Connect with us

Artikel

Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah

Syaikh Jibril memulai majelis ini dengan bersyukur kepada Allah dan berharap perjumpaan majelis di malam ini di berkahi oleh Allah Swt dan apa yang akan kita lakukan dalam majelis ini menjadi dzikir kita kepada Allah Swt. Dan semoga majelis ini menjadi majelis yang di terangi oleh cahaya Al-Qur’an dan Sunnah dengan ajaran-ajaran para Sufi khususnya penulis dari kitab ini yaitu kitab “Nawadirul Usul” yang di gubah oleh Syekh Al Hakim Al Tirmidzi.

Published

on

Pelajaran 1: Selain itu juga beliau mengharapkan keberkahan-keberkahan dari guru-guru Sufi khususnya Syaikh Nazim dan juga Syaikh Muhammad Hisyam. Lalu dikatakan bahwa hadis-hadis ini dikumpulkan oleh Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi, yang mana beliau berasal dari Asia Tengah, yang juga beliau memohon kepada kita semua untuk membacakan Al-Fatihah kepada Sayyidina Muhammad Saw, beserta dengan keluarganya, dan juga kepada para Masyaikh, begitu juga kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam.

Syaikh Gibril, beliau juga menyampaikan bahwa jalur dari periwayatan kitab Nawadirul Usul ini beliau dapatkan daripada seorang ulama Syam yang bernama Syaikh Salim Habami di kota Damaskus. Beliau mengatakan, bahwasannya beliau mengambil riwayat-riwayat ini dari Syaikh Salim Habami, yang beliau ambil dari Muhaddis Syam yang terkenal dengan nama Syaikh Badruddin Al Hasani, Syaikh Badruddin Al Hasani kemudian mengambil dari Syaikh Salim Al-Khawatib, lalu Syaikh Salim Al-Khawatib mengambil dari Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani, lalu Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengambil hingga sampai kepada sang Muallif kitab yaitu Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi.

Syaikh Gibril Fouad Haddad memulai kajian ini dengan menyampaikan dasar pertama yang di bicarakan dalam kitab ini, yaitu BAB “Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah”. Yaitu mengenai kalimat “Istiadzah” (ta’awwudz) yang memuat pertolongan.

Pada hadis yang pertama, dikatakan seseorang datang kepada Rasulullah Saw, dan bertanya kepada Rasulullah Saw;

“Yaa Rasulullah, aku tidak bisa tidur”

Lalu di jawab oleh Rasulullah Saw,

“Mengapa demikian? Ada apa yang terjadi?

Sahabat mengatakan bahwa kalajengking telah menyengat orang tersebut. Lalu Rasulullah Saw bersabda,

“Maka bacalah sebelum tidur,

 أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya,”

maka dengan membaca do’a tersebut, tidak ada hal yang akan membahayakan dirinya”

Hadits yang kedua, Shaykh Gibril menerangkan bahwa hadis yang di utarakan adalah serupa dengan hadis yang sebelumnya namun ada penambahan dari penekanan dalam satu kalimat. Dikatakan, sebelum engkau tertidur bacalah A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq. Didalam kalimat tersebut ada penambahan huruf alif, maknanya adalah keutamaan daripada kalimat tersebut. Dikatakan aku berlindung kepada Allah dari jahatnya Syaitan yang Kau telah ciptakan. Apabila kita membaca itu, kita akan terjaga hingga pagi hari.

Pada hadis yang ketiga (hadis yang serupa) dialami oleh seorang sahabiyat yaitu sahabat wanita yang bernama Khaulah binti Hakim As-Sulamiyah, dikatakan aku mendengan Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang berhenti untuk bermalam di suatu tempat (Syaikh Gibril memperjelas hadis ini dengan mengatakan dimana saja baik itu di hotel, dirumah kerabat atau di rumah saudara) maka memohonlah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ‘A’udzubikalimatillahittaammati min syarri maa khalaq (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari segala macam kejahatan yang terjadi), niscaya dia terhindar dari segala bahaya yang mengancam, sampai dia berangkat dari tempat itu.

Hadis keempat yaitu dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Rasulullah Saw bersabda bahwa Barangsiapa yang terbangun lalu terjaga di malam hari (terkejut lalu berprasangka takut) maka memohonlah perlingdungan kepada Allah (sebagaimana redaksi hadis sebelumnya) namun ada perubahan di akhir do’anya, yaitu dengan berkata aku berlindung daripada amarah, daripada siksa dan daripada sentuhan Syaitan. Jika seorang anak sudah bisa membacanya dengan baik maka bisa langsung membacanya. Namun jika anak tersebut belum bisa membacanya, maka tulislah bacaan tersebut di secarik kertas lalu ikatlah kepada leher anak tersebut.

Pada hadis yang ke lima dari Ibnu Abbas ra. Dikatakan bahwa Rasulullah mendoakan Hasan dan Husain, dia mengatakan bahwa aku menaruh perlindungan (do’a) untuk Hasan dan Husain, aku memohon pertolongan kepada Allah (pertolongan yang sempurna dari Allah, dari semua Syaitan, daripada hewan, dan daripada mata Syaitan yang mengganggu) dan itupun adalah hal serupa yang dilakukan oleh ayahku Ibrahim As terhadap puteranya Ismail As.

Al Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa dalam kalimat A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaqapabila di baca kalimat pertama dengan sempurna dan ataupun juga di baca dalam bentuk jamak, maka seperti apa yang di Firmankan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

 إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْــًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Quran 36:82)

“Dikatakan “كُن”. Kun bermakna terjadi seperti كُن فَيَكُونُ maka akan terjadi, dan benar-benar pasti akan terjadi. Ketika suatu masalah sudah diputuskan akan kejadiannya terjadi, maka akan terjadi.

Syakh Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan kata-kata “كُن” yang ada di dalam al-Qur’an itu menjadi kalimat (kata) yang sempurna, karena sebenarnya di dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, sebuah kata akan menjadi sempurna jika terdiri dari 3 huruf. Namun kata “Kun itu hanya memiliki dua huruf, dan itu menjadi sempurna. Syaikh Gibril juga memberikan contoh lain, berupa kata يد yadun”. Kata yadun berarti tangan yang terdiri dari dua huruf yaitu ي “ya” dan د “dal” begitu pula dengan دم damun berarti darah yang terdiri dari د “dal” dan م “mim”. Dan juga kata غد “Gadun” berarti besok yang terdiri dari غ “Ghin” dan د “dal”. Semua kata-kata tersebut jika di ucapkan oleh manusia tentunya bukan menjadi kata-kata yang sempurna, karena tidak terdiri daripada tiga suku kata. Lainhalnya dengan kata “Kun”. Kata “Kun” yang mengucapkan adalah Allah Swt di dalam Al-Qur’an. Kata Kun” menjadi kalimat yang sempurna karena Allah Swt yang tanpa organ dan juga adalah Tuhan Yang Menciptakan Segalanya, maka ini menjadi kalimat yang sempurna. Apapun yang datang daripada Allah, yaitu Al-Qur’an, menjadi komplit dan sempurna. Apa yang disampaikan-Nya didalam Al-Qur’an adalah suci dan sempurna. Apapun yang telah terjadi (yang dikatakan oleh Allah) tidak ada yang bisa berlepas daripada itu dan juga tidak ada yang bisa mengulurkan waktu kedatangannya, semua akan terus terjadi.

Shaykh Gibril menjelaskan kepada kita, ketika kalimat digunakan dalam bentuk plular (jamak) tetap akan menjadi ketetapan yang nyata. Lalu beliau mengutip daripada hadis Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya pemberian-Ku adalah kata-kata, dan hukuman-Ku juga adalah kata-kata.” maksudnya adalah perkataan “Kun”. Hadis Qudsi ini di riwayatkan oleh Ahmad dan Tirmdzi. Selanjutnya Syaikh Gibril menjelaskan apa yang dikatakan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi mengenai kata “Kun” yang terdiri dari ك “kaf” dan ن “nun”, kata “kaf” berasal dari “kainuna” yang berarti keberadaan Allah Swt dan kata “nun” adalah daripada cahaya Allah Swt. Allah telah memilikinya untuk eksistensi keberadaan-Nya serta untuk makhluknya. Jika seorang hamba berlindung dengan menggunakan kalimat ini, maka perlindungannya akan menjadi perlindungan yang sempurna. Kita akan terlindungi. Lalu beliau mengatakan pula bahwa ini adalah suatu hal yang utama ketika antara muslim dan non muslim (yang tidak eksis) kecuali semua telah ditentukan oleh Allah Swt Qada dan Qadarnya.

Ketika seorang hamba Allah menggunakan kata tersebut, maka hatinyapun akan tercetus untuk mengikuti kata tersebut. Umpamanya di dalam kehidupan, ketika manusia melihat sesuatu, ia akan terpesona atau ia akan merasa ketakutan. Ketika kehendak Allah Swt terjadi, maka semua serta merta mengikuti kehendak Allah. Hatinya, telinganya, matanya pun mengikuti kalimat tersebut.

Ketika kita berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq maka kita akan diberi perlindungan oleh Allah Swt daripada hal-hal yang berbahaya. Maka seorang hamba ketika membacakan kalimat tersebut, pada dasarnya dia akan memasuki sebuah benteng yang sangat kokoh, yaitu benteng perlindungannya Allah Swt. Ibaratnya ketika kita masuk kedalam rumah, dimana kita bisa duduk dengan baik, dan minum kopi disitu. Artinya kita merasa tenang dan nyaman di dalamnya. Itulah perlindungan daripada Allah Swt. Dengan ketakwaan yang kita miliki, dengan kesadaran atas apa yang kita ucapkan, maka ketika kita mengucapkan kalimat tersebut dan tidak ada kelalaian di dalam diri kita, maka kita akan mendapatkan realisasinya dan keyakinan kepada Allah bahwa kita mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt. Begitu pula dengan jiwa dan akal pikiran kita, semuanya merasakan kedamaian ketika kita mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar, hati kita akan merasakan kenyamanan. Namun jika kita mengucapkan kalimat tersebut dalam keadaaan lalai, tetap saja kita akan mendapatkan manfaat dan perlindungan daripada Allah Swt karena keagungan Allah Swt.

Syaikh Gibril mengatakan bahwa yang dikatakan sebagai “ahlul gaflah” adalah kita semua, yang dimaksud dengan “ahlul gaflah” dalam bahasa Indonesia adalah orang-orang yang dalam keadaan lalai, itulah kita semua. Wa;aupun begitu, ketika kita yakin bahwa kita ini memang lalai, kita tetap harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi lebih baik, (orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang seperti aku). Hamba Allah yang berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq, walaupun dia lalai, dan hatinya tidak mengerti, tetapi tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt, seperti halnya juga ketika Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa jika seorang hamba berkata حَسْبِيَ اللَّهُ (cukuplah Allah bagiku) sebanyak tujuh kali kepada Allah, maka dengan Allah (Demi Keagungan dan Keperkasaan-Nya), akan aku berikan mereka bukti baik itu mereka dalam keadaan lurus maupun berbohong. Ketika mengatakan kalimat “Hasbiallah” itu maka mereka tetap mendapatkan perlindungan karena mereka adalah orang-orang yang yakin kepada Allah Swt. Walaupun kita memiliki kelemahan, memiliki dosa, namun keyakinan kita kepada Allah Swt ini memberikan jalan bagi kita untuk terus mendapatkan perlindungan. Percaya kepada Allah, berkeyakinan kepada Allah ibarat seperti Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun ia kehilangan uang receh atau sesuatu di rumahnya, namun ia tetap merasakan bahagia, karena yang ia yakini (yang ia percaya) Allah Swt, ia bergantung kepada Allah Swt.

Selanjutnya Shaykh Gibril menceritakan kisah Sayyidina Ibrahim As yang dilempar kepada api yang menyala-nyala, ketika pada saat itu ada satu lembah yang begitu luas, disana apinya begitu menyala-nyala, dan Nabiyullah Ibrahim di simpan diatas bukit dengan tangan terikat juga baju yang sudah terbuka, lalu dalam keadaan seperti itu, beliau sudah siap dilemparkan kedalam api. Apapun yang terjadi pada saat itu, para malaikat bersedih hati, dunia bersedih hati, semuanya merasakan sedih, menangis, melihat kejadian tersebut, para Awliya pun juga begitu. Lalu, tiba-tiba datanglah sayyidina Jibril As di atas udara, dia datang dan mendekat kepada Sayyidina Ibrahim, kemudian menawarkan pertolongan “engkau butuh pertolongan Sayyidina Ibrahim?”, namun jawaban daripada Nabi Ibrahim sungguh mengejutkan hati kita bahwa apa yang beliau katakan “Saya tidak membutuhkan pertolongan engkau, namun Hasbiallahu… Cukuplah Allah Swt sebagai penolong bagiku.” lalu dia merasakan bahwa apa yang dibawakan oleh Sayyidina Jibril ini (tawaran pertolongan), bukannya menjadi pertolongan, baginya ini adalah sebuah “imtihan” atau ujian bagi seorang Nabi. Ketika ditawarkan pertolongan daripada malaikat Jibril, yang dia inginkan hanya Allah. Bagi dia “Hasbiallah”, cukuplah Allah. Lalu Allah menetapkan untuk Sayyidina Ibrahim mendapatkan kesejukan, maka Allah mengatakan kepada api untuk menjadi sejuk lalu menjadi sejuklah api tersebut.

Imam At-Tirmidzi menjelaskan kembali mengenai ujian yang dilalui oleh orang-orang yang beriman, dan Nabi Ibrahim memberikan contoh bagaimana dengan pengucapan “Hasbiallah” yang penuh dengan kejujuran dari hatinya, dan dia termasuk orang-orang yang benar (shiddiq), maka hasbunallah yang dia baca tersebut adalah Hasbunallah yang dibaca oleh orang-orang yang lurus, orang-orang yang memiliki keyakina didalam hatinya, dan ketika beliau mengucapkan hasbunallah pada saat itu, beliau tidak memiliki yang lainnya, tidak memiliki keduniawian, tidak memiliki pertolongan daripada malaikat, maka perkataan “Hasbiallah” yang shiddiq, membuatnya menjadi Khalilullah” atau kekasih Allah. Dan beliau akan menjadi orang yang pertama kali memakai pakaian nanti di hari akhir diantara deretan para Nabi-Nabi dan juga para kaum muslimin, dia akan menjadi orang pertama yang memakai pakaian, karena ketulusannya dalam ujian dan mengatakan “Hasbiallah”. Dialah yang dikatakan sebagai orang-orang Ahlul Yaqin, yang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki hati yang berkecamuk? Bercampur aduk antara mengakui sebagai seorang muslim, namun perilakunya masih condong kepada keduniaan (mengikuti keinginan-keinginan, mengikuti properti-properti atau hal-hal yang membawa mereka kepada fitnah)?, maka dalam mengikuti Sayyidina Ibrahim harus memiliki keimanan yang sempurna, sungguh-sungguh, dan berkata “Hasbiallah” dengan keimanan, maka mereka menjadi orang-orang yang ikhlas, yang sungguh-sungguh. Namun, orang Islam yang hatinya masih berkecamuk, masih bercampur aduk, mereka tetap menjadi orang-orang yang beriman, tetapi mereka bukan dari kalangan orang-orang Ahlul Muhaqqiq, yaitu orang-orang beriman dengan kesungguh-sungguhan yang lebih kuat. Sebagai penutup, dikatakan Syaikh Al Hakim dari kalangan Hanafi, menyamakan antara Iman dengan Islam, maka yang dikatakan mukmin adalah orang-orang yang Ahlul Yaqin.

Mengulang kembali pembahasan pada pertemuan ini, bahwa ada dua tahapan (dua level) yang dimiliki oleh manusia. Pertama, adalah mereka yang dekat dengan Allah, yakin, menunggu, dan selalu melihat dengan perintah (ketentuan) Allah Swt. Mereka termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah Swt. Namun ada pula orang-orang yang pada umumnya mata dan telinga ini melihat serta mendengar buka karena Allah, namun demi kepada sebab musababnya. Yaitu melihat hal ini dan hal itu bisa terjadi, bagaimana saya bisa lolos daripada ujian ini? Atau berbagai macam cara yang dia fikirkan dengan sebab musabab apa yang bisa terjadi. Orang-orang yang berkata, memohon perlindungan, dengan mengucapkan “Hasbiallah” namun memiliki hati yang lalai seperti ini, mereka tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah. Mengapa? Karena kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang suci dari-Nya. Maka meraka tetap mendapatkan perlindungan walaupun hati mereka adalah hati yang lalai atau gaflah. Wallahu’alam.

Dr. Gibril Fouad Haddad

Continue Reading

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending