Connect with us

Artikel

Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah

Syaikh Jibril memulai majelis ini dengan bersyukur kepada Allah dan berharap perjumpaan majelis di malam ini di berkahi oleh Allah Swt dan apa yang akan kita lakukan dalam majelis ini menjadi dzikir kita kepada Allah Swt. Dan semoga majelis ini menjadi majelis yang di terangi oleh cahaya Al-Qur’an dan Sunnah dengan ajaran-ajaran para Sufi khususnya penulis dari kitab ini yaitu kitab “Nawadirul Usul” yang di gubah oleh Syekh Al Hakim Al Tirmidzi.

Published

on

Pelajaran 1: Selain itu juga beliau mengharapkan keberkahan-keberkahan dari guru-guru Sufi khususnya Syaikh Nazim dan juga Syaikh Muhammad Hisyam. Lalu dikatakan bahwa hadis-hadis ini dikumpulkan oleh Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi, yang mana beliau berasal dari Asia Tengah, yang juga beliau memohon kepada kita semua untuk membacakan Al-Fatihah kepada Sayyidina Muhammad Saw, beserta dengan keluarganya, dan juga kepada para Masyaikh, begitu juga kepada Syaikh Nazim dan Syaikh Hisyam.

Syaikh Gibril, beliau juga menyampaikan bahwa jalur dari periwayatan kitab Nawadirul Usul ini beliau dapatkan daripada seorang ulama Syam yang bernama Syaikh Salim Habami di kota Damaskus. Beliau mengatakan, bahwasannya beliau mengambil riwayat-riwayat ini dari Syaikh Salim Habami, yang beliau ambil dari Muhaddis Syam yang terkenal dengan nama Syaikh Badruddin Al Hasani, Syaikh Badruddin Al Hasani kemudian mengambil dari Syaikh Salim Al-Khawatib, lalu Syaikh Salim Al-Khawatib mengambil dari Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani, lalu Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani mengambil hingga sampai kepada sang Muallif kitab yaitu Syaikh Al-Hakim Al-Tirmidzi.

Syaikh Gibril Fouad Haddad memulai kajian ini dengan menyampaikan dasar pertama yang di bicarakan dalam kitab ini, yaitu BAB “Meminta Pertolongan dan Perlindungan Kepada Allah”. Yaitu mengenai kalimat “Istiadzah” (ta’awwudz) yang memuat pertolongan.

Pada hadis yang pertama, dikatakan seseorang datang kepada Rasulullah Saw, dan bertanya kepada Rasulullah Saw;

“Yaa Rasulullah, aku tidak bisa tidur”

Lalu di jawab oleh Rasulullah Saw,

“Mengapa demikian? Ada apa yang terjadi?

Sahabat mengatakan bahwa kalajengking telah menyengat orang tersebut. Lalu Rasulullah Saw bersabda,

“Maka bacalah sebelum tidur,

 أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya,”

maka dengan membaca do’a tersebut, tidak ada hal yang akan membahayakan dirinya”

Hadits yang kedua, Shaykh Gibril menerangkan bahwa hadis yang di utarakan adalah serupa dengan hadis yang sebelumnya namun ada penambahan dari penekanan dalam satu kalimat. Dikatakan, sebelum engkau tertidur bacalah A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq. Didalam kalimat tersebut ada penambahan huruf alif, maknanya adalah keutamaan daripada kalimat tersebut. Dikatakan aku berlindung kepada Allah dari jahatnya Syaitan yang Kau telah ciptakan. Apabila kita membaca itu, kita akan terjaga hingga pagi hari.

Pada hadis yang ketiga (hadis yang serupa) dialami oleh seorang sahabiyat yaitu sahabat wanita yang bernama Khaulah binti Hakim As-Sulamiyah, dikatakan aku mendengan Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang berhenti untuk bermalam di suatu tempat (Syaikh Gibril memperjelas hadis ini dengan mengatakan dimana saja baik itu di hotel, dirumah kerabat atau di rumah saudara) maka memohonlah perlindungan kepada Allah dengan mengucapkan ‘A’udzubikalimatillahittaammati min syarri maa khalaq (aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Maha Sempurna dari segala macam kejahatan yang terjadi), niscaya dia terhindar dari segala bahaya yang mengancam, sampai dia berangkat dari tempat itu.

Hadis keempat yaitu dari Abdullah bin Amr bin Ash ra. Rasulullah Saw bersabda bahwa Barangsiapa yang terbangun lalu terjaga di malam hari (terkejut lalu berprasangka takut) maka memohonlah perlingdungan kepada Allah (sebagaimana redaksi hadis sebelumnya) namun ada perubahan di akhir do’anya, yaitu dengan berkata aku berlindung daripada amarah, daripada siksa dan daripada sentuhan Syaitan. Jika seorang anak sudah bisa membacanya dengan baik maka bisa langsung membacanya. Namun jika anak tersebut belum bisa membacanya, maka tulislah bacaan tersebut di secarik kertas lalu ikatlah kepada leher anak tersebut.

Pada hadis yang ke lima dari Ibnu Abbas ra. Dikatakan bahwa Rasulullah mendoakan Hasan dan Husain, dia mengatakan bahwa aku menaruh perlindungan (do’a) untuk Hasan dan Husain, aku memohon pertolongan kepada Allah (pertolongan yang sempurna dari Allah, dari semua Syaitan, daripada hewan, dan daripada mata Syaitan yang mengganggu) dan itupun adalah hal serupa yang dilakukan oleh ayahku Ibrahim As terhadap puteranya Ismail As.

Al Hakim At-Tirmidzi menjelaskan bahwa dalam kalimat A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaqapabila di baca kalimat pertama dengan sempurna dan ataupun juga di baca dalam bentuk jamak, maka seperti apa yang di Firmankan oleh Allah di dalam al-Qur’an,

 إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْــًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ

Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Quran 36:82)

“Dikatakan “كُن”. Kun bermakna terjadi seperti كُن فَيَكُونُ maka akan terjadi, dan benar-benar pasti akan terjadi. Ketika suatu masalah sudah diputuskan akan kejadiannya terjadi, maka akan terjadi.

Syakh Al-Hakim At-Tirmidzi menjelaskan kata-kata “كُن” yang ada di dalam al-Qur’an itu menjadi kalimat (kata) yang sempurna, karena sebenarnya di dalam kaidah-kaidah bahasa Arab, sebuah kata akan menjadi sempurna jika terdiri dari 3 huruf. Namun kata “Kun itu hanya memiliki dua huruf, dan itu menjadi sempurna. Syaikh Gibril juga memberikan contoh lain, berupa kata يد yadun”. Kata yadun berarti tangan yang terdiri dari dua huruf yaitu ي “ya” dan د “dal” begitu pula dengan دم damun berarti darah yang terdiri dari د “dal” dan م “mim”. Dan juga kata غد “Gadun” berarti besok yang terdiri dari غ “Ghin” dan د “dal”. Semua kata-kata tersebut jika di ucapkan oleh manusia tentunya bukan menjadi kata-kata yang sempurna, karena tidak terdiri daripada tiga suku kata. Lainhalnya dengan kata “Kun”. Kata “Kun” yang mengucapkan adalah Allah Swt di dalam Al-Qur’an. Kata Kun” menjadi kalimat yang sempurna karena Allah Swt yang tanpa organ dan juga adalah Tuhan Yang Menciptakan Segalanya, maka ini menjadi kalimat yang sempurna. Apapun yang datang daripada Allah, yaitu Al-Qur’an, menjadi komplit dan sempurna. Apa yang disampaikan-Nya didalam Al-Qur’an adalah suci dan sempurna. Apapun yang telah terjadi (yang dikatakan oleh Allah) tidak ada yang bisa berlepas daripada itu dan juga tidak ada yang bisa mengulurkan waktu kedatangannya, semua akan terus terjadi.

Shaykh Gibril menjelaskan kepada kita, ketika kalimat digunakan dalam bentuk plular (jamak) tetap akan menjadi ketetapan yang nyata. Lalu beliau mengutip daripada hadis Qudsi yang berbunyi “Sesungguhnya pemberian-Ku adalah kata-kata, dan hukuman-Ku juga adalah kata-kata.” maksudnya adalah perkataan “Kun”. Hadis Qudsi ini di riwayatkan oleh Ahmad dan Tirmdzi. Selanjutnya Syaikh Gibril menjelaskan apa yang dikatakan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi mengenai kata “Kun” yang terdiri dari ك “kaf” dan ن “nun”, kata “kaf” berasal dari “kainuna” yang berarti keberadaan Allah Swt dan kata “nun” adalah daripada cahaya Allah Swt. Allah telah memilikinya untuk eksistensi keberadaan-Nya serta untuk makhluknya. Jika seorang hamba berlindung dengan menggunakan kalimat ini, maka perlindungannya akan menjadi perlindungan yang sempurna. Kita akan terlindungi. Lalu beliau mengatakan pula bahwa ini adalah suatu hal yang utama ketika antara muslim dan non muslim (yang tidak eksis) kecuali semua telah ditentukan oleh Allah Swt Qada dan Qadarnya.

Ketika seorang hamba Allah menggunakan kata tersebut, maka hatinyapun akan tercetus untuk mengikuti kata tersebut. Umpamanya di dalam kehidupan, ketika manusia melihat sesuatu, ia akan terpesona atau ia akan merasa ketakutan. Ketika kehendak Allah Swt terjadi, maka semua serta merta mengikuti kehendak Allah. Hatinya, telinganya, matanya pun mengikuti kalimat tersebut.

Ketika kita berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq maka kita akan diberi perlindungan oleh Allah Swt daripada hal-hal yang berbahaya. Maka seorang hamba ketika membacakan kalimat tersebut, pada dasarnya dia akan memasuki sebuah benteng yang sangat kokoh, yaitu benteng perlindungannya Allah Swt. Ibaratnya ketika kita masuk kedalam rumah, dimana kita bisa duduk dengan baik, dan minum kopi disitu. Artinya kita merasa tenang dan nyaman di dalamnya. Itulah perlindungan daripada Allah Swt. Dengan ketakwaan yang kita miliki, dengan kesadaran atas apa yang kita ucapkan, maka ketika kita mengucapkan kalimat tersebut dan tidak ada kelalaian di dalam diri kita, maka kita akan mendapatkan realisasinya dan keyakinan kepada Allah bahwa kita mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt. Begitu pula dengan jiwa dan akal pikiran kita, semuanya merasakan kedamaian ketika kita mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar, hati kita akan merasakan kenyamanan. Namun jika kita mengucapkan kalimat tersebut dalam keadaaan lalai, tetap saja kita akan mendapatkan manfaat dan perlindungan daripada Allah Swt karena keagungan Allah Swt.

Syaikh Gibril mengatakan bahwa yang dikatakan sebagai “ahlul gaflah” adalah kita semua, yang dimaksud dengan “ahlul gaflah” dalam bahasa Indonesia adalah orang-orang yang dalam keadaan lalai, itulah kita semua. Wa;aupun begitu, ketika kita yakin bahwa kita ini memang lalai, kita tetap harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi lebih baik, (orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang seperti aku). Hamba Allah yang berkata A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmmāti min syarri mā khalaq, walaupun dia lalai, dan hatinya tidak mengerti, tetapi tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah Swt, seperti halnya juga ketika Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa jika seorang hamba berkata حَسْبِيَ اللَّهُ (cukuplah Allah bagiku) sebanyak tujuh kali kepada Allah, maka dengan Allah (Demi Keagungan dan Keperkasaan-Nya), akan aku berikan mereka bukti baik itu mereka dalam keadaan lurus maupun berbohong. Ketika mengatakan kalimat “Hasbiallah” itu maka mereka tetap mendapatkan perlindungan karena mereka adalah orang-orang yang yakin kepada Allah Swt. Walaupun kita memiliki kelemahan, memiliki dosa, namun keyakinan kita kepada Allah Swt ini memberikan jalan bagi kita untuk terus mendapatkan perlindungan. Percaya kepada Allah, berkeyakinan kepada Allah ibarat seperti Imam Ahmad bin Hanbal, walaupun ia kehilangan uang receh atau sesuatu di rumahnya, namun ia tetap merasakan bahagia, karena yang ia yakini (yang ia percaya) Allah Swt, ia bergantung kepada Allah Swt.

Selanjutnya Shaykh Gibril menceritakan kisah Sayyidina Ibrahim As yang dilempar kepada api yang menyala-nyala, ketika pada saat itu ada satu lembah yang begitu luas, disana apinya begitu menyala-nyala, dan Nabiyullah Ibrahim di simpan diatas bukit dengan tangan terikat juga baju yang sudah terbuka, lalu dalam keadaan seperti itu, beliau sudah siap dilemparkan kedalam api. Apapun yang terjadi pada saat itu, para malaikat bersedih hati, dunia bersedih hati, semuanya merasakan sedih, menangis, melihat kejadian tersebut, para Awliya pun juga begitu. Lalu, tiba-tiba datanglah sayyidina Jibril As di atas udara, dia datang dan mendekat kepada Sayyidina Ibrahim, kemudian menawarkan pertolongan “engkau butuh pertolongan Sayyidina Ibrahim?”, namun jawaban daripada Nabi Ibrahim sungguh mengejutkan hati kita bahwa apa yang beliau katakan “Saya tidak membutuhkan pertolongan engkau, namun Hasbiallahu… Cukuplah Allah Swt sebagai penolong bagiku.” lalu dia merasakan bahwa apa yang dibawakan oleh Sayyidina Jibril ini (tawaran pertolongan), bukannya menjadi pertolongan, baginya ini adalah sebuah “imtihan” atau ujian bagi seorang Nabi. Ketika ditawarkan pertolongan daripada malaikat Jibril, yang dia inginkan hanya Allah. Bagi dia “Hasbiallah”, cukuplah Allah. Lalu Allah menetapkan untuk Sayyidina Ibrahim mendapatkan kesejukan, maka Allah mengatakan kepada api untuk menjadi sejuk lalu menjadi sejuklah api tersebut.

Imam At-Tirmidzi menjelaskan kembali mengenai ujian yang dilalui oleh orang-orang yang beriman, dan Nabi Ibrahim memberikan contoh bagaimana dengan pengucapan “Hasbiallah” yang penuh dengan kejujuran dari hatinya, dan dia termasuk orang-orang yang benar (shiddiq), maka hasbunallah yang dia baca tersebut adalah Hasbunallah yang dibaca oleh orang-orang yang lurus, orang-orang yang memiliki keyakina didalam hatinya, dan ketika beliau mengucapkan hasbunallah pada saat itu, beliau tidak memiliki yang lainnya, tidak memiliki keduniawian, tidak memiliki pertolongan daripada malaikat, maka perkataan “Hasbiallah” yang shiddiq, membuatnya menjadi Khalilullah” atau kekasih Allah. Dan beliau akan menjadi orang yang pertama kali memakai pakaian nanti di hari akhir diantara deretan para Nabi-Nabi dan juga para kaum muslimin, dia akan menjadi orang pertama yang memakai pakaian, karena ketulusannya dalam ujian dan mengatakan “Hasbiallah”. Dialah yang dikatakan sebagai orang-orang Ahlul Yaqin, yang mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang memiliki hati yang berkecamuk? Bercampur aduk antara mengakui sebagai seorang muslim, namun perilakunya masih condong kepada keduniaan (mengikuti keinginan-keinginan, mengikuti properti-properti atau hal-hal yang membawa mereka kepada fitnah)?, maka dalam mengikuti Sayyidina Ibrahim harus memiliki keimanan yang sempurna, sungguh-sungguh, dan berkata “Hasbiallah” dengan keimanan, maka mereka menjadi orang-orang yang ikhlas, yang sungguh-sungguh. Namun, orang Islam yang hatinya masih berkecamuk, masih bercampur aduk, mereka tetap menjadi orang-orang yang beriman, tetapi mereka bukan dari kalangan orang-orang Ahlul Muhaqqiq, yaitu orang-orang beriman dengan kesungguh-sungguhan yang lebih kuat. Sebagai penutup, dikatakan Syaikh Al Hakim dari kalangan Hanafi, menyamakan antara Iman dengan Islam, maka yang dikatakan mukmin adalah orang-orang yang Ahlul Yaqin.

Mengulang kembali pembahasan pada pertemuan ini, bahwa ada dua tahapan (dua level) yang dimiliki oleh manusia. Pertama, adalah mereka yang dekat dengan Allah, yakin, menunggu, dan selalu melihat dengan perintah (ketentuan) Allah Swt. Mereka termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah Swt. Namun ada pula orang-orang yang pada umumnya mata dan telinga ini melihat serta mendengar buka karena Allah, namun demi kepada sebab musababnya. Yaitu melihat hal ini dan hal itu bisa terjadi, bagaimana saya bisa lolos daripada ujian ini? Atau berbagai macam cara yang dia fikirkan dengan sebab musabab apa yang bisa terjadi. Orang-orang yang berkata, memohon perlindungan, dengan mengucapkan “Hasbiallah” namun memiliki hati yang lalai seperti ini, mereka tetap mendapatkan perlindungan daripada Allah. Mengapa? Karena kalimat yang diucapkan adalah kalimat yang suci dari-Nya. Maka meraka tetap mendapatkan perlindungan walaupun hati mereka adalah hati yang lalai atau gaflah. Wallahu’alam.

Dr. Gibril Fouad Haddad

Continue Reading

Artikel

Kurikulum Ecopesantren: Model Pendidikan Penanggulangan Kerusakan Lingkungan di Indonesia

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Pondok Pesantren (Ponpes) memiliki peran penting dan strategis dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang melatar belakanginya. Ponpes merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, sehingga keberadaanya sangat mengakar dan berpengaruh ditengah masyarakat.

EcoPesantren adalah program dari Kementerian Lingkungan Hidup yang dicanangkan sejak tahun 2008. Program ini bertujuan untuk mendorong peningkatan pengetahuan, kepedulian, kesadaran dan peran serta aktif warga pondok pesantren terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup berdasarkan ajaran agama Islam.

Program Eco Pesantren adalah memberdayakan komunitas pesantren dalam meningkatkan kualitas lingkungan sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

Rihlah Nur Aulia, MA, selaku dosen dan peneliti Ecopesantren bersama dengan Tim melakukan pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) tentang Kurikulum Ecopesantren di era daring bagi guru-guru di Pondok pesantren SPMAA Lamongan. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru pondok pesantren SPMAA Lamongan Jawa Timur.

Dalam paparannya peneliti menyebutkan tujuan dari kegiatan ini untuk melakukan pengarusutamaan ecopesantren melalui penguatan kurikulum dalam pendidikan di Pondok Pesantren.

Peneliti pernah menulis karya ilmiah yang berjudul Management of Ecopesantren Curriculum Development in Forming The Ecopreneurship of Santri kesimpulan dari hasil penelitiannya tersebut pertama, Pesantren SPMAA menerapkan kurikulum manajemen yang berbeda dengan pesantren lain di Indonesia. Kedua, dalam pengelolaan atau pengelolaan kurikulum SPMAA Pesantren mengacu pada kurikulum Nasional, dan ketiga, kurikulum ekopesantren, manajemen kurikulum meliputi; Perencanaan kurikulum: pemetaan kurikulum, silabus, program inkuiri, unit inkuiri, unit perencanaan pembelajaran.

Secara simultan, penataan kurikulum terdiri dari struktur kurikulum, pembagian tugas guru, pengembangan program transdisipliner, pengembangan program transdisipliner, penetapan unit inkuiri untuk setiap jenjang kelas. Selain itu, implementasi kurikulum terdiri dari pengalaman belajar, penilaian, dan laporan hasil belajar. Sedangkan evaluasi kurikulum terdiri dari review unit dan dua review mata pelajaran yaitu review unit dan review mata pelajaran.

Pemateri pada acara ini disampaikan oleh Faisal M. Jasin, ST, M.Si, dari kementerian KLHK,  Ibu Dr. Amaliyah, M.Pd, sebagai  salah satu dosen Kurikulum FIS UNJ, dan Ibu Rihlah Nur Aulia, MA sebagai dosen UNJ, karena di era corona dalam suasana pembelajaran daring, maka kegiatan ini juga diperkuat oleh dr. Santi Anugrahsari, SpM, MSc, FISQua dari  kepala SMF Mata RSUD Koja.

Continue Reading

Artikel

Selayang Pandang tentang Thariqah ‘Alawiyah

(Jalan Lurus menuju Allah)

Published

on

Thariqah 'Alawiyah

Jadilah seorang Asy’ari dalam aqidahmu
karena ia Sumber yang bersih dari penyimpangan dan kekufuran
Imam sandaran kita telah menyusun aqidahmu
Dan itulah penyembuh dari bahaya
Yang kumaksud dengannya adalah, yang selainnya tak digelari dengan Hujjatul Islam, betapa bangganya engkau

Itulah penggalan qasidah raiyah, al-Imam al-Hadad yang dengannya Sang Imam seolah mengirimkan pesan bahwa madzhab Fiqih yang dianut oleh para Saadah Ba ‘Alawiyah adalah madzhab Imam Syafi’i yang sejak awal ditakdirkan berkembang di Yaman. Sedangkan dalam hal aqidah mereka bermazhab Sunni asy-Asy’ariyah sebagaimana yang dianut sandaran mereka al-Imam Hunjatul-Islam Abu Hamid al-Ghazali.

Thariqah Alawiyyah diajarkan oleh leluhur (salaf) mereka secara turun temurun. Dari kakek mengajarkan kepada ayah, kemudian kepada anak-anak lalu cucu-cucu mereka dan seterusnya. Demikian sampai sekarang sehingga thariqah ini di kenal sebagai thariqah yang langgeng sebab penyebaran di lakukan dengan ikhlas dari hati ke hati.

Nasab para Saadah Ba ‘Alawiyah kembali ke datuk mereka, Alwi bin ‘Ubaidillah, cucu al-Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa an-Naqib, yakni Naqib (pemimpin) para Syarif di Irak, bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far Ash-Shiddiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abidin bin al-Imam al-Husain bin Ali bin Abu Thalib.

Peletak pondasi bangunan thariqah’Alawiyah adalah al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah yang bergelar al-Faqih al-Muqaddam lahir di Tarim pada tahun 574 H. al-Muqaddam menerima thariqah ini seorang ‘Arif Billah, Syaikh Abu Madyan al-Maghribi. al-Muqaddam lah yang menyempurnakan thariqah ini sebagaimana dikatakan Imam Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dikenal sebagai ‘Allamah ad-dunnya (wafat tahun 1162 H), “Asal thariqah’Alawiyah adalah thariqah Madyaniyyah,yaitu thariqah Syaikh Abu Madyan Syu’aib al-Maghribi, sedangkan quthub dan inti hakikatnya adalah asy-Syaikh al-Faqih al-Imam Muhammad bin Ali Ba ‘Alawiyah al-Husaini al-Hadrami”.

Setelah al-Muqaddam wafat di kota kelahirannya pada tahun 653 H, di tangan keturunannya thariqah ini tetap mengikuti sistim dan caranya. Thariqah ‘Alawiyah adalah jalan yang menomorsatukan tahqiq (pendalaman), rasa dan rahasia sehingga cenderung bersikap khumul (menutup diri) dan merahasiakan. Periode ini pertama ini berlangsung demikian hingga zaman al-‘Aydarus (wafat 864) dan saudaranya, as-Syikh Ali (wafat pada tahun 892 H). Namun seiring dengan semakin meluasnya wilayah penyebaran thariqah ini maka dipandang perlu untuk segera melakukan kodifikasi ajaran thariqah ‘Alawiyah. Maka mulailah ditulis kitab-kitab yang berisi adab thariqah ini dan petunjuk-petunjuk untuk menjalaninya seperti al-Kibrit al-Ahmar, al-Juz al-lathif, al-Ma’arij, al-Barqah dan lainnya.

Lalu bermunculanlah di antara para pemuka thariqah ini mereka yang memiliki keunggulan dalam kecerdasan, ilmu dan amal di angkatannya. Yang masing-masing memiliki prasasti sejarah berupa karya ilmiah dan sastra yang tak cukup ruang untuk menyebutnya di sini. Masing-masing juga memiliki biografi sendiri-sendiri. Setiap kali kita tenggelam dalam lautan salah satu dari mereka, maka itu akan membuat kita lupa dengan yang lain.

Akhirnya sampailah thariqah ini sampai kepada Pembaru menaranya dan penyebar cahayanya, al-Imam Syaikh Abdul Quthb ad-Da’wah wa al-Irsyad Abdullah bin Alwi Al Haddad (1132 H).

Di tangan al-Imam al-Hadad, thariqah ini mengembangkan metode baru yang dinamainya Thariqah Ahl al-Yamin. Dalam pandangannya yang paling sesuai dengan kondisi orang-orang di masa itu, yang paling dekat dengan keadaan mereka, yang paling mudah untuk menarik mereka menuju ketaatan adalah dengan menghidupkan keimanan mereka, yang dengan perannya dapat menyiapkan mereka meningkat ke tangga Ihsan. Sehingga Thariqah ini mengajarkan untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) dalam menuntut ilmu guna menegakkan agama Allah.[Syuaib]

Continue Reading

Artikel

Adab-adab Berzikir

Published

on

Adab-Adab Berzikir

Berdzikir adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan melalui zikir, Allah sudah menjamin ketenangan hati hambanya dari hiruk-pikuk dunia sebagaimana yang telah difirmankan dalam surat Ar Ra’du ayat 28 yang artinya:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Tapi, untuk mengawali berzikir, kita harus punya menjalani beberapa etika agar dampak positif zikir tersebut bisa merasuk ke dalam hati dan bermanfaat bagi kebersihan jiwa. Adapun langkah-langkah yang harus dipahami sebelum dan ketika berzikir adalah sebagai berikut:

  • Konsentrasi penuh

Konsentrasi  adalah bagian dari merendahkan diri di hadapan Allah. Ketika berzikir, hamba diminta untuk melupakan segala pekerjaan duniawi serta meminimalisir gerakan-gerakan yang tidak penting agar fokus pada tujuan awal tetap terjaga

  • Memperkecil Suara

Yang dimaksud pada poin kedua adalah volume suara berada diantara diami dan keras yaitu sedang-sedang saja. Kecuali memang sedang berada dalam majelis zikir khusus yang menggunakan zikir jahri

  • Kesadaran Penuh

Alangkah baiknya jika orang yang berzikir, memusatkan pikirannya pada apa yang diharapkan. Jika sudah mulai mengantuk atau merasa bosan, maka dianjurkan untuk memperbaharui wudhu dan berpindah posisi duduk agar hamba tetap berada dalam keadaan sadar dan tidak tidur

  • Memilih Waktu yang Pas

Pemilihan waktu dalam berzikir bisa memengaruhi tingkat konsentrasi serta kekhusyukan. Waktu terbaik untuk berzikir adalah ketika waktu sahur, yaitu setelah bangun tidur. Kemudian di pagi hari dan di sore hari pada hari Jumat

  • Memilih Tempat yang Pas

Selain memilih waktu, tempat juga menjadi salah satu penunjang kekhusukan berzikir. Utamanya adalah di masjid. Namun jika tidak, yang penting tempat tersebut suci dari najis dan jauh dari keramaian

  • Menghadirkan Hati ketika Berzikir

Orang yang melakukan zikir, tentu memiliki ambisi untuk mencapai apa yang diharapkan. Agar hati dan bacaan zikir menyatu, maka bukan hanya lisan yang digunakan untuk membaca lafaznya, melainkan hati juga harus digunakan untuk memahami makna dari apa yang dibaca. Supaya keduanya terhubung dan saling memengaruhi di dalam otak

Adab-Adab Berzikir
  • Bersuci dan Menghadap Kiblat

Poin ini adalah yang paling utama sebelum dilakukannya zikir. Meskipun seluruh ulama bersepakat bahwa boleh melafalkan zikir dari dalam hati bagi orang yang memiliki hadas, tetapi ada sebagian ulama yang melarang melafalkan zikir yang menggunakan ayat-ayat Al-Quran  bagi orang yang sedang berhadas.

  • Adanya Kesesuaian Bacaan ketika Zikir Berjamaah

Zikir yang dilakukan bersama-sama harus berdasarkan bacaan yang sama. Tidak ada yang boleh mendahului ataupun mengakhiri, apalagi menambah dan mengurangi bacaan. Maka ketika salah satu jamaah ada yang tertinggal bacaanya, maka hendaklah ia tetap mengikuti bacaan jamaah-jamaah yang lain

  • Zikir Dapat Berpengaruh pada Perilaku

Ketika zikir menjadi kegiatan yang terus-menerus dilakukan, maka dampaknya akan terlihat pada kebiasaan pelaku zikir. Hal yang paling signifikan adalah bagaimana ketika bersosialisasi dengan sesama manusia. Pelaku zikir akan memiliki akhlak yang baik serta bersungguh-sungguh dalam menghambakan diri kepada Allah Swt.

Diterjemahkan dari Kitab Radd al Bala’ Bi adz Dzikri karya Mushthafa Syaikh Ibrahim Haqqi.[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending