Mengenal JATMAN: Syarat Menjadi Mursyid (Bagian 2/3)

Dalam sebuah wawancara di Warta Thariqah, Sekretaris Jenderal JATMAN Idarah Aliyah, Dr. KH. Mashudi menjawab pertanyaan seputar JATMAN.

Salah satu pertanyaan yang diajukan ialah persoalan pembimbing dalam tarekat atau yang dikenal sebagai Mursyid. Apa saja syarat menjadi Mursyid? Sehingga masyarakat tidak salah ketika memilih guru yang jadi mursyidnya

Apa saja syarat menjadi Mursyid?

Dalam tarekat ada yang namanya Mursyid. Istilah Mursyid ini lazim dalam setiap tarekat kecuali tarekat Tijaniyah. Jika dalam Tijaniyah namanya muqaddam.

Untuk menjadi Mursyid ada syarat-syaratnya, sebagaimana dalam kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Syarat seorang Mursyid di antaranya harus berakhlak dan bertabiat baik sesuai prosedur syariat.

“Manusia berkembang sesuai tabiatnya, maka tabiat Mursyid mestilah tabiat yang baik,” jelas Sekjen Idarah Aliyah JATMAN tersebut.

Yang kedua, syarat sehingga bisa disebut sebagai seorang Mursyid harus memiliki keilmuan yang mumpuni dan baik. Utamanya ilmu agama, ulumus syar’iyyah dan ulumus shufiyah serta ilmu-ilmu lainnya.

Lalu, Mursyid juga harus memiliki niat dan cita-cita yang luhur.
“Bagaimana mungkin seorang Mursyid bisa membimbing murid-muridnya kalau tidak memiliki niat dan cita-cita yang luhur?” ucapnya.

Cita-cita yang luhur bisa dibangun dalam rangka bagaimana mengarungi kehidupan ini sampai kehidupan di akhirat nanti.

Oleh karenanya, tanggung jawab Mursyid itu berat sekali. Lantaran membimbing murid-muridnya agar selamat dunia dan akhirat.

Berikutnya, seorang Mursyid hendaknya memiliki perangai yang menyenangkan. Betapa pun kondisi Mursyid misalnya dalam keadaan madharat, terdesak, melarat, maka ia tetap mencerminkan satu cerminan yang menyenangkan bagi muridnya.

Selanjutnya, seorang Mursyid juga memiliki ‘ainul bashirah atau pandangan hati. Jadi saat Mursyid menilai muridnya, ia melihat dengan ainul bashirah (mata hati) selain dengan mata kepalanya juga. Sehingga ada pertimbangan sendiri bagi seorang Mursyid karena melihat tak hanya mengandalkan mata fisik.

واعلم أنه يشترط بالمرشد أن يكون عالما بما يحتاج إليه المريدون من فقه وعقائد التوحيد بقدر ما يزيل به الشبهة التي في البداية تعرض في المريد

Dalam Jami’ul Ushul fil Auliya’ disebutkan, bahwasannya seorang Mursyid hendaknya ‘alim (mengetahui) apa-apa yang dibutuhkan oleh murid-muridnya seperti fikih dan aqidah. Murid di awal misalnya mengalami keragu-raguan, maka seorang Mursyid dapat meyakinkannya.

وأن يكون عالما بكمالات القلوب وآدابها وآفات النفوس وأمراضها وكيفية حفظ صحتها واعتدالها

Seorang Mursyid ‘alim dengan kesempurnaan qalbunya. Adab-adabnya qalbu, penyakitnya qalbu, penyakitnya jiwa, serta mengetahui bagaimana menjaga kesehatan qalbu dan kelurusannya.

وأن يكون رؤوفا رحيما بالمسلمين وخصوصا بالمريدين

Mursyid juga dituntut punya jiwa welas asih kepada kaum muslimin khususnya kepada para murid.

Ketika murid memiliki problem, bahkan ketika menghadapi sakratul maut, seorang Mursyid bisa mendampinginya. Menuntunnya dengan kalimat Laa ilaha Illa Allah. Inilah tanggung jawab Mursyid.

وأن يكون ناصحا لهم فينظر في حال من يصحبه منهم وإذا رآه قابلا للسلوك سلكه وحسن له الطريق وعلى ترك الأسباب عانه بكل ما أمكنه إعطائه من المال وغيره ملكه وإن رآه غير قابل لذلك رده إلى حرفته أو إلى تعاطى شيء من الأسباب هنالك فإن الله تعالى لا يحب العبد البطال

Kiai Mashudi menjelaskan bahwa, seorang Mursyid juga menjadi penasehat yang memberikan nasehat kepada para muridnya. “Mursyid ialah mereka yang memandang problem umat, problem murid dengan pandangan kasih sayang (‘Ainur rahmah) yakni menyenangkan,” imbuhnya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...