Manuskrip Syarah Tarekat Junaidiyyah

Tarekat Junaidiyyah merupakan salah satu tarekat muktabar menurut versi Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN). Bahkan Nahdlatul Ulama, secara tegas menyatakan bahwa Ahlussunah wal Jamaah adalah sebuah mazhab yang secara tasawuf mengikuti Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Meski demikian, diakui atau tidak ajaran-ajaran tasawuf Imam Junaid justru kurang dikenal atau dipelajari di pesantren-pesantren NU. Sesuatu yang sangat kontras dengan ajaran-ajaran tasawuf Imam Al-Ghazali yang karya-karyanya justru mendapat tempat istimewa di kalangan pesantren.

Saya pribadi menyimpan pertanyaan besar, mengapa hal demikian terjadi? Apa alasan yang mendasari pemilihan ajaran tasawuf Imam Junaid al-Baghdadi sebagai bagian dari definisi aswaja ala NU? Mengapa bukan tokoh lainnya? Apakah faktor kelangkaan karya-karya Imam Junaid dan juga karya yang mengulas tarekat Imam Junaid yang menyebabkan tarekat ini ‘kalah’ pamor atau ada faktor lainnya? Dan mengapa justru tarekat lain seperti tarekat Qadiriyyah (yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani) yang banyak diikuti oleh kiai-kiai NU? Toh, menurut Sayyid As-Sanusi dalam karyanya berjudul as-Salsabil al-Ma’in disebutkan bahwa selain tarekat Hallajiyah (tarekat yang dinisbatkan kepada Al-Hallaj), tarekat Qadiriyyah juga merupakan cabang dari tarekat Junaidiyyah.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya menemukan salah satu manuskrip yang di dalamnya tertulis sebagai syarah atas tarekat Junaidiyyah (tarekat yang dinisbatkan kepada Imam Junaid Al-Bagdhadi). Al-Qusyasyi dalam as-Simth al-Majid yang kemudian diikuti oleh Mula Ibrahim al-Kurani dalam Masalikul Abrar, sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sanusi dalam al-Manhal ar-Rawi war Raiq fi Asanid al-Ulum wa Ushul at-Tharaiq, mengatakan:

“Imam Junaid memperoleh sanad tarekat ini dari Abu Muhammad Ja’far al-Hidza’ yang kemudian bersambung sebagaimana tarekat Uwaisiyyah di mana melalui Uwais al-Qarni ini tersambung ke sayyidina Umar bin Khattab.”

Ini adalah halaman muka manuskrip kitab tarekat Junaidiyyah yang sayangnya tidak didigitalkan secara utuh. Meski demikian, hasil penggandaan secara digital kitab ini terbilang sangat baik. Tulisannya bisa dengan mudah dibaca. Dalam manuskrip tersebut tidak tercantum nama mualif dan juga penyalinnya.

Sang muallif membuka syarah tarekat Junaidiyyah dengan ungkapan berikut:

“Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan kesempurnaan kedaulatan dalam mengikuti para pemimpin (sufi) dan yang telah memberikan keistimewaan bagi para kekasih-Nya.”

“Tarekat Junaidiyyah yang dinisbatkan kepada seorang waliyullah al-arif billah Abu al-Qasim al-Junaid Al-Baghdadi merupakan (salah satu) tarekat yang paling lurus, paling adil, dan paling sempurna. Dalam tarekat ini ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, yakni selalu dalam keadaan suci, uzlah, berdiam (dari berbicara yang tidak penting), menahan lapar, suka berpuasa, terjaga di malam hari, dzikir la ilaha illa Allah, memalingkan hawa nafsu, menyingkirkan rintangan di jalan, menggantungkan hati dengan syaikhnya. Dan menambahkan ibadah-ibadah lainnya. Saya mempertimbangkan untuk menulis sebuah syarah (komentar) kecil yang mudah-mudahan atas izin Allah SWT dapat bermanfaat bagi para salik (penempuh jalan spiritual).”

Sebagaimana disinggung di atas bahwa manuskrip berbentuk digital ini sepertinya tidak utuh, sehingga kemungkinan masih ada beberapa pembahasan dalam kitab ini yang terpotong.

Meski demikian, ada beberapa penjelasan menarik dalam kitab ini yang menguraikan tentang tarekat Junaidiyyah ini. Yaitu pembahasan mengenai ajaran tarekat ini. Setidaknya ada tiga pembahasan ajaran tarekat Junaidiyyah yang bisa dibaca dalam manuskrip ini, yaitu: melanggengkan kesucian, uzlah, dan diam.

Syarat Pertama, Melanggengkan Kesucian:
Melanggengkan kesucian. Hakikat kesucian dalam makna umum adalah kebersihan. Sedangkan dalam arti khusus adalah bersih dari segala kotoran baik yang kasat mata maupun yang tak tampak. Yang dimaksud dari kesucian pakaian dan tempat (ibadah) adalah kulit lahir, sedangkan kesucian badan adalah kulit yang agak dekat, dan yang kesucian yang paling inti adalah kesucian hati dari najis-najis akhlak.

Syarat Kedua, Uzlah:
Uzlah. Baik uzlah maupun khalwah merupakan dua istilah yang memiliki banyak kesamaan makna sekaligus tuntutan syariat. Allah SWT berfirman dalam menikhbarkan Nabi Ibrahim (QS. Maryam: 48): Dan aku akan menjauhkan diri dari kalian dan dari apa yang kalian seru selain dari Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku.

Nabi SAW bersabda: “Manusia terbaik adalah orang yang berjihad di jalan Allah atas hawa nafsu dan hartanya. Lalu orang yang menyembah Allah SWT dalam keadan sunyi serta menjauhi manusia karena khawatir atas keburukan dirinya (mencemari manusia).”

Sedangkan ahli hakikat menuturkan bahwa khalwah merupakan sifat yang melekat bagi orang-orang bersih. Uzlah merupakan salah satu tanda ketersambungan (dengan gurunya).

Uzlah ada dua. Uzlah orang awam, yakni meninggalkan khalayak umum secara fisik dengan tujuan agar manusia terhindar dari keburukannya. Bukan untuk keselamatan dirinya dari keburukan orang lain. Karena yang pertama (agar manusia lain terselamatkan dari keburukan dirinya) adalah sifat orang-orang bertakwa. Sedangkan yang kedua (agar dirinya terselamatkan dari keburukan orang lain) adalah sifat iblis karena beranggapan bahwa dirinya adalah orang yang paling baik sekaligus meyakini keburukan pada diri orang lain.

Sedangkan uzlah yang kedua adalah uzlah orang khusus. Yaitu meninggalkan diri dari sifat-sifat manusiawi menuju sifat-sifat yang dimiliki malaikat (dalam ketaatan beribadah tanpa mengharap imbalan), meskipun secara fisik tetap bersama-sama dengan khalayak manusia. Oleh karena itu orang-orang makrifat dijuluki dua hal sekaligus: kainun (jasadnya bersama dengan khalayak manusia) dan bainun (batinnya memisahkan diri dari mereka).

Abu Ali Ad-Diqaq berkata:
“Kenakanlah pakaian seperti manusia lain pada umumnya, makanlah bersama mereka, tapi menyendirilah karena khawatir keburukanmu.”

Syarat Ketiga, Diam:
Allah SWT berfirman (QS. Al-Ahzab: 30), “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.”

Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya kesalahan terbanyak dari umat manusia berasal dari lisannya. Bagi siapa yang banyak berbicara maka akan banyak kesalahan yang keluar darinya dan akan banyak dosanya.”

Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Siapa yang beriman secara sempurna kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata baik atau diam.”

Sementara ulama hakikat berkata, “Diam adalah sifat dasar (ashlun). Sedangkan bicara adalah sifat yang baru datang (‘arid). Manusia berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama antara bicara atau diam. Akan tetapi yang tepat adalah orang yang mengetahui kapan harus diam dan kapan harus bicara.

Bisyr al-Hafi berkata, “ketika terbersit nafsu untuk bicara, maka diamlah. Sebaliknya, ketika nafsu ingin diam maka bicaralah.”

Dalam al-Manhal Ar-Rawi war-Raiq fi Asanid al-Ulum wa Ushul at-Tharaiq karya Sayyid Muhammad bin Ali As-Sanusi, disebutkan bahwa ada delapan ajaran dalam tarekat Junaidiyyah ini.

Selain tiga hal yang telah disebutkan di atas, lima ajaran lainnya adalah: melanggengkan dzikir, puasa, selalu menegasikan ‘khawatir’ (lintasan hati yang muncul di hati) baik berupa bisikan baik maupun buruk, selalu terhubung dengan Syaikh, dan selalu fokus kepada Allah dan juga Syaikhnya. Wallahu A’lam bis-Shawab.

Oleh: Muhammad Idris
Sumber: alif.id

Komentar
Loading...