Connect with us

Artikel

Memaknai Isra Mi’raj, Mengarungi Hikmah Pandemi

Oleh: Dr. M. Hasan Chabibie

Published

on

Isra Mi’raj

Sudah lebih dari satu tahun kita semua mengarungi pandemi di muka bumi ini. Peristiwa pandemi tidak hanya di Indonesia, tapi juga terjadi di berbagai negala lain dengan skala massif dan global. Jika kita memahami lebih mendalam, pandemi ini merupakan pintu bagi kita semua untuk merefleksikan diri secara tepat.

Bagi saya pribadi, pandemi merupakan kesempatan besar untuk menengok kembali hakikat penciptaan manusia. Apa makna Allah menciptakan kita semua, sebagai manusia, sebagai hamba? Sudahkah kita memaknai secara tepat, tentang kesejatian kita sebagai manusia, tentang tugas kita sebagai hamba? Apakah anugerah waktu, energi, kesehatan, pikiran, dan sebagainya, yang diberikan oleh Allah kepada kita sudah digunakan secara maksimal untuk menanam kebaikan?

Ini tentu pertanyaan-pertanyaan panjang yang membutuhkan renungan yang tidak sebentar. Di tengah pandemi ini, kita diajak untuk berfikir sekaligus menafsirkan terus menerus posisi kita sebagai hamba Allah, juga tugas kita sebagai manusia. Pandemi menjelaskan secara rinci, bagaimana kita bercermin untuk melihat sisi terdalam dari diri kita sebagai manusia.

Maka, pandemi harus dimaknai sebagai ruang untuk melakukan perjalanan panjang. Sebuah perjalanan yang sampai saat ini kita belum tahu titik akhirnya. Namun, kita semua punya kesempatan untuk terus menerus memaknai dan mengisi perjalanan panjang ini dengan berbuat kebaikan.

Serangkaian waktu yang kita miliki selama pandemi, setidaknya setahun terakhir, dapat kita evaluasi bersama di tengah kesunyian malam, ketika kita sedang sendiri menghadap Allah. Refleksi batiniyah ini sangat penting agar kita tidak kehilangan arah dan semangat di tengah pandemi. Sebagai manusia yang beriman, harus ada semangat hidup untuk berbuat kebaikan dan membangun kemaslahatan. Jika hidup kita berguna, jika kita terus menerus menebar manfaat, maka gairah dan energi kebaikan akan tersuntik dalam diri kita.

Di tengah peringatan Isra’ Mir’aj yang kebetulan berlangsung di tengah pandemi, kita bisa menarik garis refleksi yang sesuai, bahwa pandemi dan Isra Mi’raj keduanya merupakan perjalanan panjang. Nabi Muhammad SAW telah diperjalanankan Allah dalam peristiwa Isra Mi’raj, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk kemudian naik ke langit, mendapatkan pesan penting berupa shalat.

Oleh-oleh terbesar dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah shalat. Sebagai rukun Islam, shalat menjadi pesan penting bagi kita semua, sebagai makhluk Allah, sebagai hamba-Nya. Setelah mendapat pesan shalat lima waktu, Nabi Muhammad kembali turun ke bumi. Beliau kembali menuntaskan tugas sebagai Rasul, sebagai utusan Allah sekaligus memimpin umat muslim menuju kesalehan.

Isra Mi’raj merupakan peristiwa penting untuk melangitkan manusia—sebagai hamba, sebagai makhluk—untuk kemudian membumi kembali. Pesan penting dari peristiwa Isra Mi’raj agar manusia mengetahui secara benar, memahami secara detail bagaimana proses penciptaan sekaligus tujuan diciptakan sebagai manusia. Allah menciptakan manusia sebagai hamba, sebagai khalifah fil-ardh, pemimpin di bumi.

Konsep khalifah fil-ardh ini tidak sekedar persoalan politik atau kepemimpinan semata. Akan tetapi, lebih luas dari konsepsi politik, yakni agar manusia mampu mengelola bumi dan alam semesta yang diciptakan oleh Allah untuk kebaikan. Sebagai makhluk Allah, manusia mempunyai kecerdasan, punya hati nurani, energi, instink, dan hal-hal yang berbeda dengan binatang dan makhluk lainnya.

Untuk apa kecerdasaran dianugerahkan kepada manusia? Tentu saja agar manusia mengamalkan pesan dari Allah untuk mengelola alam semesta untuk memperluas dan mendistribusikan kesejahteraan, maslahah ‘ammah. Akan sangat rugi jika kita tidak mengelola kecerdasan, energi, waktu luang dan segala kelebihan yang diberikan kepada kita. Kita mengelola keistimewaan-keistemewaan itu untuk membantu sesama, untuk menguatkan solidaritas sosial.

Mengarungi Pandemi

Lalu, bagaimana kita menarik spirit Isra’ Mi’raj pada konteks sekarang ini?

Saat ini, pandemi merupakan tantangan bersama. Kita harus bersama-sama saling menguatkan agar melampaui pandemi dengan selamat. Terkadang, tantangan itu juga datang dari dalam diri kita sendiri, misalnya menjaga kesehatan, rutin olahraga, menjaga kesehatan mental, sekaligus menahan diri agar tidak tertular virus. Memulai membenahi diri sendiri, ibda’ bi nafsi, sebagai pesan penting agar kita melawan pandemi dari lingkup terkecil: diri sendiri dan keluarga.

Selanjutnya, pandemi dan Isra’ Mi’raj juga menjadi refleksi perjalanan panjang kita sebagai manusia dan makhluk Allah. Jika Allah memperjalanan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mi’raj, maka kita bisa memaknai pandemi sebagai perjalanan panjang. Jika dalam Isra Mi’raj, Allah melangitkan Nabi Muhammad dan kemudian mengembalikan ke bumi dengan tugas khusus berupa shalat.

Maka, pandemi bisa kita maknai bahwa peristiwa ini bisa melangitkan kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus membumikan kembali kita semua dengan tugas khusus: terus menerus berbuat kebaikan dan menebar kemanfaatan (*).

Dr. M. Hasan Chabibie,
Plt. Ketua Umum MATAN, Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud, & Pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, Depok, Jawa Barat.

Baca juga: Akhlak kepada Rasulullah SAW

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending