Portal Berita & Informasi JATMAN

Meneladani Gaya Kepemimpinan Romo Kyai Sholeh Bahruddin Ala Ki Hajar Dewantara

0 92

Ketika kami sowan ke ndalem beliau, Kyai Sholeh pernah melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat kami berpikir sangat keras.

Aku ingin bertanya pada kalian. Di hadits, Nabi itu pernah dawuh, ‘kullukum ra’in, wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi’. Pertanyaannya, kenapa kok menggunakan kata ‘ra’in’? tidak rais atau yang lain?” tanya Kyai Sholeh.

“Aku sendiri bingung, kenapa ya, di dalam hati aku hanya bergumam, ‘bener juga. kenapa kok ra’in. kenapa gak rais, kenapa gak mudir, kenapa gak za’im, atau kata lain yang bermakna pemimpin/leader? padahal banyak kata bahasa Arab yang bisa menggambarkan tentang pemimpin”. Melihat kami semua kebingungan, sambil tersenyum beliau menjawab pertanyaannya sendiri.

“Coba lihat di kitab, makna ra’in itu apa?” kembali tanya beliau. Serentak kami menjawab, “angon, kyai”. (gembala, kyai). “Nah, itulah sejatinya pemimpin. Kalian semua kelak akan menjadi pemimpin. Pemimpin itu seperti tukang gembala, gembala sapi, gembala kambing, dll. Harus bisa fleksibel. Jangan di depan saja, punya sapi, kok dipengang di depan saja, mau kamu sembelih? apa mau dijual? dibawa ke pasar? Jadi kita harus fleksibel, bisa memposisikan diri. Kapan harus di depan, kapan harus di tengah dan kapan harus di belakang. Kitalah yang mengikuti gembala kita,” beliau menjelaskan.

Mendengar penjelasan beliau, aku jadi teringat 3 prinsip kepemimpinan Ki Hajar Dewantara. Karena aku pikir, konsep kepemimpinan beliau seperti Ki Hajar Dewantara, maka tidak ada salahnya untuk sedikit mengupas 3 prinsip tersebut.

Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di Depan Memberi Teladan)
Sebagai seorang Pemimpin kita harus bisa memberikan contoh yang baik bagi anggota / anakbuah / karyawan. Jika saya mengamati beliau, kyai Sholeh. Beliau seringkali dawuh kepada para santrinya. “Awakmu kudu iso nyontoh aku. Contohen aku. Aku iki gak sekedar mauidhoh hasanah. Tapi juga uswatun hasanah”. Disini beliau memposisikan diri berada di depan. Memberikan tauladan yang baik bagi santri-santrinya. (istiqomah, akhlaqul karimah kepada semua, bagaimana menyikapi sebuah permasalahan, bagaimana cara beliau meredakan konflik, bagaimana beliau menyelesaikan persoalan dan problematika yang dialami oleh setiap orang yang datang ke beliau, dll). Bersikap sebagai inisiator, pencetus, penggagas ide. Inilah yang dilakukan oleh beliau ketika berada di depan sebagai teladan.

Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah Membangun Kehendak/Niat)
Karsa itu bermakna kemauan, niat, kehendak. Menjadi pemimpin kita juga harus bisa berada di tengah-tengah anggota/anak buah/karyawan. Belajar dari beliau, kyai Sholeh. Tidak hanya sekedar memberikan perintah atau instruksi kepada santri. Tetapi beliau juga ikut terlibat, roan (kerja bakti) membangun pesantren, membakar sampah, menciptakan buku atau karya, dan lain-lain. Tidak hanya sekedar instruksi, tetapi juga beliau terlibat bersama-sama di dalamnya dengan para santri. Di sisi lain, tak jarang beliau membakar dan membangun semangat para santri dengan memberikan motivasi.

Tut Wuri Handayani (Dari Belakang Memberikan Dorongan)
Ada saat dimana kita harus berada di belakang mereka dan menjadikan mereka berada di depan. Mendorong individu-individu dalam organisasi yang kita pimpin berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi. Pemimpin diharapkan mampu untuk mengembangkan dan memunculkan pemimpin-pemimpin baru untuk proses regenerasi.

Sebagai maha guru, beliau sangat ingin melihat santri-santrinya melebihi bahkan melampaui dirinya. Dalam rangka proses regenerasi, melanjutkan perjuangan, dan kepemimpinan beliau. Beliau lebih sering berada di belakang. Memberikan dorongan, dukungan, support ke para santri. Beliau berada di belakang, ketika para santri memperoleh keberhasilan dan memberikan pengakuan atas prestasi tersebut. “Ini adalah keberhasilan santriku, inilah prestasi para santri-santriku, ini adalah buah karya santri-santriku”. Beliau membanggakan santrinya. Namun beliau tak segan-segan dan berani berada di depan untuk mengambil tanggungjawab sepenuhnya atas kegagalan yang dialami oleh santri. Beliau tidak bilang, “ini kesalahan dan kegagalan santriku”, tetapi justru bilang, “ini semua adalah kesalahanku dan kegagalanku”. Semoga beliau senantiasa diberi keistiqomahan dan kesabaran dalam mentarbiyah para santri-santrinya. Lahu Al Fatihah.

(Kiyai Sholeh Bahruddin sendiri merupakan anggota Majelis Ifta’ Wal Irsyad JATMAN Idarah Aliyah periode 2018-2023, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Ngalah, Pasuruan, Jawa Timur sekaligus pendiri Universitas Yudharta Pasuruan

Oleh: M. Syafi Dzulhilmi (Wakil Ketua Matan Pasuruan Raya)
Editor: Eep

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

two × one =