Portal Berita & Informasi JATMAN

MATAN Cirebon Kumandangkan Shalawat Thariqiyah di Harlah NU

0 309

Cirebon – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah atau MATAN mengadakan Halakah Tarekat sebagai bentuk memperingati dan memeriahkan Harlah NU ke-95 yang diselenggarakan di Masjid Jami Tegalgubung, Arajawinangun, Cirebon (22/04/2018).

Acara tersebut dibuka dengan tawasul, menyanyikan Indonesia Raya, pembacaan shalawat yang biasa dibacakan dalam acara-acara JATMAN dan MATAN, yakni Shalawat Thariqiyah. Pasalnya, para pengamal thariqah dan hadirin lainnya yang lain ini memiliki kerinduan tersendiri saat mendengarkan shalawat yang dikarang oleh KH Idham Chalid. Pembacaan shalawat tersebut dipimpin oleh wakil sekretaris PC MATAN Cirebon, Saifuddin Mumtaza.

Ketua pelaksana, Imamuddin dalam sambutannya melaporkan, “acara yang diselenggarakan oleh PC MATAN Cirebon ini masuk dalam rangkaian Harlah NU yang sudah beberapa minggu dimulai. Perlu diketahui, MATAN sendiri adalah badan JATMAN yang merupakan badan otonom Nahdlatul Ulama. Didirikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya yang merupakan mustayar PBNU dan rois am JATMAN pada Muktamar JATMAN ke-XI di Malang, 2012.”

“Alhamdulillah, dua pembicara halakah ini bisa hadir, yakni KH Syakur Yasin dan ketua MATAN Syukron Ma’mun. Kami sangat berterima kasih atas kehadiran beliau berdua, serta jajaran dari PCNU Kabupaten Cirebon, idaroh syubiyah JATMAN, tokoh-tokoh masyarakat dan para tamu undangan,” tambahnya.

Pembicara pertama, KH Syakur Yasin menjelaskan, “ahlith thariqah sangat berperan aktif dalam menjaga Indonesia, tidak pernah melarikan diri dari kehidupan, tetapi membangun kehidupan yang sangat baik, dan selalu tampil terdepan ketika umat membutuhkan. Sangat peduli dengan kondisi sosial.”

Sementara Syukron Ma’mun sebagai pembicara kedua mengatakan, “tarekat memiliki tujuan yang sangat mulia, bertujuan untuk menghilangkan lalai kepada Allah Swt, sehingga selalu merasa dilihat dan didengar oleh Allah Swt. Kemudian, buahnya adalah akhlak. Bertarekat itu bukan hanya duduk dan memutar tasbih, tetapi bisa mengamalkan buah dari tarekat itu dengan bermanfaat bagi sesama.”

Beliau mencontohkan, “Syekh Abul Hasan Assyadzili meskipun kondisinya sangat tidak sehat, tetapi tetap memimpin para ulama dalam mempertahankan Mesir dari serangan Pasukan Salib.”

“Kemudian, Syekh Ahmad Bamba, memimpin perlawanan rakyat Senegal melawan Perancis. Beliau menggerakkan ekonomi murid dan jamaah. Sehingga, selain gerakan tarekat, sosial politik serta ekonomi juga digerakkan, melalui pertanian, perkebunan, dan perdagangan yang maju,” lanjutnya.

“Sehingga, tidak heran jika JATMAN sekarang ini getol mengampanyekan Cinta Tanah Air. Agar kita sebagai generasi muda punya pegangan dan rasa cinta pada awliya, ulama, dan Tanah Air ini,” pungkasnya. [Yazid]

Comments
Loading...