Membumikan Ajaran Islam

JAKARTA – Kita semua meyakini bahwa agama berasal dari langit, khususnya agama-agama anak cucu Ibrahim, yang biasa disebut (al-din al-samawi). Penyebutan agama langit atau al-din al-samawi juga karena kitab sucinya diturunkan dari langit. Sebagaimana agama langit yang diturunkan ke bumi untuk dijadikan petunjuk kepada manusia, sudah barang tentu melalui proses tawar menawar antara sang subyek (agama) dengan sang objek (manusia).

Membumikan agama Islam dan ajaran-ajarannya adalah bagian dari jihad. Namun penting digarisbawahi bahwa pembumian ajaran itu sesungguhnya adalah bagian dari rahmat tuhan untuk melangitkan kembali manusia. Manusia yang diciptakan dengan seperangkat kecerdasannya, dibekali dengan sikap kritis untuk mempertahankan eksistensi dirinya, termasuk bersikap kritis terhadap ajaran-ajaran agama langit itu. Dan Allah pun memahami kenyataan ini. Buktinya, setiap ktab suci-Nya diturunkan dengan cara berangsur-angsur (tadrij), menyedikitkan beban (taqlil al-taklif), dan mengeliminir kesulitan (adam al-haraj). Ini membuktikan bahwa agama langit turun ke bumi mengalami proses “pembumian”.

Allah swt yang memiliki kekuatan “kun fa yakun” sebenarnya bisa saja langsung dan serentak menurunkan ajaran-ajaran-Nya. Namun, Dia tidak melakukan itu. Ajaran agama-Nya tidak serentak dipaksakan kepada hamba-Nya yang sangat lemah (dhaif). Padahal, tak satupun hamba-Nya yang bisa menolak seluruh ajaran agama-Nya jika ia menghendaki. Ini bukan berarti Tuhan mengalah terhadap manusia, tetapi menjadi bukti betapa Tuhan memanusiakan manusia.

Di dalam membumikan ajaran agama tuhan, mengandung konsekuensi bahwa manusia pada satu sisi memiliki potensi, otoritas, dan kapasitas tertentu yang juga semuanya berasal dari-Nya. Tetapi di sisi lain manusia juga memiliki kekurangan yang prinsipil sehingga mereka memerlukan bimbingan agar tidak jatuh terjerumus dengan kelemahan fundamental yang melekat pada dirinya. Manusia dalam pandangan Islam bukan antroposentris, yang serba manusia, bukan juga teosentris yang serba Tuhan.

Menurut pakar filsafat dan peradaban Islam, Prof. Sayyed Hoessein Nasr, manusia adalah mahluk teomorfis, yang mahluk yang memiliki berbagai kelebihan tetapi memiliki kelemahan melekat pada dirinya sehingga masih tetap membutuhkan petunjuk Tuhan. Karena itu, diturunkan kepadanya wahyu (Kitab) dan para Nabi untuk menjelaskan sekaligus mencontohkan pengalaman bagaimana petunjuk itu dilaksanakan.

Manusia tidaklah sepantasnya memaksakan kehendak agar manusia lain mengikuti petunjuk-Nya. Allah swt tidak melakukannya, dan para Nabi pun tidak melakukannya. Bahkan Allah swt menegaskan: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS al-Qasas [28]:56)

Dalam ayat lain Allah swt menyindir orang-orang yang melampaui kapasitasnya, mau memaksakan keinginannya untuk dan atas nama agama: “Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS Yunus [10]:99).

Perlu diingat bahwa siapapun tidak boleh berlindung dengan jargon “membumikan agama” untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau melakukan penafsiran kitab suci seenaknya hingga keluar jauh meninggalkan inti ajaran agama.

Harus kita ingat bahwa pembumian agama bertujuan untuk melangitkan kembali manusia setelah jatuh dalam drama kosmos, yang dilakukan oleh nenek moyang kita: Adam dan Hawa.

Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA

Komentar
Loading...