Melihat Pesatnya Ekonomi di Tiongkok

0

One Belt One Road (OBOR) Initiative adalah suatu strategi pembangunan ekonomi yang diusulkan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping. Proyek ini nantinya akan berfokus pada konektivitas antara negara-negara Eurasia dan Afrika dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Nantinya konektivitas dan kerja sama antara negara-negara yang terhubung dengan proyek jalur sutra ini dapat menciptakan pertumbuhan di setiap kawasannya.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang saat ini sudah berkontribusi hampir 30% dari porsi ekonomi dunia. Masih memiliki ambisi yang besar untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi global dengan proyek OBOR ini, strategi ekonomi jalur sutra yang berbasis daratan dan jalur sutra maritim lintas samudra akan menghasilkan berbagai perubahan baik dari aspek ekonomi, Geopolitik dan Teknologi.

Strategi OBOR ini menegaskan tekad Tiongkok untuk mengambil peran lebih besar dalam kancah global melalui pembangunan sebuah pusat ekonomi di Tiongkok. Awalnya, inisiatif proyek yang disebut sebagai proyek “National Flagship” ini diungkapkan pada September dan Oktober 2013 oleh Presiden Xi Jinping. Selain itu juga Perdana Menteri Li Keqiang dalam beberapa kunjungan kenegaraan ke Asia dan Eropa, ia sering menyebut soal pembangunan bersama proyek OBOR ini.

Awalnya inisiatif ini dinamakan OBOR, di pertengahan tahun 2016 nama resminya akhirnya dinganti menjadi Belt and Road Initiative (BRI). Tetapi hal ini tentu tidak akan merubah visi awal dari OBOR tersebut. Dalam tiga tahun terakhir, hal yang menjadi fokus utama adalah investasi infrastruktur, material konstruksi, kereta api dan jalan raya, mobil, real estate, jaringan listrik, dan besi dan baja. Saat ini, sudah dibentuk sebuah lembaga pengelolala dana BRI yang disebut Asia Insfrastructure Investment Bank (AIIB) yang bertujuan untuk menjalankan investasi untuk menjalankan investasi untuk mewujudkan proyek BRI ini.

Ekonomi Digital di Tiongkok
Tahun 2016, porsi ekonomi digital terhadap Product Domestic Bruto (PDB) Tiongkok mencapai 30%, yaitu mencapai $3,4 Triliun yang dilaporkan dalam forum World Internet Conference (WIC) di Wuzhen, Hangzhou. Hal ini menjadi sebuah bukti nyata bahwa Tiongkok akan menjadi pemain utama dalam globalisasi 2.0.

Pada bulan Juni 2017, ada sekitar 3.89 Milliar pengguna internet yang tersebar di seluruh dunia, dimana sekitar 751 juta pengguna berasal dari daratan Tiongkok, menjadikannya sebagai negara dengan pengguna internet terbesar di dunia. Saat ini, Tiongkok menjadi salah satu negara dengan proses digitalisasi tercepat di dunia, dan banyak dijadikan percontohan bagi negara-negara lain di dunia. Pesatnya dan besarnya volume ekonomi digital di Tiongkok menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan pencipta lapangan kerja baru di daratan Tiongkok.

Berdasarkan laporan dari Boston Consulting Group, saat ini nilai ekonomi berbasis digital di Tiongkok sudah melampui $16 Trillion dan menjadi salah satu negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di dunia. Ini juga tidak lepas dari dukungan pemerintah pusat untuk mengembangkan ekonomi berbasis internet.

Dalam dunia investasi digital dan startup saat ini, Tiongkok menjelma menjadi satu-satunya negara dengan ekosistem digital dan startup paling berkembang di dunia. Ini terkait dengan dukungan investasi modal dan pemerintah Tiongkok yang terus gencar melakukan reformasi ke arah digitalisasi. Menurut laporan dari McKinsey Global Institiute (MGI) dalam artikel yang berjudul China’s Digital Economy: A Leading Global Force. Menyebutkan bahwa Tiongkok merupakan salah satu negara dengan investasi terbesar dalam dunia teknologi digital, termasuk teknologi realitas virtual, kendaraan otomatis, percetakan 3-dimensi, robotika, peralatan drone, dan kecerdasan buatan. Hasil riset dan pengembangan teknologi ini tentu akan diterapkan dalam proyek Belt and Road Initiative.

Sebagai pengguna internet terbesar di dunia, pemerintah dalam negeri dan dunia usaha melihat ini sebagai peluang besar untuk membangun pasar retail digital dalam negeri. Sehingga saat ini jumlah transaksi pada pasar e-commerce di dunia sekitar 40% berasal dari negeri Tirai Bambu dan menjadi terbesar di dunia saat ini, pencapaian ini tidak lepas dari dukungan infrastruktur digital yang inovatif sehingga menjadi pendorong tumbuh pesatnya pasar digital.

Transformasi Digital pada Ekonomi Tiongkok
Dengan besarnya dukungan pemerintah pusat terhadap ekonomi digital ini, pertumbuhan internet yang sangat pesat menciptakan sebuah peluang untuk memperbesar porsi digital ini dalam mendukung pertumbuhan GDP Tiongkok, sehingga pada tahun 2025, penerapan internet economy ini diprediksi akan memberikan konstribusi mencapai 22% dari total GDP Tiongkok pada saat itu.

Internet dalam aspek ekonomi tidak hanya sebuah alat untuk melakukan proses otomatisasi dan efesiensi, tetapi internet juga bisa digunakan untuk memperluas dan mempercepat jangkauan pasar. Hal ini berpotensi sebagai alat untuk meningkatkan GDP negara.

Internet Plus untuk Proses Digitalisasi Ekonomi
Internet plus merupakan sebuah konsep penerapan internet dalam industri konvensional, termasuk pada penggunaan mobile internet, cloud computing, big data or internet of things untuk mempercepat proses dalam industri dan pengembangan bisnis di China. Konsep Internet Plus ini merupakan salah satu ide baru yang dipromosikan oleh Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang sekitar bulan Maret 2015. Setelah itu, istilah Internet Plus ini semakin popular di kalangan masyarakat Tiongkok. Hingga isu Internet Plus ini dibawa pada pertemuan tahunan para pemangku kepentingan pada rapat pleno “Two Session”.

Di dalam proyek the Belt and Road, konsep Internet Plus ini tentu menjadi salah satu solusi untuk pertumbuhan ekonomi digital di berbagai kawasan. Jumlah pengguna internet di Asia dan Eropa menjadi modal awal untuk mengembangkan industri konvensional dengan dukungan konsep Internet Plus ini.

Penerapakan Konsep Internet Plus dalam Industri Konvensional ini mencakupi berbagai bidang industri antara lain:
1. Industri Manufaktur berbasis Internet
2. Lembaga Keuangan dan Perbankan dengan Internet
3. Fasilitas Medis berbasis Internet
4. Penerapan Internet dalam Pengelolaan Pemerintah
5. Penerapan Internet dalam dunia pertanian

Terlepas dari tujuan pemerintah Tiongkok untuk mewujudkan “Powerful Industrial Country”, pentingnya strategi Internet Plus ini ialah membentuk sebuah format ekonomi baru, melakukan inovasi yang berkelanjutan, serta menumbuhkan inovasi di kalangan industri konvensional yang sudah ada. Untuk membangun ekonomi digital yang terkoneksi antar negara anggota BRI nantinya. Tentu adaptasi ke arah konsep information economy tetap diperlukan, selain itu juga inovasi sistem, kreatifitas, pembangunan emerging industry dan sistem pelayanan publik menjadi penggerak utama suksesnya penerapan Internet Plus ini.

Kesimpulan
Proyek Belt and Road Initiative (BRI) merupakan strategi pembangunan ekonomi dimunculkan pertama kali oleh Tiongkok. Proyek ini nantinya akan berfokus pada konektivitas antara negara-negara Eurasia dan Afrika dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu juga transfer teknologi antar anggota the Belt and Road Initative ini ditargetkan dapat membentuk sebuah emerging ekonomi digital dangan pasar yang besar.

Besarnya dukungan pemerintah Tiongkok terhadap ekonomi digital ini dan pertumbuhan internet yang sangat pesat menciptakan peluang baru dalam bisnis. Kerasnya upaya pemerintah Tiongkok pada proyek BRI ini dan pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dalam negeri Tiongkok, menjadi salah satu peluang untuk melakukan transfer teknologi untuk pengembangan ekonomi digital di Indonesia.

Oleh: Putra Wanda
“Islam Indonesia dan China, Pergumulan Santri Indonesia di Tiongkok”

Comments
Loading...