Connect with us

Tokoh

Mengenal KH. Mustaqim bin Husain, Wali Quthb dari Tulungagung

Published

on

KH. Mustaqim bin Husain merupakan pendiri pondok PETA (Pesulukan Thariqat Agung) yang lahir di Desa Nawangan, Kecamatan keras, Kabupaten Kediri pada tahun 1901 M.

Jika diurut ke atas nasabnya dari jalur ayah bertemu dengan Prabu Sanghyang Borosngoro atau Sayyid Ali bin Muhammad bin Umar atau Mbah panjalu, Ciamis, Jawa Barat.

Pada usianya yang ke-13 tahun, Kiai Mustaqim belajar ilmu kepada Kiai Zarkasyi Tulungagung untuk belajar ilmu agama dasar. Ketika menginjak dewasa, ia sudah memiliki hati yang selalu terjaga dari sifat-sifat jelek serta selalu berzikir kepada Allah Swt. sehingga ia bisa mengerti apa itu alam gaib, alam barzah, alam jin dan bisikan hati orang lain.

Setelah dewasa, Kiai Mustaqim menikah dengan Nyai Halimah Sa’diyah, putri H. Rois Kauman Tulungagung. Dari pernikahannya tersebut, keduanya dikaruniai 16 orang anak, namun Sembilan di antaranya meninggal ketika masih balita.

Adapun anak-anak yang masih hidup sampai dewasa ada tujuh orang, mereka ialah Nyai Thowilah Sumaranten Mustaqim, KH. Arif Mustaqim, Nyai Hj. Anni Siti Fatimah Mustaqim, Kiai Ali Murtadho Mustaqim, KH. Abdul Djalil Mustaqim dan Nyai Hj. Siti Mahfiyah Mustaqim.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Kiai Mustaqim bekerja sebagai tukang potong rambut atau tukang cukur. Ia juga pernah menjadi tukang jahit sepatu dan berdagang, bahkan ia pernah memiliki toko bernama ‘Bintang Sembilan’.

Awal Mula Sanad Thariqah

Sebelum memiliki sanad Thariqah Syadziliyah, Kiai Mustaqim sudah lebih dahulu memiliki sanad-sanad hizib seperti hizib baladiyah, hizib kafi dan lain-lain.

Suatu ketika, salah satu murid Kiai Mustaqim yang bernama Asfaham Ngadiluwih Kediri mengamalkan wirid hizib kafi dan masuk ke dalam maqam Jadzab Billah.

Pada kondisi tersebut, Asfaham berjalan sampai masuk ke Pesantren Tremas Pacitan Jawa Timur. Setelah masuk ke pesantren, Asfaham berdebat dengan para ustaz di sana. Ketika mendengar hal tersebut, Syekh Abdul Rozak menemui Asfaham dan bertanya,

“Siapa gurumu?”

Kemudian Asfaham menjawab, “Kiai Mustaqim bin Husain dari Kauman Tulungagung”

Setelah kejadian tersebut, beberapa waktu kemudian Syekh Abdul Rozak sowan kepada Kiai Mustaqim untuk mendapatkan ijazah ‘ammah darinya, namun keduanya saling menghindar untuk menjadi guru. Akhirnya keduanya sepakat untuk sama-sama memberi ijazah. Adapun Kiai Mustaqim memberikan ijazah hizib baladiyah sedangkan Syekh Abdul Rozak memberi baiat Thariqah Syadziliyah.

Setelah istiqamah mengamalkan Thariqat Sadziliyah, semakin lama pengikut dan pengamal yang berguru lewat baiat Kiai Mustaqim semakin banyak, sampai akhirnya Syekh Abdul Rozak berkata,

“Thariqah Syadziliyah ini nanti pusatnya pindah ke Kedung (maksudnya pindah ke Kiai Mustaqim bin Husain Kauman Tulungagung).”

Selain menerima baiat Thariqah Syadziliyah, Kiai Mustaqim sebenarnya juga menerima baiat Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dari Kiai Khudhori bin Hasan Malangbong, Garut. Namun ia lebih mensyiarkan Thariqah Syadziliyah karena ada pesan khusus dari Syekh Abdul Rozak untuk mengembangkan thariqah ini di daerah Tulungagung Jawa Timur.

Adapun sanad thariqahnya adalah:

  1. Kiai Mustaqim bin Husain dari
  2. Syekh Abdul Rozak bin Abdullah at-Tarmasi dari
  3. Syekh Ahmad, Kadirejo Klaten dari
  4. Syekh Ahmad Nahrowi Muhtarom al-Jawi tsumma al-Makkiy dari
  5. Syekh Muhammad Shalih al-Mufti al-Hanafi al-Makkiy dari
  6. Syekh Muhammad Ali bin Thahir al-Watri al-Hanafi al-Madani dari
  7. Syekh Syihab Ahmad Minatullah al-‘Adawi asy-Syabasi al-Azhari al-Mishri al-Maliki dari
  8. Syekh Muhammad al-Bahity dari
  9. Syekh Yusuf asy-Syabasi adh-Dhohiry dari
  10. Syekh Asy-Syihab Ahmad bin Musthafa al-Iskandary asy-Syahir bisshobagh dari
  11. Sayyid Muhammad bin Abdul Baqi’ az-Zurqoni al-Maliki dari
  12. Syekh An-Nur Ali bin Abdurrahman al-Ajhuri al-Mishri al-Maliki dari
  13. Syekh Nuruddin Ali bin Abi Bakr al-Qorofi dari
  14. Syekh Jamaludin Ibrahim bin Ali bin Ahmad al-Qurosyi asy-Syafi’I al-Qolqosyandi dari
  15. Syekh Asy-Syihab Taqiyuddin Abil Abbas Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakr al-Muqdisi asy-Syahir bil Wasithiy dari
  16. Syekh Shodruddin Abil Fathiy Muhammad bin Muhammad Ibrahim al-Maidumi al-Bakri al-Mishri dari
  17. Syekh Abul Abbas Ahmad bin Umar al-Anshori al-Mursi dari
  18. Syekh Abul Hasan Ali asy-Syadzili dari
  19. Syekh Abdus Salam bin Masyisy dari
  20. Syekh Abdurrahman al-Atthar az-Zayyat dari
  21. Syekh Taqiyuddin al-Furqoni dari
  22. Sayyid Fakhruddin dari
  23. Sayyid Nuruddin Abil Hasan Ali dari
  24. Sayyid Muhammad Tajuddin dari
  25. Sayyid Muhammad Syamsuddin dari
  26. Sayyid Zainuddin al-Qozwini dari
  27. Sayyid Ibrahim al-Bashri dari
  28. Sayyid Ahmad Marwani dari
  29. Sayyid Sa’id dari
  30. Sayyid Sa’du dari
  31. Sayyid Fathus Su’ud dari
  32. Sayyid Sa’id al-Ghozwani dari
  33. Sayyid Abi Muhammad Jabir dari
  34. Sayyid Hasan bin Ali dari
  35. Sayyid Ali bin Abi Thalib dari
  36. Nabi Muhammad saw. dari
  37. Malaikat Jibril as. dari
  38. Allah Swt.

Kiai Mustaqim adalah salah satu ulama yang berjuang mempertahankan kemerdekaan saat penjajah Jepang menyerang Indonesia. Ketika bangsa Jepang memaksa Indonesia melakukan ‘Seikerei’ banyak ulama-ulama yang menentangnya dengan keras. Akibatnya penolakan ini dianggap sebuah pemberontakan oleh pemerintah Jepang sehingga mereka banyak melakukan penyiksaan kepada ulama tak terkecuali kepada Kiai Mustaqim.

Derajat Kewalian Kiai Mustaqim

Menurut cerita Pak Ahmad bin Badri, ketika ia berkelana selama 18 tahun, ia pernah sowan menemui Kiai Dalhar Watucongol Magelang. Saat itu Kiai Dalhar bertanya,

“Kamu dari mana?”

Kemudian ia menjawab, “dari Jeli, Karangrejo, Tulungagung.”

Kiai Dalhar bertanya lagi, “Sudah kenal Kiai Mustaqim Kauman Tulungagung?”

Kemudian ia menjawab, “Sudah. Saya sudah tahu beliau, bahkan bapak saya ikut amalan thariqah KH. Mustaqim.”

Kemudian Kiai Dalhar berkata, “KH. Mustaqim itu adalah wali Quthub yang derajat kewaliannya Mastur (ditutupi).”

Padahal, di daerah Tulungagung dan sekitarnya banyak yang tidak mengetahui kedudukan KH. Mustaqim. Yang mereka tahu hanyalah Pak Takim sebagai tukang cukur rambut.

Karomah Kiai Mustaqim

Sebagaimana waliyullah pada umumnya, Kiai Mustaqim juga diberikan kemuliaan oleh Allah Swt. sebagai tanda kebesaran-Nya.

Di antaranya dalam memberikan wejangan, Kiai Mustaqim adalah ulama yang lebih sering berbicara dengan menggunakan bahasa kinayah sehingga menurut KH. Shoddiq Muslih, apabila mendengar perkataan-perkataannya harus dengan berdzikir kepada Allah Swt. agar bisa memahami makna dari perkataan tersebut sebagaimana ungkapannya berikut:

“Menjadi orang mukmin itu harus sering memotong kuku.”  Artinya, menjadi orang mukmin harus menghilangkan sifat ujub supaya bisa ikhlas.

Kemudian, sebelum Indonesia merdeka, pernah suatu ketika pada Bulan Rabiul Awwal, Kiai Mustaqim berkata,

“Bangsa Jepang berada di Indonesia masih enam bulan lagi.”

Dan benar saja, sebab setelah enam bulan, tepatnya pada Hari Jumat Legi, 9 Ramadhan 1383 H. atau 17 Agustus 1945 M., Indonesia merdeka.

Karamahnya yang lain, menurut Kiai Lamri Kedung Sigit Karangan Trenggalek, ia berkata bahwa Kiai Mustaqim kerap menemui tamu yang sowan dan mengajaknya bercakap-cakap sesuai dengan bahasa asal tamu tersebut. Seperti contoh ketika Kiai Mustaqim menerima tamu dari India, ia bisa bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa India tanpa membawa penerjemah. Dan kejadian itu didengarkan langsung oleh Kiai Lamri.

Wafatnya Sang Mursyid

Kiai Mustaqim wafat pada tanggal 1 Muharram setelah ashar dan bertepatan dengan tahun 1970 M. Ia dikebumikan di kawasan pondok PETA Kauman Tulungagung Jawa Timur. Sedangkan estafet kemursyidan diserahkan kepada puteranya, KH. Abdul Djalil Mustaqim.

Wallahu a’lam bisshawwab

Tokoh

Guru, Karya dan Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul yang lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Memiliki kisah akhir yang penuh semangat meski dalam kondisi sakit beliau tetap mengajar dan mengisi pengajian meski tidak rutin seperti biasa dilakukan di tempatnya.

Akhir Hayat Abah Guru Sekumpul

Pada awal tahun 2000-an, kesehatan Guru Sekumpul mulai menurun dan sakit-sakitan. Pada tahun 2002 beliau harus melakukan cuci darah. Dengan semakin menurunnya kesehatan sang guru, maka pengajian tidak lagi dapat berlangsung secara rutin. Beberapa kali pengajian diliburkan, bahkan ada yang diliburkan berbulan-bulan. Dalam kondisi menurun itu beliau menyampaikan pengajian dari dalam rumah yang disiarkan lewat TV, baik dengan kondisi duduk atau sambil berbaring. Jamaah yang datang tetap dapat menyaksikan dan menyimak pengajian beliau meski tidak datang ke Mushalla Arraudhah seperti biasa.

Pada tahun 2005 kondisi beliau semakin kritis hingga kemudian diterbangkan ke Singapura untuk dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth. Setelah 10 hari dirawat di sana, Guru Sekumpul dikembalikan ke Martapura. Tepat subuh Rabu 5 Rajab 1424 H/10 Agustus 2005 ulama kharismatik ini wafat pada usia 63 tahun. Beliau dimakamkan di Komplek Sekumpul di samping Mushalla Arraudhah berdampingan dengan makam pamannya (Syekh Semman Mulya) dan ibunda beliau.

Beliau meninggalkan tiga orang isteri, yaitu Hj. Juwairiyah, Hj. Laila dan Hj. Siti Noor Jannah, dan dua anak yaitu Muhammad Amin Badali Al-Banjari dan Ahmad Hafi Badali Al-Banjari. Beliau juga meninggalkan Komplek Arraudhah Sekumpul yang sampai saat ini masih semarak dengan kegiatan keagamaan, meski tidak seperti ketika beliau masih hidup.

Guru-Guru Pendidikannya

Berikut ini adalah beberapa guru KH. Muhammad Zaini selama belajar di Martapura baik di pesantren maupun luar pesantren. Gurunya di tingkat Ibtida’iy adalah KH. Sulaiman, KH. Abdul Hamid Husein, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rafi’i dan KH. Syahran. Gurunya di tingkat Tsanawiy/’Aliy adalah KH. Husein Dahlan, KH. Salman Yusuf, KH. Semman Mulia, KH. Salman Jalil, KH. Salim Ma’ruf, KH. Husin Qadri, dan KH. Sya’rani Arif.Guru-gurunya di bidang Tajwid adalah KH. Sya’rani Arif, KH. Nashrun Thahir, KH. Semman Mulia, dan KH. M. Aini.

Kitab yang Diajarkan dan Karyanya

Ada sejumlah kitab mu’tabarah dan terkenal yang pernah dikaji dalam pengajian. Di bidang Tafsir dan hadis ada beberapa kitab yang dikaji, yaitu Tafsir Jalalayn, Tafsir Khazin, Tafsir Marah al-Labid, Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Riyadh ash-Shalihin. Di bidang ilmu Kalam, beberapa kitab yang dikaji, yaitu Sifat Dua Puluh (Habib ‘Utsman Batawi), Kifayah al-‘Awwam, Jawahir al-Murid, dan Syarah ‘Abd al-Salam ‘ala Jawharah fi ‘Ilm al-Kalam. Di bidang fiqih, beberapa kitab yang dikaji adalah Parukunan Besar, Sabil al Muhtadin, Syarh Sittin, Syarh Matan Zubad, Bajuri ‘ala al Qasimi, Syarh Matan Hadhramiy, dan Qalyubiwa Humayrah Syarh Minhaj an-Nawawi. Di bidang Tasawuf dan akhlak, cukup banyak kitab yang telah dikaji, yaitu Penawar Bagi Hati, Sayr as-Salikin, Ta’lim al-Muta’allim, Sullam at-Tawfiq, Kitab Arba’in, Bidayah al-Hidayah, Irsyad al-‘Ibad, Kifayah al Atqiya`, Mursyid al-Amin, Minhaj al-‘Abidin, Ihya` ‘Ulum ad Din, Syarh Hikam/iqazh al-Himam, Wujud an-Nabiy fi Kulli Makan, Insan al-Kamil, Fath ar-Rahman, Zad al-Muttaqin, Syarh ‘Ainiyyah, Taqrib al-Ushulfi at-Tashil al-Wushul, al-Fusul al-‘Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hikmiyyah, al-‘Alamah al-Kibriyyah, wa al-Fahhamah, Tafrih al-Qulub wa at-Tafrij al-Kurub, ‘Ilm an Nibras manhat al-Akyas, al-Mawa`id fi al-Fawa`id, ar-Risalah an-Nuraniyyah, Syarh Ardabiliy, Tanbih al-Mugharrin, Maraqiy al-‘Ubudiyyah, Nasha`ih ad-Diniyyah, Nur azh-Zhulam, Ayyuha al-Walad dan Khulashah at-Tashanif. Ada beberapa lagi kitab yang dikaji yang tidak disebutkan di sini terkait pengajian kitab sirah dan manaqib.

Peninggalan yang tidak kalah pentingnya adalah beberapa risalah yang ditulis oleh Guru Sekumpul. Beberapa risalah tersebut adalah: (1) Risalah Mubarakah, (2) Manaqib Asy-Syaikh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadirial Hasani as-Samman al-Madani, (3) Ar-Risalah an-Nuraniyyah fi Syarh Tawassulat as-Sammaniyyah, (4) Nubdzah min Manaqib al-Imam Masyhur bi al-Ustadz al-A’zham Muhammad bin ‘Ali Ba’alawi, dan (5) al-Imdad fi Awrad Ahl al-Widad.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Thariqah

Biografi dan Silsilah Thariqah Abah Guru Sekumpul

Published

on

By

Abah Guru Sekumpul memiliki nama asli KH. Muhammad Zaini Ghani. Beliau dikenal diseluruh pelosok negeri Indonesia terutama masyarakat Banjarmasin. Abah Guru Sekumpul merupakan ulama kharismatik asal Banjarmasin dan merupakan zuriat ke-8 dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Yakni, KH. Muhammad Zaini Ghani bin Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Samman bin Saad bin Abdullah Mufti bin Muhammad Khalid bin Khalifah Hasanuddin bin Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan).

Lakab Guru Sekumpul merupakan panggilan akrab dari jamaahnya. Beliau lahir pada malam Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H (11 Februari 1942 M) di desa Tunggul Irang Seberang, Martapura. Abah Guru Sekumpul ketika lahir diberi nama Qusyairi, namun karena sering sakit kemudian namanya diganti menjadi Muhammad Zaini.

Sewaktu kecil, ia tinggal di Kampung Keraton. Ayahnya, Abdul Ghani, dan ibunya, Masliah merupakan keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh penggosok batu intan tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Meski hidup prihatin dan sederhana, Zaini muda mendapat pendidikan yang baik dari ayahnya dan neneknya yang bernama Salabiah. Di lingkungan keluarga ia mendapat didikan yang ketat dan disiplin serta mendapat pengawasan dari pamannya, Syekh Semman Mulya. Pada usia 5 tahun ia belajar al-Qur`an dengan Guru Hasan Pesayangan dan pada usia 6 tahun menempuh pendidikan di Madrasah Kampung Keraton. Pada usia 7 tahun ia masuk ke Madrasah Diniyyah Pondok Pesantren Darussalam Martapura.

Abah Guru Sekumpul muda menempuh pendidikan di Pesantren Darussalam selama 12 tahun (1949-1961 M). Pada tahun 1949 (usia 7 tahun) ia masuk tingkat Tahdhiry/ Ibtida’iy dan pada tahun 1955 (usia 13 tahun) ia melanjutkan ke tingkat Tsanawiyah di Pesantren yang sama. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1961 (usia 19 tahun), lulus dengan nilai jayyid mumtaz. Selain belajar secara formal di pondok pesantren Darussalam, beliau juga menuntut ilmu di sejumlah halaqah di kediaman para ulama di sekitar Martapura sebagaimana lazim dilakukan oleh para santri di pesantren Darussalam. Tidak hanya itu, ia juga belajar dengan sejumlah guru di luar daerah Martapura, di antaranya ia pernah belajar dengan KH. M. Aini di Kampung Pandai Kandangan dan pernah belajar dengan KH. Muhammad di Gadung Rantau.

Sekitar tahun 1965 (usia 23 tahun), Abah Guru Sekumpul berangkat bersama pamannya, KH. Semman Mulya ke Bangil. Di Bangil ia dibimbing oleh Syekh Muhammad Syarwani Abdan selama beberapa waktu. Setelah memperoleh bimbingan spiritual, Zaini Muda disuruh sang guru untuk berangkat ke Mekkah menemui Sayyid Muhammad Amin Qutbi untuk mendapat bimbingan sufistik darinya. Sebelum berangkat ke Makkah, ia terlebih dahulu menemui Kyai Falak (Mama Falak) Bogor dan di sini ia memperoleh ijazah dan sanad suluk dan thariqah. Sambil menunaikan ibadah haji, Abah Guru Sekumpul mendapat bimbingan langsung dari Sayyid Muhammad Amin Kutbi dan dihadiahi sejumlah kitab tasawuf.

Dengan demikian, Abah Guru Sekumpul telah belajar secara khusus tentang Tasawuf dan Suluk kepada tiga ulama, yaitu Syekh Syarwani Abdan di Bangil, Mama Falak di Bogor dan Sayyid Muhammad Amin Qutbiy di Makkah. Selain itu, rantai keilmuannya tersambung dengan sejumlah ulama besar di Makkah. Hal ini terlihat dari beberapa sanad bidang keilmuan dan thariqah yang diambilnya dari beberapa ulama diantaranya, Sayyid Muhammad Amin Qutbiy, Sayyid ‘Abd al-Qadir al-Bar, Sayyid Muhammad bin ‘Alwiy al-Malikiy, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Muhammad Yasin al-Fadani, Kyai Falak Bogor dan Syekh Isma’il al-Yamani. Kegemarannya menuntut ilmu dan bersilaturrahmi ke sejumlah ulama membuatnya memiliki banyak guru baik di Kalimantan, Jawa dan Madura maupun di Timur Tengah (Makkah). Ada yang menyebutkan bahwa gurunya berjumlah sekitar 179 hingga mendekati 200 orang. Wallahua’lam.

Sumber: Shabri Shaleh Anwar, 17 Maksiat Hati: Inspirasi Pengajian Abah Guru Sekumpul. (Riau: Qudwah Press, 2018).

Continue Reading

Profil Thariqah

Thariqah Qadiriyah: Karya dan Murid Syekh Abdul Qadir al-Jilani (2)

Published

on

Karya-Karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Syaikh Abdul Qadir al-Jilani merupakan salah satu ulama yang cukup produktif di masanya. Beliau banyak membahas mengenai hal-hal yang sangat mendasar, seperti tata cara shalat, puasa, haji dan sebagainya. Selain itu, beliau juga membahas mengenai aqidah serta membuat tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz. Beliau juga menuliskan beberapa nasehat penting bagi umat islam.

Menurut cucu ke-25 Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yaitu Prof. Dr. Muhammad Fadhil al-Jailani, beliau telah berkunjung ke 50 perpustakaan resmi dan puluhan perpustakaan lainnya di lebih dari 20 negara sejak tahun 1977 hingga saat ini, Ia menemukan tafsir al-jailani yang merupakan tafsir al-Qur’an 30 Juz di perpustakaan Vatikan setelah 8 abad dinyatakan hilang. Hingga saat ini, beliau telah menemukan 17 kitab dan 6 manuskrip termasuk kitab tafsir al-Jailani, yang ia syarahi dan menghasilkan sekitar 9752 lembar.

Berikut adalah diantara karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani:

1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq

Kitab tersebut terdiri dari beberapa pembahasan, diantaranya:

  1. Fiqih ibadah, yang menerangkan hal-hal pokok dalam islam, seperti bersuci, salat, zakat, puasa, I’tikaf, haji, keutamaan bulan Rajab, dan keutamaan bulan Sya’ban.
  2. Aqidah, yang di dalamnya menerangkan makna iman, mengenal Allah, kedudukan Al-Qur’an, kedudukan orang mukmin di akhirat, beriman pada qada’ dan qodar, iman terhadap siksa dan nikmat kubur, surga dan neraka adalah mahluk, kenabian Nabi Muhammad Saw., kehalifahan pasca Rasulullah, dan kelompok-kelompok dalam Islam.
  3. Tafsir, di dalamnya menerangkan isi tafsir surat an-Nahl ayat 98, surat An-Namlayat 30, surat An-Nur ayat 31, surat Al-Hujurat ayat 13, surat At-Taubah ayat 36, dan tafsir dari lafal bismillahirrahmanirrahim
  4. Tasawwuf, yang di dalamya menerangkan etika bermasyarakat, etika personal, etika pernikahan, dan amar makruf nahi munkar.

2. Al-Fathu Ar-Rabbani wa Al-Faydur Ar-Rahmani

Merupakan sebuah kitab yang mencakup wasiat, nasehat-nasehat, dan petunjuk-petunjuk di 62 (enam puluh dua) yang diasuhnya sejak tanggal 3 Syawal 545 H/5 Februari 1151 M sampai tanggal 6 Sya’ban 546 H/30 Nopember 1152 M yang membahas ihwal permasalahan keimanan, keihlasan, dan sebagainya.

3. Tafsir Al-Jailani

Merupakan salah satu karya beliau berupa tafsir al-Qur’an 30 (tiga puluh) juz yang mengulas ayat-ayatnya. Kini tafsir tersebut telah berhasil di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi 6 (enam) jilid dan diterbitkan atas kerjasama antara Zawiyah Ar-Raudlah, Markaz Al-Jailani Asia Tenggara dan Qaf Media.

4. Futuh Al-Ghoib

Kitab ini berisi tentang nasehat-nasehat, pemikiran dan pendapat mengenai berbagai permasalahan, seperti penjelasan tentang keadaan dunia, keadaan jiwa syahwat, dan ketundukan kepada perintah Allah Swt.

5. Sirrul Asrar

Kitab ini berisi tuntunan bagi para salik (orang yang menjalani kesufian) menapaki jalan-jalan yang sunyi menuju rahasi di balik rahasia. Syaikh Abdul QAdir Al-Jailani mengajak untuk menelusuri jejak-jejak (ayat-ayat) Allah yang terhampar di alam semesta dan di dalam diri kita. Selain itu dibahas pula mengenai ajaran-ajaran dasar Islam, seperti shalat, puasa, dan haji. Panduan shalat-shalat sunnah dan zikir-zikir penyejuk qalbu juga dibahas pada kitab ini. Karya ini memandu untuk meraih hakikat kelembutan, mencapai keihlasan, dan menghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Prinsip-prinsip spiritualitas Islam diulas secara lugas.

6. As-Shalawat wa Al-Aurad

7. Ar-Rasail

8. Ad-Diwan

9. Ya Waqit Al-Hikam

10. Asrar Al-Isra`

11. Jala’ Al-Khathir fi Al-Zhahir wal Bathin Al-Amru Al-Muhkam

12. Aurâd al-Ayyam As-Sabah

13. Muhtasar Ihya’ Ulumuddin

14. Usuluddin

15. Hizib al-Washilah

16. Maratib Al-Wujud

17. Wirid Shalat Kubrâ

18. Hizib Al-Raja

19. Hizib Al-Washilah

Murid-Murid Syaikh Abdul Qadir alJailani

Imam al-Syathnufi menyebutkan dalam kitab Bahjah al-Asrar, ulama-ulama besar dan para wali yang telah belajar ilmu dan tharîqah dari Syaikh Abdul Qadir. Kebanyakan dari mereka adalah ahli fatwa, ahli hukum (pengadilan) atau orang yang mumpuni di bidang ilmu syari’at khususnya hadits, fiqih, dan al-Qur’an.

Murid-murid beliau yang ahli di bidang hukum (pengadilan):

  1. Abu Ya’la Muhammad al-Fara`
  2. Qadhi Al-Qudhah Abu Hasan Ali
  3. Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan
  4. Qadhi al-Qudhah Abu al-Qasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas al-Maridini,
  5. Al-Imam Abu Amr Utsman,
  6. Al-Qadhi Abu Thâlib Abdur Rahman Mufti Irak
  7. Syaikh al-Qudhah Abu Al-Fath Muhammad bin Al-Qadhi Ahmad bin Bakhtiyar Al-Wasithi yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Munadi, (Adhwa’, halaman: 177)

Murid-murid beliau di bidang fatwa:

  1. Abu Abdillah Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini
  2. Ahmad bin Muhammad bin Samdawaih Al-Sharfini,
  3. Abu Bakar Abdullâh bin Nashar bin Hamzah Al-Tamimi Al-Bakri Al-Baghdadi penyusun kitab Anwar Al-Nazhir fi Ma’ifati Akhbari al-Syaikh Abdul Qâdir
  4. Al-Imam Abu Amr Utsman bin Ismail bin Ibrahim Al-Sa’di
  5. Al-Hasan bin Abdullâh al-Dimyati
  6. Syaikh Al-Fuqaha’ Abu Abdillah bin Sanan
  7. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Muhammad Al-Azhari Al-Sharbini
  8. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Shâlih Bahauddin
  9. Al-Allamah Abu Al-Baqa’ Abdullâh bin Al-Husain bin Al-Akbari Al-Bashri Al-Dharir,
  10. Abu Muhammad Al-Hasan Al-Farisi
  11. Abdul Karim Al-Farisi
  12. Abu Al-Fadhl
  13. Ahmad bin Shâlih bin Syafi’ al-Hambali
  14. Abu Ahmad Yahya bin Barokah bin Mahfuzh Al-Daibaqi Al-Babishri Al-Iraqi
  15. Abu Al-Qasim Khalaf bin Iyasy bin Abdul Aziz al-Mishri
  16. Najm Al-Din Abu Al-Faraj Abdul Mun’im bin Ali bin Nashir bin
    Shuqail Al-Harani.

Murid-murid beliau yang terkenal ahli fiqh:

  1. Muhammad bin Abi Al-Makarim Al-Fadhl bin Bakhtiyar bin Abi Nashr Al-Ya’qubi
  2. Abu Abdul Malik Dziyan bin Abu al-Ma’ali Rasyid bin Nabhan Al-Iraqi,
  3. Al-Imam Abu Ahmad yang terkenal memiliki banyak kelebihan, karya tulis dan karamah,
  4. Abu Al-Farj Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Hambali
  5. Al-Mufti Abu ‘Ali bin Abdur Rahman Al-Anshari Al-Khazraji
  6. Abu Muhammad Yusuf bin Al-Muzhaffar bin Syuja’ Al-‘Aquli Al-Aziji Al-Shahari
  7. Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail al-Aziji yang dikenal dengan sebutan Ibnu Al-Thabal
  8. Abu Al-Ridha Hamzah bin Abu Al-Abbas Ahmad bin Ismail Al-Aziji
  9. Muhammad bin Ismail Al-Aziji
  10. Abu Al-Fath Nashar bin Fatayan bin Muthahar al-Mutsni,
  11. Ali bin Abi Thâhir bin Ibrahîm bin Naja Al-Mufashir Al-Wa’izh Al-Anshari. Dan masih banyak lagi yang lain (Adhwa’, halaman: 178).

Murid-murid beliau yang hafal al-Qur’an dan ahli hadits fiqhiyah:

  1. Abu Hafs Amr bin Abi Nashr bin ‘Ali al-Ghazal
  2. Al-Imam Muhammad Mahmud bin Utsman Al-Ni’al
  3. Al-Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Abdul Wahid Al-Maqdisi. Dan masih banyak yang lain.

murid-murid beliau yang menjadi guru tharîqah:

  1. Abu Al-Sa’ud Ahmad bin Abu Bakar Al-Harami yang dijuluki Sirajul
    Auliyâ’
  2. Al-Syahid Abu Abdillah Muhammad bin Abu Ma’ali
  3. Abu Al-Hasan Ali bin Ahmad bin Wahab al-Aziji
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Dalaf Al-Bagdadi yang mana dari beliaulah silsilah tharîqah Qâdiriyah menyebar ke Indonesia. Dan masih banyak yang lain, (Adhwa, halaman: 179).

Editor: Hamzah Alfarisi

Sumber:

  1. Tim Penyusun (Idarah Aliyah JATMAN). 2022. Menyimak Biografi Pendiri Thariqah Mu’tabarah. Pekalongan (ID): JATMAN.
  2. Tim Penyusun. 2012. Sabilus Salikin, Jalan Para Salik. Pasuruan (ID): Pondok Pesantren Ngalah.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending