Connect with us

Artikel

Membuka Aura

KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Pembantu Khusus ABAH AOS/Alumnus McGill University School of Social Work, Montreal, Kanada]

Published

on

Membuka Aura

AURA itu vibrasi energi spiritual yang memancar dalam diri seseorang kepada lingkungan sekitarnya. Efek dari pancaran energi batin itu ialah keterpikatan hati orang-orang sekitarnya –bahkan termasuk hewan dan tumbuhan– untuk selalu berinteraksi serta membangun relasi dengannya. Ia punya daya pikat yang kuat bagi dunia sekitarnya.

Daya tarik itu pada gilirannya memberi manfaat lahir bagi dirinya. Bagi seorang perempuan dengan auranya bisa memikat lawan jenisnya –begitu sebaliknya; bagi wirasusahawan dengan auranya bisa menarik hati mitra usaha dan atau pelanggannya; bagi karyawan dengan auranya memikat hati bosnya; bagi pemuka agama dengan auranya menambah wibawa dan pesona dirinya serta yang diajarkannya.

Di dunia mistik, membuka aura itu telah menjadi bisnis menarik. Sudah jadi industri. Banyak pihak-pihak yang terjun menawarkan jasa membuka aura. Ada yang berbasis ilmu keparanormalan, perdukunan, dan bahkan ilmu hikmah. Pirantinya ada yang pake susuk, kertas kuning mantra, isim, dan benda ajimat.

Tidak sedikit masyarakat –karena promosi manfaat terbukanya aura oleh para pelaku usaha di bisnis ini begitu gencarnya– yang tertarik menggunakan jasa mereka. Sebagian rutin berlangganan, ada yang cuma selewatan, demi meningkatnya daya pikat pribadi dan kegiatan yang ditekuninya. Tarifnya bervariasi dari kelas receh hingga kelas bayaran dengan travel cek. Lokasi praktek jasa buka aura ini tersebar: ada yang di gubuk perkampungan jauh dari kota, ada pula di pusat perbelanjaan tengah kota.

Umumnya, kehendak hati membuka aura diri ini sangat transaksional. Semata untuk keuntungan dan peruntungan dunia saja. Pilihan jalan membuka auranya juga sangat riskan merusak ketauhidan.

Namun ketahuilah aura itu ada dan penting terpancar dalam diri kita. Bagi Pecinta Kesucian Jiwa, terbukanya aura ini amat penting untuk pengembangan ajaran yang jadi amalan Kesucian Jiwa. Terbuka aura itu bukan tujuan tapi hanya bonus. Dan terbuka aura itu sekaligus menjadi penanda atau bekas dari telah bekerjanya amalan Kesucian Jiwa dalam diri kita.

Untuk itu, sejak dari prosesnya, Pecinta Kesucian Jiwa tidak memilih jalan yang tidak diajarkan oleh Guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa. Ada beberapa amalan dari Guru Agung Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Gurunya dari Gurunya dari Gurunya hingga Kanjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam yang terbukti bisa membuka aura –jika itu memang tujuannya.

Apa saja amalan pembuka aura? Dan bagaimana tata caranya?

Dari Aura kita sejatinya bisa melihat seberapa sehat kondisi fisik, mental dan ruh seseorang. Aura juga adalah tentang pancaran outer dan inner beauty seseorang. Dan prosesnya sangat spiritual –bukan mistik apalagi magic.

Pendaran aura itu sangat terkait erat dengan derajat kesucian diri. Semakin tinggi derajat kesucian dirinya maka semakin terpancar, berpendar auranya. Semakin terpancar, berpendar auranya, semakin tinggi pesona dan personanya, semakin kuat daya pikatnya.

Kesucian apa gerangan?

Kesucian jiwa dan raganya, tentu. Dan untuk meraih kesucian itu mesti menempuh proses penyucian, yang dimulai dengan penyucian raganya lalu jiwanya. Pembersihan jasmaninya untuk kebersihanan ruhaninya. Dan untuk itu Pecinta Kesucian Jiwa mesti menempuh aktivitas penyucian diri [تزكية النفس] sesuai dengan tuntunan.

Apa saja gerangan?

Pertama, Guru Agung Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs memberi tuntunan untuk proses penyucian diri seseorang dengan membangun kebiasaan dengan penuh kesadaran untuk selalu mempunyai wudhu: selalu menjaga diri dalam keadaan berwudhu sepanjang dan selama mungkin. Dan jika batal karena sebab, seseorang mesti menyegerakan diri memperbarui wudhunya.

Yang dijaga dan selalu diperbarui tentu bukan hanya wudhu dhohirnya tapi juga wudhu batinnya.

Mutlak bagi murid dan pecinta Pangersa Abah untuk mengambil dan memperbarui wudhu dhahir dengan wudhu yang sempurna [بوضوئ تام]. Yaitu, wudhu yang tata cara/kaifiyat wudhu-nya sebagaimana beliau berwudhu. Kalau wudhu-nya tidak sesuai dengan apa yang dituntunkannya maka akan hilang manfaat dan keberkahan dari wudhunya.

Sebagaimana dituntunkan, sejak mulai bersentuhan dengan air wudhu, sadari dengan sepenuh hati ketika membasuh tubuh anggota wudhu, air itu bukan hanya membasuh dan membersihkan –kotoran fisik di pergelangan tangan, rongga mulut, lubang hidung, wajah, tangan, kepala dan kaki– tapi juga kotoran jiwa –amarah, kecewa, sakit hati, kesel, dumel, ganjelan. Air wudhu itu mesti diperlakukan dengan sakral, niatkan untuk meluruhkan segala noda luar dalam. Ademkan dan segarkan penatnya kehidupan dengan kesejukan air wudhu.

Selain menjaga wudhu syariat, untuk memantik cahaya aura ialah dengan menjaga wudhu bathin. Yaitu, menjaga diri dari buruk sangka. Ya, pembatal kesucian wudhu bathin itu prasangka buruk kepada apa saja dan siapa saja. Hindarkan jauhkan diri dari penyakit/kotoran suudzon di mana saja kapan saja.

Banyak sekali, sebagaimana sering dirujuk oleh Guru Agung, sabda-sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan wudhu kaitannya dengan pesona dan persona diri seorang penjaga wudhu: wajahnya putih bersinar dan tubuh anggota wudhunya berpendar cahaya bukan hanya nanti, di hari Kiamat, tapi sejak sekarang.

فإنَّهُمْ يَأتُونَ غُرًّا مُحَجَّلينَ مِنَ الوُضُوءِ، وأنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ… رواه المسلم

Seorang yang terbuka aura, perangainya riang, pribadinya tenang-menenangkan dan senang-menyenangkan orang lain. Orang-orang betah berada di sekitarnya serta nyaman berlama-lama dengannya. Ia menjadi medan magnet yang menarik apapapun siapapun ke sekitarnya, untuk mengitarinya dan selalu dekat dengannya.

Pembuka aura kedua ialah Riyadhah mandi taubat. Di masa Syeikh Abdulloh Mubarrok bin Nur Muhammad Riyadhah [Abah Sepuh] mandi taubat sering disebut ‘mandi kamanusiaan’. Praktek pelaksanaanya, di masa itu, penuh perjuangan. Dilakukan setelah pukul 00.01 selama 40 malam setiap malamnya 40 x menceburkan diri ke kolam pemandian. Riwayat lain menyebutkan mesti 40 sumur dalam semalam selama 40 hari.

Setelah menceburkan ke kolam pemandian, Abah Sepuh mensyaratkan saat pengeringannya tidak boleh menggunakan handuk. Alami saja: tanpa sabun, sampo apalagi hairdryer. Begitu terasa dan tampak air mengering lalu mencebur lagi. Begitu berulang selama 40 x. Biasanya Riyadhah ini dipaketkan dengan Riyadhah melek, namanya, Jaya Sampurna. Fungsinya sama, membuka aura.

Di masa penerusnya, Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin [Abah Anom], praktek Riyadhah mandi taubat ‘diperingan’. Cukup dilaksakan sekali saja setelah pukul 00.01 sebelum pukul 03.00. Seperti mandi besar namun tetep tanpa peralatan mandi. Setelah air sejuk nan dingin menguyur sekejur tubuh dari kepala hingga ujung kaki, pengeringannya tanpa handuk. Ada bacaan khusus, utamanya saat air mengguyur bagian ubun-ubun.

Saat diri mencebur atau diguyur ‘air terbaik’ –seperti Sabda Hadrotus Syeikh Abah Aos, air terbaik itu setelah pukul 00.01 s.d sebelum pukul 03.00– maka niatkan dalam hati yang dibasuh, yang dibersihkan, bukan hanya kotoran yang menempel di tubuh tapi juga ruh. Luruhkan segala noda-noda pengotor ruh dengan air mandi taubat. Sirami dan bersihkan ruh dari amarah, dendam, rasa benci, iri, dengki dan semua yang sering mengganjal di hati.

Riyadhah mandi kamanusiaan seperti ini masih dipraktekkan hingga saat ini. Banyak ikhwan Pecinta Kesuciaan Jiwa di masa sekarang, masa Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul [Abah Aos], yang menjalaninya. Namun pelaksanaanya telah diperbarui, antara lain, boleh disempurnakan kebersihan mandi taubar dengan dibantu peralatan mandi biasanya.

Bahkan di masa saat ini, Riyadhah mandi taubat sudah mengalami pembaruan makna dan praktek secara radikal. Guru Agung Pangersa Abah menyampaikan, hakekat mandi taubat adalah dzikir jahar. Semakin banyak dzikir jaharnya semakin terang cahaya dzikirnya [الذكر نور للموحّدين]. Semakin terang cahaya dzikirnya maka semakin terang dirinya dan jalan hidupnya.

Pada gilirannya, terang cahaya dzikir dalam dirinya menerangi orang-orang di sekitarnya. Menerangi jalan hidup mereka dan mereka pun merasa aman dan tenang bersamanya. Inilah hakekat aura. Aura berkah dan karomah dari Guru Aura, Guru Para Pecinta Kesucian Jiwa.

Salam Aura.[]

Continue Reading

Artikel

Ngopi Online: Tasawuf dan Psikologi dalam Pengembangan Diri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Kajian psikologi dan tasawuf beberapa tahun belakangan semakin banter dibicarakan kalangan akademis. Tentu banyak faktor yang melatarbelakanginya. Dua ilmu ini ibarat kopi dan gula, sama-sama nikmat diarungi terutama jika dileburkan menjadi satu maka muncul sebuah perkataan; nikmat mana yang bisa didustakan?

Berpijak dari sini, pada Rabu (24/2) Pengurus Wilayah Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta bekerjasama dengan Lembaga Training Gets Indonesia mengadakan webinar bertajuk “Ngopi Online” (Ngilen).

Webinar ini dikemas dengan konsep santai, namun tidak kehilangan substansi materi yang didiskusikan. Mengangkat tema “Similaritas Psikologi dan Tasawuf dalam Pengembangan Diri”.

Coach Indra Hanjaya sebagai pemateri yang merupakan founder Gets Indonesia dan M. Aqil Syahrian selaku perwakilan dari PW MATAN DKI Jakarta sebagai moderator.

Diskusi ini diawali dengan sambutan yang disampaikan Wakil Ketua PW MATAN DKI Jakarta Idris Wasahua, M.H. dan dari perwakilan Gets Indonesia Sri Herlina, S.Psi.

Ngilen perdana ini, begitu menarik perhatian para peserta karena Keluasan wawasan dan pengalaman Coach Jaya sebagai Spiritual Life.

“Similaritas psikologi dan tasawuf bisa ditemukan dalam psikologi transpersonal,” kata Coach Jaya.

Psikologi transpersonal sendiri merupakan salah satu aliran dalam dunia psikologi yang mengintegrasikan aspek spiritual ke dalam disiplin keilmuannya.

“Psikologi tidak hanya menyentuh aspek pikiran dan perilaku saja, tetapi juga bergerak lebih jauh hingga aspek spiritual yang menyentuh jiwa, hati, dan rasa” ujarnya.

Psikologi semacam ini, telah tumbuh dan berkembang di daerah Timur (termasuk Indonesia) sejak dua ribu tahun yang lalu. Hanya saja, hal itu memang tidak banyak diperhatikan dan disorot sebagaimana psikologi transpersonal beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, tasawuf yang berkutat pada tazkiyah al-nufus dan tashfiyah al-qulub merupakan proses pembentukan karakter yang melalui tahapan-tahapan dalam jangka waktu tertentu. Misalnya terdapat trilogi Takhalli, Tahalli, dan Tajalli yang menjadi doktrin umum dalam dunia tasawuf.

Ketiga fase tersebut tidak lain bertujuan untuk menuju insan paripurna, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tak hanya itu, tasawuf di era modern juga bisa diaplikasikan dalam penanggulangan terorisme dan radikalisme; pencegahan korupsi; hingga rehabilitasi pengguna narkoba.

“Gets Indonesia sendiri dalam hal pemberdayaan diri mengembangkan sebuah metode bernama Panca Olah, yakni sinergi antara Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, dan Olah Karsa. Dengan kelima aspek tersebut, seseorang akan mampu mengetahui potensi dirinya, lalu kemudian mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata”, pungkasnya

Lebih lanjut, Coach Jaya menjelaskan, tujuan utama dari penerapan Panca Olah ialah terciptanya revolusi spiritual dalam diri manusia. Revolusi spiritual merupakan sebuah peningkatan dan perluasan kesadaran yang berdampak pada perubahan pemikiran dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di muka bumi, baik itu sesama manusia, tetumbuhan, hewan, dan lain sebagainya itulah hasil dari aktulisasi Panca Olah”, Jelas Coch Jaya.

Dengan hal itu, maka terciptalah harmoni dalam struktur alam semesta secara keseluruhan.

Continue Reading

Artikel

Maqom Kasyaf Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

Oleh: Habib Muhdhor as-Segaf

Published

on

Ibnu Athoillah

Kasyaf adalah merupakan karomah dan karunia Allah yang diberikan kepada seorang hamba yang dikasihiNya. Kasyaf dapat diartikan terbukanya tembok pemisah antara seorang hamba dengan Allah SWT untuk dapat melihat, merasakan dan mengetahui hal-hal ghaib yang sangat sulit diterima oleh akal sehat.

Kasyaf dapat digapai oleh siapa saja yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah SWT. Hal itu sebagaimana spa yang telah dijelaskan oleh Syaikh Imam Yusuf ibn Ismail An-Nabhani RA dalam salah satu karyanya yang berjudul Jami’ Karamat Al-Auliya.

Dalam kitab yang memuat biografi 695 wali (di luar wali-wali yang muncul di Asia Tenggara) itu, terlihat jelas betapa para wali rata-rata memiliki kemampuan untuk menggapai mukasyafah. Termasuk di dalamnya Imam Ghazali RA, Ibnu Arabi RA, dan Imam Syafi’i RA. Bentuk kasyafnya bermacam-macam. Sesuai kondisi kehidupan para wali tersebut.

Kaitannya dengan hal itu, Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa, “Seandainya hati kalian tidak dilanda keraguan dan tidak mengajak kalian untuk banyak bicara, niscaya kalian akan mendengar apa yang sedang aku dengar.”

Dalam hadis lain, sebagaimana dinukilkan dari kitab Ihya Úlum Al-Din, Rasulullah SAW berkata, ”Seandainya bukan karena setan yang menyelimuti qalbu anak cucu Adam maka niscaya mereka akan dengan mudah menyaksikan para malaikat gentayangan di jagad raya kita.”

Di dalam al-Quran juga ada isyarat yang memungkinkan seseorang memperoleh kasyaf. Ada beberapa ayat yang mengisyarakatkan demikian. Di antaranya, ayat 37 Surah Qaaf. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.”

Salah satu contoh maqom kekasyafan adalah cerita yang dialami oleh Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA atau yang disebut Ibnun Nahwi dengan gurunya Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA. Semoga kita memperoleh barokahnya. amin.

Adapun cerita tersebut adalah sebagai berikut.

يقول الامام ابن النحوى ابو فضل يوسف بن محمد رحمه الله حضرت مجلس سيدى ابن عطاءالله السكندرى ذات يوم وهو يومئذ من كبار أهل التصوف فى عصره.

Abul Fadhal Yusuf bin Muhammad RA yang terkenal dengan sebutan nama Ibnun Nahwi, pengubah qashidah al-munfarijah, pernah menceritakan bahwa suatu hari saya menghadiri majlis ilmu guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA, dan pada saat itu beliau tergolong salah seorang pembesar ahli tasawuf di zamannya.

فنظرت إليه متعجبا من علومه ، فقلت فى نفسى, ياترى الشيخ فى أى مقام من المقامات هو؟

Maka kedua mataku menatap kepadanya dengan penuh kekaguman akan keluasan ilmunya, sembari berkata pada diriku, “Betapa tinggi derajat dan maqommu wahai guruku, namun, ia berada di tingkatan dan maqom yang mana??” dengan penuh penasaran, hatiku bertanya.    

فنظر لى الشيخ و قطع حديثه وقال فى مقام المذنبين العاصين يا بن النحوى.

Eh, ternyata dia tahu bisikan hatiku, dia langsung melihatku, lalu menghentikan perkataanya, seraya mengatakan, “Wahai Ibnu Nahwi, kedudukan dan maqomku adalah kedudukan dan maqom orang-orang yang berdosa dan ahli maksiat,” dengan dengan penuh kerendahan beliau menjawab.

فعجبت من ذلك و لزمت الصمت من هيبته ثم سلمت عليه و انصرفت.

Akupun terkejut mendengar ucapanya itu, aku langsung diam, melihat begitu besarnya haibah beliau, lalu aku mendekat kepadanya dan berjabatan tangan, kemudian pulang.

فرأيت فى تلك الليلة سيدنا رسول الله ﷺ

على مرتبة عالية و الصحابة الكرام حوله و الناس مجتمعون.

Malamnya aku mimpi Baginda Nabi SAW, beliau berada di tingkat yang sangat tinggi dan para sahabat berada di dekatnya, sementara para sholihin berkumpul di sekitarnya.

فقال رسول الله ﷺ: أين تاج الدين بن عطاء الله ؟

Lalu Baginda Nabi SAW bertanya kepada mereka, “Dimana Tajuddin Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari?”

فقال : نعم يارسول الله.

Maka dia mendekat kepadanya, dan berkata,”Iya, ini saya ya Rasulullah.”

فقال رسول الله ﷺ تكلم فإن الله يحب كلامك. فتكلم.

Lalu Nabi saw berkata kepadanya, “Berbicaralah, karena Allah SWT senang dengan ucapamu, silahkan berbicara.”

واستيقظت, فجئت لسيدى ابن عطاءالله رضى الله عنه.

Akupun terbangun, lalu esok harinya aku segera menemui guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA.

فسمعته يتكلم بما سمعته فى الرؤيا أمام سيدنا رسول الله ﷺ.

Begitu sampai dan mendengar apa yang dituturkannya itu, ternyata sama seperti apa yang disampaikan di hadapan Baginda Nabi SAW, yang didengar dalam mimpinya semalam.

فقلت فى نفسى هذا والله هو المقام.

Maka aku langsung berkata pada diriku, “Ohh, ternyata itu maqomnya, sungguh sangat tinggi.”

فنظر لى سيدى ابن عطاء الله السكندرى

وقـــــــــــــــال “وما خفى عنك كان أعظم يا بن النحوى.” رضى الله عن الشيخ ابن عطاءالله السكندرى.

Begitu bisikan hatiku itu berhenti, ternyata dia tahu, maka guruku Imam Ahmad Ibnu Athoillah Assakandari RA langsung menoleh kepadaku dan berkata kepadaku, “Wahai Ibnu Nahwi, apa yang belum kamu ketahui tentang diriku ini masih banyak.”

Wallahu a’lam.

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.

Sesudah lahir di alam dunia, manusia akan mengalami berbagai perkembangan menuju kematangan dan kedewasaan, kemudian kemunduran menuju masa tua dan kematian. Perkembangan adalah serangkaian perubahan progesif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Menurut Van den Daele “Perkembangan berarti perubahan secara kualitatif”. Ini berarti bahwa perkembangan bukan sekedar bertambahnya berat atau tinggi badan serta kemampuan seseorang. Perkembangan adalah suatu proses integrasi dari banyak struktur dan fungsi yang kompleks. Di dalam perkembangan ini ada dua proses yang saling bertentangan yaitu pertumbuhan atau evolusi dan kemunduran atau involusi. Kedua proses ini terjadi mulai dari pembuahan dan berakhir dengan kematian. Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga kematian manusia selalu mengalami perubahan, baik kemampuan fisik maupun psikologis.

Plaget menuturkan bahwa dua struktur itu “tidak pernah statis dan sudah ada semenjak awal”. Dengan kata lain bahwa organisme yang matang selalu mengalami pembuahan yang progesif sebagai tanggapan terhadap kondisi yang bersifat pengalaman dan mengakibatkan jaringan interaksi yang majemuk. Fakta yang penting dari perkembangan adalah bahwa dasar-dasar permulaan adalah sikap kritis, kebiasaan, dan pola perilaku yang dibentuk selama bertahun tahun. Tahun pertama sangat menentukan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri, baik dalam penyesuaian diri pribadi maupun penyesuaian sosial. Keberhasilan

dalam menyesuaikan diri pada masa ini sangat mempengaruhi perkembangan dalam kehidupan pada masa-masa berikutnya hingga ketika manusia bertambah tua. Beberapa proses yang kompleks dari perkembangan manusia adalah sbb:

  1. Proses Fisik (physical process) yaitu perubahan yang bersifat biologis. Dari gen yang diwariskan orang tua, perubahan hormon selama hidup, bertambahnya tinggi badan, berat badan dan kemampuan motorik seseorang telah mencerminkan perkembangan biologis menuju kepada kematangan (maturation).
  2. Proses Kognitif (cognitive process) yaitu perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang meliputi daya pikir, kecerdasan dan bahasa individu. Seperti bagaimana mengingat alamat rumah, pelajaran, menyusun kalimat, mengetahui warna-warna benda. Semua itu menunjukan peranan proses kognitif dalam perkembangan.
  3. Proses Sosial Emosional (socio-emotional process) yaitu proses perubahan yang terjadi pada emosi seseorang serta dalam berhubungan (berinteraksi) dengan orang lain. Emosi dapat mempengaruhi perubahan jasmaniah seseorang yang tampak dalam memberikan respon atau tanggapan terhadap suatu peristiwa.

Ketiga macam proses di atas, baik proses fisik, kognitif maupun sosial emosional saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh, proses emososial membentuk proses kognitif. Proses kognitif mendukung atau membatasi proses sosial-emosional. Sementara proses fisik mempengaruhi proses kognitif. Semua ini akan selalu bergantung satu sama lain. Jadi manusia tidak akan bisa terlepas dari ketiga proses ini karena pada dasarnya manusia akan selalu mengalami perubahan dari pembuahan sampai kematian, baik dari segi fisik maupun psikologis.

(Bersambung…)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending