Memaknai Adat Bersendi Syara’

Salah satu hal yang perlu dicermati di dalam masyarakat ialah pergumulan adat dan agama. Keserasian antara keduanya menjadi faktor yang sangat penting di dalam membangun harmoni sosial, bahkan integrasi bangsa. Sebaliknya, ketegangan antara keduanya –nilai-nilai adat dan nilai-nilai agama tersebut– bisa menimbulkan konflik horizontal, karena keduanya pasti memiliki pengikut di dalam masyarakat.

Dalam lintasan sejarah, terutama pada era kolonialisme Belanda, sering terjadi ketegangan antar kedua sumber ini. Nilai-nilai adat istiadat dianggap paling orisinil karena bersumber dari dalam diri masyarakat pribumi bangsa Indonesia. Sedangkan nilai-nilai agama sering dimunculkan sebagai keunikan yang bersumber dari luar Nusantara. Dulu kehadiran agama-agama yang bersumber dari luar seperti Hindu, Budha, Katolik, Protestan, Islam, Khonghucu, dianggap sebagai nilai-nilai pendatang, dihadapkan dengan nilai-nilai adat yang bersumber asli dari lokal. Kedua sumber nilai ini sering dimainkan pemerintah kolonial untuk memecah belah kekuatan bangsa Indonesia.

Untuk mengatasi persoalan ini, tokoh-tokoh agama dan adat berusaha untuk memparalelkan hubungan kedua sumber nilai ini agar tidak berhadap-hadapan satu sama lain. Di sejumlah daerah di deklarasikan pernyataan simbolik ‘Adat Bersendi Syara’ dan Syara’ Bersendi Kitabullah’. Pernyataan ini efektif untuk menyatukan segenap warga bangsa.

Kata adat berasal dari bahasa Arab, yaitu akar kata ‘ada ya’udu berarti kembali, mengulangi; kemudian membentuk kata ‘adat berarti kebiasaan positif yang berlaku di dalam suatu wilayah. Kata ‘adat mirip atau sering disamakan dengan kata ‘urf dari akar kata ‘arafa ya’rifu berarti mengetahui, mengenal yang berarti tradisi yang populer di dalam suatu masyarakat. Bedanya, bila ‘adat lebih formal dan mengarah kepada norma (norm), sedangkan ‘urf lebih substansif dan mengarah kepada nilai (values). Ada istiadat atau biasa disebut dengan hukum adat, sudah merupakan lembaga atau institusi formal yang memiliki sanksi dan reward bagi para pelanggar atau yang setia dengannya.

Karena sifat atau karakteristik adat yang positif itu maka ada prinsip ushul fikih yang berbunyi:

العادة محكمة

“Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum”

Hal ini dicontohkan oleh Nabi sendiri sebagaimana riwayat berikut:
“Ketika Nabi saw datang di Madinah mereka (penduduk Madinah) telah terbiasa memberi ruang panjar (uang muka) pada buah-buahan untuk waktu 1 tahun atau 2 tahun. Maka Nabi bersabda: Barangsiapa yang memberi uang panjar pada buah-buahan, maka berikanlah uang panjar itu pada takaran yang tertentu, timbangan yang tertentu, dan waktu yang tertentu.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)

Hadis itu menunjukkan bahwa Nabi menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan adat yang berlaku di situ. Pada prinsipnya semua kebiasaan masyarakat yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariah dapat menjadi merupakan dasar hukum. Apabila nanti terjadi perselisihan di antara warga masyarakat, maka cara menyelesaikannya ialah dengan mengembalikan semua itu pada adat yang berlaku.

Sekarang kita bahas mengenai syara’. Kata syara’ berasal dari bahasa Arab, dari akar kata syara’a yasyra’u syar’an berarti jalan, atau jalan menuju mata air. Syara’ selalu dihubungkan dengan kata syari’ah yang berisi ajaran Islam. Ajaran syari’ah itu sendiri secara komprehensif berisi unsur akidah, hukum dan akhlak. Ajaran akidah berisi tentang tata cara keimanan dan kepercayaan kepada Allah, malaikat, kitab suci, Nabi dan Rasul eskatologis (hari akhirat, hari pembalasan), dan qadha serta qadar, yang lebih dikenal dengan rukun iman. Hukum berisi norma-norma sosial kemasyarakatan dan tata cara berhubungan dengan Allah SWT sebagaimana diatur di dalam rukun Islam. Sedangkan akhlak berisi ajaran etika dan estetika antara sesama umat manusia dan sesama makhluk.

Adat bersandi syara’ berarti adat kebiasaan yang berlaku di dalam masyarakat berdiri tegak di atas landasan syara’ atau nilai-nilai dasar syariah Islam. Perlu ditegaskan, kata “nilai-nilai dasar syariah” yang bersifat absolut sekaligus universal, karena ada juga nilai-nilai “non dasar syariah” yang bersifat aksesoris (tahsiniyyah) dan temporer (waqi’iyyah). Contoh ajaran dasar syariah ialah menjunjung tinggi lima prinsip pokok syariah (dharuriyyat al khamsah), yaitu memelihara agama, jiwa akal, keturunan, dan harta. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka manusia dituntut untuk menegakkan keadilan, mencegah kemudaratan, serta menjunjung tinggi kesetaraan dan persamaan. Sedangkan yang bersifat non-dasar seperti seruan untuk memenuhi kemudahan pelaksanaan prinsip-prinsip ajaran, seperti ajaran menciptakan aturan kontemporer yang bisa mendukung ajaran dasar. Contohnya, kewajiban membayar zakat agar orang kaya dan orang miskin tidak berkonfrontasi.

Adat bersendi syara’ dapat diterima secara universal di dalam masyarakat Indonesia karena sendi atau tempat pijakan syariah (syara’) adalah ajaran dasar bukan ajaran non- dasarnya. Adat bersendi syara’ adalah sebuah paham yang diterima secara universal di dalam masyarakat Indonesia karena substansi ajaran dan doktrinnya sesungguhnya tidak berbeda atau tidak jauh berbeda dengan ajaran moral atau kepercayaan masyarakat lokal dalam wilayah Nusantara.

Demikianlah ternyata agama dan adat tidak perlu dipertentangkan. Agama mampu menyesuaikan diri dengan adat, dan adat mampu mengakomodasi agama. Tuhan pun menyebut dalam Al Qur’an bahwa para Rasul diutus dengan lisan kaumnya, bi lisani qawmihi. Kata lisan di situ berbeda dengan lughat atau bahasa, sebab dalam kata lisan terkandung konotasi yang lebih luas mencakup bukan hanya bahasa melainkan juga budaya, adat istiadat, dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Selengkapnya ayat itu berbunyi demikian.

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِهِۦ لِیُبَیِّنَ لَهُمۡۖ فَیُضِلُّ ٱللَّهُ مَن یَشَاۤءُ وَیَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِیزُ ٱلۡحَكِیمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan lisan kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim [14]:4)

Diambil dari Khutbah-Khutbah Imam Besar Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

Komentar
Loading...