Mempersiapkan Bekal

Al-Quran menyuruh kita untuk membekali diri atau membawa bekal melalui firman-Nya, “Watazawwadu…” (Al-Baqarah: 197). Allah tidak menjelaskan kelanjutan dari perintah-Nya itu: Untuk apa? Untuk kemana? Bekal apa?

Pernyataan ini menyentak kesadaran kita untuk berpikir secara jernih, objektif, dan mendalam guna menghadirkan kelanjutannya itu. Bermacam kemungkinan jawaban menuju arah itu, antara lain sebagai berikut.

Berbekal di waktu kecil dengan mengenal nama-nama benda dan nonbenda serta kegunaannya (tashawwur al-asyya’) untuk masa remaja. Berbekal diri pada masa remaja dengan ilmu pengetahuan dan keahlian untuk masa dewasa. Berbekal diri pada masa dewasa dengan berbagai pengalaman dan eksperimen kehidupan untuk masa tua.

Membekali diri di dunia dengan amal saleh untuk persiapan di akhirat.

Membekali diri sebelum berkeluarga dengan segala kebutuhan hidup, baik materi atau nonmateri untuk masa setelah berkeluarga.

Membekali diri ketika di rumah sebelum berpergian, berkelana, berimgrasi untuk mencari ilmu pengetahuan, pengalaman, dan penghidupan.

Membekali diri sebelum menjabat dengan seluk beluk jabatan yang akan dipegangnya.

Membekali diri sebelum memasuki masa pensiun.

Allah sendiri telah membekali Nabi Adam dengan ilmu pengetahuan sebelum diangkat-Nya menjadi khalifah di bumi dan untuk kehidupannya ketika turun ke bumi (Al-Baqarah: 31). Nabi membekali para sahabatnya di awal-awal dakwah dengan keimanan dan kesabaran agar tangguh menghadapi segala kemungkinan.

Kehidupan di dunia ini akan terus bergerak. Keadaan akan terus berubah. Situasi akan berganti sampai datangnya hari kiamat nanti. Allah menjelaskan bahwa bekal kehidupan yang paling baik adalah ketakwaan kepada Allah. Dengan takwa, seseorang akan selamat-sejahtera lahir batin, dari dunia sampai akhirat.

Oleh: Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad

Komentar
Loading...