Connect with us

MATAN

MATAN UIN Sunan Kalijaga adakan Rutinan Ngaji Sejarah Online

Rabu 7 Oktober 2020, Mahasiswa Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (MATAN) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adakan Ngaji Sejarah Online via Instagram TV yang kedua.

Published

on

Yogyakarta, JATMAN Online: Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari Ngaji Sejarah #1 yang mengangkat judul “Pangeran Diponegoro dan Syattariyah” dengan narasumber Syekh Fatkur Rohman Thoyyib (Mbah Sarimbit), Mursyid TQN Syadziliyyah Syattariyyah dan Pengasuh Ponpes Assetresiyyah Garuwan, Juwana, Pati, Jawa Tengah yang dilaksanakan pada 8 September 2020.

Ngaji Sejarah #2 kali ini mengangkat Judul “Mengenal Biografi KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem: Sang Rais Akbar JATM”. Narasumber untuk ngaji Sejarah #2 ini adalah KH. Abdul Aziz Mas’ud, Pengasuh Ponpes Roudlotul Muhibbin Sumbergirang, Lasem, Rembang, Jawa Tengah yang masih merupakan cucu dari KH Baidlowi bin Abdul Aziz Lasem.

Kegiatan ini dilaksanakan di Ndalem (tempat) KH. Abdul Aziz Mas’ud selama dua hari, yakni 6 dan 7 Oktober 2020.

Pada tanggal 6 membahas dua bab yaitu Perjalanan pendidikan dan Peran. Kontribusi Mbah Baidlowi Lasem yang menguraikan nasab, perjalanan nyantri, berbaiat thariqah, mengabdikan diri di Ponpes Alwahdah Lasem peninggalan ayah beliau, hingga Peran Menjadi Nadhir di Masjid Jami’ Lasem.

Kemudian menjadi Rais Akbar JATM (saat ini menjadi JATMAN), dan memberikan gagasan status Presiden saat muktamar NU 1947 dengan pendapatnya “Soekarno huwa waliyul amri addaruri bissyaukah”. Sedangkan pada tanggal 7 membahas bab Akhlaq Sufistik Mbah Baidlowi Lasem yang meliputi sikap ikhlas, wara’i, zuhud, kesederhanan, kebijaksanaan, toleransi dan cinta kasih dengan menghadirkan fakta sejarah yang disajikan melaui cerita menarik dan asyik.

Ngaji Sejarah Online ini dilatarbelakangi karena terinspirasi dari semangat dari para mursyid untuk jangan melupakan sejarah dan meneladani para pendahulu.

Dalam situasi Pandemi yang tak kunjung berakhir ini sehingga memunculkan ide dari kawan-kawan MATAN UIN SUKA Yogyakarta untuk mengkaji sejarah secara online yang dapat dinikmati oleh khalayak umum melalui akun Instagram TV @MATANuinsuka. [Aang]

Artikel

NGAWITI (Ngaji With Young Sufi): Sufisme Ala Milenial MATAN

Published

on

By

Rutinitas kegiatan mahasiswa layaknya malam-malam seperti biasa disibukkan dengan tugas-tugas kuliah yang menumpuk maupun nongkrong ditempat-tempat tongkrongan seperti warkop, kafe, dlsb. hanya sekedar kumpul tanpa makna yang berarti apa-apa dan waktu di buang percuma. Hal itu merupakan perkara wajar yang dapat kita maklumi, masa muda memang masa yang cukup rawan.

Namun, di setiap jum’at malam kini terasa berbeda, mengapa? di sela kesibukan sebagai mahasiswa pada umumnya, Mahasiswa Ahlith-Thoriqah Al-Mu’tabarah Al-Nahdhiyyah (MATAN) Komisariat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta justru mengadakan agenda rutinan ngaji kaum milenial. Pengajian ala milenial ini, tentunya diisi oleh para shohib/ah MATAN UIN Syahid. Pengajian ini dinamakan “Ngawiti” atau di singkat Ngaji With Young Sufi.

Kegiatan ini nantinya akan terus diadakan dan menjadi rutinan setiap dua minggu sekali atau sebulan dua kali, dengan memanfaatkan media sosial atau secara virtual melalui saluran facebook, youtube, dan Instagram.

Menurut Kang Yasrul (Ketua MATAN UIN Syahid), Ngawiti ini pada dasarnya diprakarsai untuk menjawab tantangan kebutuhan zaman, dimana berusaha mengarahkan kaum milenial untuk dapat mensinergikan antara dimensi duniawi dan dimensi spiritual. Dalam masa pandemi sekarang, tentunya harus mengeluarkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya harus memberikan kesempatan kaum milenial untuk mengisi konten keislaman dan mampu beradaptasi dengan media sosial.

Metode pengajian dilakukan dengan membaca kitab-kitab para ulama salafus-sholih ahlus sunnah wal jama’ah, baik mengkatamkan satu kitab ke kitab lain maupun kajian tematik, namun tetap dengan materi yang ringan-ringan sehingga dapat mudah dipahami. Isi muatan materinya tidak jauh dari dunia kesufian, tasawuf, fikih, hadits dan lain-lain yang dapat membangun nilai-nilai spiritual yang kini terasa semakin kering. Tentunya dengan kemasan yang menarik menurut persfektif Sufisme milenial.

Diharapkan kegiatan ini menjadi salah satu kegiatan yang bermanfaat dan dapat mengisi kekeringan muatan spiritual di kalangan mahasiswa khususnya dan kaum milenial pada umumnya.

Wallahu a’lam,

Miftahul Hadi (Pengurus MATAN UIN Syahid dan merupakan Mahasiswa Jurusan Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Continue Reading

MATAN

“NGAWITI” MATAN UIN Syahid: Abu Lahab Tidak Disiksa Setiap Hari Senin

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali mengadakan kegiatan rutin Ngaji With Young Sufi (NGAWITI) Pada Jum’at (23/10) malam.

Kali ini agendanya ialah pembacaan kitab ‘Arfu at-Ta’riif bi al-Maulidi al-Syariif” karya ulama besar Al-Imam Ibnu Al-Jazari RA yang dibacakan oleh Shohib Tegar Syaekhuddin, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Syarif Hidatullah Jakarta yang juga menjadi anggota MATAN UIN Syahid.

Acara Ngawiti ini dimulai sekitar pukul 19.30 WIB atau ba’da Isya, live streming di facebook. Pada kesempatan ini, sebelum masuk pada isi materi, pengkaji menyampaikan pengantar dari kitab “ ‘Arfu at-Ta’riif bi al-Maulidi al-Syariif”. Kitab ini diakui telah menjadi rujukan oleh Imam Jalaluddin As-suyuti, beliau merupakan salah satu pengarang kitab Tafsir Jalalain yang terkenal bersama Imam Jalaluddin al-Mahalli dan beberapa kitab karangan beliau.

Shohib Tegar sebagai pemateri, pertama-tama memaparkan biografi singkat Al-Imam Ibnu Al-Jazari RA yang mempunyai nama lengkap Syamsuddin Abul-Khoir Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Ali bin Yusuf Al-Umary Ad-Dimasqy atau yang dikenal dengan Ibnu Al-Jazari, lahir di Damaskus pada tanggal 25 Ramadhan tahun 751 H dan wafat di Syiraz tahun 833 H. Saking alimnya, beliau sudah hafal Al-Qur’an 30 juz sejak menginjak umur 13 tahun. Dilanjutkan dengan belajar qiroah sab’ah kepada Syekh Ibnu Salar, termasuk juga kepada Syekh Ibrohim Al-Hamawi. Kurang puas, beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Hijaz atau Mekah, juga ke Baghdad, dan Madinah untuk mencari sanad ilmu yang lebih tinggi dan mencari guru yang lebih alim.

Selain ia diakui sebagai masternya ulama dalam bidang qiroat, beliau juga seorang mufti besar di Damaskus, ahli dalam ilmu fikih, dan ilmu hadits yang diakui kealimannya oleh Imam Ibnu Hajar Al-Atsqolani. Tidak heran, karangan-karangan beliau banyak sekali diantaranya kitab An-Nasyr fi Al-Qiroat Al- ‘Asyr, atau di nadhomkan dalam kitab Toibatun-Nasyr, Matan Al-Jazariyah, termasuk kitab ‘Arfu at-Ta’riif bi al-Maulidi al-Syariif, dan masih banyak lagi.

Kitab ‘Arfu at-Ta’riif bi al-Maulidi al-Syariif ini adalah sebuah kitab ringkasan dari kitab at-Ta’rif bi al-Maulidi al-Syarif karya Ibnu Jazari sendiri. Beliau mecoba menyebarkan pesona keilmuannya hingga ke khurasan, Isfahan, Yaman, Mesir, dan sampai kepada kita.

Secara umum, kitab ini memuat isi yang menjelaskan seputar peristiwa maulid Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah keterangan mengenai Abu Lahab yang setiap hari senin mendapat keringanan siksaan sebab menghormati atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. dan juga menjadi hujjah bagi kita untuk mengcounter orang yang anti maulid.

Lebih dari itu secara kelimuan, shohih Tegar mengakui sendiri masih jauh dari kata pantas dalam membawakan kitab ini. Namun, dengan adanya Ngawiti ini setidaknya memberikan wadah bagi pemateri siapapun untuk bisa mendaras dan mengasah kelimuannya kalangan milenial untuk speak up, baik dalam soal pembacaan kitab, pemahaman dll.

Bagi peserta maupun jamaah Ngawiti dimanapun berada, diharapkan mampu mengambil sari-sari ilmu yang di suguhkan pemateri, tujuannya untuk membasahi spiritual values yang mulai kekeringan di kalangan milenial. Mohon kepada guru-guru kami untuk senantiasa mendoakan kegiatan ini agar berjalan istikomah nantinya. (Red. Miftahul Hadi)

Continue Reading

MATAN

HSN dan Momentum Kebangkitan Teknologi Santri

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Mariahnya peringatan Hari Santri Nasional 2020 yang digelar di banyak daerah menunjukkan bahwa kesadaran akan peran santri dalam membangun negeri ini tidak dapat dipisahkan.

Demikian pula dalam hal transformasi sains dan teknologi, santri harus mampu mengkomunikasikan nilai-nilai secara kontekstual. Tentu secara substantif, sangat berbeda tantangannya antara santri zaman dahulu dengan sekarang. Namun, hal-hal yang sifatnya pokok, ushul, itu kemudian secara lebih cerdas kita harapkan mampu mengkontekstualisasikan dalam dunia kekinian. Demikian dijelaskan Hasan Chabibie, Plt. Ketua Umum Mahasiswa Ahlut Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN), Kamis (22/10).

Pada kesempatan yang sama, Hasan yang juga Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud, menjelaskan bahwa dalam konteks pendidikan, generasi santri sudah sangat teruji dan mampu mewarnai di berbagai bidang. Memang yang menjadi tantangan ke depan, adalah bagaimana para santri dan santriwati mampu berperan lebih banyak dalam dunia teknologi dan informasi, demikian dikutip dari NU Online.

Pemanfaatan teknologi ini menjadi penting untuk meluaskan jalan dakwahnya agar lebih membumikan ajaran-ajaran ahlus-sunnah wal jamaah. Dan, santri seharusnya lebih mampu mewarnai dunia digital, dengan aktifitas yang ramah dan sejuk, lanjut Hasan yang juga menjabat sebagai Redaktur Ahli JATMAN Online ini.[Af]

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending