Majelis Ikhwan Tarekat Muhammadiyah Gelar Ngaji Tarekat Virtual

Majelis Ikhwan Tarekat Muhammadiyah Sanusiyah Idrisiyah Indonesia menggelar aksi penuh berkah dengan mengadakan “ngaji tarekat”.

Sebelumnya, melalui Wakil Ketua Majelis Ikhwan Indoensia dan Ketua PW Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Drs. KH. Masykur Yusuf, MA. menggelar aksi solidaritas peduli Covid-19. Yang dihimpun dari berbagai dermawan, perseorangan maupun kelembagaan, termasuk di dalamnya solidaritas jamaah tarekat Muhammadiyah.

Sejak wabah covid-19, aktifitas kegiatan keagamaan termasuk pengajian tasawuf sementara ditangguhkan sampai keadaan kembali normal dengan dicabutnya aturan masa PSBB.

Mursyid Tarekat Muhammadiyah Indonesia dan juga selaku ketua MUI Kota Makassar Syekh Puang Dr. K. H. Baharuddin Abduh Al-Shafa, MA. telah mengamanatkan kepada seluruh umat Islam dan khususnya jamaah tarekat. Untuk menaati himbuan fatwa MUI dan pemerintah, serta mengikuti protokoler kesehatan penanggulanagan Covid-19.

Salah satu upaya menghidupkan malam Ramadhan dan sebagai penguatan spiritual jamaah tarekat, maka Ust. H. Muhammad Subhan, S. Ag., M. Pd. I (Ketua Majelis Ikhwan Cabang Wajo) melaksanakan acara “Ngaji Tarekat” Virtual Via Zoom bersama Mursyid Tarekat Muhammadiyah Indonesia dan Ketua JATMAN Sulawesi Selatan, pada Malam Rabu pukul 21.00 Wita, tanggal 12 Mei 2020 M/ 20 Ramadhan 1441 H.

Syekh Puang menjelaskan:

  1. Talqin dalam dunia tasawuf memiliki dasar dalam ajaran agama Islam. Pelaksanaan talqin dapat dilakukan secara perorangan maupun jamaah.
  2. Berbagai macam tarekat mu’tabarah merupakan upaya menyusun sebuah jalan untuk sampai kepada Allah Swt.
  3. Pada dunia tasawuf dikenal istilah-istilah tertentu dan memiliki makna khas, misalnya istilah syari’, thariq dan suluk. Begitu pula istilah pengikut pengamal tasawuf, dikenal dengan istilah sufi, mutasawwif dan mustaswif.
  4. Yang perlu dikhawatirkan adalah kalangan mustaswif (sufi gadungan), karena menciptakan dirinya seperti sufi dengan tujuan memperoleh keuntungan materi, uang, kekayaan, kekuasaan, popularitas, namun tidak memiliki pengetahuan mengenai kemurnian (safa) dan tasawuf.
  5. Tarekat-tarekat mu’tabarah pada esensinya memiliki kesamaan pada aspek amaliyah maupun ketersambungan sanad. Aspek kesamaan amaliyah dapat dilihat dari wirid-wirid tarekat yang mengharuskan membaca istigfar, tahlil dan salawat. Persamaan tersebut karena berasal dari sumber yang sama, yaitu Rasulullah Saw.
  6. Perbedaan kasyf pengalaman ruhani setiap pengamal tarekat dan ulama-ulama sufi bukti Allah Maha Kaya.
  7. Syariat tanpa hakikat maka sia-sia (kosong/ hampa), dan hakikat tanpa bersyariat maka batal (tidak sah). Kombinasi kesesuaian tuntunan syariat (fiqih) dan ikhlas merupakan syarat diterimanya amal. Kajian bab ikhlas tidak ditemukan pada pasal fiqih, namun ikhlas dirinci pada bab tasawuf.

Ucapan terima kasih kepada Mursyid tarekat Muhammadiyah Indonesia, Ketua JATMAN Sulawesi Selatan, Prof. Wahyuddin Halim, Ph.D., Imam Besar Masjid Al-Markaz al-Islami, Ketua IPIM Sulsel, Majelis Ikhwan Cab. Wajo, PCNU LUTRA, dan seluruh jamaah tarekat Muhammadiyah yang menyukseskan dan mengikuti “Ngaji Tarekat”.

“Selama masa PSBB, insyaAllah ngaji tarekat virtual akan berlanjut”, tutur Ketua Majelis Ikhwan Cab. Wajo.

Kontributor: Hardianto (Anggota Majelis Ikhwan Tarekat Muhammadiyah Sanusiyah Idrisiyah)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...