Mengapa Shalat Itu Tiang Agama? Ini Penjelasan Syekh Mutawalli As Sya’rawi

Shalat adalah tiang agama. Sejak dini Nabi memerintahkan agar anak sudah shalat sejak usia tujuh tahun. Artinya anak itu sejak kecil sudah dibiasakan oleh orang tuanya untuk mengetahui tata cara shalat dan mempraktekkannya.

Bahkan Nabi juga mengingatkan agar memberikan konsekuensi kepada anak yang apabila sudah usia sepuluh tahun namun tidak mendirikan shalat. Hal ini bertujuan agar anak punya kesan dan mengerti dalam batinnya bahwa shalat ini hal yang penting dan wajib dilaksanakan serta tidak boleh ditinggalkan.

Dalam hadis disebutkan bahwa yang pertama kali dihisab dari amal manusia itu adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka ia dinilai berhasil dan mendapatkan ganjaran serta selamat dari siksa sedangkan mereka yang rusak shalatnya, sebaliknya rugi karena tak mendapat ganjaran serta mendapatkan siksa.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Shalat juga yang membedakan seseorang dengan orang musyrik ataupun kafir. Ketika shalat sebenarnya seseorang itu sedang bermunajat dengan Tuhannya. Sehingga dalam keadaan apapun selama masih sadar, shalat tetap wajib dilaksanakan semampunya. Bahkan ketika sakit ataupun perang sekalipun.

Lalu mengapa shalat dikatakan sebagai tiang agama?

Syekh Mutawalli As Sya’rawi menerangkan bahwa rukun Islam itu ada lima. Namun tak setiap muslim bisa secara lengkap mengerjakannya. Itu sebabnya tidak disebut arkanul muslim atau rukun muslim.

Contohnya, ada muslim yang faqir sehingga tidak mampu menunaikan zakat. Maka kewajiban zakat menjadi terlepas baginya. Lalu terkadang ada muslim yang sakit atau dalam perjalanan (musafir), maka gugurlah kewajiban puasa baginya. Selain itu ada juga muslim yang tak mampu melaksanakan ibadah haji, maka gugur pula kewajiban menunaikan ibadah haji.

Sehingga terkadang muslim itu hanya mengerjakan dua rukun Islam saja, yakni syahadat dan shalat. Kendati demikian, syahadat itu hanya harus diucapkan sekali seumur hidup. Maka, rukun yang tersisa dan tidak akan pernah terlepas dari setiap muslim selamanya adalah shalat.

Shalat itu tetap wajib dilaksanakan dalam keadaan perang sekalipun ataupun sakit yang membuat seseorang tak mampu berdiri. Dengan kata lain, tidak ada udzur yang bisa mengizinkan seseorang meninggalkan shalat.

Dalam Shalat Ada Semua Rukun Islam

Dalam shalat, kata pengarang Tafsir As Sya’rawi ini, terdapat semua rukun Islam. Pertama, dalam shalat ada syahadat, kedua dalam shalat juga ada zakat.

Zakat adalah harta yang diambil dari sebagian milikmu yang diberikan kepada yang berhak. Harta ialah hasil usaha. Sedangkan usaha atau kerja ialah hasil dari pengorbanan waktu. Maka seakan-akan ketika shalat engkau berkorban dengan sebagian hartamu yang diperoleh dari hasil usaha yang menggunakan waktu.

Shalat memang tidak mengambil harta tapi langsung mengambil waktu yang menjadi hal fundamental dalam berusaha atau bekerja. Selain itu, sebagaimana harta yang digunakan untuk zakat itu akan berkembang dan tidak hilang, maka hal itu juga berlaku dalam shalat.

“Ketika engkau berkorban sebagian waktu untuk Allah, yang digunakan dengan seharusnya, maka berkah dari waktu yang tersisa akan menggantikan waktu yang hilang. Seperti halnya zakat yang membuat harta berkembang dan riba membuat harta jadi hancur”.

Foto: detik.com.

Lalu, dalam shalat juga ada puasa. Puasa itu ialah menahan keinginan perut dan kemaluan. Sedangkan dalam shalat juga ada menahan diri dari keduanya, dari banyak bergerak, dari berbicara dan lain sebagainya. Maka dalam shalat seakan ada puasanya, bahkan larangan dalam shalat itu lebih banyak dari larangan dalam puasa.

Shalat juga ada hajinya, karena ketika shalat engkau seakan-akan menghadirkan baitullah, menghadap dan mengarah padanya. Sehingga satu-satunya rukun yang terdapat seluruh rukun Islam di dalamnya ialah shalat.

Mulai dari syahadat, lalu zakat yang lebih berharga dari harta yakni waktu (modal untuk menghasilkan harta), berpuasa yang melebihi (larangan) puasa Ramadhan, dan menghadirkan baitullah setiap waktu. Seakan-akan haji dengan qalbu meskipun tidak mampu haji secara fisik.

Ulama Al Azhar ini juga mengatakan bahwa Allah adalah pencipta manusia. Maka Dia memperbaiki orang yang menghadap kepada-Nya lima kali sehari (shalat), sebagaimana seorang pembuat memperbaiki benda ciptaannya.

Namun, cara Allah memperbaiki manusia yang menghadap-Nya itu tak kasat mata atau dilakukan secara ghaib. Sehingga ketika selesai shalat orang jadi lebih baik dari sebelumnya, jadi lebih tenang, lebih optimis dan lain sebagainya. Shalat inilah yang men-charge manusia, sehingga memiliki kekuatan untuk melaksanakan ketaatan lainnya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...