Mengenal Lebih Dekat NU: Fikrah Nahdliyyah (Bag. 6)

0

Masyarakat NU (Nahdlatul Ulama) mengenalnya sebagai landasan pemikiran ke-NU-an atau pemikiran yang bercirikan atau khas NU. Fikrah Nahdliyyah kemudian dijadikan landasan berpikir jam’iyah NU dan masyarakatnya dalam melakukan tindakan. Dimaksudkan untuk menuntun masyarakat NU dalam rangka perbaikan umat.

Berdasarkan Fikrah Nahdliyyah masyarakat NU dapat dibedakan dari komunitas lain. Lebih dari itu, dengan Fikrah Nahdliyyah, masyarakat NU bertekad untuk ikut terlibat aktif dalam masyarakat Indonesia. Bahkan, dengan Fikrah Nahdliyyah itu masyarakat NU dituntun agara mampu berdialektika dengan perkembangan zaman.

Fikrah Nahdliyyah ini telah diletakkan fondasinya sejak awal oleh para pendiri NU. Fondasinya dirangkum sederhana dalam Anggaran Dasar NU tahun 1926. Praktiknya telah hidup dalam kultur masyarakat pesantren sebagai basis jam’iyah NU. Wacananya secara formal pernah dikemukakan K.H. Achmad Siddiq dalam Khittah Nahdliyyah sejak 1969. Wacana ini menjadi salah satu cikal bakal gerakan Khittah NU.

Formulasi Fikrah Nahdliyyah dalam bentuk keputusan resmi diantaranya dilakukan pada Munas Alim Ulama NU 2006 tentang al Masa’il ad Diniyah. Munas ini menghasilkan dokumen penting tentang Fikrah Nahdliyyah. Hasil rumusan ini dipahami sebagai formulasi dari tradisi dan kultur yang membentuk Fikrah Nahdliyyah. Isinya telah berjalan bersama-sama secara inheren denga masyarakat pesantren sebagai basis kultural NU.

Basis kultural Fikrah Nahdliyyah memang masyarakat pesantren. Oleh para kiai yang mendirikan NU, Fikrah Nahdliyyah diformulasikan dengan ungkapan, “Memegang jalan hidup Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diterapkan di Indonesia.” Penegasan soal Aswaja penting dilakukan karena para pendiri NU saat itu menghadapi tantangan serius dari perkembangan gerakan Wahabi yang menyerangnya. Padahal, Aswaja sebagai basis masyarakat pesantren lebih dulu ada jauh sebelum gerakan-gerakan yang terpengaruh Wahabi itu muncul. Gerakan itu meneriakkan purifikasi. Dalam tingkat yang berbeda-beda, gerakan ini berpengaruh terhadap gerakan-gerakan Islam di Indonesia.

Di tengah situasi itu para kiai dan masyarakat pesantren menegaskan bahwa jalan hidup mereka mengikuti Aswaja. Dalam bidang fiqih, mereka mengakui empat madzhab yang berkembang, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dalam bidang aqidah mengakui dan mengikuti jalan hidup yang diformulasikan Imam Abu Hasan al Asy’ari dan Imam Abu Manshur al Maturidi.

Dalam tasawuf, masyarakat pesantren dan para kiai yang mendirikan NU mengikuti jalan hidup yang dicontohkan Imam Junaid al Baghdadi, Imam al Ghazali, dan imam-imam lain. Mereka adalah imam panutan kaum Aswaja. Para imam Aswaja ini telah teruji sejarah selama berabad-abad di kalangan muslim dan diikuti mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia.

Dari formulasi ini Fikrah Nahdliyyah menegaskan fondasi dasar penting bagi pemikiran ke-NU-an, yaitu menyatukan tiga aspek utama: fiqih, aqidah, dan tasawuf. Ketiganya tidak bisa dipisah dan diceraikan. Ketiganya, dalam Fikrah Nahdliyyah, memberikan keselarasan berdasarkan tiga aspek dalam syariat Islam yang dipahami kaum Aswaja NU.

Dalam praktiknya, Fikrah Nahdliyyah kemudian dikembangkan lewat tradisi Bahtsul Masa’il di dalam NU untuk menjawab persoalan-persoalan yang muncul dari sudut fiqih. Pada saat yang sama tetap berdampingan dengan olah rasa dan batin dalam bidang tasawuf. Praktiknya, olah batin ini diakomodasi dengan memayungi kaum thariqah yang terhimpun dalam Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN). Ini pun masih ditambah dengan penempaan keyakinan aqidah Aswaja dalam berbagai pengajaran di pesantren.

Dalam melakukan dialektika dengan dunia sosial, NU juga memiliki manhaj atau metode yang dimasukkan dalam Fikrah Nahdliyyah. Ini didasari karena jam’iyyah NU berada dalam sebuah komunitas besar masyarakat Indonesia dan Islam. Satu sama lain saling membutuhkan hubungan sosial. Fikrah Nahdliyyah dalam membina hubungan sosial ini kemudian dikenal dengan istilah Manhaj Fikrah Nahdliyyah.

Manhaj Fikrah Nahdliyyah

Manhaj Fikrah Nahdliyyah ini dipahami dari manhaj yang ditempuh kaum Aswaja dalam tradisi Islam, yang terdiri dari lima macam;

Pertama, fikrah tawassuthiyah (pola pikir moderat). Artinya, jam’iyah NU dan masyarakat pesantren senantiasa dan perlu mengembangkan sikap tawazun (seimbang) dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. NU tidak mau terjebak pada sikap tafrith atau ifrath, yaitu menolak atau tidak melakukan tindakan-tindakan yang sangat ekstrem, melampaui batas.

Kedua, fikrah tasamuhiyah (pola pikit toleran). Artinya, jam’iyah NU dan masyarakat pesantren dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walaupun berbeda aqidah, pola pikir, dan budaya. Sikap toleran bukanlah larut mengikuti arus, tetapi sekaligus juga tidak menolak dan hijrah dari arus yang ada dalam sistem sosial. Sikap toleran itu berarti aktif dengan tetap berpijak pada dasar pikir Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan tetap menghormati pandangan dan kelompok lain.

Ketiga, fikrah ishlahiyah (pola pikir reformatif). Artinya, jam’iyah NU dan masyarakat pesantren senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al ishlah ila ma huwa al ashlah). Pola pikir reformatif ini untuk mendorong sikap kepeloporan di kalangan NU dan masyarakatnya agar terus-menerus aktif dan terlibat dalam memperbaiki masyarakat, meskipun berkali-kali telah jatuh, tidak boleh putus asa.

Keempat, fikrah tathawwuriyah (pola pikir dinamis). Artinya, jam’iyah NU dan masyarakat pesantren perlu senantiasa melakukan dinamisasi dalam merespons berbagai persoalan. Lebih dari itu mereka juga melakukan kreativitas yang bermanfaat bagi umat dengan tetap menjaga segi-segi moral yang didasarkan pada pemahaman Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Kelima, fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis). Artinya, jam’iyah NU dan masyarakat pesantren senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh NU. Di antara manhaj yang telah ditetapkan, berdasarkan manhaj kaum Aswaja yang mendasarkan pemikiran dan jalan hidupnya pada Al Qur’an, sunnah, ijma’, dan qiyas.

Manhaj Fikrah Nahdliyyah dengan didasarkan pada jalan hidup Aswaja juga dibangun berdasarkan kearifan lokal ketika ia diterapkan di Indonesia. Penerapan Aswaja tidak dipaksakan dengan kekerasan. Dalam soal ini, Fikrah Nahdliyyah dilandasi oleh penolakan atas pemutusan terhadap masa lalu, tetapi sekaligus tidak alergi terhadap perkembangan zaman.

Rumusan sederhana yang telah mendarah daging dan dikutip hampir di setiap pesantren adalah memelihara hal yang lama yang baik dan menerima hal baru yang lebih baik. Ujaran penting ini dirumuskan dengan kalimat al muhafdzah ‘ala al qadim ash shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah (memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik).

Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Comments
Loading...