Connect with us

Artikel

Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah

Syaikh Jibril memulai majelis ini dengan bersyukur kepada Allah dan berharap perjumpaan majelis di malam ini di berkahi oleh Allah Swt dan apa yang akan kita lakukan dalam majelis ini menjadi dzikir kita kepada Allah Swt. Dan semoga majelis ini menjadi majelis yang di terangi oleh cahaya Al-Qur’an dan Sunnah dengan ajaran-ajaran para Sufi khususnya penulis dari kitab ini yaitu kitab “Nawadirul Usul” yang di gubah oleh Syekh Al Hakim Al Tirmidzi.

Published

on

Pelajaran 1: Selain itu juga beliau mengharapkan keberkahan-keberkahan dari guru-guru Sufi khususnya Syaikh Nazim dan juga Syaikh Muhammad Hisyam. Lalu dikatakan bahwa hadis-hadis ini dikumpulkan oleh Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi, yang mana beliau berasal dari Asia Tengah, yang juga beliau memohon kepada kita semua untuk membacakan Al-Fatihah kepada Sayyidina Muhammad Saw, beserta dengan keluarganya, dan juga kepada para Masyaikh, begitu juga kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam.

Syaikh Gibril, beliau juga menyampaikan bahwa jalur dari periwayatan kitab Nawadirul Usul ini beliau dapatkan daripada seorang ulama Syam yang bernama Syaikh Salim Habami di kota Damaskus. Beliau mengatakan, bahwasannya beliau mengambil riwayat-riwayat ini dari Syaikh Salim Habami, yang beliau ambil dari Muhaddis Syam yang terkenal dengan nama Syaikh Badruddin Al Hasani, Syaikh Badruddin Al Hasani kemudian mengambil dari Syaikh Salim Al-Khawatib, lalu Syaikh Salim Al-Khawatib mengambil dari Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani, lalu Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengambil hingga sampai kepada sang Muallif kitab yaitu Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi.

Syaikh Gibril Fouad Haddad memulai kajian ini dengan menyampaikan dasar pertama yang di bicarakan dalam kitab ini, yaitu BAB “Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah”. Yaitu mengenai kalimat “Istiadzah” (ta’awwudz) yang memuat pertolongan.

Pada hadis yang pertama, dikatakan seseorang datang kepada Rasulullah Saw, dan bertanya kepada Rasulullah Saw;

“Yaa Rasulullah, aku tidak bisa tidur”

Lalu di jawab oleh Rasulullah Saw,

“Mengapa demikian? Ada apa yang terjadi?

Sahabat mengatakan bahwa kalajengking telah menyengat orang tersebut. Lalu Rasulullah Saw bersabda,

“Maka bacalah sebelum tidur,

 أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya,”

maka dengan membaca do’a tersebut, tidak ada hal yang akan membahayakan dirinya”

Hadits yang kedua, Shaykh Gibril menerangkan bahwa hadis yang di utarakan adalah serupa dengan hadis yang sebelumnya namun ada penambahan dari penekanan dalam satu kalimat. Dikatakan, sebelum engkau tertidur bacalah A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq. Didalam kalimat tersebut ada penambahan huruf alif, maknanya adalah keutamaan daripada kalimat tersebut. Dikatakan aku berlindung kepada Allah dari jahatnya Syaitan yang Kau telah ciptakan. Apabila kita membaca itu, kita akan terjaga hingga pagi hari.

Pada hadis yang ketiga (hadis yang serupa) dialami oleh seorang sahabiyat yaitu sahabat wanita yang bernama Khaulah binti Hakim As-Sulamiyah, dikatakan aku mendengan Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang berhenti untuk bermalam di suatu tempat (Syaikh Gibril memperjelas hadis ini dengan mengatakan dimana saja baik itu di hotel, dirumah kerabat atau di rumah saudara) maka memohonlah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ‘A’udzubikalimatillahittaammati min syarri maa khalaq (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari segala macam kejahatan yang terjadi), niscaya dia terhindar dari segala bahaya yang mengancam, sampai dia berangkat dari tempat itu.

Hadis keempat yaitu dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Rasulullah Saw bersabda bahwa Barangsiapa yang terbangun lalu terjaga di malam hari (terkejut lalu berprasangka takut) maka memohonlah perlingdungan kepada Allah (sebagaimana redaksi hadis sebelumnya) namun ada perubahan di akhir do’anya, yaitu dengan berkata aku berlindung daripada amarah, daripada siksa dan daripada sentuhan Syaitan. Jika seorang anak sudah bisa membacanya dengan baik maka bisa langsung membacanya. Namun jika anak tersebut belum bisa membacanya, maka tulislah bacaan tersebut di secarik kertas lalu ikatlah kepada leher anak tersebut.

Pada hadis yang ke lima dari Ibnu Abbas ra. Dikatakan bahwa Rasulullah mendoakan Hasan dan Husain, dia mengatakan bahwa aku menaruh perlindungan (do’a) untuk Hasan dan Husain, aku memohon pertolongan kepada Allah (pertolongan yang sempurna dari Allah, dari semua Syaitan, daripada hewan, dan daripada mata Syaitan yang mengganggu) dan itupun adalah hal serupa yang dilakukan oleh ayahku Ibrahim As terhadap puteranya Ismail As.

Al Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa dalam kalimat A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaqapabila di baca kalimat pertama dengan sempurna dan ataupun juga di baca dalam bentuk jamak, maka seperti apa yang di Firmankan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

 إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْــًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Quran 36:82)

“Dikatakan “كُن”. Kun bermakna terjadi seperti كُن فَيَكُونُ maka akan terjadi, dan benar-benar pasti akan terjadi. Ketika suatu masalah sudah diputuskan akan kejadiannya terjadi, maka akan terjadi.

Syakh Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan kata-kata “كُن” yang ada di dalam al-Qur’an itu menjadi kalimat (kata) yang sempurna, karena sebenarnya di dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, sebuah kata akan menjadi sempurna jika terdiri dari 3 huruf. Namun kata “Kun itu hanya memiliki dua huruf, dan itu menjadi sempurna. Syaikh Gibril juga memberikan contoh lain, berupa kata يد yadun”. Kata yadun berarti tangan yang terdiri dari dua huruf yaitu ي “ya” dan د “dal” begitu pula dengan دم damun berarti darah yang terdiri dari د “dal” dan م “mim”. Dan juga kata غد “Gadun” berarti besok yang terdiri dari غ “Ghin” dan د “dal”. Semua kata-kata tersebut jika di ucapkan oleh manusia tentunya bukan menjadi kata-kata yang sempurna, karena tidak terdiri daripada tiga suku kata. Lainhalnya dengan kata “Kun”. Kata “Kun” yang mengucapkan adalah Allah Swt di dalam Al-Qur’an. Kata Kun” menjadi kalimat yang sempurna karena Allah Swt yang tanpa organ dan juga adalah Tuhan Yang Menciptakan Segalanya, maka ini menjadi kalimat yang sempurna. Apapun yang datang daripada Allah, yaitu Al-Qur’an, menjadi komplit dan sempurna. Apa yang disampaikan-Nya didalam Al-Qur’an adalah suci dan sempurna. Apapun yang telah terjadi (yang dikatakan oleh Allah) tidak ada yang bisa berlepas daripada itu dan juga tidak ada yang bisa mengulurkan waktu kedatangannya, semua akan terus terjadi.

Shaykh Gibril menjelaskan kepada kita, ketika kalimat digunakan dalam bentuk plular (jamak) tetap akan menjadi ketetapan yang nyata. Lalu beliau mengutip daripada hadis Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya pemberian-Ku adalah kata-kata, dan hukuman-Ku juga adalah kata-kata.” maksudnya adalah perkataan “Kun”. Hadis Qudsi ini di riwayatkan oleh Ahmad dan Tirmdzi. Selanjutnya Syaikh Gibril menjelaskan apa yang dikatakan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi mengenai kata “Kun” yang terdiri dari ك “kaf” dan ن “nun”, kata “kaf” berasal dari “kainuna” yang berarti keberadaan Allah Swt dan kata “nun” adalah daripada cahaya Allah Swt. Allah telah memilikinya untuk eksistensi keberadaan-Nya serta untuk makhluknya. Jika seorang hamba berlindung dengan menggunakan kalimat ini, maka perlindungannya akan menjadi perlindungan yang sempurna. Kita akan terlindungi. Lalu beliau mengatakan pula bahwa ini adalah suatu hal yang utama ketika antara muslim dan non muslim (yang tidak eksis) kecuali semua telah ditentukan oleh Allah Swt Qada dan Qadarnya.

Ketika seorang hamba Allah menggunakan kata tersebut, maka hatinyapun akan tercetus untuk mengikuti kata tersebut. Umpamanya di dalam kehidupan, ketika manusia melihat sesuatu, ia akan terpesona atau ia akan merasa ketakutan. Ketika kehendak Allah Swt terjadi, maka semua serta merta mengikuti kehendak Allah. Hatinya, telinganya, matanya pun mengikuti kalimat tersebut.

Ketika kita berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq maka kita akan diberi perlindungan oleh Allah Swt daripada hal-hal yang berbahaya. Maka seorang hamba ketika membacakan kalimat tersebut, pada dasarnya dia akan memasuki sebuah benteng yang sangat kokoh, yaitu benteng perlindungannya Allah Swt. Ibaratnya ketika kita masuk kedalam rumah, dimana kita bisa duduk dengan baik, dan minum kopi disitu. Artinya kita merasa tenang dan nyaman di dalamnya. Itulah perlindungan daripada Allah Swt. Dengan ketakwaan yang kita miliki, dengan kesadaran atas apa yang kita ucapkan, maka ketika kita mengucapkan kalimat tersebut dan tidak ada kelalaian di dalam diri kita, maka kita akan mendapatkan realisasinya dan keyakinan kepada Allah bahwa kita mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt. Begitu pula dengan jiwa dan akal pikiran kita, semuanya merasakan kedamaian ketika kita mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar, hati kita akan merasakan kenyamanan. Namun jika kita mengucapkan kalimat tersebut dalam keadaaan lalai, tetap saja kita akan mendapatkan manfaat dan perlindungan daripada Allah Swt karena keagungan Allah Swt.

Syaikh Gibril mengatakan bahwa yang dikatakan sebagai “ahlul gaflah” adalah kita semua, yang dimaksud dengan “ahlul gaflah” dalam bahasa Indonesia adalah orang-orang yang dalam keadaan lalai, itulah kita semua. Wa;aupun begitu, ketika kita yakin bahwa kita ini memang lalai, kita tetap harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi lebih baik, (orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang seperti aku). Hamba Allah yang berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq, walaupun dia lalai, dan hatinya tidak mengerti, tetapi tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt, seperti halnya juga ketika Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa jika seorang hamba berkata حَسْبِيَ اللَّهُ (cukuplah Allah bagiku) sebanyak tujuh kali kepada Allah, maka dengan Allah (Demi Keagungan dan Keperkasaan-Nya), akan aku berikan mereka bukti baik itu mereka dalam keadaan lurus maupun berbohong. Ketika mengatakan kalimat “Hasbiallah” itu maka mereka tetap mendapatkan perlindungan karena mereka adalah orang-orang yang yakin kepada Allah Swt. Walaupun kita memiliki kelemahan, memiliki dosa, namun keyakinan kita kepada Allah Swt ini memberikan jalan bagi kita untuk terus mendapatkan perlindungan. Percaya kepada Allah, berkeyakinan kepada Allah ibarat seperti Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun ia kehilangan uang receh atau sesuatu di rumahnya, namun ia tetap merasakan bahagia, karena yang ia yakini (yang ia percaya) Allah Swt, ia bergantung kepada Allah Swt.

Selanjutnya Shaykh Gibril menceritakan kisah Sayyidina Ibrahim As yang dilempar kepada api yang menyala-nyala, ketika pada saat itu ada satu lembah yang begitu luas, disana apinya begitu menyala-nyala, dan Nabiyullah Ibrahim di simpan diatas bukit dengan tangan terikat juga baju yang sudah terbuka, lalu dalam keadaan seperti itu, beliau sudah siap dilemparkan kedalam api. Apapun yang terjadi pada saat itu, para malaikat bersedih hati, dunia bersedih hati, semuanya merasakan sedih, menangis, melihat kejadian tersebut, para Awliya pun juga begitu. Lalu, tiba-tiba datanglah sayyidina Jibril As di atas udara, dia datang dan mendekat kepada Sayyidina Ibrahim, kemudian menawarkan pertolongan “engkau butuh pertolongan Sayyidina Ibrahim?”, namun jawaban daripada Nabi Ibrahim sungguh mengejutkan hati kita bahwa apa yang beliau katakan “Saya tidak membutuhkan pertolongan engkau, namun Hasbiallahu… Cukuplah Allah Swt sebagai penolong bagiku.” lalu dia merasakan bahwa apa yang dibawakan oleh Sayyidina Jibril ini (tawaran pertolongan), bukannya menjadi pertolongan, baginya ini adalah sebuah “imtihan” atau ujian bagi seorang Nabi. Ketika ditawarkan pertolongan daripada malaikat Jibril, yang dia inginkan hanya Allah. Bagi dia “Hasbiallah”, cukuplah Allah. Lalu Allah menetapkan untuk Sayyidina Ibrahim mendapatkan kesejukan, maka Allah mengatakan kepada api untuk menjadi sejuk lalu menjadi sejuklah api tersebut.

Imam At-Tirmidzi menjelaskan kembali mengenai ujian yang dilalui oleh orang-orang yang beriman, dan Nabi Ibrahim memberikan contoh bagaimana dengan pengucapan “Hasbiallah” yang penuh dengan kejujuran dari hatinya, dan dia termasuk orang-orang yang benar (shiddiq), maka hasbunallah yang dia baca tersebut adalah Hasbunallah yang dibaca oleh orang-orang yang lurus, orang-orang yang memiliki keyakina didalam hatinya, dan ketika beliau mengucapkan hasbunallah pada saat itu, beliau tidak memiliki yang lainnya, tidak memiliki keduniawian, tidak memiliki pertolongan daripada malaikat, maka perkataan “Hasbiallah” yang shiddiq, membuatnya menjadi Khalilullah” atau kekasih Allah. Dan beliau akan menjadi orang yang pertama kali memakai pakaian nanti di hari akhir diantara deretan para Nabi-Nabi dan juga para kaum muslimin, dia akan menjadi orang pertama yang memakai pakaian, karena ketulusannya dalam ujian dan mengatakan “Hasbiallah”. Dialah yang dikatakan sebagai orang-orang Ahlul Yaqin, yang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki hati yang berkecamuk? Bercampur aduk antara mengakui sebagai seorang muslim, namun perilakunya masih condong kepada keduniaan (mengikuti keinginan-keinginan, mengikuti properti-properti atau hal-hal yang membawa mereka kepada fitnah)?, maka dalam mengikuti Sayyidina Ibrahim harus memiliki keimanan yang sempurna, sungguh-sungguh, dan berkata “Hasbiallah” dengan keimanan, maka mereka menjadi orang-orang yang ikhlas, yang sungguh-sungguh. Namun, orang Islam yang hatinya masih berkecamuk, masih bercampur aduk, mereka tetap menjadi orang-orang yang beriman, tetapi mereka bukan dari kalangan orang-orang Ahlul Muhaqqiq, yaitu orang-orang beriman dengan kesungguh-sungguhan yang lebih kuat. Sebagai penutup, dikatakan Syaikh Al Hakim dari kalangan Hanafi, menyamakan antara Iman dengan Islam, maka yang dikatakan mukmin adalah orang-orang yang Ahlul Yaqin.

Mengulang kembali pembahasan pada pertemuan ini, bahwa ada dua tahapan (dua level) yang dimiliki oleh manusia. Pertama, adalah mereka yang dekat dengan Allah, yakin, menunggu, dan selalu melihat dengan perintah (ketentuan) Allah Swt. Mereka termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah Swt. Namun ada pula orang-orang yang pada umumnya mata dan telinga ini melihat serta mendengar buka karena Allah, namun demi kepada sebab musababnya. Yaitu melihat hal ini dan hal itu bisa terjadi, bagaimana saya bisa lolos daripada ujian ini? Atau berbagai macam cara yang dia fikirkan dengan sebab musabab apa yang bisa terjadi. Orang-orang yang berkata, memohon perlindungan, dengan mengucapkan “Hasbiallah” namun memiliki hati yang lalai seperti ini, mereka tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah. Mengapa? Karena kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang suci dari-Nya. Maka meraka tetap mendapatkan perlindungan walaupun hati mereka adalah hati yang lalai atau gaflah. Wallahu’alam.

Dr. Gibril Fouad Haddad

Continue Reading

Artikel

Adab Anak dalam QS. al-Isra’:23

Oleh: Risky Aviv Nugroho, M.Pd.
(Guru PAI SDN Rejowinangun 1 Kota Yogyakarta)

Published

on

By

Adab

Adab adalah suatu hal penting yang menandakan bahwa manusia itu berpendidikan dan berbudaya. Manusia berbeda dengan binatang, karena adanya akal dan hati selain daripada nafsu. Adab adalah sebuah tindakan atau perilaku seseorang yang sesuai dengan tatanan norma dan nilai yang berlaku.

Dalam Islam, adab adalah perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Adab atau akhlak biasa diajarkan dalam ilmu tasawuf. Akal memiliki peran penting sebagai sarana untuk berpikir dan mempertimbankan baik dan buruk, benar dan salah, indah dan jelek dan lain sebagainya. Namun, yang memberikan keputusan apakah manusia itu akan memilih baik atau buruk, benar atau salah adalah hati. Untuk mengolah dan mendidik hati supaya bisa menjadi hati yang selamat adalah melalui pembelajaran tasawuf dengan adanya guru yang ahli tasawuf.

Apabila seorang mengetahui hal baik dan hal buruk, namun ia tetap melakukan keburukan tersebut, maka hal itu disebabkan oleh potensi hati yang tidak digunakan secara optimal sehingga manusia lebih mengedepankan nafsunya daripada akal dan hatinya. Adab atau perilaku yang baik dapat diperoleh melalui pendidikan dan pengajaran yang fokus pada pengolahan hati supaya bisa menjadi hati yang selamat atau biasa disebut dengan qolbun salim.

Pendidikan adalah sebuah kebutuhan pokok yang diperlukan oleh manusia sejak dini. Pendidikan dan pembelajaran tasawuf sebagai sarana pengolahan hati sangat banyak caranya. Diantaranya adalah pendidikan adab anak kepada orangtua. Terlebih lagi pendidikan adab bagi anak-anak sangat penting diajarkan supaya memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. khususnya sikap dan perilaku anak terhadap orangtuanya. Islam mengajarkan kepada seorang anak untuk bersikap dan berperilaku baik dengan kedua orangtua, mengasihi dan menyayangi mereka serta menghormati dan memuliakannya.

Hal tersebut dapat dilihat dalam al-Quran QS. Al-Isra’ ayat 23 sebagai berikut :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya :

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’ : 23)

Sesuai dengan ayat diatas, Islam mengajarkan kepada kita senantiasa menyembah kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya. Islam juga mengajarkan kepada seorang anak untuk senantiasa berbuat baik kepada kedua orangtua, yaitu bapak dan ibu dengan sepenuh hati dan sebaik mungkin. Bahkan sampai orangtuanya berumur lanjut, seorang anak harus tetap berbuat baik terhadap orangtuanya. Merawat mereka dengan penuh kasih sayang, menghormati dan memuliakannya.

Seorang anak juga tidak boleh menyakiti kedua orangtuanya, baik itu dengan sikap, perkataan, maupun perbuatan yang tidak baik kepada orangtua. Di ibaratkan dalam QS. al-Isra’ ayat 23 tersebut seorang anak dilarang berkata atau mengucapkan kata ‘ah’ kepada orangtuanya dan juga dilarang untuk membentak orangtua. Artinya, kita tidak boleh berkata kasar apalagi membentak atau bertindak dan berperilaku yang dapat menyakiti hati dan fisik orangtua kita.

Prof. Dr. Wahbah Zuhaili dalam tafsir al-Wajiz menjelaskan makna ayat 23 dari QS. al-Isra’ bahwa sebagai seorang anak, apabila kedua orangtua kita atau salah satu dari mereka baik ibu atau ayah telah mencapai usia lanjut, dan kita hidup dan tinggal bersama keduanya, maka kita wajib berbakti kepada keduanya. Sebagaimana dahulu mereka merawat dan membantu kita saat masih kecil. Mencuci air seni keduanya, membersihkan najis yang ada pada mereka, memberikan apa yang mereka butuhkan, serta tidak merasa berat dan enggan membantu keduanya.

Sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada kita saat masih kecil. Mereka membantu membersihkan saat kita buang air kecil atau besar tanpa ada rasa berat atau enggan. Kita tidak boleh juga membentak orangtua atau berkata keras dan lantang kepada mereka. Hendaknya kita selalu mengucap dan berkata dengan mereka dengan perkataan yang baik yaitu perkataan yang indah, santun, dan lembut, dengan penuh kesantunan dan penghormatan kepada keduanya.

Dalam QS. al-Isra’ ayat 23 dapat diambil beberapa pelajaran untuk kita semua yaitu:

Pertama, perintah tentang kewajiban beribadah hanya kepada Allah SWT sekaligus perintah larangan untuk menyekutukan Allah SWT.

Kedua, kewajiban berbakti kepada kedua orangtua, yaitu berbuat baik kepada keduanya, melindungi mereka dari keburukan, serta mentaati keduanya dalam perkara yang baik dan benar.

Ketiga, larangan untuk berkata ‘ah’ atau perkataan yang kasar, membentak dan kata-kata yang dapat menyakiti hati keduanya, serta tidak menyakiti mereka dalam hal perkataan, perbuatan ataupun sikap. Keempat, wajib mendoakan ampunan dan rahmat untuk kedua orangtua. Semoga kita semuanya bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari penjelasan diatas serta senantiasa dapat membahagiakan kedua orangtua kita dan tidak menyakiti keduanya.

Baca juga: Urgensi Akhlak dalam Islam

Continue Reading

Artikel

Nazar dalam Pandangan Tasawuf

Published

on

By

Ungkapan nazar seringkali kita dengar ketika seseorang yang memiliki hajat berkomitmen melakukan sesuatu ketika hajatnya terkabul. Lalu bagaimanakah proses nazar dan hukumnya menurut pandangan syariat dan tasawuf?

Jumhur ulama mengatakan, hukum asal nazar adalah mubah. Tetapi melaksanakan nazar tersebut adalah wajib karena kedudukan nazar sama dengan sumpah sehingga ketika melanggar nazar ada konsekuensi yang harus dipenuhi sebagaimana yang terdapat dalam Surat Al Maidah ayat 89:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغْوِ فِىٓ أَيْمَٰنِكُمْ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلْأَيْمَٰنَ ۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٍ ۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ أَيْمَٰنِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ ۚ وَٱحْفَظُوٓا۟ أَيْمَٰنَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمْ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya:

“Allah Swt. tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah Swt. menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur

Dari ayat di atas, ada beberapa konsekuensi yang harus dijalankan apabila seseorang tidak bisa memenuhi nazarnya, antara lain:

  1. Memberi makan sepuluh orang miskin dengan ketentuan setiap orang mendapatkan 1 mud beras yaitu sekitar ¾ liter
  2. Memberi pakaian 10 orang miskin (berupa baju, celana dan dapat menutup aurat bagi perempuan)
  3. Memerdekakan budak (poin ketiga ini sudah tidak relevan pada kondisi masa kini)
  4. Puasa berturut-turut selama tiga hari

Konsekuensi di atas dilakukan berdasarkan kemampuan orang yang bernazar. Jika orang yang bernazar tidak mampu melaksanakan tiga poin utama, maka alternative yang paling terakhirlah yang wajib dikerjakan. Apabila seluruh konsekuensi tersebut tidak bisa dilakukan, maka orang yang bernazar dihukumi dosa.

Nazar wajib dipenuhi ketika orang yang bernazar mengucapkan dengan perkataan (bil lafdzi). Jika hanya terbesit dalam hati, maka hukumnya tidak sah karena ada objektivitas yang akan dituju. Nazar bisa dilakukan dengan ibadah seperti shalat, puasa, sedekah dan lain-lain.

Kedudukan Nazar dalam Pandangan Tasawuf

Meskipun hukum asal nazar adalah mubah, sebagian ulama mengatakan bahwa hukum nazar adalah makruh karena membebani sesuatu yang semestinya tidak dibebankan pada dirinya.

Secara syariat, hukum agama memperbolehkan nazar. Tapi dari sisi tasawuf, nazar sangat tidak dianjurkan karena orang yang melakukan nazar seolah-olah dapat mengubah takdir Allah Swt. dan menyebabkan hajatnya terpenuhi. Sehingga jika dilihat dari lubuk hati yang paling dalam, terbesit pikiran bahwa ia menghendaki Allah Swt. untuk mengikuti keinginannya. Berarti segala ibadahnya hanya bergantung kepada tercapainya apa yang diinginkan. Bahkan orang yang bernazar disebut orang yang pelit karena ibadahnya disesuaikan dengan hajatnya. Dan dalam konteks tasawuf, perilaku semacam ini merupakan su’ul adab kepada Allah Swt.

Seperti contoh:

“jika saya memiliki anak laki-laki, saya akan bersedekah sebanyak 1 milliyar”

Ucapan tersebut sejatinya membebani orang yang bernazar. Padahal, cukup memohon kepada Allah Swt. tentang apa yang diinginkan dan apabila keinginannya terkabul serta memiliki rizki lebih, maka bisa digunakan untuk bersedekah.

Secara pelaksanaan mungkin terlihat sama. Tetapi secara hakikat, nazar terkesan memaksa Allah Swt. dan enggan bersedekah ketika hajatnya tidak terkabul. Sedangkan jika orang tersebut tulus meminta kepada Allah Swt., kemudian Allah Swt. mengabulkannya, ia bisa dengan sukarela menyedekahkan apa yang dimilikinya tanpa mematok besaran harta yang dikeluarkan.

Oleh sebab itu, KH. Muhammad Danial Nafis seringkali berpesan:

“jangan membebani sesuatu yang tidak dibebankan secara syariat”

Wallahu a’lam

Laporan: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

4 Keutamaan Taubat yang Jarang Diketahui

Published

on

By

Ilustrasi

Setiap muslim apabila melakukan perbuatan salah, buruk, tercela atau berbuat maksiat maka ia wajib bertaubat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata taubat diartikan sadar dan menyesal akan dosa (perbuatan yang salah atau jahat) dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatan.

Secara bahasa, kata taubat berasal dari bahasa Arab yang artinya kembali. Secara istilah, taubat adalah kembali dari maksiat kepada taat dan kembali kepada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Menurut Imam Nawawi, taubat adalah tindakan yang wajib dilakukan atas setiap dosa.

Jika ia melakukan kesalahan pada sesama manusia maka ia selain bertaubat kepada Allah, ia meminta maaf juga kepada orang tersebut.

Bertaubat tidaklah harus menunggu perbuatan dosa terlebih dahulu, tetapi setiap dosa harus segera ditaubati. Karena pada dasarnya manusia yang hidup di dunia ini tidak pernah luput dari kesalahan. Baik kesalahan dhahir yang terlihat mata maupun kesalahan bathin yang dilakukan hati. Sebagaimana Rasulullah saw pernah menerangkan hal ini kepada Abdillah bin Mas’ud “Barang siapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat”.

Di dalam taubat terdapat empat keutamaan di dalamnya yaitu:

Pertama, Meraih cinta Allah dengan cara cepat.

Di dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 222 dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat dan mensucikan dirinya. Menurut ulama, ayat tersebut bermakna, kita harus sering melakukan Shalat Taubat kepada Allah. Taubat bukan hanya sekali, tapi harus dilakukan terus-menerus dan sering, karena manusia tidak pernah lupu dari berdosa, baik disengaja maupun tidak. Manusia adalah tempat salah dan lupa. Sebagaimana dalam Bahasa Arabnya yaitu Al Insan. Kata Al insan berasal dari tiga kata: anasa yang berarti melihat, meminta izin, dan mengetahui; nasiya yang berarti lupa; dan al-uns yang berarti jinak. Dengan cara bertaubat itulah kita bisa memohon ampun kepada Allah atas kesalahan dan kealpaan kita.

Bayangkan, diri seorang hamba yang berlumuran dosa, jauh dari Allah, tidak merasakan “getar kasih sayang Allah”, lalu dengan bertaubat kepada Allah, kita tiba-tiba bisa menjadi hamba yang sangat dekat kepada-Nya dan dicinta-Nya. Kita menjadi hamba yang setiap permintaan dan do’a-do’anya dikabulkan Allah, mendapatkan bimbingan berupa ilham dan inspirasi dari Allah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Alangkah dahsyatnya lompatan spiritual yang kita peroleh dengan bertaubat kepada Allah.

Kedua, Mendapatkan keuntungan dari Allah dengan cara cepat.

Dalam surah an-Nur ayat 31 dijelaskan bahwa bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Jika Allah sudah menjanjikan keuntungan, maka siapakah yang bisa mendatangkan kerugian kepada kita? Begitu juga sebaliknya, jika Allah sudah menahan rezeki kita, siapa yang sanggup memberi kita rezeki? Akan ada saja kondisi yang tidak sesuai dengan harapan dan perkiraan kita. Misalnya, kita sudah sepakatjanji untuk sebuah proyek. Tiba-tiba saja kesepakatan tersebut batal.

Ketiga, Ditutupi kesalahan-kesalahan kita oleh Allah dan dijanjikan masuk surga.

Dalam surah at-Tahrim ayat 8 dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Ketika kita bartaubat dengan sebenar-benarnya maka dosa-dosa kita pun akan dihapus. Sebagaimana dalam surah Nuh ayat 10 bahwa Allah Maha pengampun maka mohon ampunlah kepadaNya. Ust. Yusuf Mansur sering berkata di dalam ceramahnya “kalau surga akhirat kita dapatkan balasannya nanti, Ketika kita sudah meninggal, tapi surga di dunia kita dapatkan sekarang. Apa surganya mereka yang berutang? Yaitu lunasnya utang. Apa surga bagi mereka yang sakit? Yakni sembuh dari penyakitnya. Begitulah balasan bagi mereka yang mencari ridha Allah. Mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh menggapai kasih saying Tuhan. Mereka cinta kepada Tuhan dan Tuhan lebih cinta lagi kepada mereka. Mereka memuliakan Tuhan dan Tuhan lebih membuat hidup mereka semakin terhormat.

Keempat, mendapatkan petunjuk dari Allah dengan cepat.

Dalam surah Ar-Ra’d ayat 27 dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. Kalau Allah memberikan petunjuk dan arahan kepada kita, maka apa pun yang kita lakukan insya Allah akan mendapatkan keberhasilan bahkan dalam hal yang kita kira akan mendatangkan kerugian sekalipun. Kalau Allah ridha kepada kita, kondisi yang kita sangka akan mendatangkan kerugian bisa berbalik memberikan keuntungan dan keselamatan besar bagi kita.

Continue Reading

Facebook

Trending