Menengok Islam Di Tiongkok

Tiongkok adalah salah satu negara yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Walaupun mayoritas penduduknya tidak beragama atau atheis, namun pemerintah Tiongkok menghormati keberadaan warganya yang menganut suatu agama.

Salah satu agama minoritas di Tiongkok adalah Islam. Keberadaannya diakui oleh pemerintah dan didukung penuh untuk memiliki fasilitas ibadah. Di setiap kota di Tiongkok, hampir bisa dipastikan terdapat masjid. Masjid yang didirikan oleh komunitas Muslim setempat. Bahkan terkadang juga dibangun dengan bantuan pemerintah. Pemerintah menyediakan lahan untuk membangun masjid, dan menjamin keamanan masjid tersebut.

Perkembangan Islam di Tiongkok
Di Tiongkok saat ini, Islam mengalami perkembangan cukup signifikan. Walaupun belum ada data resmi tentang perkembangan tersebut. Ada yang mengatakan 30 juta Muslim, bahkan ada yang menyebut perkiraan sekitar 50 juta. Setidaknya bisa dilihat dari banyak bermunculannya restoran-restoran halal yang bertebaran di kota-kota disana, serta bertambahnya jumlah masjid di setiap kota yang hampir merata.

Peran pemerintah Tiongkok tentunya tidak bisa di-nafi-kan dalam perkembangan tersebut. Perwakilan umat beragama juga ada di Partai Komunis Tiongkok, satu-satunya partai yang berkuasa. Di dalam partai tersebut terdapat representasi dari masing-masing etnis yang ada di Tiongkok, baik yang mayoritas seperti Han, dan minoritas seperti etnis Muslim Hui.

Foto: idntimes.com.

Walaupun bebas beragama. Pemerintah tetap mengatur, memperhatikan dan mengawasi kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh warganya. Akan tetapi, tidak sampai mengurusi peribadatan hingga mendalam. Seperti pelaksanaan oleh Muslim Tiongkok setempat. Masjid-masjid di Tiongkok dibuka penuh pada hari Jumat dan hari Raya. Untuk hari-hari biasa, setiap masjid di Tiongkok memilki kebijakan masing-masing dalam pelaksanaan shalat lima waktu.

Ketika bulan Ramadhan, masjid-masjid di Tiongkok juga melaksanakan buka bersama dan shalat tarawih berjamaah. Kegiatan di bulan Ramadhan tersebut dilaksanakan selama satu bulan penuh seperti bulan Ramadhan di Indonesia. Penulis sendiri selama dua tahun berturut-turut (2014-2015) merasakan Ramadhan di kota Nanchang, Tiongkok.

Pada bulan Ramadhan, aktifitas masjid-masjid di Tiongkok makin menggeliat. Geliat itu bisa dilihat misalnya dalam jadwal kajian keagamaan. Kajian-kajian tersebut ditujukan untuk semakin memperdalam pemahaman warga Muslim Tiongkok tentang ajaran Islam. Selain itu banyak jamaah melakukan tadarus Al-Quran di masjid. Hingga I’tikaf di tanggal-tanggal ganjil di akhir Ramadhan.

Kehidupan Muslim di Tiongkok
Bila ingin menengok kehidupan Muslim Tiongkok, kita dapat dengan mudah menemuinya di setiap kota. Muslim Tiongkok mayoritas adalah pengusaha restoran halal yang berasal dari suku Hui dan Uighur. Mereka membuka restoran-restoran di tempat strategis, seperti kampus-kampus dan pusat kota. Tidak sulit untuk menemukan restoran halal di Tiongkok. Geliat Muslim Tiongkok juga dapat kita temui di lokasi sekitar masjid. Mereka membuka toko-toko dan restoran halal yang ramai pengunjung setiap Jumat.

Selain itu kehidupan Muslim Tiongkok juga bisa kita lihat secara dekat dengan pelakasanaan shalat Jumat dan Hari Raya di masing-masing masjid yang berada di tiap kota. Warga Muslim di seluruh pelosok kota berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat Jumat dan Hari Raya di masjid-masjid yang berlokasi di dekat kota. Tak jarang masjid-masjid tersebut tidak mampu menampung jumlah jamaah shalat yang tiba hingga meluber sampai pelataran dan parkiran. Hal ini adalah bentuk antusiasme warga Muslim Tiongkok untuk melaksanakan shalat, baik shalat Jumat maupun shalat Hari Raya. Muslim Tiongkok memiliki organisasi keagamaan yang serupa dengan MUI di Indonesia. Organisasi tersebut bernama Chinese Islamic Association (中国伊斯兰教协会 / Zhōngguó yīsīlán jiào xiéhuì). Dibentuk sejak Mei 1953.

Organisasi terebut memiliki tujuan sebagai wadah yang mampu menjembatani seluruh Muslim Tiongkok. Selain itu organisasi tersebut memiliki tugas diantaranya adalah memberikan pelatihan pada guru-guru Muslim dan mensertifikasi para imam di masjid-masjid Tiongkok.

Etnis Muslim di Tiongkok

Muslim di Tiongkok mayoritas berasal dari dua etnis yang berbeda yaitu etnis Hui dan etnis Uighur. Etnis Hui menyebar di banyak provinsi di Tiongkok Seperti Ningxia, Gansu, Henan, Xinjiang, Qinghai, Yunnan, dan Hebei. Etnis Hui memiliki rupa dan postur tubuh sebagaimana warga Tiongkok pada umumnya dan berbicara dengan bahasa Mandarin (Putonghua) dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah populasi terbanyak penduduk Muslim di Tiongkok. Tidak heran bila warga Tiongkok umumnya mengenal Islam dengan agama Hui.

Foto: dream.co.id.

Sedangkan etnis Uighur, mereka terkonsentrasi di wilayah otonomi khusus Xinjiang. Xinjiang berbatasan langsung dengan Asia Tengah seperti Kazakhstan, Kyrgistan, Tajikistan. Etnis Xinjiang mempunyai garis keturunan bangsa Turk. Memiliki rupa dan postur tubuh yang berbeda dengan warga Tiongkok pada umumnya. Dan berbicara dengan bahasa asli mereka sendiri. Serta memiliki huruf aksara Arab. Letak Xinjiang yang berbatasan langsung dengan banyak Negara, mengkhawatirkan pemerintah Tiongkok akan menjadi pintu masuk radikalisme dan terorisme. Hal ini menyebabkan pemerintah Tiongkok mengontrol penuh kegiatan keagamaan di wilayah Xinjiang.

Alasan tersebut ditengarai melatarbelakangi perbedaan perlakuan pemerintah Tiongkok Muslim etnis Hui dan Muslim etnis Uighur. Muslim etnis Hui memilki kebebasan untuk melaksanakan ajaran Islam di berbagai tempat. Sedangkan Muslim etnis Uighur dibatasi dalam melaksanakan ajaran hanya di tempat ibadah saja. Contohnya adalah memakai kerudung bagi wanita. Wanita etnis Hui bebas menggunakan kerudung dimana saja, sedangkan wanita etnis Uighur di Xinjiang mereka diperbolehkan memakai kerudung di masjid ketika melaksanakan shalat saja.

Muslim di Tiongkok mayoritas beraliran Sunni dan menganut madzhab Hanafi. Mereka memiliki sekolah tinggi Islam di Beijing yang dikenal dengan sebutan China Islamic Institute (中国伊斯兰学院 / Zhōngguó yīsīlán xuéyuàn). Sekolah tersebut didirikan oleh Chinese Islamic Association (中国伊斯兰教协会 / Zhōngguó yīsīlán jiào xiéhuì) untuk mempersiapkan dan melatih para calon imam di masjid-masjid di Tiongkok.

Hidup di Tiongkok sebagai minoritas. Penulis merasakan tantangan tersendiri untuk belajar istiqamah. Istiqamah menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai Muslim dan istiqamah menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal. Adapun tantangan lain yang dirasakan penulis selama di Tiongkok adalah mengerjakan shalat saat berada di kampus. Ketidaktersediaan ruang ibadah di kampus, mengharuskan penulis dan teman-teman Muslim di Tiongkok untuk kreatif mencari tempat shalat. Bila tidak ada kelas yang kosong, terkadang kami shalat di lorong-lorong kampus, ataupun dibawah tangga.

Selain itu perbedaan musim di Tiongkok dapat menggeser waktu shalat secara signifikan. Pada musim panas, siang akan lebih panjang dan juga sebaliknya pada musim dingin, siang akan lebih pendek sehingga waktu shalat pun akan bergeser cukup banyak. Pada musim panas, waktu subuh pukul 3.30 dan maghrib sekitar pukul 20.00. Sedangkan di musim dingin, waktu subuh mulai jam 07.00 dan waktu maghrib pukul 17.30.

Sebagai warga asing di Tiongkok, kami tidak mendapat larangan dalam hal beribadah. Kami mendapatkan kebebasan penuh dalam menjalankan ibadah. Masyarakat setempat sangat respek terhadap kaum yang beragama Islam. Bagi warga setempat, keharmonisan dan kedamaian akan selalu dijaga sebagaimana ajaran nenek moyang mereka.

Oleh: Hilyatu Milati Rusdiyah
dalam buku ‘Islam Indonesia dan China: Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok’

Komentar
Loading...