MATAN Gelar Tawajjuhan Online Syukuri Kemerdekaan dan Teguhkan Nasionalisme

Mahasiswa Ahltih Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (MATAN) Indonesia mengadakan Tawajjuhan Online dengan tema “Hikmah Tahun Baru Hijriah dan Peringatan Kemerdekaan” melalui Zoom Meeting yang dihadiri kader MATAN se-Indonesia (30/08).

“Tawajuhan Online ini di bawah divisi kajian dan dakwah. Yang setiap bulannya mengadakan kajian secara online setiap akhir bulan pada Ahad malam Senin dan sudah berlangsung sebanyak empat kali. Mohon do’anya semoga bisa istiqamah. Karena saya baru menyadari, meskipun saat ini sudah diberikan kemudahan dengan menggunakan piranti teknologi yang ada dan waktu yang sudah bisa saling tektokan dimasa pandemi, itupun masih sulit untuk bisa istiqamah. Oleh karena itu mohon do’anya agar bisa istiqamah setiap bulannya,” ucap Ketua MATAN Indonesia, Hasan Chabibie yang juga Plt Pusat Data dan Teknologi Informasi.

Prof. KH. Abdul Hadi selaku pembicara menyampaikan bahwa kader MATAN harus mempunyai keyakinan Ahlussunnah yang benar. Jangan sampai masuk ke golongan yang sesat.

“Mujassimah bukan golongan Ahlussunnah wal Jama’ah karena keyakinannya berbeda. Mujassimah menyerupakan Allah dengan makhluknya sedangkan ahlussunnah tidak menyerupakan Allah dengan makhlu-Nya,” ujar Pembina MATAN tersebut.

Menurutnya, beliau terkesan dengan salah satu tafsiran mengenai hak yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Muslim sejati harus bertakwa dan bisa membaca dengan benar.

“Kita ini perlu ada tiga hak yang harus kita penuhi, ke satu haqqa tilawatih (dengan sebenar-benarnya membaca). Yaitu membaca al Qu’ran yang baik dan benar cara membacanya sesuai makharijul huruf, tafsiran dan pengalamannya harus benar. Kedua, haqqa tuqatih (benar-benar takut kepada Allah). Takut disini berjuang untuk memperbaiki diri sendiri dan lingkungan kita. Misalnya tidak terpancing dengan dugem (dunia gemerlap),” lanjutnya.

Prof Hadi melanjutkan hak yang ketiga yang harus ada pada seorang muslim yaitu jihad dengan sebenar-benarnya jihad. Namun jihad disini tidak hanya dimaknai dengan berperang.

“Ketiga, haqqa jihadih (dengan sebenar-benarnya Jihad). Bagi kita ini bukan berperang menumpahkan darah ketika damai. Tetapi maksudnya di sini adalah bermacam-macam tergantung kondisinya. Jika tantangannya itu senjata maka dengan senjata, kalau teknologi maka dengan teknologi. Maka harus bisa terus-menerus menyesuaikan dengan perkembangan yang ada,” ungkapnya.

Gus Hasan Chabibie menegaskan dan menyampaikan pesan untuk seluruh sahabat MATAN untuk selalu mencintai tanah air dan mengenang jasa para alim ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Saya berharap kepada sahabat-sahabat MATAN dalam momentum kali ini dapat kembali meneguhkan nasionalisme, cinta tanah air, mensyukuri kemerdekaan bahwa semua ini hadir karena ribuan darah syuhada yang wafat untuk bisa menegakkan bendera merah putih sebagaimana yang sering digaungkan oleh Maulana Habib Lutfi,” pungkasnya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...