Maulid Nabi, Tradisi Tarekat Khalwatiyah Sejak Dahulu

MAKASSAR – Dr. K.M. Mahmud Suyuti, M. Ag. selaku ketua PW. MATAN Sulawesi Selatan dan Katib Jamiyah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf) menegaskan bahwa perayaan maulid di markaz jam’iyah merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak dahulu dan menjadi wadah silaturahim seluruh jamaah tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf serta bentuk kecintaan murid kepada mursyidnya.

Sedangkan Habib Husein bin Ahmad al Hamid sebagai pembawa hikmah maulid menyampaikan bahwa umat Islam wajib bersyukur sebagai umat nabi Muhammad SAW.

Dikisahkan, nabi Musa as pernah memohon kepada Allah agar menjadi bagian umat Muhammad SAW, padahal beliau seorang nabi, tidak ada derajat tertinggi kecuali derajat kenabian. Karena ketinggian maqam Rasulullah SAW dan keistimewaan yang diberikan Allah kepada setiap ibadah umat Rasulullah SAW.

“Umat yang paling dekat dengan Nabi Muhammad di hari kiamat adalah yang paling banyak membaca shalawat,” tutur Habib Husein.

Umat yang mengharap syafaat nabi diikuti upaya memperbanyak shalawat. Sebagaimana sahabat Abu Bakar As-Siddiq ra yang senantiasa membasahi bibirnya dengan shalawat.

Beliau mengisahkan Syekh Umar Bin Abdurrahman Al Athos yang menyusun Rotibul Athos yang mendatangi gurunya, disebabkan kebanyakan membaca shalawat sehingga lupa berdzikir kepada Allah. Gurunya menegaskan bahwa shalawat kepada Rasulullah juga dihitung dzikir kepada Allah SWT. Mengandung makna bahwa zikir belum tentu shalawat dan shalawat sudah pasti zikir kepada Allah SWT, karena orang yang membaca salawat pasti menyebut nama Allah SWT.

Umat Islam wajib mensukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berkat lahirnya Nabi Muhammad SAW, manusia mampu mengokohkan agama tauhid dan membebaskan manusia dari penyembahan terhadap berhala. Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling berjasa dan panutan terbaik dengan hiasan akhlak al-Qur’an.

Akhlak Rasulullah SAW masih terpancarkan dan terjaga kepada para ulama. Warisan ilmu dan pancaran energi akhlak Rasul SAW dapat dilihat pada akhlak yang dipraktikkan kepada mursyid Syekh Sayyid Abd. Rahim Assegaf Puang Makka ketika beliau menyambut seluruh tamu, dan terkhusus memberikan penyambutan pribadi kepada saya. Air panas pribadinya dituangkan kepada saya. Yang Menurut hemat saya, tidak pantas dilakukan oleh seorang mursyid kepada yang lebih muda, karena beliau semata-mata hanya mau mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW.

Praktik akhlak beliau yang lain adalah rela meninggalkan posisi duduknya untuk menyambut Syekh Sayyid Abdul Hamid Assegaf Puang Cora (kakak kandung) karena mengutamakan kakaknya. Akhlak tinggi harus diamalkan kepada jamaah dan pengamal tarekat. Ungkapan kesyukuran umat nabi Muhammad atas maulid nabi beraneka ragam bentuk, misalnya memberi makanan, membaca shalawat, zikir, membaca al-Quran atau kegiatan yang menghimpun seluruh amaliyah Aswaja sesuai dengan kearifan lokal setempat.

Muhammad Iksan selaku ketua panitia memiliki kesan pribadi, bahwa kegiatan perayaan maulid oleh ahli tarekat berbeda dengan kegiatan-kegiatan pada umumnya. Perayaan maulid oleh ahli tarekat memiliki khas tertentu, yaitu setiap susunan acara harus seizin mursyid. Perayaan maulid dihadiri Syekh Sayyid Abdul Hamid Puang Cora (Mursyid Tarekat Syekh Yusuf), Abdul Aris, M. Pd. (Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah), khalifah tarekat Muhammadiyah/Sanusiyyah, Badal khalifah tarekat Naqsyabandiyah Haqqani, dan para khalifah tarekat Syekh Yusuf Makassar.

Juga hadir Ketua MUI Kab Gowa Drs. H. Abu Bakar Paka, Kapolres dan DANDIM Makassar, Ketua PCNU Makassar, ketua PCNU Parepare, pengurus DPW AGPAI SULSEL, pengurus PC. MATAN Makassar, Maros, Pangkep, Parepare, Pinrang, Gowa, Sidrap, Soppeng, Bantaeng dan para undangan dari berbagai unsur organisasi dan lapisan masyarakat. Jamaah maulid dihadiri sekitar 5000 orang. Acara dimulai sejak pukul 08.00, yang diawali dengan pembacaan barzanji. (Hardianto)

Komentar
Loading...