Connect with us

Artikel

Memahami Makrifat dan Tanda-tandanya

Published

on

Makrifat adalah satu dari beberapa tingkatan maqam dalam tasawuf. Al Qushairi mendefinisikan makrifat sebagai ilmu, sedangkan yang bermakrifat kepada Allah disebut Arif dan setiap orang Arif adalah Alim. Ilmu makrifat bukanlah ilmu dialog melainkan ilmu amal dan tidak akan memahami makrifat kecuali dengan suluk fi ‘ilmi al thariqah melalui guru pembimbing yang disebut mursyid. Dalam perjalanan itu, tentu saja akan banyak mengalami godaan yang akan memperkuat maqamah.

Keberadaan makrifat sebagai konsep tasawuf tentu saja memiliki dasar dalam al Quran sebagaimana dalam Surat Al Kahfi ayat 110:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.

Dalam Tafsir Munir, Imam Nawawi menjelaskan apabila ingin merasakan perjumpaan dengan Allah, hendaklah terus-menerus mengharapkan karamah-Nya serta meninggalkan perbuatan syirik, baik syirik yang benar-benar nyata maupuan syirik yang kelihatannya samar. Makrifat diperoleh dengan dua cara yaitu dengan bermujahadah dan anugerah dari Allah. Adapun dengan cara bermujahadah, seorang hamba diharuskan membuktikan diri dengan memperpanjang intensitas ibadah dan zikir baik jahr maupun sir. Dengan pengorbanannya menjauhkan diri dari selain Allah itu maka ia mendapat anugerah dari Allah dan bisa mencapai maqam makrifat.

Abu Ali Daqaq mengatakan bahwa diantara tanda-tanda makrifat adalah memperoleh haibah (keramat dan wibawa) dari Allah Swt. Semakin tinggi makrifatnya, maka semakin bertambah haibah-nya. Selain itu ia mengatakan bahwa makrifat akan berdampak pada ketenangan. Sehingga siapapun yang bertambah makrifatnya maka akan bertambah ketenangannya.

Selain tanda yang disebutkan di atas, Dzun Nun al Mishri juga menyebutkan tanda-tanda bahwa orang tersebut adalah Arif yaitu:

– Cahaya makrifatnya tidak memadamkan cahaya wara’nya
– Tidak meyakini ilmu kebatinan yang dapat merusak lahiriyah hukum
– Nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya tidak mengakibatkan kebinasaan hingga dapat merusak tabir dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt.

Pada poin ketiga ini, Ibnu Athailah al Iskandari juga memepertegas tanda tersebut berdasarkan sikap manusia ketika mendapatkan kenikmatan. Pertama, orang yang gembira dengan nikmat itu tapi kegembiraannya bukan ditunjukkan kepada yang memberi melainkan karena kenikmatan yang dirasakan. Kedua, orang yang gembira dengan nikmat itu karena dia menyadari bahwa yang diterimanya merupakan pemberian Allah. Ketiga, orang yang gembira karena Allah dan nikmat yang diterimanya tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Allah.

Nikmat makrifat tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Tetapi orang yang mencapai maqam ini seringkali melontarkan kata-kata diluar kendalinya. Analoginya adalah ketika kita sedang berada di suatu tempat yang sangat asing dan keindahannya tidak pernah terlihat sebelumnya, tanpa disadari keluarlah ekspresi dari kekaguman dan kepuasan mata. Kemudian muncullah keinginan untuk tetap tinggal di tempat itu. Orang yang tidak berada disana tidak akan memahami betapa nikmatnya berada di posisi tersebut. Begitupula makrifat, hanya orang yang mencapai maqam itulah yang mampu merasakan kenikmatannya sehingga ia seolah tidak membutuhkan apa-apa lagi selain kedekatan bersama Allah sebagaimana riwayat Abdul Qadir al Jilani dalam Futuhul Ghaib.

Aku berkata dalam mimpi, “Wahai yang menyekutukan Tuhan dalam pikiran dengan dirimu sendiri; yang menyekutukan-Nya dalam sikap dengan Ciptaan-Nya; yang menyekutukan-Nya dalam tindakan dengan keakuanmu!”. Seseorang di sampingku bertanya, “Pernyataan apakah ini?” “itu adalah sebentuk makrifat.” Jawabku.

Makrifat merupakan maqam yang sangat popular di kalangan sufi. Namun untuk mencapainya tentu tidaklah mudah. Junaid al Baghdadi bahkan mengatakan bahwa tidak dikatakan Arif jika ia tidak bisa seperti bumi yang diinjak oleh orang baik dan jahat, menjadi awan yang menaungi segala sesuatu serta menjadi air hujan yang menyirami siapapun baik yang disenangi maupun tidak. Maksudnya, menjadi ahli makrifat tidak boleh memiliki prasangka buruk terhadap semua makhluk karena sejatinya semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah dan diciptakan berdasarkan ketetapan-Nya. Sehingga tidak layak bagi seorang Arif untuk menjustifikasi orang lain. Menjadi orang Arif juga tidak boleh menyepelekan makhluk dengan tidak mengindahkan yang buruk-buruk serta hanya memuji yang baik-baik. Orang yang sudah mencapai maqam makrifat pastilah harus siap dengan posisi dan lingkungan dimanapun ia berada. Wallahu a’lam.

Laporan: Khoirum Millatin, S.Hum

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending