang perawi, tetapi tidak sampai tingkatan tabi’in dia tidak menyebutkan sahabat. Sanad jenis ini langsung saja disambungkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sanad seperti ini terputus. Ada juga yang disambungkan oleh seorang perawi ke perawi di atasnya. Sementara yang disambungkan itu hidupnya tidak sezaman atau tidak pernah bertemu. Sanad seperti ini menimbulkan keraguan, dan seterusnya.

Kajian sanad dalam ilmu hadits akan menentukan penilaian terhadap sebuah hadits. Setelah dinilai dengan ilmu jarah dan ta’dil akan berimplikasi pada diterima tidaknya seorang perawi. Bila perawi kuat hafalan disebut dhabith. Bila perawi adil, yaitu Muslim, baligh, berakal, bebas dari dosa besar, dan tidak fasik, periwayatannya bisa diterima. Pengkajian terhadap kualitas sanad ini akan menghasilkan jenis-jenis hadits yang dikategorikan dalam shahih, hasan, dan dhaif dengan berbagai variasinya.

Dari segi banyaknya sanad dalam setiap tingkatan periwayatan menghasilkan hadits dalam kategori mutawatir, mashyur, ahad. Mutawatir berarti dalam setiap tingkatan periwayatan diriwayatkan oleh banyak perawi, di antaranya ada yang mengisyarakatkan di atas 10-200 perawi. Masyhur berarti setiap tingkatan diriwayatkan oleh beberapa perawi, tetapi tidak sampai pada derajat Mutawatir. Ahad berarti dalam setiap tingkatan diriwayatkan hanya oleh seorang perawi.

Istilah sanad dalam dunia tarekat dihubungkan dengan persambungan silsilah sanad dari amalan dzikir-dzikir dan wirid-wiridnya. Dalam tarekat mu’tabarah (yang dianggap sah), silsilah sanad-nya harus sampai kepada Nabi. Dalam hal ini, seseorang menerima tarekat dari gurunya, terus ke atas sampai kepada Nabi. Persambungan ini disebut sanad, dan rangkaian sanad itu disebut isnad.

Salah satu contoh sanad yang bersambung kepada Nabi adalah silsilah sanad dalam Tarekat Naqsyabandiyah:
1. Nabi Muhammad SAW
2. Abu Bakar ash-Shiddiq
3. Salman al-Farisi
4. Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq
5. Ja’far ash-Shadiq
6. Abu Yazid Tahifur al-Bisthami
7. Abul Hasan al-Kharaqani
8. Abu Ali al-Farmadzi
9. Abu Yusuf al-Hamdani
10. Abdul Khaliq al-Ghuzwadani
11. Arif ar-Riwgari
12. Muhammad Anjir Faghnawi
13. Azizan Ali ar-Ramithani
14. Muhammad Baba as-Samassi
15. Amir Sayyid Kullal al-Bukhari
16. Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi

Dari Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi ini Naqsyadandiyah kemudian memiliki beberapa cabang sampai ke bawah, karena dikembangkan oleh murid-murid yang berbeda.

Sama seperti silsilah sanad tarekat lain, yang disebut tarekat mu’tabarah juga bersambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Diyakini sebagai amalan yang diajarkan Nabi. Pengajarannya pada saat ini lewat sanad guru-guru yang bersambung terus-menerus sampai hari ini yang diperolehnya dari Nabi Muhammad SAW.

Ketiga, sanad keilmuan yang biasanya dihubungkan “kepada siapa” santri NU belajar ilmu-ilmu agama. Kalau ia belajar membaca kitab dari pesantren yang diakui jelas keilmuannya, maka seorang penuntut ilmu itu berarti telah memiliki sanad keilmuan atau sanad keilmuannya jelas. Sebaliknya, kalau penuntut ilmu itu belajar kepada orang atau pesantren di luar mereka yang diakui keilmuannya, dianggap sanad keilmuannya tidak jelas.

Dalam pengertian demikian, seorang yang akan mengejar Fathu al-Mu’in, kalau tidak memiliki sanad keilmuan dari guru pesantren yang diakui, ia akan diragukan. Terlebih kalau pengajarannya ada banyak kesalahan. Di sini adanya kesinambungan sanad keilmuan lebih bermakna sebagai menjaga otoritas kualitas keilmuan yang akan diajarkan kepada masyarakat.

Pengertian sanad keilmuan ini semakin mencair ketika tradisi otodidak telah dilakukan banyak santri pesantren. Ini terjadi terutama setelah mereka lulus dan menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Sebagai pengetahuan, hal-hal demikian tetap berkembang dan dipelajari lewat tradisi membaca. Namun, dasar-dasar keilmuan pesantren santri yang demikian tetap ada. Keilmuan yang diperoleh dari pesantren menjadi bekal mengkaji kitab-kitab yang belum dipelajari di pesantren.

Sumber: Ensiklopedia Nadhlatul Ulama

Komentar
Loading...