Connect with us

Hikmah

Mengapa Banyak Zikir, bukan Doa?

Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D

Published

on

Banyak Zikir

Kaum sufi lebih banyak dzikir tinimbang do’a. Dzikir itu syukur, do’a itu minta. Jadi, kaum sufi lebih banyak ‘mensyukuri yang ada’ tinimbang ‘meminta yang belum ada’.

Mensyukuri yang ada ‘akan datang yang tidak ada, yang belum ada,’ begitulah taujihat Hadrotus Syeikh al-Qodiri an-Naqshabandi. Sementara, meminta yang belum ada ‘bila tak kunjung meng-ada bisa membuat kecewa’ karena tak mampu berberbaik sangka pada-NYA.

Bagi kita yang sedang belajar dzikir, dzikir itu latihan jiwa [رياضة] untuk diam, untuk tidak banyak permintaan: “memberi tahu” Allah tentang apa yang terbaik untuk hidup kita.

Sungguh, Allah Yang Maha Tahu, sudah menyiapkan, sudah menetapkan dan terlebih lagi mengetahui apa yang terbaik terjadi; kapan waktu terbaik terjadi, dalam hidup kita.

Oleh karenanya cukup percaya dan berbaik sangka saja pada-NYA. Cukupkan dengan memperbanyak dzikir saja, memuji-NYA, menyanjung-NYA, mengagungkan-NYA.

Belajar diam dan belajar pasrah sumerah dengan apapun pemberian-NYA, dari-NYA oleh-NYA [قل كل من عند الله].

Jalani hidup semestinya, nikmati semuanya bahkan syukuri setiap perjalanan hidup kita maka bahagia di sepanjangnya.[]

Artikel

Kenapa Mesti Hati-hati Memilih Apa yang Dimakan?

KH. Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Dosen jurusan Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta/Pengamal, pengaman, pelestari ajaran Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah Ma’had Suryalaya]

Published

on

makan

Apa yang kita makan, yang kita minum, mempengaruhi bukan hanya kondisi fisik tapi juga nonfisik. Jadi, kalau ada keanehan dalam kondisi tubuh dan status ruh pasti karena, disadari atau tidak, kita telah memasukkan makanan-minuman yang tidak dikehendaki tubuh dan ruh. Jadilah penyakit jasmani, terjadilah gangguan ruhani.

Ajaran dan laku kesufian sangat serius sekali memberi perhatian pada apa yang kita konsumsi utamanya yang bisa mempengaruhi stabilitas emosi. Oleh karenanya, di dunia kesufian ada riyadhoh untuk tidak mengkonsumsi makanan yang bernyawa, yang memiliki ’emosi’ seperti manusia.

Di masa Tuan Syeikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad, ada ijazah riyadhoh bernama ‘ngabeuti‘. Seperti ‘puasa mutih’, di mana murid-murid yang sedang melakoni riyadhoh ini hanya mengkonsumsi ‘beubeutian‘ –ubi, singkong, sayur-sayuran. Tidak dimasak apalagi menggunakan penyedap. Mereka tidak mengkonsumsi daging, ikan dan makhluq bernyawa lainnya.

Kenapa demikian?

Karena makanan yang berasal dari sesuatu yang bernyawa-beremosi itu mempengaruhi kesehatan dan kecerdasan emosi pelaku kesufian. Hewan-hewan itu merekam emosi mereka saat hidup hingga penghujung kematiannya dan ketika dikonsumsi jejak emosi itu terrekam oleh emosi pengkonsumsinya.

Di era industri daging untuk konsumsi saat ini, hewan-hewan diternak dengan massal melalui proses kimiawi dan saat tiba penyembelihannya mayoritas peternak mengabaikan etika agama. Lihatlah bagaimana hewan-hewan ini sejak diternakkan bahkan hingga saat penyembelihan, dibiarkan dalam keadaan stress, ketakutan, kepanikan, kemarahan, kebencian dan kondisi-kondisi emosi negatif lainnya. Belum lagi, hilangnya relasi emosional-spiritual antara penyembelih dan yang disembelih karena prosesnya sudah sangat mekanik, menggunakan mesin potong.

Kondisi emosi negatif hewan yang kelak kita konsumsi itu, sekali lagi, menyimpan memori emosi yang buruk dan akan terekam emosi tersebut oleh siapapun yang mengkonsumsinya. Pada gilirannya, konsumen dari daging yang diolah secara brutal dan tak sehat itu mempengaruhi emosinya: jadi lebih mudah marah, stess, panikan, dan senang membenci.

Oleh karenanya, mulailah berhati-hati mengkonsumsi daging yang prosesnya tak kita ketahui secara baik. Jika harus mengkonsumsi daging, pilihlah yang sejak proses ternak, pemilihan, penyembelihan dan pengurusan hewannya menjungjung tinggi etika ‘kehewanan’ seperti diajarkan Islam. Agar setelah dikonsumsi, menyehatkan jasmani terlebih rohani kita.

Di atas segalanya, saat menikmati wisata kuliner di mana dan kapan pun, sudah saatnya diri kita mulai mengajukan pertanyaan mendasar, apakah makanan yang akan kita lahap ini amat dibutuhkan tubuh untuk lebih sehat? Apakah hidangan yang akan kita santap ini bisa memberikan energi untuk saya lebih rajin beribadah, memberi kekuataan saat amaliyah/riyadhoh, dan menunaikan setiap kebaikan?

Sudah waktunya saat memilih makanan tidak lagi bersandar pada pertanyaan nafsu: enak atau tidak, kita suka atau tidak, tapi sudah soal pemenuhan kebutuhan kesehatan jasmani-ruhani. Ini sebagai bentuk kasih sayang kepada tubuh yang telah berjasa menjadi hunian ruh kita; mensyukuri tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya. Salam kuliner sehat.[]

Continue Reading

Dawuh

Meneladani Kisah Sebutir Nasi

Ketika menempuh perjalanan mencari ilmu, Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan berjumpa dengan seorang Kiai sepuh. Habib Luthfi muda terkagum dengan akhlak Kiai sepuh yang luar biasa.

Published

on

Habib Luthfi menyaksikan Kiai Sepuh ketika sedang dhahar (makan), ada butiran nasi yang terjatuh lalu dipungut dan dikembalikan ke piring untuk dimakan kembali. Habib Luthfi bertanya kepada Kiai Sepuh “Kenapa harus diambil Yai? kan cuma sebutir nasi?” Kiai Sepuh dengan tegas menjawab “Lho… Jangan kita lihat nasi yang sebutir itu Yik. Apakah kamu akan bisa membuat nasi satu butir saja, atau bahkan jika seperseribu menir saja?”. Deg…Habib Luthfi Muda seketika terdiam.

Kiai Sepuh melanjutkan, “Ketahuilah Yik, saat kita memakan sebuah nasi, sesungguhnya Gusti Allah telah menyatukan berbagai peran orang lain di dalamnya. Nasi itu namanya Sego bin Beras bin Gabah al-Pari. Mulai dari mencangkul, menggaru, meluku, menanam benih, memupuk, menjaga dari serangan hama hingga memanen, ada banyak sekali jasa orang lain, dari beras menjadi nasi juga banyak sekali peran hamba Allah disana”.

“Ketika ada satu butir nasi, atau menir sekalipun yang jatuh ambillah. Jangan mentang-mentang kita masih punya cadangan nasi, sebutir nasi itu kita buang begitu saja, karena hal itu termasuk salah satu bentuk takabbur, dan Gusti Allah tidak suka dengan manusia yang takabbur. Jadi, selama sebutir nasi itu terjatuh tidak kotor dan tidak membawa mudharat bagi kesehatan kita, maka ambillah, satukanlah dengan nasi lainnya, sebagai bagian dari syukur kita”. Habib Luthfi menyimak lebih dalam.

“Karena itulah ketika akan makan, diajarkan doa: Allahumma bariklana (Ya Allah, semoga Engkau memberkahi kami). Bukan Allahumma barikli (Ya Allah semoga Engkau memberkahiku) walaupun sedang makan sendirian.

Lana itu maknanya untuk semuanya. Mulai dari petani, pedagang, pengangkut, pemasak hingga penyaji, semuanya termaktub dalam doa tersebut. Ini sebagai salah satu ucapan syukur serta mendoakan semua orang yang berperan dalam kehadiran nasi yang kita makan”.

“Satu lagi, mengapa orang makan kok ada doa: waqina ‘adzabannar (Jagalah kami dari siksa api neraka). Terus, apa hubungannya antara makan dengan neraka? kan tidak nyambung?” “Iya Yai, kok bisa ya?” Tanya Maulana Habib Luthfi muda dengan penasaran.

“Begini Yik, makan itu sebenarnya hanya sebuah wasilah. Kenyang itu yang memberikan hanya Gusti Allah saja. Jadi, kalau kita makan dan menganggap bahwa yang membuat kenyang adalah makanan yang kita makan, maka takutlah! karena hal itu akan menjatuhkan kita ke dalam kemusyrikan. Dosa terbesar bagi orang beriman”.

Astaghfirullahal’adhim…” batin Habib Luthfi muda yang tidak menyangka bahwa maknanya akan sedalam itu.

“Bayangkan saja Yik. Demikian juga ketika kita makan dan minum tapi tidak dijadikan untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga kita karena Gusti Allah tidak menghendaki, apalah jadinya?”. [Irsyad Maulana]

Continue Reading

Dawuh

Ratib dan Hizb perlu Ijazahkah dalam Mengamalkannya?

Habib Luthfi menjelaskan ratib berasal dari kata rataba yang maknanya susunan. Hizb dan ratib, dilihat dari susunan­nya, sebenarnya sama dari hadist. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah).

Published

on

By

Menurutnya yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizb dengan hizb lainnya, adalah asrar atau rahasia-rahasia yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Rois ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATMAN) menjelaskan sementara dengan hizb, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizb juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian do’a sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizb juga biasanya mengandung lebih banyak Ismul A’zham (asma Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Habib Luthfi melanjutkan pembahasannya, dan yang pasti, hizb tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizb rata-rata merupakan ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, Hizbul Nasr, Hizbul Khofi, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili ; Hizb Nawawi, yang disusun oleh Imam an Nawawi. Karena itulah, hizb mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selanjutnya, Habib Luthfi ketika menjelaskan hizb dan ratib mengibaratkannya seperti kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan kera­cunan. Begitu pula halnya dengan hizb dan ratib bukan langsung mengambil dari maknanya yang baik dan hebat saja agar nantinya tidak over dosis.

Habib Lutfi juga menejelaskan bahwa ratib itu dosisnya sudah direndahkan karena diambil langsung dari lisan baginda Rasulullah supaya siapapun boleh membaca dan mengamalkannya. Misalnya Ratib Al Hadad, Ratib Al Athas. Setiap ratib juga memiliki keistimewahan tersendiri dan saling melengkapi serta tidak saling berebut. Jadi, jangan sekali-kali merendahkan salah satu ratib, karena itu mencakup tentang akhlak dan adab. Ada juga Ratibul Kubra, kenapa dinamakannya seperti itu? Karena fatihah didalamnya waliyul kutub semuanya maka disebut ratibul kubra, jadi ini bukan ratib kubra.

Menurutnya sedangkan dalam hizb, ada syarat usia yang cukup bagi pengamal hizb. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizb biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizbnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rezeki, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah hizb tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizb. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizb.

Habib Lutfhi mengingatkan dalam pengamalan ratib atau hizb bisa dilaksanakan secara istiqamah karena istiqamah sangat penting dan sangat sulit untuk melakukannya.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending