Connect with us

Hikmah

Mengapa Banyak Zikir, bukan Doa?

Oleh: Budi Rahman Hakim, Ph.D

Published

on

Banyak Zikir

Kaum sufi lebih banyak dzikir tinimbang do’a. Dzikir itu syukur, do’a itu minta. Jadi, kaum sufi lebih banyak ‘mensyukuri yang ada’ tinimbang ‘meminta yang belum ada’.

Mensyukuri yang ada ‘akan datang yang tidak ada, yang belum ada,’ begitulah taujihat Hadrotus Syeikh al-Qodiri an-Naqshabandi. Sementara, meminta yang belum ada ‘bila tak kunjung meng-ada bisa membuat kecewa’ karena tak mampu berberbaik sangka pada-NYA.

Bagi kita yang sedang belajar dzikir, dzikir itu latihan jiwa [رياضة] untuk diam, untuk tidak banyak permintaan: “memberi tahu” Allah tentang apa yang terbaik untuk hidup kita.

Sungguh, Allah Yang Maha Tahu, sudah menyiapkan, sudah menetapkan dan terlebih lagi mengetahui apa yang terbaik terjadi; kapan waktu terbaik terjadi, dalam hidup kita.

Oleh karenanya cukup percaya dan berbaik sangka saja pada-NYA. Cukupkan dengan memperbanyak dzikir saja, memuji-NYA, menyanjung-NYA, mengagungkan-NYA.

Belajar diam dan belajar pasrah sumerah dengan apapun pemberian-NYA, dari-NYA oleh-NYA [قل كل من عند الله].

Jalani hidup semestinya, nikmati semuanya bahkan syukuri setiap perjalanan hidup kita maka bahagia di sepanjangnya.[]

Hikmah

Al-Maut Al-ikhtiyari: Amalan Qalbu yang Tersembunyi dan Kontinyu

Published

on

Pada tulisan ini, kita akan melanjutkan faidah-faidah al-maut al-ikhtiyari dalam kitab “Hidayatu Al-Rabbi ‘Inda Faqdi al-Murabbi” Karya Syeikh Al-Muttaqi Al-Hindi. Penjelasan tentang al-maut al-ikhtiyari bisa disimak ditulisan sebelumnya supaya lebih nyambung:

  1. Inilah Cara Efektif Mengendalikan Nafsu https://jatman.or.id/inilah-cara-efektif-mengendalikan-nafsu/
  2. Mati Sebelum Mati, Terlahir Dua Kali
    https://jatman.or.id/mati-sebelum-mati-terlahir-dua-kali/

Tiga faidah terakhir dari al-maut al-ikhtiyari adalah:

  1. Jalan Logis yang Ditempuh dengan Qalbu, bukan dengan Kaki
    Al-maut al-ikhtiyari adalah jalan logis yang ditempuh dengan qolbu bukan dengan kaki. Maksudnya begini, jika ibadah seperti sholat atau haji itu ngelibatin aktivitas fisik, seperti berdiri dengan kaki, dan takbir dengan mengangkat tangan, maka al-maut al-ikhtiyari itu enggak butuh aktivitas fisik, namun cukup dengan mengkondisikan qolbu dan pikiran.

As-syeikh menyebut faidah ini dengan berapa pengertian antara lain: jalan tanpa jejak kaki, wujudnya khayal seperti tidak adanya; jalan menuju keimanan dan keyakinan, di dalamnya tak ada batu dan tanah; jalan kembali dan jalan akhirat yang tidak perlu bekal; jalan orang-orang yang sendiri dalam kesendirian (khalwat) bukan jalan orang banyak di padang Sahara; jalan sunyi dan fana’ bukan jalan syahwat dan penuh pujian.

Kaidah yang umum bisanya jika kita ingin mendapatkan sesuatu yang wujud maka kita gunakan alat-alat yang wujud pula. Contoh, jika Anda ingin membuat kursi dari kayu, maka Anda butuh mesin gergaji, kapak, dan alat-alat lainnya. Sedangkan, menghasilkan sesuatu yang wujud dengan sesuatu yang tidak wujud itu luar biasa. Al-maut al-ikhtiyari inilah sesuatu yang tidak wujud (konsepsi) namun menghasilkan sesuatu yang wujud, yaitu hidup abadi di akhirat.

  1. Amal yang Kontinyu dan Tidak Terputus
    Jika Anda melakukan shalat dhuhur maka akan terputus waktu sebelum Anda melakukan shalat ashar. Begitu seterusnya untuk shalat-shalat yang lain. Berbeda dengan itu, al-maut al-ikhtiyari bersifat terus menererus (kontinyu) walaupun pelakunya sedang tidur. Karena orang yang berhasil menerapkan al-maut al-ikhtiyari, ia akan tidur dengan anggapan sebagai kematiannya sehingga ia akan mempersiapkan sebaik-baiknya. As-syeikh menyebut faidah yang kedua ini dengan: wiridnya orang yang tidur untuk perjalanan abadi; amal tanpa kendor itu ikhtiar terlahir kedua kalinya.
  2. Amal Samar yang Berbarengan dengan Ikhlas dan Terkabul.
    As-syeikh mengatakan bahwa al-maut al-ikhtiyari adalah ibadah yang terpelihara dengan Ikhlas, dijamin Ikhlas; amal yang terbebas dari syirik, maka layak untuk diterima; dan dzikir qolbu tanpa llisa, yang menarik surga dengan qolbu.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bisa menerapkan al-maut al-ikhtiyari di dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam bishshowab.

Continue Reading

Hikmah

Mati Sebelum Mati, Terlahir Dua Kali

Published

on

“Matilah Sebelum Kamu Mati”
Ini adalah kalam Sayyidina Umar RA yang oleh para ulama ditafsirkan dengan al-maut al-ikhtiyari. Silahkan baca tulisan sebelumnya tentang al-maut al-ikhtiyari supaya lebih nyambung. Syeikh Al-Muttaqi Al-Hindi dalam kitab “Hidayatu Al-Rabbi ‘Inda Faqdi al-Murabbi” menyebutkan ada 8 faidah al-maut al-ikhtiyari. Dua diantaranya sudah kita sampaikan pada tulisan sebelumnya. Tiga akan kita bahas pada tulisan ini, sedangkan tiga sisanya insyaAllah pada tulisan selanjutnya. Tiga ini yaitu:

1. Ramuan Mukjizat (Al-Iksir)
Perlu diketahui bahwa khasiat dari al-iksir adalah jika dilemparkan kepada sepotong tembaga, maka ia akan berubah jadi emas. Harganya bertambah dan derajatnya pun naik. Orang yang telah di posisi mati sebelum mati, jika beramal pasti ikhlas karena Allah dan tidak ada kecacatan dalam amalnya seperti riya’ atau sum’ah. Dan kita tahu bahwa amal yang di dalamnya terkandung riya’ akan tertolak.

Anda bisa bayangin begini, jika Anda merasa hari ini adalah hari terakhir Anda beribadah, masih perlukah pujian seseorang? Pastinya, enggak. Nah, jika sudah bisa begini, maka nilai dan maqam Anda akan naik. Amal menjadi ikhlas, dan terbebas dari segala kecacatan.

2. Sedikit Usaha dan Banyak Pertolongan
Cara menerapkan al-maut al-ikhtiyari itu cukup ringan sebetulnya karena sifatnya adalah konsepsi dan tidak banyak usaha. Hal ini beda dengan ibadah-ibadah lainnya, seperti sholat, puasa, tilawah quran, dan dzikir. Semua amal-amal itu ada tata cara (kaifiyat) dan adab-adanya yang bersifat fisik (lahiriyah). Inilah yang dimaksud dengan sedikit usaha.

Maksud dari banyak pertolongan (ma’unah) adalah kalam Syeikh Al-Muttaqi Al-Hindi:

“Barangsiapa mengorbankan ruhnya untuk Allah, maka tebusannya adalah Tuannya (Allah SWT). Melalui makna ini, maka dapat diibaratkan “menarik sesuatu yang mulia dengan mengganti sesuatu yang rendah”.

Misalnya, Anda punya jasad fisik yang pasti akan membusuk setelah Anda mati. Pastinya jasad Anda itu sudah tidak berharga lagi. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (Qs. At-Taubah: 111).

Jika Anda mengganti jasad yang akan busuk itu karena Allah SWT seperti dalam ayat di atas, maka seakan-akan Anda mengganti sesuatu yang hina dan tak bernilai (jasad) dengan surga dan kehidupan yang abadi di dalamnya.

3. Mengumpulkan Dunia dan Akhirat
Orang yang berhasil di maqam al-maut al-ikhtiyari mampu mengumpulkan dunia dan akhirat sekaligus. Syeikh Al-Muttaqi Al-Hindi menyebutkan ini dengan “membersihkan batin bagi orang yang menempati kotoran-kotoran dunia.” Dalam konteks ini, dunia diibaratkan sebagai kotoran.

Sebagai ilustrasi, Anda berada di dalam kotoran yang sangat bau. Jika Anda ingin membersihkan baunya, maka Anda bisa melakukan dua cara ini. Pertama, Anda keluar dari kotoran itu, lalu Anda membersihkan badan dan pakaian, dan Anda memakai wangi-wangian. Cara pertama ini adalah al-maut al-dhloruri atau kamatian dengan terpisahnya ruh dan jasad.

Kedua, Anda tetap berdiri di dalam kotoran itu, kemudian Anda membersihkan baunya dengan wangi-wangian. Cara kedua inilah yang dimaksud dengan al-maut al-ikhtiyari. Anda tetap berada di dunia, namun enggak tercium bau busuknya. Wewangian itu adalah ibarat akhirat. Jika Anda sudah berada di posisi ini, InsyaAllah dunia enggak akan menyelakakanmu, walaupun Anda seorang raja ataupun perdana menteri.

Diceritakan, ada seseorang yang setiap harinya membawa kain kafan. Ia berkata dengan suara yang keras: “Wahai amiral mukminin, kematian adalah haq”. Artinya, kematian adalah obat yang ampuh bagi para penguasa supaya tidak menyelewengkan wewenangnya. As-syeikh mengatakan: “Menuntun penguasa itu dengan suluk”.

As-syeikh juga mengatakan: “Tidak mungkin dapat mengumpulkan dunia dan akhirat bagi orang yang belum terlahir dua kali”. Terlahir dua kali yaitu, Anda melepaskan sifat-sifat basyariah (kemanusian), lalu berakhlak dengan akhlaknya para malaikat. Sehingga, bagi orang yang telah mampu mengaplikasikan al-maut al-ikhtiyari insyaAllah akan mengumpulkan dunia dan akhirat sekaligus.

Wallahu a’lam bishshowab.

Continue Reading

Hikmah

Download Hizb Bahr, Keutamaan dan Artinya

Published

on

By

Sebagaimana yang dipaparkan dalam kitab “al-Anwar al-Qudsiyyah” secara ringkas sebagai berikut:

“Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili telah memberikan tugas kepada para jamaahnya (muridnya), yakni mereka akan siap untuk menerima pancaran-pancaran ilahi dan anugerah-anugerah Tuhan yang berupa hizb-hizb dan wirid-wirid yang mereka baca ketika menempuh tarekat yang lurus. Di antara jenis wirid ini adalah hizb al-Bahr yang masyhur dan tersebar. Banyak dari kalangan ulama besar mencoba menjelaskan hizb tersebut dan keutamaan-keutamaannya. Dan juga hizb al-Kabir, yang mana Syekh pernah berkata, “Barang siapa yang membaca hizb-hizb kami, dia akan memiliki apa yang kami miliki, dan melakukan apa yang kami lakukakan.”

Baca Juga: Inilah Rahasia Wirid Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Berikut teks arab dan artinya:

Sedangkan keutamaan Hizb Bahr adalah tergantung niat pembaca dan tergantung apa yang diinginkannya misalnya menarik segala sesuatu yang baik seperti Mahabbah, Jalbur Rizqi (menarik rizki) baik yang dzohir atau yang min ghoibillahi (rizki dari alam ghaibnya Allah Swt), menyatukan hati, penglaris, pemimpin, kewibawaan, karir, menundukkan hati semua mahluk (ditaati ucapannya) dan Mencegah dari sesuatu yang buruk dan jahat seperti menolak ilmu sihir dan sejenisnya. Juga sebagai benteng atau penjagaan dari orang-orang yang hasud, dzolim, iri, dengki, mencegah mara bahaya dan bala bencana.

Namun bagi para salik, tujuan atau kegunaan itu harus dilepaskan dari hal-hal yang berkaitan materi. Karena para salik yang sedang meniti dijalan Thoriqoh maka ia harus mulai melepaskan kedirian yang masih melekat nafsu-nafsu jasmani, yang seharusnya para salik segala sesuatu doa atau hizb yang dibaca tidak lain dan tidak bukan semata-mata untuk Allah. Karena kita meyakini ketika suatu hal diniatkan karena Allah maka Ia tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam keadaan menderita karena dunia. Wallahua’lam

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending