Connect with us

Kitab

Mengaji Kitab Nawadirul Usul di Cafe Rumi

Published

on

Kitab Nawadirul Usul karya Syaikh al-Hakim al-Tirmidzi berisikan kumpulan pijakan yang unik, langka dan istimewa. Kitab ini akan membawa kita semua mengeksplorasi pemahaman baru terhadap hadist dan sunnah Rasul, bukan hanya dari segi linguistik, namun menggunakan pendekatan qur’ani, hadist dan ilmu-ilmu tradisional Islam, sebagaimana yang lazim dilakukan dalam kajian hadits.

Penulis kitab ini adalah seorang ulama dan sufi besar bernama al-Hakim al-Tirmidzi atau Abu Abdillah bin Ali al-Hasan. Beliau berhasil menggabungkan antara ilmu-ilmu tradisonal Islam dan tradisi rasionalis yg berkembang pada saat itu, dan dalam pembahasan ini kita akan dibimbing oleh Syaikh DR. Gibril Fouad Haddad seorang ulama ternama, penulis yang produktif dan penerjemah kitab-kitab klasik, ulama ahlusunnah yang konsisten dan istiqomah dalam mengajarkan ilmu-ilmu tradisional Islam ke seluruh penjuru dunia.

Di antara guru-guru beliau adalah:

  1. DR. Wahbah Zuhayli,
  2. Syaikh DR. Sayyid Muhammad Al Yaqubi,
  3. Syaikh Alwy al-Maliki,
  4. Syaikh Ramadhan al-Buthi,

Adalah di antara 100 lebih syaikh atau ulama yang mengajarkan dan memberikan ijazah kepada beliau. Beliau juga mengambil bai’at Thariqah Naqshabandy kepada Mawlana Syaikh Nazim al-Haqqani, dan hingga sekarang dalam bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani’. Itulah gambaran pembimbing kita dalam kajian Kitab Nawadirul Usul karya al-Hakim al-Tirmidzi.

Ada 2 keutamaan yang akan kita dapatkan dalam kajian ini:

  1. Memahami kitab klasik Nawadirul Usul karya besar seorang ulama Sufi al-Hakim al-Tirmidzi
  2. Dan dibimbing langsung oleh seorang ulama besar juga seorang Syaikh Thariqah Syaikh DR. Gibril Fouad Haddad.

Kajian ini diselenggarakan oleh Cafe Rumi Jakarta, sebuah Cafe Spiritual di dalam Thariqah Naqsahbandy Haqqani, di bawah bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani.

Pengajian kitab Nawadirul Usul karya al-Hakim al-Tirmidzi bersama Syaikh DR. Gibril Fouad Haddad ini dapat diikuti secara daring di ruang zoom setiap hari Minggu pukul 20.00 WIB dengan link https://us02web.zoom.us/j/7867861717 atau juga dapat disimak melalui live YouTube channel Cafe Rumi Jakarta.[Muhsin]

Pustaka

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Published

on

Kitapun Bisa Jadi Sufi

Banyaknya problematika hidup yang semakin kompleks di zaman modern ini sering kali menjadikan manusia terkungkung dengan berbagai kebingungan dan tekanan-tekanan batin yang semakin tak menentu. Banyak manusia yang disibukkan dengan berbagai aktivitas duniawi yang setelah dirasa-rasakan ternyata tidak memberikan apa-apa selain kelelahan. Banyak manusia pun yang menjadi pemburu harta, sebab dikiranya dengan itu semua mereka akan menjadi mulia dan bahagia. Tetapi setelah di rasa-rasakan pemburuan terhadap harta tak lebih dari dari sekedar kelelahan, kebingungan bahkan penderitaan batin yang yang tiada ujungnya. Banyak orang yang tak merasa bahwa harta sesungguhnya telah memperbudak dirinya dan telah meracuni pikirannya. Hingga sampai pada ujungnya mereka tidak sadar bahwa harta tak sanggup memberikan kebahagiaan bagi hidupnya dan berburu harta tak semakin menjadikan manusia puas, malah menjadi makhluk yang ambisius yang tak pernah merasakan cukup.

Dalam sadar, bagi mereka yang secara materi berkecukupan dan bergelimangan harta, mereka mulai sadar bahwa ada kebahagiaan lain yang itu tidak akan diberikan oleh harta. Tetapi bagi mereka yang gagal, hidup melarat secara materi, mereka merasakan bahwa pencarian dunia malah menjadikan mereka jauh dari kebahagiaan. Pada saat seperti itulah, secara kodrati manusia lari kepada agama. Mereka mulai sadar bahwa hanya pada agama kebahagiaan hakiki akan diketemukan.

Dalam berbagai kasus, banyaknya masalah-masalah hidup yang tak kunjung habis membuat manusia mencari jalan alternatif untuk mengatasi masalah-masalahnya. Dan salah satu alternatif tersebut adalah dalam tasawuf. Fakta membuktikan bahwa kian banyak orang memasuki dunia mistik dalam islam ini. Hal ini juga terbukti dengan banyaknya orang-orang yang masuk dalam suatu tarikat maupun mengikuti jamaah dzikir yang diadakan oleh para pecinta Tuhan itu. Juga bisa dilihat dalam penerbitan sekaligus penjualan buku-buku tentang tasawuf yang semakin marak. Gejala ini menunjukkan bahwa tasawuf ternyata banyak diminati oleh banyak orang sebagai cara alternatif untuk mencapai ketenangan batin. Sayangnya masih saja banyak orang yang memasuki dunia ini dengan tanpa bekal yang memadai. Hingga secara mendasar mereka banyak salah dalam meresepsikan arti tasawuf itu sendiri sekaligus salah, bahkan cenderung menyimpang dalam mengamalkan latihan-latihan atau olah batin (riyadhah) yang merupakan ajarannya.

Berangkat dari kenyataan seperti itu kajian dalam buku ini disusun. Walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan yang tentu selalu membutuhkan benahan, masukan atau bahkan kritikan dari pihat manapun, setidak-tidaknya buku ini mempunyai daya guna dan manfaat terutama bagi para pembaca yang ingin mengarungi dunia tasawuf.

Akhirnya, semoga Allah menilai karya yang masih jauh dari sempurna ini sebagai bentuk ibadah. Juga saya ucapkan terimakasih kepada siapa saja yang telah memberi kontribusi dalam bentuk apapun, terutama kepada keluarga, istri dan anak sehingga karya ini dapat terselesaikan. Terakhir, kepada pihak penerbit saya haturkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas penerimaan naskah ini. Semoga Allah senantiasa membalas semua amal baik kita semua. Aamiin.[Asrifin An-Nakhrowi]

Continue Reading

Pustaka

Tasawuf Aceh; Mengungkap Kembali Khasanah Klasik Keislaman Tanah Rencong

Penulis: Sehat Insan Shadhiqin

Published

on

Tasawuf Aceh

Sejarah seakan berulang. Apa yang terjadi hari ini seolah terjadi lagi di masa depan. Mungkin saja dengan tempat dan objek yang berbeda. Namun, nilai dan hakikatnya selalu sama. Ini yang dikatakan Allah dalam al-Quran bahwa manusia mesti belajar dari apa yang dialami oleh nenek moyangnya. Apa yang baik dari mereka mesti menjadi pelajaran dan apa yang keliru yang telah mereka lakukan, maka hendaknya kita menghindarinya. Tujuannya, manusia dapat memperoleh kebahagiaan hidup di didunia dan tempat kembali yang baik di akhirat kelak.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah salah satu usaha untuk menulis sebagai khasanah klasik Aceh, agar kekayaan dan kebanggaan Aceh masa lalu dapat memerikan manfaat untuk kahidupan masyarakat saat ini, bukan hanya untuk masyarakat Aceh sendiri, namun untuk umat Islam Melayu seluruhnya. Khusus bagi Aceh, khasanah pemikiran klasik ini semakin penting untuk melacak jejak Syariat Islam dalam sejarah Aceh masa lalu. Selama ini Syariat Islam selalu dikaitkan dengan kemajuan Aceh tempoe doloe.  Bagaimana mungkin ia bisa menjadi rujukan jika rujukan itu sendiri tidak jelas bentuknya? Hanya dengan studi khusus mengenai faham beragama masyarakat Aceh masa lalu sajalah kita bisa mendapatkan sebuah konstruk pemahaman dan pelaksanaan Syariat Islam masa lalu di Aceh untuk bisa menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat kita saat ini.

Dorongan yang paling besar dari penulisan ini adalah tumbuhnya semangat menulis dan diskusi tentang berbagai masalah di Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah Aceh, baik yang menyangkut sejarah ataupun masalah kontemporer di kalangan anak muda Aceh saat ini. Wacana penulisan dan pengkajian berbagai khasanah klasik Aceh mendapat porsi besar dalam pembicaraan di warung kopi dan  milis. Beberapa “anak muda gila” menginginkan diskusi tersebut menjadi sebuah relita yang tertulis. Apalag ada di antara mereka yang memiliki bukti historis mengenai sejarah Aceh masa lalu berupa benda budaya dan catatan lama (manuskrip). Sangat disayangkan jika saja potensi tersebut  tidak direalisasikan dalam wujud studi yang hasilnya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang.

Studi ini merupakan langkah awal untuk “memotret” pemikiran dan perkembangan tasawuf di Aceh masa lalu, sekaligus realisasi  semangat yang tercecer  di warung kopi. Bagi saya tasawuf Aceh masa lalu bukanlah sekadar tasawuf sebagaimana dipahami saat ini, namun ia adalah Islam itu sendiri. Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Islam di Aceh pada masa lalu dan dokumen-dokumen tertulis yang diperoleh saat ini diberbagai tempat, menunjukkan kalau Islam yang berkembang di Aceh masa lalu adalah Islam dalam dimensi tasawuf. Meskipun dalam sejarah  tercatat Ar-Raniry pernah melakukan mihnah untuk faham wujudiyah Hamzah Fansuri  dan Syamsuddin as-sumatrani, namun ia juga mengembangkan tasawuf Rifa’iyah dalam masyarakat Aceh. Berbagai buku yang dikarangnya juga tidak terlepas dari dimensi tasawuf. Hanya saja, arraniry akhirnya mempengaruhi sultan untuk memberikan tindakan politik bagai ajaran Hamzah Fansuri dan pengikutnya.

Namun demikian, saya mengakui kajian ini tidak akan sampai ke tangan pembaca tanpa bantuan beberapa antuan teman. Terutama sekali, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk BANDAR PUBLISHING yang dimotori oleh Mukhlisuddin Ilyas , Lukman Emha, Husaini Nurdin,Tgk. Jabbar dan Khairul Umami. Atas dorongan dan motivasi, serta beberapa koreksi yang mereka berikan menjadikan buku ini menurut saya menjadi sempurna. Tanpa Mukhlis dkk, mungkin buku ini masih “bersemayam” dalam hard disk laptop, berupa out line dan draf kasar, ataupun sebuah cerita yang selalu saya lantunkan di warung kopi.

Saya juga mengucapkan terima kasih untuk  teman-teman di warkop Philo-Sophia, atas internet gratis dan tentu saja yang paling penting  adalah diskusi-diskusi “langit”. Terima ksih untuk bapak Zulkarnaini di Pustaka Paskasarjana IAIN ar-Raniry Banda Aceh, Bapak Sayed di Pustaka Ali Hasimy, dan Prof. Yusny Saby yang telah memberikan komentar untuk buku ini. Pengantar ini bukan hanya mengantarkan pembaca pada pemahaman yang benar mengenai tasawuf, namun juga mengantarkan saya memahami dengan tepat apa yang telah saya tulis.

Terima kasih ta’zim saya sampaikan kepada Nur Ibrahim NK, orang tua dan guru saya sepanjang masa. Dari beliaulah Allah curahkan saya kecintaan pada pengetahuan, dan keterbukaan hati untuk menghormati perbedaan dalam hidup. Terima kasih juga untuk iu dan adik-adik saya semuanya. Mereka semua adalah para “profesor” yang di hadapan mereka saya menjadi bodoh, bahkan untuk menyelesaikan masalah-masalah sepele sekalipun. Terima kasih juga untuk keluarga Yahbit dan Pakloet di Banda Aceh yang menjadi rumah kedua dalam kehidupan saya saat ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada saudari Cut Aina Shaharina Putri yang menjadi teman diskusi dalam masalah non teknis, apapun dalam kehidupan saya. Salam untuk bapak dan keluarga semuanya.

Saya menyadari karya ini tidaklah sempurna dan masih jauh dari sebuah studi ilmiah sebagaimana layaknya. Saya masih bahkan terlalu banyak menggunakan referensi sekunder dan bahkan beberapa di antara sebenarnya  tidak layak dijadikan rujukan. Namun saya tetap berharap, sumbangan pemikiran dan kajian ini sedikit banyak dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan kajian sejarah di Aceh. Dan yang paling penting, ini dapat menjadi semangat awal bagi teman-teman kelompok diskusi yang selama ini hanya membuang ide di bawah kolong meja kedai kopi. Mari kita mulai menulis! Saya tidak mau mendengar apa yang ada katakan, tapi saya mau membaca apa yang anda pikirkan.[]

Continue Reading

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending