Portal Berita & Informasi JATMAN

Kegiatan Taman Sufi MATAN IPB

0 394

Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (MATAN) IPB kembali mengadakan Taman Sufi, sebuah kajian tasawuf tematik yang kali ini sudah digelar untuk ketiga kalinya, Sabtu (21/4) di Masjid Al-Wustho, Babakan Tengah, Dramaga, Bogor.

Bekerja sama dengan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB, Taman Sufi #3 yang bertema “Sufipreneur: Berwirausaha dalam Bingkai Tasawuf” menghadirkan KH Danial Nafis, pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Arraudhah wa Zawiyah Syadziliyah Qodiriyah sebagai pemateri.

Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa manusia dan jin diciptakan “illa liya’budun”. Untuk mencapai “illa liya’budun” maka tidak lain jalannya adalah dengan dzikrullah. Dzikrullah itu, istilahnya, ada yang ditempuh dengan jalur umum dan ada pula yang ditempuh dengan jalur khusus. Jalur umum yang dimaksud adalah dengan bersyari’at, sedangkan jalur khusus yaitu dengan tarekat. Maka jika ingin mencapai kesempurnaan –menjadi insan kamil– tempuhlah juga jalan khusus karena sesungguhnya syariat dan tarekat tidak dapat dipisahkan.

Pandangan yang berkembang mengenai tarekat ialah bahwa ia hanya milik ekslusivitas orang, hanya orang-orang yang memiliki kealiman yang tinggi saja yang mampu menjalankannya. Padahal, tarekat itu adalah jalan bagi seseorang untuk ber-ihsan. Ia adalah tentang rasa, bagaimana mungkin seseorang beribadah tanpa mengenal Allah? Ibarat memakan gula tanpa merasakan manisnya. Maka wajarlah jika ada ulama yang sampai mewajibkan tarekat bagi setiap orang yang telah mengetahui dasar-dasar syariat.

Tugas tarekat adalah mengajarkan salikin melihat segalanya dengan Allah. Jika seorang mahasiswa sudah bertarekat, tujuan kuliahnya bukan sekedar mencapai gelar, memperoleh pekerjaan, dan tujuan-tujuan materialis lainnya, namun ia akan mengelola hati dan pikirannya sehingga ilmu yang didapatnya ‘bercita rasa Allah’. Lalu, bagaimana kaitannya dengan enterpreneurship?

Enterpreneruship dalam sudut pandang tasawuf bukan hanya berdagang, transaksi perputaran materi, jauh di atas itu adalah sebuah kesadaran dan kebersihan hati bahwa semua rizki adalah dari Allah, sehingga semua yang dibelanjakan akan digunakan di jalan Allah. Sahabat-sahabat Rosulullah banyak yang berdagang dan kaya-raya. Namun semua berlepas dari dunia, tidak bergantung pada harta. Sebuah keyakinan bahwa manusia merupakan ‘abdul Rozzaq’, ‘abdul Ghoniy’, adalah perlu untuk memotivasi diri menjadi sukses. Di akhir ceramahnya, beliau juga mengajarkan peserta yang hadir untuk berdoa memohon kesuksesan,

اللهم يا غني يا مغني أغننا بحلالك وعظيم سلطانك

( “Ya Ghoniy ya Mughni, aghnina bi halalika wa azhimi sulthonik…”) (KD)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.