Connect with us

Artikel

Membuka Aura

KH Budi Rahman Hakim, MSW., PhD.

[Pembantu Khusus ABAH AOS/Alumnus McGill University School of Social Work, Montreal, Kanada]

Published

on

Membuka Aura

AURA itu vibrasi energi spiritual yang memancar dalam diri seseorang kepada lingkungan sekitarnya. Efek dari pancaran energi batin itu ialah keterpikatan hati orang-orang sekitarnya –bahkan termasuk hewan dan tumbuhan– untuk selalu berinteraksi serta membangun relasi dengannya. Ia punya daya pikat yang kuat bagi dunia sekitarnya.

Daya tarik itu pada gilirannya memberi manfaat lahir bagi dirinya. Bagi seorang perempuan dengan auranya bisa memikat lawan jenisnya –begitu sebaliknya; bagi wirasusahawan dengan auranya bisa menarik hati mitra usaha dan atau pelanggannya; bagi karyawan dengan auranya memikat hati bosnya; bagi pemuka agama dengan auranya menambah wibawa dan pesona dirinya serta yang diajarkannya.

Di dunia mistik, membuka aura itu telah menjadi bisnis menarik. Sudah jadi industri. Banyak pihak-pihak yang terjun menawarkan jasa membuka aura. Ada yang berbasis ilmu keparanormalan, perdukunan, dan bahkan ilmu hikmah. Pirantinya ada yang pake susuk, kertas kuning mantra, isim, dan benda ajimat.

Tidak sedikit masyarakat –karena promosi manfaat terbukanya aura oleh para pelaku usaha di bisnis ini begitu gencarnya– yang tertarik menggunakan jasa mereka. Sebagian rutin berlangganan, ada yang cuma selewatan, demi meningkatnya daya pikat pribadi dan kegiatan yang ditekuninya. Tarifnya bervariasi dari kelas receh hingga kelas bayaran dengan travel cek. Lokasi praktek jasa buka aura ini tersebar: ada yang di gubuk perkampungan jauh dari kota, ada pula di pusat perbelanjaan tengah kota.

Umumnya, kehendak hati membuka aura diri ini sangat transaksional. Semata untuk keuntungan dan peruntungan dunia saja. Pilihan jalan membuka auranya juga sangat riskan merusak ketauhidan.

Namun ketahuilah aura itu ada dan penting terpancar dalam diri kita. Bagi Pecinta Kesucian Jiwa, terbukanya aura ini amat penting untuk pengembangan ajaran yang jadi amalan Kesucian Jiwa. Terbuka aura itu bukan tujuan tapi hanya bonus. Dan terbuka aura itu sekaligus menjadi penanda atau bekas dari telah bekerjanya amalan Kesucian Jiwa dalam diri kita.

Untuk itu, sejak dari prosesnya, Pecinta Kesucian Jiwa tidak memilih jalan yang tidak diajarkan oleh Guru Agung Pecinta Kesucian Jiwa. Ada beberapa amalan dari Guru Agung Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul dari Gurunya dari Gurunya dari Gurunya hingga Kanjeng Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam yang terbukti bisa membuka aura –jika itu memang tujuannya.

Apa saja amalan pembuka aura? Dan bagaimana tata caranya?

Dari Aura kita sejatinya bisa melihat seberapa sehat kondisi fisik, mental dan ruh seseorang. Aura juga adalah tentang pancaran outer dan inner beauty seseorang. Dan prosesnya sangat spiritual –bukan mistik apalagi magic.

Pendaran aura itu sangat terkait erat dengan derajat kesucian diri. Semakin tinggi derajat kesucian dirinya maka semakin terpancar, berpendar auranya. Semakin terpancar, berpendar auranya, semakin tinggi pesona dan personanya, semakin kuat daya pikatnya.

Kesucian apa gerangan?

Kesucian jiwa dan raganya, tentu. Dan untuk meraih kesucian itu mesti menempuh proses penyucian, yang dimulai dengan penyucian raganya lalu jiwanya. Pembersihan jasmaninya untuk kebersihanan ruhaninya. Dan untuk itu Pecinta Kesucian Jiwa mesti menempuh aktivitas penyucian diri [تزكية النفس] sesuai dengan tuntunan.

Apa saja gerangan?

Pertama, Guru Agung Hadrotus Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra Qs memberi tuntunan untuk proses penyucian diri seseorang dengan membangun kebiasaan dengan penuh kesadaran untuk selalu mempunyai wudhu: selalu menjaga diri dalam keadaan berwudhu sepanjang dan selama mungkin. Dan jika batal karena sebab, seseorang mesti menyegerakan diri memperbarui wudhunya.

Yang dijaga dan selalu diperbarui tentu bukan hanya wudhu dhohirnya tapi juga wudhu batinnya.

Mutlak bagi murid dan pecinta Pangersa Abah untuk mengambil dan memperbarui wudhu dhahir dengan wudhu yang sempurna [بوضوئ تام]. Yaitu, wudhu yang tata cara/kaifiyat wudhu-nya sebagaimana beliau berwudhu. Kalau wudhu-nya tidak sesuai dengan apa yang dituntunkannya maka akan hilang manfaat dan keberkahan dari wudhunya.

Sebagaimana dituntunkan, sejak mulai bersentuhan dengan air wudhu, sadari dengan sepenuh hati ketika membasuh tubuh anggota wudhu, air itu bukan hanya membasuh dan membersihkan –kotoran fisik di pergelangan tangan, rongga mulut, lubang hidung, wajah, tangan, kepala dan kaki– tapi juga kotoran jiwa –amarah, kecewa, sakit hati, kesel, dumel, ganjelan. Air wudhu itu mesti diperlakukan dengan sakral, niatkan untuk meluruhkan segala noda luar dalam. Ademkan dan segarkan penatnya kehidupan dengan kesejukan air wudhu.

Selain menjaga wudhu syariat, untuk memantik cahaya aura ialah dengan menjaga wudhu bathin. Yaitu, menjaga diri dari buruk sangka. Ya, pembatal kesucian wudhu bathin itu prasangka buruk kepada apa saja dan siapa saja. Hindarkan jauhkan diri dari penyakit/kotoran suudzon di mana saja kapan saja.

Banyak sekali, sebagaimana sering dirujuk oleh Guru Agung, sabda-sabda Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan keutamaan wudhu kaitannya dengan pesona dan persona diri seorang penjaga wudhu: wajahnya putih bersinar dan tubuh anggota wudhunya berpendar cahaya bukan hanya nanti, di hari Kiamat, tapi sejak sekarang.

فإنَّهُمْ يَأتُونَ غُرًّا مُحَجَّلينَ مِنَ الوُضُوءِ، وأنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الحَوْضِ… رواه المسلم

Seorang yang terbuka aura, perangainya riang, pribadinya tenang-menenangkan dan senang-menyenangkan orang lain. Orang-orang betah berada di sekitarnya serta nyaman berlama-lama dengannya. Ia menjadi medan magnet yang menarik apapapun siapapun ke sekitarnya, untuk mengitarinya dan selalu dekat dengannya.

Pembuka aura kedua ialah Riyadhah mandi taubat. Di masa Syeikh Abdulloh Mubarrok bin Nur Muhammad Riyadhah [Abah Sepuh] mandi taubat sering disebut ‘mandi kamanusiaan’. Praktek pelaksanaanya, di masa itu, penuh perjuangan. Dilakukan setelah pukul 00.01 selama 40 malam setiap malamnya 40 x menceburkan diri ke kolam pemandian. Riwayat lain menyebutkan mesti 40 sumur dalam semalam selama 40 hari.

Setelah menceburkan ke kolam pemandian, Abah Sepuh mensyaratkan saat pengeringannya tidak boleh menggunakan handuk. Alami saja: tanpa sabun, sampo apalagi hairdryer. Begitu terasa dan tampak air mengering lalu mencebur lagi. Begitu berulang selama 40 x. Biasanya Riyadhah ini dipaketkan dengan Riyadhah melek, namanya, Jaya Sampurna. Fungsinya sama, membuka aura.

Di masa penerusnya, Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin [Abah Anom], praktek Riyadhah mandi taubat ‘diperingan’. Cukup dilaksakan sekali saja setelah pukul 00.01 sebelum pukul 03.00. Seperti mandi besar namun tetep tanpa peralatan mandi. Setelah air sejuk nan dingin menguyur sekejur tubuh dari kepala hingga ujung kaki, pengeringannya tanpa handuk. Ada bacaan khusus, utamanya saat air mengguyur bagian ubun-ubun.

Saat diri mencebur atau diguyur ‘air terbaik’ –seperti Sabda Hadrotus Syeikh Abah Aos, air terbaik itu setelah pukul 00.01 s.d sebelum pukul 03.00– maka niatkan dalam hati yang dibasuh, yang dibersihkan, bukan hanya kotoran yang menempel di tubuh tapi juga ruh. Luruhkan segala noda-noda pengotor ruh dengan air mandi taubat. Sirami dan bersihkan ruh dari amarah, dendam, rasa benci, iri, dengki dan semua yang sering mengganjal di hati.

Riyadhah mandi kamanusiaan seperti ini masih dipraktekkan hingga saat ini. Banyak ikhwan Pecinta Kesuciaan Jiwa di masa sekarang, masa Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul [Abah Aos], yang menjalaninya. Namun pelaksanaanya telah diperbarui, antara lain, boleh disempurnakan kebersihan mandi taubar dengan dibantu peralatan mandi biasanya.

Bahkan di masa saat ini, Riyadhah mandi taubat sudah mengalami pembaruan makna dan praktek secara radikal. Guru Agung Pangersa Abah menyampaikan, hakekat mandi taubat adalah dzikir jahar. Semakin banyak dzikir jaharnya semakin terang cahaya dzikirnya [الذكر نور للموحّدين]. Semakin terang cahaya dzikirnya maka semakin terang dirinya dan jalan hidupnya.

Pada gilirannya, terang cahaya dzikir dalam dirinya menerangi orang-orang di sekitarnya. Menerangi jalan hidup mereka dan mereka pun merasa aman dan tenang bersamanya. Inilah hakekat aura. Aura berkah dan karomah dari Guru Aura, Guru Para Pecinta Kesucian Jiwa.

Salam Aura.[]

Continue Reading

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending