MATAN UINSA Adakan Ngaji Virtual Selama Ramadhan

Ramadhan menjadi momentum umat Islam untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Umat Islam diseluruh dunia berbondong-bondong untuk meramaikan bulan Suci Ramadhan dengan melakukan kebaikan-kebaikan.

Salah satunya meramaikan Ramadhan dengan mengkaji dan mengkhatamkan kitab-kitab para Ulama’. Di pesantren biasanya setiap Ramadhan, ada istilah Ngaji Pasaran, Ngaji Pasanan atau Ngaji kilatan. Para kiai membaca dan mengkhatamkan suatu kitab selama bulan Ramadhan.

Ditengah Pandemi COVID-19 ini, pengajian pasaran berpindah yang semula offline, menjadi online atau virtual. Pengurus Komisariat Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) UIN Sunan Ampel Surabaya memanfaatkan media online untuk turut serta dalam meramaikan Ramadhan dengan mengkaji kitab Tajul Arusy Karya Ibnu Athaillah al-Askandari.

Pengajian yang dilakukan selama Ramadhan ini dilakukan melalui online Via Aplikasi Zoom setiap dua hari sekali. Adapun pengisi pengajian Ramadhan kali ini dilaksanakan secara bergiliran, yaitu Gus Miftahul Haq, M. Pd (Pengurus PW LTN NU Jawa Timur dan Pengurus PW MATAN Jawa Timur), Gus Ghozi Ubaidillah (Pengasuh PP Tahsinul Akhlaq Bahrul Ulum Rangkah Surabaya dan Pengurus RMI-NU Kota Surabaya) dan Gus Muhammad Nadzim (Mantan Ketua PC MATAN Kota Surabaya).

Beberapa catatan pada materi pengajian tersebut diantaranya adalah

“Jadikanlah dirimu di waktu pagi dan sore untuk tidak berbuat dzalim kepada satu saja dari hamba Allah. Maka kamu termasuk orang yang beruntung.

Lalu kalau kamu tidak berbuat dzalim pada dirimu sendiri dalam hal hubungan dengan Allah, kamu termasuk orang yang sempurna beruntungnya.

Maka dari itu kunci kedua matamu, tutup kedua telingamu, hati-hati dan takutlah jangan sampai kamu berbuat dzalim kepada hamba Allah.”

“Tidak ada contoh yang pantas untuk menunjukan kecilnya akalmu dan ketidaktahuanmu tentang pakaian yang kau pakai. Yaitu kamu seperti bayi yang masih dalam pangkuan ibu.

Oleh ibu bayi diberi pakaian yang terbaik. Akan tetapi bayi tidak menyadarinya. Malah terkadang oleh anak bayi mengotori pakaiannya, dan terkena najis. Lalu oleh ibunya cepat-cepat diganti dengan pakaian lain, supaya tidak diketahui orang kalau pakaianmu kotor dan najis. Dan oleh ibu, pakaian yang kotor dan najis itu dicuci. Akan tetapi anak bayi tidak tahu tentang apa yang di kerjakan oleh ibunya untuk dirinya, itu karena kecilnya akalnya.”

Diceritakan dari Syeikh Abil Hasan as-Syadzili ra. Beliau berkata, “Aku diperintah, “Hai Ali, bersihkanlah pakaianmu dari kotoran. Kamu akan dijaga dan mendapat pertolongan dari Allah dalam setiap nafasmu.”

Lalu aku bertanya, “apakah pakaianku itu? Lalu dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya Allah telah memberi pakaian kepadamu berupa makrifat, lalu pakaian Tauhid, lalu pakaian Mahabbah, lalu pakaian Iman, lalu pakaian islam”.

Jadi siapa yang makrifat kepada Allah, maka semua perkara akan menjadi kecil. Siapa yang cinta kepada Allah, segala sesuatu akan menjadi tidak berharga. Siapa yang meng-Esakan Allah, maka orang tersebut tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu. Siapa yang iman kepada Allah, akan aman dari segala sesuatu. Siapa yang pasrah kepada Allah, maka sedikit maksiatnya. Wallahu ‘alam.

Kontributor: Muhammad Alvin Jauhari (Ketua PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...