Masyarakatkan Thariqah, PC MATAN Pinrang Adakan Silaturahim dan Kajian Al Hikam

PINRANG – PC MATAN Pinrang bersama
Pondok Pesantren Manbaul ‘Ulum Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Patobong mengadakan acara Silaturahim sekaligus
Kajian Syarhul Hikam dan Dzikir bersama serta menggelar Qiyamullail pada Kamis (19/9) malam.

Acara yang digelar di Ponpes yang berdiri sejak tahun 1964 itu dihadiri oleh segenap pengurus yayasan, pembina dan pengajar pesantren, termasuk para santri. Turut hadir pula tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat Patobong.

Dr. Muh. Hatta, Lc, MA selaku pemateri dalam kajian Syarh Al Hikam menguraikan pentingnya seorang hamba memahami hakikat doa. Melalui kisah inspiratif, Alumni Universitas Al Azhar dan Qarawiyyin Maroko itu juga mengajak jamaah memetik keteladanan para salikin.

Ketua MATAN Pinrang, Hardianto mengatakan seorang muslim penting menjadi ahli dzikir dan pikir. Dalam kesempatan itu ia menyosialisasikan organisasi Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (MATAN).

Hardianto mengangkat tokoh maha guru ulama Sulawesi Selatan, yaitu AGH. Muh. As’ad (pendiri pesantren As’adiyah) dan AGH. Abdurrahman Ambo Dalle yang merupakan pendiri Darud Da’wah wal Irsyad (DDI). Keduanya adalah ulama yang juga pengamal tarekat.

“Tokoh-tokoh pengamal tarekat perlu diangkat agar masyarakat lebih mengenal tarekat warisan para ulama al-‘amilin. Dua ulama Bugis tersebut tidak asing bagi masyarakat, tokoh-tokoh dan santri,” aku Hardianto.

Ketua MATAN itu juga mengapresiasi dan menyampaikan penghargaan atas kerjasama dengan seluruh pihak pesantren atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Kegiatan ini, ucapnya, dalam rangka memasyarakatkan thariqah sebagai bagian dari ajaran Islam.

Jama’ah juga tampak antusias mendengarkan siraman ruhani yang juga disampaiksn oleh Ust. Khayadi, M.Ag.
“Salah satu cara memperbaiki hubungan dengan Allah dan manusia ialah dengan banyak sedekah,” ujarnya.

Sekitar 600 jamaah mengikuti Qiyamullail. Shalat taubat dipimpin langsung oleh pembina ponpes Manbaul Ulum DDI, Dr. Muh. Hatta, MA. Sedangkan shalat tasbih dipimpin oleh pimpinan pondok dilanjutkan dengan shalat witir yang dipimpin oleh santri tahfidz.

Acara yang diadakan di Dusun Tanete Desa Patobong, Kec. Mattiro Sompe, Kab. Pinrang itu diakhiri dengan diskusi ringan seputar thariqah dan keagamaan.

Sebagai informasi, gelar “AGH” diambil dari “Anre Gurutta Haji” yang merupakan gelar tertinggi bagi seorang tokoh yang setara dengan kiai kharismatik. (hrd/eep)

Komentar
Loading...