Connect with us

Artikel

Mengenal Guru Marzuki Pendiri NU di DKI Jakarta

Published

on

Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) di DKI Jakarta tidak bisa terlepas dari peran penting salah satu sosok ulama Betawi yaitu Guru Marzuki. Beliau memiliki nama lengkap KH. Ahmad Marzuki bin Ahmad Mirshad.

Ketika belajar di Mekkah, Guru Marzuki berteman dengan KH. Hasyim Asy’ari. Guru Marzuki tertarik ketika mendengar bahwa temannya, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan NU di Jawa Timur dan diminta untuk mendirikan NU di Jakarta. Namun sebelum memutuskan untuk mendirikan NU di Jakarta ada hal yang unik,  Ia memberikan syarat, jika para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang dipimpin Hadhratussyaikh KH Hasyim Asy`ari tidak menutup auratnya secara benar, sesuai syariat, ia menolak pendirian dan kehadiran NU di tanah Betawi.

Ia kemudian mengutus orang kepercayaannya ke Tebu Ireng untuk melihatnya secara langsung. Dari hasil pengamatan orang kepercayaannya ini ia mendapatkan informasi bahwa para perempuan dan santri perempuan di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, menutup auratnya dengan benar, sesuai syariat. Selain itu juga ia mengetahui bahwa NU memiliki pemahaman yang sama dengan Guru Marzuki dan masyarakat Betawi di bidang aqidah Islam yaitu Ahlusunnah Wal Jama’ah Atas informasi ini, maka ia mendeklarasikan NU di Jakarta dan sebagai Rais Syuriah hingga wafat pada tahun 1934 M.

Guru Marzuki lahir di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara (dulu Meester Conelis Batavia), Jakarta Timur, pada malam Ahad, 16 Ramadhan 1293 H/1876 M. Ayahnya bernama Ahmad Mirshad, merupakan keturunan keempat dari Sultan Laksana Melayang, salah seorang pangeran dari Kesultanan Melayu Pattani di Muangthai Selatan. Fatimah binti Syihabuddin Maghrobi Al-Maduri merupakan ibu dari guru Marzuki, berasal dari Madura dan keturunan Maulana Ishaq Gresik, seorang khatib di masjid Al-Jami’ul Anwar Rawa Bangke (diperkirakan berdiri sejak abad ke 19).

Ayahnya meninggal ketika usianya 9 tahun dan ia diasuh oleh ibunya. Ketika umur 12 tahun ia mendalami Al-Qur’an kepada seorang guru yang bernama Haji Anwar. Ia mengaji kitab langsung berguru kepada seorang keturunan Arab bernama Sayyid Usman bin Muhammad Banahasan yang kelak menjadi ayah tirinya. Pada usia 16 tahun atas permintaan Sayyid Usman ia berangkat ke Makkah sekitar bulan Rajab atau Sya’ban 1325 H dan menetap di sana selama tujuh tahun.

Silsilah Guru Marzuki

Di kota suci itu ia menimba ilmu dari banyak ulama terkemuka, seperti Syaikh Mahfud at-Termasi, Syaikh Muhammad Ali Al-Maliki, Syaikh Ahmad Khatib al Mingkabawi, dan masih banyak lagi ulama yang lainnya. Guru Marzuki belajar macam disiplin ilmu mulai dari fiqih, tafsir, ushul fiqih, hadist, hingga ilmu mantiq (logika). Ia juga mendalami ilmu tasawuf dan juga memperoleh ijazah untuk menyebarkan taraket Alawiyyah dari Syaikh Muhammad Umar Syatha yang memperoleh silsilah tarekatnya dari Syaikh Ahmad Zaini Dahlan.

Setiba kembali ke tanah air, atas permintaan Sayyid Usman Banahasan ia mengajar di Masjid Jami’ul Anwar Rawabangke pada 1332 H dan ia menggantikan Sayyid Usman mengajar hingga Sayyid Usman wafat. Pada 1340 H guru Marzuqi pindah ke Kampung Muara (Cipinang Muara). Di sinilah ia merintis berdirinya pesantren di tanah miliknya yang cukup luas. Santri yang bermukimpun tidak banyak, kira-kira sekitar 50 orang.

Guru Marzuki mengajar kepada muridnya terbilang unik, yaitu sambil berjalan di kebun dan berburu bajing (tupai). Ke mana sang guru melangkah, ke sana pula para muridnya mengikutinya dalam formasi kelompok. Setiap kelompok murid biasanya terdiri dari empat atau lima orang yang belajar kitab yang sama, satu orang diantaranya bertindak sebagai juru baca.  Sang guru akan menjelaskan bacaan murid sambil berjalan. Setiap satu kelompok selesai belajar, kelompok yang lain belajar kitab lain menyusul di belakang dan melakukan hal yang sama seperti kelompok sebelumnya.

Mengajar dengan cara duduk hanya dilakukan oleh guru Marzuki untuk konsumsi masyarakat umum di Masjid. Meskipun demikan, para santri juga ikut bergabung di sini, bahkan beberapa santrinya secara bergiliran membacakan sebagaian isi kitab untuk sang guru yang memberi penjelasannya kepada muridnya itu.

Para juru baca dan santrinya itu kelak menjadi ulama terpandang di kalangan masyarakat Betawi, seperti KH Noer Alie (pahlawan nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi), Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH Maulana Kamal Yusuf), Guru Ishak (Jatinegara) KH Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi’iyyah), KH Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah), KH Muhammad Amin (Kalibata), KH Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah).

Makam Guru Marzuki

KH Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), KH Mahmud (pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi), KH Muchtar Thabrani (pendiri YPI Annuur, Bekasi), KH Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), Guru Asmat (Cakung) dan KH Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan, Jakarta) dan lain-lain. Sehingga Guru Marzukipun dijuluki sebagai “Gurunya Ulama Betawi.”

Beliau wafat pada Jum’at, 25 Rajab 1352 H atau 02 November 1934 M. Guru Marzuki dimakamkan di komplek Masjid al Marzuqiyah, Jalan Masjid al Marzuqiyah Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Continue Reading

Artikel

Urgensi Mengenal Nafsu dan Cara Menundukkannya

Published

on

Nasfu dalam Diri Manusia
Tujuan orang yang bertarekat (thoriqah) adalah untuk ‘sampai’ (wusul) kepada Allah. Namun, sebelum ‘sampai’ kepada Allah, maka manusia harus mengenali nafsu-nafsu yang ada di dalam dirinya. Sebab, nafsu tersebut lah yang menjadi penghalang untuk ‘sampai’ kepada Allah.

Imam Ghazali sudah menjelaskan secara detil bahwa di dalam diri manusia ada empat nafsu: (1) nafsu ammarah, (2) nafsu lawwamah, (3) nafsu sawiyah, dan (4) nafsu muth’mainnah.

Nafsu ammarah dan lawwamah merupakan jenis nafsu yang tercela. Sementara nafsu sawiyah dan muth’mainnah adalah nafsu yang terpuji. Oleh karenanya, dua nafsu yang tercela tersebut harus ‘diperangi’ dengan olah batin (riyadlah).

Cara Menundukkan Nafsu Amarah dan Lawaamah
Dengan praktik tasawuf untuk menundukkan hawa nafsu (baik ammarah dan lawwamah), setiap tarekat memiliki cara yang berbeda-beda. Diantaranya, ada yang menganjurkan puasa hari senin, kamis, bahkan puasa dawud.

Sumber dari nafsu ammarah adalah makanan, atau perut yang kenyang, sehingga untuk mengurangi potensi nafsu itu, maka harus dengan berpuasa. Berpuasa juga bisa memutus suplai darah dimana darah merupakan tempat lalu-lalangnya setan.

Selain berpuasa, para pelaku tarekat juga dianjurkan untuk mempraktikkan dzikir. Diantara dzikir yang paling masyhur di dunia tarekat adalah kalimat tahlil ‘La Ilaha Illa Allah’. Dzikir ini juga bisa digunakan sebagai upaya untuk menundukkan nafsu ammarah.

Dalam praktik tarekat, pelafalan kalimat tahlil, ada tata caranya. Seperti saat melafalkan kata ‘La’ ditarik dari perut ke atas, ‘Ila’ ditarik ke kanan, ‘Illa Allah’ dihantamkan ke hati. Dengan hentakan ‘Illah Allah’ ini diharapkan hati ini selalu ingat kepada Allah.

Para sufi berpuasa dan berdzikir secara istiqomah, baik harian, bulanan, maupun tahunan. Tidak lain, itu adalah upaya untuk menundukkan hawa nafsu. Dalam Tarekat Naqsabandiyah ada amaliyah rutin khalwat (menyepi) 10 hari (pemula), 20 hari (mutawassith), dan ada yang 40 hari (muntahi).

Menyendiri (khalwat) merupakan latihan untuk mengosongkan hati dan pikiran. Tujuannya adalah untuk mengikis hubungan dengan hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga hubungan yang ada hanya berfokus kepada Allah. Para ulama sufi terdahulu melakukan khalwat selama berpuluh-puluh tahun.

Jika hawa nafsu sudah bisa ditundukkan, maka bisa merasakan surga sebagai tempatnya. Surga bisa bermakna hissi ataupun maknawi.

Bertasawuf tapi tidak bertarekat
Ada orang yang belajar tasawuf namun dia tidak bertarekat dan ada juga orang yang bertasawuf juga bertarekat. Keduanya memiliki pencapaian spiritualitas yang berbeda. Orang yang belajar ilmu tasawuf namun tidak dipraktikkan dengan bertarekat maka itu akan menjadi sekedar pengetahuan teoritis dan tidak mengalami pengalaman spiritual. Sementara mereka yang bertasawuf dan juga bertarekat maka akan merasakan apa yang dikatakan.

Sebab orang bertarekat itu memiliki guru, yang bersambung kepada Rasulullah. Guru yang muttasil (bersambung) itu penting, karena setiap amaliah yang kita laksanakan haru amalkan tetap dalam koridor keteladanan yang sudah dicontohkan Rasulullah.

Continue Reading

Artikel

Imam Birgivi, Sang Sufi Asal Turki dan Warisannya

Published

on

By

Dalam mempelajari Bahasa arab seorang penuntut ilmu tidak akan terlepas, mau tidak mau harus melewati ilmu nahwu dan sorof. Dalam sejarah, para ulama ilmu nahwu dan sorof memiliki dua sudut pandang yang berbeda yaitu antara ulama Basrah dan ulama Kuffah.

Di Indonesia, dalam hal ilmu nahwu dan sorof mayoritas ulama mengikuti ulama Kuffah sedangkan di Turki mengikuti ulama Basrah. Di Turki, salah satu ulama yang menekuni satu dari kedua ilmu tersebut (yakni ilmu nahwu) adalah Imam Birgivi.

Mengenal Imam Birgivi

Imam Birgivi memiliki nama asli Taqiyuddin Mehmed bin Pir Ali. Dia lahir pada tahun 1523 M di desa kepsud, Balıkesir, Turki dan wafat pada tahun 1573 M di desa Ödemiş, İzmir. Ayahnya adalah seorang sarjana terkenal pada pada zamannya. Imam Birgivi pergi ke Istanbul untuk melanjutkan pendidikannya dan Ia menjadi Guru di daerah Edirne. Selama di Istanbul Imam Birgivi melihat para ulama sufi yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran syariat islam. Imam birgivi meninggalkan banyak karya tulis yang sampai saat ini masih dilestarikan atau digunakan oleh para umat muslim maupun non-muslim, seperti para orientalis dan oksidentalis yang sedang mengkaji baik sejarah maupun ajarannya.  

Warisan Sang Imam

Imam Birgivi—menurut penulis—merupakan ulama religius komprehensif, karena beliau mengabdikan hidupnya untuk agama Islam, juga tidak kurang dari 53 buku telah ditulis olehnya dan buku-buku tidak jauh dari permasalahan keislaman. Salah satu karya masterpiece-nya adalah al-Tariqah al-Muhammadiya yang ditulis dalam Bahasa arab dan diterjemahkan dalam Bahasa turki oleh Dr. Nedim YIlmaz berjudul Tarikat-I Muhammediyye, berisi tentang nasihat-nasihat ajaran-ajaran syariat Islam. Oleh karena itu, para sarjana tidak sedikit yang mengkaji ajaran etika sang Imam.

Imam Birgivi juga, dikenal sebagai ulama Sufi, salah satunya karena karya masterpiece-nya al-Tariqah al-Muhammadiya tersebut. Di dalam buku tersebut juga berisi tentang ajaran-ajaran untuk mengerjakan perintah Al-Quran dan Sunnah dan meninggalkan sesuatu yang bid’ah dan sesuatu yang meragukan (subhat). Meskipun dalam pengkajian buku tersebut oleh para sarjana menghasilkan perbedaan pandangan. Naoki Yamamoto (sarjana dari Jepang) melaporkan, bahwa imam birgivi dalam bukunya al-Tariqah al-Muhammadiya mengkritik para sufi lain yang tidak sesuai dengan argumen beliau. Seperti para sufi yang melakukan tarian dan nyayian. Bagi Imam Birgivi, orang yang melakukan tarian dan nyanyian ialah tidak mengikuti perintah al-Quran dan hadis. Tetapi itu adalah sebuah perbedaan argument keduanya sama-sama memiliki dalil masing-masing.

Ilmu Nahwu

Kata Imam Birgivi syariat adalah maqam yang paling utama, oleh karenanya sudah barang tentu Imam Birgivi menguasai bahasa Arab sebagai pintu menuju pemahaman ilmu-ilmu syariat seperti ilmu al-Quran, ilmu Fikih, Ilmu Kalam, ilmu Mantiq dll.

Selain buku al-Tariqah al-Muhammadiya, buku Nahwu (grammar) merupakan karya masterpiece Imam Birgivi. Buku tersebut masih digunakan sampai saat ini oleh para santri yang sedang belajar Bahasa Arab khususnya di Turki. Buku Nahwu tersebut ada dua buku yaitu Awamil dan Izhar. Awamil dan Izhar merupakan buku nahwu yang mengikuti ulama Basrah. Seperti yang telah diketahui bahwa Turki menganut ulama Basrah dalam konteks ilmu Nahwu dan Sorof sedangkan di Indonesia menganut ulama Kuffah. Buku-buku yang termasyhur di pesantren salaf di Indonesia seperti al-Jurumiyyah, Imrity, dan Alfiyah.

Inilah beberapa warisan dari Imam Birgivi yang sangat berharga, karena warisan yang paling berharga adalah ilmu yang diamalkan dan ditulis. Karena kata Sayyidina Ali R.A; “Tulisan itu abadi. Tulislah sesuatu yang akan menyenangkanmu di akhirat nanti”. Semoga warisan-warisan Imam Birgivi bisa menyenangkan beliau dan pembaca di akhirat nanti. Wallahua’lam…

Salam,

Warto’i

Continue Reading

Artikel

Refleksi Tasawuf di Zaman Modern

Published

on

By

Para sahabat dan saudaraku sekalian, tulisan saya ini akan menjelaskan sekelumit bagaimana peran dan kehadiran tasawud di era modern sekarang ini. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan problem solving bagi menyelesiakan problematika masyarakat di era modern ini,

Zaman modern dalam istilah gaul disebut zaman now. Zaman modern ditandai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat membawa kesejahteraan bagi umat mansia. Akan tetapi di balik kemajuan modern terdapat sisi buruk yang sangat mempengaruhi sisi batin umat islam, yaitu nilai-nilai intelektual di utamakan sebagai satu keabsahan yang mutlak sedangan nilai-nilai spiritual di marginalkan. Dampak negatif modern dapat dirasakan sikap cinta dunia (hubb al-dunya) yang melahirkan faham materialistik dan hedonism yang terjadi diberbagai lapisan masyarakat. Hal ini mengakibatkan hati menjadi gelap kemudan menjadikan hati kotor dan nafsu menjadi jelek sehingga lahirlah berbagai sifat-sifat tercela seperti ujub, hasad, dengki, sombong, hedonisme [cinta dunia], keegoan diri terhadap kekayaan, ke intelektual dirinya dan kehebatan teknologi yang dimilikinya yang mengakibatkan terjadinya berbagai kecemburuan sosial  persaingan tidak sehat baik di bidang industry, perdagangan, pendidikan, politik, budaya bahkan keagamaan sekalipun.

Untuk menyembuhkan penyakit-penyakit bathin di atas, maka perlu kehadiran dokter-dokter spesialis bidang ruhani untuk menangani problematika diatas. Dokter tersebut tak lain adalah para ulama-ulama sufi yang memberikan obat atau vaksinasi batin bagi masyarakat modern ini. Kehadiran tasawuf dalam kehidupan sosial ibarat sebagai vaksin batin yang mempunyai pengaruh yang signifikan dalam menuntaskan permasalahan dan penyakit sosial yang ada, amalan yang terdapat dalam ajaran tasawuf akan membimbing seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia menjadi manusia yang arif, bijaksana dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat.

 Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, tujuan tasawuf adalah

”Melenyapkan wujud nafsu dalam ibadah dan menggantungkan hati dengan ahwal Rububiyah. Menyembunyikan kemiskinan dan melawan berbagai penyakit bathin. Berkaitan dengan hukum seorang Sufi, mereka menjadikan kefakiran menjadi hiasannya, sabar menjadi minumannya, ridha adalah kendaraannya, dan tawakal menjadi perilakunya. Hanya Allah Ta’ala yang memberi kecukupan. Ia gunakan anggota tubuhnya untuk ketaatan. Ia potong seruan hawa dan bersikap zuhud kepada dunia, wara’ pada segala kehendak nafsu, dan sama sekali tidak memiliki keinginan dunia.”

Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam Tanwirul Qulub menjelaskan tasawuf adalah “Ilmu untuk mengetahui berbagai kondisi jiwa (ahwal an-nafs) yang terpuji dan tercela, cara penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, cara menghiasanya dengan siifat-sifat terpuji, cara menempuh suluk menuju Allah Ta’ala dan berlari kepada-Nya.”

Menurut padangan kaum sufi bahwa rehabilitasi kondisi mental yang tidak baik adalah jika terapinya hanya didasarkan pada aspek lahiriyah saja, untuk itu pada tahap awal dalam tasawuf diharuskan melakukan amalan-amalan atau latihan-latihan rohani dengan tujuan untuk membersihkan jiwa dari nafsu yang tidak baik. Terapi rehabilitasi kondisi mental aspek bathin dilakukan dalam bentuk Tarbiyah Ruhiyah [pendidikan ruhani] yang dalam istilah sufi disebut dengan tarekat. Pada proses ini peran  para mursyid atau ulama-ulama sufi berperan dalam memberikan penyampaian dakwah tasawuf dan bimbingan praktek amalan-amalan ruhani kepada masyrakatUntuk itu bentuk usaha yang dilakukan, melalui;

Pertama, takhalli, merupakan upaya membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin.’Maksiat-maksiat ini harus dibersihkan, karena menurut para sufi semua itu adalah najis maknawi (najasah ma’nawiyah) yang menghalangi seseorang untuk dapat dekat dengan Tuhannya, sebagaimana najis zati (najasah siriyah) yang menghaIangi seseorang dari melakukan ibadah yang diperintahkan Tuhan kepadanya,

Kedua, tahalli, yaitu sesudah tahap pembersihan diri dari segala sifat dan sikap mental tidak baik dapat dilakukan, maka usaha itu harus berlanjut terus ke tahap kedua yang disebut tahalli. Tahapan ini merupakan tahapan pengisian jiwa setelah dikosongkan dari akhlak-akhlak yang tercela. Tahalli berarti berhias yakni berhias dengan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Sempurna. Namun perhiasan paling sempurna dan paling murni bagi hamba adalah berhias dengan sifat-sifat peng hambaan.Tahalli juga berarti suatu upaya untuk mengisi atau menghiasi jiwa dengan jalan membiasakan diri dengan sifat, sikap, prilaku, dan akhlak yang baik.

Ketiga, tajalli, yakni apabila jiwa telah bersih, terhindar dari berbagai penyakit dan dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan, maka Allah akan memasukkan Nur (cahaya)-Nya kedalam jiwa tersebut. Pada saat ini, seorang sufi akan merasa dekat dengan Tuhannya, sehingga berbagai kegaiban dan pengetahuanpun tersingkap baginya. Inilah yang kemudian disebut dengan tajalli.

Al-Imam Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Kitab Rasa’il Ibnu Arabi mendefensikan tajalli

التجل ما ينكشف القلوب من أنوار الغيوب

“Tajalli adalah tersingkapnya didalam hati segala cahaya keghaiban Ilahiyyah”

Tajalli adalah lenyapnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan (basyariah) pada diri seseorang dan lenyapnya (fana) segala yang lain ketika nampaknya wajah Allah”, Tajalli berarti penyingkapan diri yakni Allah menyingkapkan diri-Nya sendiri kepada makhluknya. Tajalli juga berarti terungkapnya nur ghaib bagi hati karena Allah telah menyingkapkan diri-Nya.

Apabila jiwa telah bersih, terhindar dari berbagai penyakit dan dipenuhi dengan kebaikan-kebaikan, maka Allah akan memasukkan cahaya-Nya kedalam jiwa tersebut sehingga seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia zaman modern ini akan manusia yang arif, bijaksana, berakhlak mulia dan profesional dalam kehidupan bermasyarakat. Maka tasawuf dapat membawa zaman modern ini menjadi era yang berspiritual dan madani.

Wallahu a’lam bi shawwab
Ilahi anta maqshudi waridhaka mathlubi

Penulis: Budi Handoyo

(Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending