MATAN UNJ Perkenalkan Wisata Religi pada Mahasiswa

JAKARTA – Prodi Pendidikan Agama Islam UNJ bekerjasama dengan Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah an Nahdliyyah (MATAN) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengadakan Kegiatan Seminar Islamic Studies dengan tema Diseminasi Potensi Wisata Religi di DKI Jakarta, Selasa (12/11).

Kegiatan tersebut dihadiri puluhan Mahasiswa se-DKI Jakarta yang diadakan di ruang 106 Gd. K Fakultas Ilmu Sosial.

Pak Humaidi selaku Dosen Sejarah UNJ dan pembicara utama mengawali paparannya tentang sejarah Islam di Jakarta. Ternyata sejarah Islam di Jakarta memiliki 2 versi yaitu menurut Abdul Aziz dan Ridwan Saidi.

“Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa Islam masuk di tanah Betawi ketika Fatahillah menyerbu Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis pada 1527 (Abdul Aziz, 2002: 41),” kata Humaidi.

Pendapat lain menyebutkan, Islam justru datang dibawa oleh ulama asal Champa (Vietnam).

“Adapun pendapat lain yang disampaikan Ridwan Saidi, menyatakan bahwa Islam masuk pertama kali di tanah Betawi sejak kedatangan Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro, seorang ulama yang berasal dari Champa pada tahun 1409 M,” papar Humaidi lebih lanjut.

Humaidi juga menjelaskan bahwa keberadaan makam keramat menunjukkan nilai kesejarahan sebaran populasi kepadatan penduduk di kawasan dan pesebaran Islam di Jakarta.

Penyebaran Islamisasi di Jakarta terjadi di beberapa wilayah, jejak makam yang tercatat dalam sejarah dimulai dari Tubagus Angke di kawasan keramat Angke sampai ke Pangeran Ahmad Jaketra di Jatinegara Kaum kemudian dilanjutkan ke Pangeran Wijayakusuma di daerah Jelambar.

Selain itu terdapatnya peran para Datuk seperti Datuk Tonggara di Kramat Jati, Datuk Ibrahim di Condet, dan Datuk Banjir di wilayah Lubang Buaya. Tidak hanya itu peranan Islamisasi pun dilakukan oleh kalangan para habaib. Jejak yang ditemukan seperti makam keramat kampung Bandan, Makam Keramat Luar Batang, Makam Keramat Mangga Dua dan Makam Keramat Kalibata.

Lokasi makam keramat juga menunjukkan kantong-kantong pemukiman Islam tradisional. Pola sebaran makam di Jakarta menunjukkan sebuah kontruksi ideologi politik kebudayaan. Bahwa ketika keraton Jayakarta ditaklukkan, maka perlawanan terhadap kolonialisme mengalami perubahan bentuk. Dari bentuk fisik kepada bentuk dakwah islam. Hal inilah yang menyebabkan kolonialisme hanya mampu menduduki wilayah Batavia, tapi tidak berhasil mengubah kebudayaan dan agama para penduduknya.

“Kita boleh dikuasai Belanda tapi aqidah kita jangan sampai dikuasainya,” tegas Humaidi.

Jika keraton tidak diketemukan, maka simbol kekuasaan masa Islam yang lain adalah masjid dan makam.

Salah satu Tim Peneliti wisata religi menegaskan bahwa dalam mengenalkan dan mempermudah para pengunjung, maka dibuatlah sebuah website wisata religi.

“Kami juga membuat sebuah website untuk mempromosikan dan memperkenalkan wisata religi khususnya yang ada di DKI Jakarta melalui website wisatareligi.id,” ujar Arip Ketua PK MATAN UNJ.

Ketua Tim Peneliti Sari Narulita, berharap seminar ini tidak sampai disini saja, tetapi langsung menyambangi kawasan wisata religi.

“Dengan terjun langsung ke tempat-tempat wisata religi khususnya yang ada di Jakarta, kita dapat memahami secara langsung sekaligus meningkatkan religiusitas dan spiritualitas kita,” pungkasnya. (arip/eep)

Komentar
Loading...