MATAN Pinrang dan MATAN Parepare Sinergi Gelar Pengajian Tasawuf di Rutan

PINRANG – PC MATAN Pinrang bersinergi dengan PC MATAN Parepare menyelenggarakan Ta’aruf MATAN dan Pengajian Tasawuf bersama puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pinrang, Sulawesi Selatan pada Sabtu (19/10) lalu.

Kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan MATAN kepada warga binaan yang belum mengenal tasawuf dan tarekat.

“Banyaknya warga binaan yang belum mengamalkan amaliah penyucian jiwa, yakni dengan dzikir dan tausiah yang menyentuh qalbu di bawah bimbingan Mursyid dari tarekat mu’tabarah,” ujar Suharto Syam Dg. Se’re selaku ketua pelaksana Ta’aruf MATAN dan Pengajian Tasawuf.

Upaya ini, tambah Suharto, secara tersirat menampakkan kepada umat masih banyaknya yang semangat membela dan mengembalikan ruh amaliah tasawuf yang diamalkan para ulama.

Hardianto, Ketua PC MATAN Pinrang yang menyosialisasikan MATAN menyebut bahwa kehadiran MATAN sebagai langkah mengamalkan Al Qur’an.

“Maksud kehadiran MATAN di Rutan sebagai bentuk pengamalan ayat wa tawashau bil haq wa tawashau bis shabr,” imbuhnya.

Sedangkan Ketua PC MATAN Parepare, Adri Aladin menjelaskan bagaimana menjaga akhlak dan berkhidmat kepada guru Mursyid yang insya Allah telah dicontohkan oleh kader MATAN.

Acara pengajian Tasawuf diisi oleh Syekh Sayyid Abdul Malik Puang Malik. Khalifah Tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassariy itu menjelaskan bahwa ilmu tasawuf menjadi sarana pemahaman dan amal untuk sampai kepada Allah SWT (wushul ila Allah) dan penataan hati.

Wakil Korwil MATAN Sulawesi itu mencontohkan adanya shalat yang kelihatan khusyuk, namun sebetulnya masih ada riya. Berapa banyak orang yang shalat namun di kesehariannya masih nampak sikap sombong atau berperilaku tidak baik kepada orang lain seperti memfitnah dsb.

“Shalat jangan karena takut pada seseorang, tapi niatkan mencari ridha Allah SWT. Bagaimana cara shalat khusyuk atau memandang orang lain telah tersaji dengan lengkap dalam ilmu tasawuf,” pungkasnya.

Puang Malik juga menjelaskan bahwa dalam diri manusia, senantiasa ada dua bisikan, yaitu bisikan setan dan malaikat. Maka, ilmu tasawuf menitik beratkan untuk lebih mendengar bisikan malaikat. Ia juga berpesan bahwa ibadah jangan dijadikan sebagai beban, tapi justru menjadi aktivitas yang menyenangkan.

“Vonis hukuman atau masalah jadikan sebagai ujian dan mengambil hikmah,” pesan khususnya kepada warga binaan.

Kemudian dalam tempo yang cukup singkat, Puang Malik mempraktikkan dzikir bersama dan mengarahkan untuk merasakan natijah zikir walaupun hanya sesaat. Acara diakhiri dengan sesi tanya jawab. (hrd/eep)

Komentar
Loading...