Connect with us

Artikel

Mahabbah dan Pecandunya

Published

on

Mahabbah berasal dari kata dasar hubbu yang berarti cinta. Kalimat tersebut mengandung kata ha’ dan ba’. Ada yang mengatakan bahwa hubbu diambil dari kata Habab yaitu gelembung yang selalu berada di atas air. Yang dimaksud adalah bahwa cinta menempati posisi paling tinggi di hati. Ada pula yang mengatakan berasal dari kata Al Habbu yang berarti anting-anting. Disebut demikian karena model anting yang menggantung seperti keadaan seorang pecinta yang menemui kegelisahan. Selain itu kata hubbu juga bisa berasal dari kata hibban untuk yang artinya biji kecil di padang pasir. Maksudnya bahwa cinta adalah cikal bakal tumbuhnya kehidupan.

Adapun dasar-dasar mahabbah adalah sebagai berikut:

– Allah Swt. Berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى ٱللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”

Maqam Mahabbah dipopulerkan oleh Rabiah Al-Adawiyah. Meskipun Bukan pencetusnya, tapi Rabiah mampu membawa eksistensi Mahabbah lebih unggul daripada Ja’far Shadiq sang pemilik konsep Mahabbah. Keunggulannya bahwa ia adalah salah satu Sufi perempuan yang memiliki derajat lebih tinggi dari Sufi lain pada zamannya. Rabiah mendapat julukan “Mahkota Kaum Pria” (Taj Al Rijal) karena ia terjaga dari sifat-sifat yang merendahkan martabatnya sebagai perempuan.

Rabiah terlahir dari keluarga yang miskin. sejak kecil ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya kemudian dijual sebagai budak yang sangat murah sehingga harus melewati kehidupan yang sangat keras dan pahit. Meskipun demikian, Allah memberinya anugerah untuk mengamalkan kezuhudan dan tidak ada keterikatan dengan materi duniawi. Pada suatu hari ia bermunajat kepada Allah. Tanpa ia sadari tuanya telah memerhatikannya. Keesokan harinya itu merdekakan dan kemudian ia hijrah ke Mekkah. Menurut riwayat ketika ia di Mekkah, iya bertemu dengan Ibrahim Al Adham dan keduanya saling berdiskusi sehingga dari sini Rabiah digambarkan sebagai sosok yang telah mengalami pengalaman cinta kepada Allah.

Rabiah sebagai Sufi wanita dideskripsikan sebagai wanita yang tidak ingin membagi cintanya kepada siapapun dan hanya menginginkan Allah semata serta memilih tidak menikah sepanjang usianya. Semasa hidupnya ia pernah dilamar oleh beberapa laki-laki. Namun ia selalu menolaknya dengan berdalih, “akad nikah adalah milik kemaujudan yang luar biasa sedangkan aku terlepas dari hal tersebut. Aku maujud dalam Tuhan dan sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup dalam naungan firman-Nya. Maka akad nikah seharusnya diminta dari-Nya bukan dariku.”

Kesetiaannya yang luar biasa terhadap Allah tidak bisa terhianati oleh cinta duniawi semata. Kecintaannya terhadap Allah bukan karena menginginkan surga dan bukan pula karena takut neraka. Cinta seperti inilah yang oleh M. Smith juga disebut cinta tanpa pamrih.

Dalam syairnya Rabiah bersajak:

“Sendiri daku bersama cintaku

Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang

Melimpahkan karunianya atas doaku

Memahkotaiku, enyahlah yang lain, sirna

Antara takjub atas Keindahan dan Keagungan-Nya

Dalam semerbak tiada tara

Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu

Kusaksikan yang datang dan pergi dalam kalbu

Lihat, dalam wajah-Nya

Tercampur segenap pesona dan karunia

Seluruh keindahan menyatu dalam wajah-Nya yang sempurna

Lihat dia, yang akan berkata “Tiada Tuhan selain Dia dan Dia-Lah yang paling mulia.”

Pada bait-perbait sajak di atas, Rabiah tidak henti-hentinya memuji Tuhan yang telah bersemayam pada dirinya sehingga tidak ada sedikitpun celah bagi makhluk. Dalam syair itu tabir ketuhanan telah tersingkap dan Rabiah asik bermadu kasih dengan Tuhan. Dari kalimat yang diungkapkan ia menunjukkan betapa ia menikmati kondisi tersebut. Lalu mana mungkin cinta yang sedemikian agung akan terkalahkan oleh cinta duniawi.

Dari konsep Mahabbah Rabiah mengajarkan bahwa cinta dan ujian adalah satu kesatuan. Tidak akan merasakan cinta jika tidak menemui ujian dan kesakitan serta tidak akan pernah merasakan ujian terdahsyat jika belum pernah mencintai secara total. Maka, hendaklah melihat ujian melalui kacamata cinta agar keduanya dijalani dengan ketulusan.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum. (adalah Kader MATAN DKI Jakarta dan merupakan mahasiswi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Artikel

Macam-macam Shalawat dan Keutamaannya

Published

on

Shalawat dan Keutamaannya

Bershalawat kepada Nabi Muhammad adalah salah satu bukti cinta kepadanya dan bernilai ibadah, Bahkan dalam Surat Al Ahzab ayat 56 Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, Bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”

Sementara itu, shalawat yang kita kenal sampai hari ini banyak sekali jumlahnya dan sangat beragam faedahnya. Beberapa shalawat yang sering kita baca berikut faedahnya:

Shalawat Munjiyat

Keagungan shalawat munjiyat sama seperti setengah dari besarnya arasy. KH. Musta’in Ramli, Khadim Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dalam kitabnya, Al Risalah al Khawashiyyah menjelaskan keutamaan shalawat munjiyat yaitu:

“Barangsiapa yang membaca shalawat munjiyat pada tengah malam sebanyak 1000 kali, kemudian memohon kepada Allah Swt. apapun yang yang menjadi kebutuhannya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, maka insyaa Allah keinginannya akan segera terkabulkan”

Berikut adalah lafaz shalawat Munjiyat:

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْآفَاتِ، وَتَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ، وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ، وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِيْ الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allāhumma shalli ‘alā Sayyidinā Muhammadin wa ‘alā āli Sayyidinā Muhammadin shalātan tunjīnā bihā min jamī’il ahwāli wal āfāt wa taqdhī lanā bihā jamī’al hājāt wa tuthahhirunā bihā min jamī’is sayyiāt wa tarfa’unā bihā ‘indaka a’lad darajāt wa tuballighunā bihā aqshal ghāyāt min jamī’il khairāti fil hayāti wa ba’dal mamāt

Artinya: “Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan shalawat itu, Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan dari semua cobaan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengabulkan hajat kami; dengan shalawat itu, Engkau akan menyucikan kami dari segala keburukan; dengan shalawat itu, Engkau akan mengangkat kami ke derajat paling tinggi; dengan shalawat itu pula, Engkau akan menyampaikan kami kepada tujuan yang paling sempurna dalam semua kebaikan, ketika hidup dan setelah mati.”

Shalawat al-Fatih

Shalawat al fatih bisa menjadi wasilah bagi siapapun yang membacanya, baik untuk memperbaiki kehidupannya ataupun sebagai doa agar hajatnya terkabul. KH. Muhammad Ma’ruf Zuhdi, Pengasuh Pondok Pesantren Khadijatul Kubra, Tuban mengatakan salah satu keutamaan shalawat al fatih yaitu bisa segera dipertemukan oleh jodohnya sebagaimana dawuhnya:

“Apabila ada seseorang yang ingin segera dipertemukan jodohnya, maka bacalah shalawat al fatih sebanyak 100 kali setiap pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi selama 41 hari berturut-turut, maka Insya Allah jodohnya akan segera dipertemukan.

Berikut adalah lafaz shalawat al-Fatih:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca ‘shirātikal mustaqīm’). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.  

Artinya :“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Shalawat Nariyah

Shalawat ini mungkin tidak asing lagi dikalangan pecinta shalawat karena sering sekali dibaca baik dikalangan orang dewasa sampai anak kecil.

KH. Musta’in Ramli menjelaskan, “Barangsiapa membaca shalawat nariyah sebanyak 10 kali setelah shalat fardhu dan tidak pernah terputus, maka akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah Swt dan dimudahkan dalam mencari rizki. Jika dibaca sebanyak 40 kali setelah shalat subuh tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud. Jika dibaca sebanyak 100 kali setiap hari tanpa putus, maka apa yang diharapkannya akan segera terwujud lebih cepat. Jika dibaca sebanyak 313 kali setiap hari tanpa putus, maka dapat mempertajam mata hati. Jika dibaca 1000 kali setiap hari tanpa putus, maka akan mendapatkan karamah dari Allah Swt.

Berikut adalah lafaz shalawat nariyah:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Allāhumma shalli shalātan kāmilatan wasallim salāman. Tāman ‘alā sayyidinā Muhammadi llādzi tanhallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu. Wa tuqdhā bihil hawāiju wa tunna lu bihirragha ibu wa husnul khawātimi wa yustasqal ghamāmu biwajhihil karīm wa ‘alā ālihī wa shahbihī fī kulli lamhatin wa nafasim bi’adadi kulli ma’lu min laka.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau”

Shalawat Tibb Qulub

Shalawat tibb qulub secara bahasa adalah obat hati. Shalawat ini bisa menjadi bentuk ikhtiar untuk menyembuhkan segala macam penyakit, baik penyakit jasmani maupun rohani karena sejatinya yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah Swt.  

Habib Sagaf Baharun mengisahkan keutamaan shalawat tibb qulub melalui walitullah dari Mesir yaitu Imam Dardiri, ia berkata: Imam Dardiri adalah seorang wali di Mesir yang membaca shawalat tibb qulub 4000 kali, dalam riwayat lain sebanyak 400 kali. Atas wasilah tersebut, penyakit apa aja selain kematian akan sembuh.

Habib Abdurrahman Bilfaqih juga menceritakan, “Dari Habib Anis Lawang yang ketika itu hadir di 7 hari wafatnya ayah saya, ia mengatakan bahwa dulunya ia adalah seorang pedagang. Ketika ia berusia 9-10 tahun, ia dibawa oleh ayahnya kepada Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih. Ayahnya meminta ijazah shalawat dan diberikan shalawat tibb qulub untuk dibaca sebanyak 313 kali. Peristiwa ini membekas di hati Habib Anis dan diamalkan. Ketika rambutnya mulai memutih, pada suatu hari ia diundang untuk berceramah. Meskipun tidak memiliki kemampuan berceramah, karena berniat membahagiakan orang lain, ia menyanggupi. Sewaktu berceramah, hadirin yang datang menangis mendengar ceramah beliau karena merasuk ke hati mereka. Kejadian itu berulang setiap kali ia berceramah. Menurutnya, Ini adalah barakah ijazah Imam Al Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih yang dilakukan dengan istiqamah.

 Berikut adalah lafaz shalawat tibb qulub:

أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا وَعَافِيَةِ الأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا وَنُوْرِ الأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا وَعَلَى آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Allāhuma shalli ‘alā sayyidinā Muhammadin thibbil quluubi wadawā-iha wa‘āfiyatil abdāni wasyifā-ihā wanuuril ab-shāri wadhiyā-ihā wa’alā ālihī washahbihī wasallim.

Artinya: “Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, nabi Muhammad saw, yang dengan berkat baginda, Engkau menyembuhkan hati, menjadi penawar dan menyehatkan tubuh juga memberi kesembuhan penyakit, serta mengurniakan cahaya penglihatan. Dan karuniakanlah rahmat keberkatan dan kesejahteraan keatas keluarga dan sahabat baginda Nabi saw.”[Khoirum Millatin]

Continue Reading

Artikel

Juru Kunci Makam, Gus Dur: “Makam Sunan Kalijaga yang Asli Ada di Tuban”.

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga adalah satu dari sembilan wali penyebar Agama Islam di tanah Jawa. Sebagaimana diketahui oleh kebanyakan orang di Indonesia, bahwa ia dikebumikan di Kadilangu, Demak. Namun berdasarkan bukti sejarah lain, terdapat makam serupa atas nama Sunan Kalijaga yang terletak di Desa Medalem, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban. Makam ini berada di tengah sawah dan agak jauh dari pemukiman penduduk.

Menurut Abdul Ghani, juru kunci setempat, keberadaan Makam Sunan Kalijaga atau dengan nama asli Raden Syahid sebelumnya tidak diketahui sama sekali oleh warga. Makam tersebut pertama kali ditemukan oleh Mulyadi yang membangun sebuah gubuk di tengah sawah untuk ditinggali. Suatu malam ia didatangi seorang lelaki berbaju serba hitam dengan mengatakan, “jika anda ingin kembali hidup enak, maka peliharalah Makam Sunan Kalijaga.” Lelaki tersebut kemudian mengajaknya ke komplek Makam Ploso 9 dan menunjukkan letak Makam Sunan Kalijaga. Sejak hari itu, Mulyadi rutin berziarah setiap setelah Salat Isya kurang lebih selama satu tahun.

Karena penasaran dengan apa yang dialaminya, Mulyadi lantas menceritakan hal tersebut kepada gurunya, Kiai Jubaidi Tuban. Kiai Jubaidi yang tidak mengetahui apapun perihal makam itu kemudian mengajaknya sowan kepada Kiai Hamid Pasuruan. Kiai Hamid membenarkan adanya Makam Sunan Kalijaga di Desa Medalem. Bahkan, sebelumnya Kiai Hamid pernah menyepi di tempat itu selama satu minggu.

Selanjutnya, pada tahun 1979, Kiai Hamid memberikan nama tempat tersebut dengan “Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko” yang kemudian diresmikan oleh Kiai Jubaidi. Nama Moroteko diambil karena makam yang sebelumnya tidak ada, kini menjadi ada. Awalnya, makam tersebut ingin dipopulerkan oleh pihak juru kunci tetapi tidak diizinkan oleh Pemerintah Orde Baru karena khawatir menimbulkan konflik dan kebingungan disebabkan sudah lebih dulu ada nama Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.

Sebelum diberi nama Makam Sunan Kalijaga Raden Syahid Moroteko, komplek makam ini bernama Makam Ploso 9. Nama ini berasal dari adanya sembilan pohon ploso yang terletak di area pemakaman. Adapun sembilan pohon ploso dimaknai sebagai sembilan wali yang juga tumbuh di komplek pelataran makam lainnya yakni di Sebelah Barat Makam Sunan Kalijaga yaitu Syeikh Badawi, Kyai Abdurrahman, Dewi Amirah (Istri Sunan Kalijaga), Abdul Aziz Abdul Basith (Saudara Syeikh Abdul Jabbar Nglirip), Mpu Supo (Adik Ipar Sunan Kalijaga yang juga pembuat keris), Patih Wonosalam dan Abdul Qadir (Putera Raden Patah). Adapun 1 Km dari lokasi tersebut ada Makam Dewi Rosowulan atau Nyai Tembogo yaitu adik Sunan Kalijaga.

Pada tahun 1999, ketika Gus Dur hendak mencalonkan diri sebagai Presiden RI, Ia beserta rombongan dari Surabaya hendak menuju ke Demak. Di Tengah perjalanan ia mampir ke Tuban untuk mengunjungi Gus Riyad putra KH. Moertadji yang kemudian mengantarkan Gus Dur berziarah ke Kadilangu, Demak. Ketika di sana, Gus Dur mendapat petunjuk bahwa jika ia ingin negaranya tentram dan aman, maka ia harus berziarah ke Makam Sunan Kalijaga yang ada di Tuban. Dengan diantar Gus Riyad, untuk pertama kalinya, Gus Dur menziarahi makam tersebut pada 17 ramadhan 1999 dan mengatakan bahwa Makam Sunan Kalijaga yang asli berada di Tuban. Adapun yang di Demak adalah petilasannya.

Setelah terpilihnya Gus Dur menjadi Presiden RI pada tahun 1999, makam ini mulai dibuka secara terang-terangan dan sedikit demi sedikit mengalami perbaikan. Dan pada awal tahun 2021, pengusaha asal Banten yang berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat merombak seluruh bangunan makam dan merenovasinya menjadi seperti sekarang ini. Setiap harinya, selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke makam. Rata-rata berasal dari Jawa Barat dan Yogyakarta yang biasanya datang pada malam Jumat Legi. Sedangkan dari Jawa Timur kebanyakan peziarah berasal dari Sidoarjo, Pasuruan, Ponorogo dan Madiun.

Sebelum mengakhiri pembicaraan, juru kunci memberikan ijazah yang ia dapatkan langsung dari Sunan Kalijaga melalui mimpi, “Apabila ingin terkabul segala hajatnya, maka bacalah Ya Qahhar dan Ya Jabbar, masing-masing sebanyak sebelas kali sehabis Salat Magrib atau Salat Isya’”.

Wallahu a’alam.

Continue Reading

Artikel

Syeikh Marwani Angin; Ulama Kharismatik Asal Rancailat, Tangerang

Oleh: Khoirum Millatin, S.Hum

Published

on

Syeikh Marwani

Rancailat adalah nama desa yang terletak di perbatasan Kecamatan Kresek dan Kronjo. Nama tersebut berasal dari kata “Ranca” yang berarti Rawa dan “Ilat” yang berarti lidah. Pemberian diksi “Rawa” ditafsirkan sebagai kobangan air yang disekitarnya dipenuhi flora dan fauna.

Desa Rancailat terbagi menjadi beberapa kampung seperti Kampung Kandang, Pecung, Tonjong, Bojong, Cayur dan Rancailat Utara. Cikal bakal Desa Rancailat ada di kampung Rancailat Utara yang tepat berada di ujung utara Desa Rancailat. Pemberian nama desa tersebut juga berkaitan dengan letak wilayahnya yang dikelilingi oleh sawah. Sehingga, desa ini diumpamakan seperti lidah dan giginya sebagai sawah. Jadi, Desa Rancailat adalah gambaran lidah yang dikelilingi oleh gigi.

Legenda Musafir Sakti yang Dikecewakan

Ada semacam legenda di desa ini yang menyebabkan rasa air di Desa Rancailat menjadi asin dan hambar. Zaman dahulu ada seorang musafir beristirahat di Desa Rancailat. Ia merasa sangat lapar dan haus. Ia meminta makanan warga setempat tetapi warga disana tidak ada yang memberinya makan dan minum sedikitpun. Akhirnya dengan rasa kesal dan amarah musafir itu mengutuk seluruh penduduk Desa Rancailat agar terjadi kemarau sehingga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Kemudian lambat laun, sedikit demi sedikit mata air di Desa Rancailat mulai mengucur. Sayangnya, rasa air tersebut telah berubah menjadi asin dan hambar. Di sisi lain, secara geografis, rasa air yang asin itu sangat wajar karena jarak antara Desa Rancailat menuju laut lumayan dekat sebagaimana tempat wisata dan ziarah Pulo Cangkir dan Tanjung Kait.

Syeikh Marwani; Ulama Besar Setempat yang dilupakan Generasi Milenial

Wilayah Desa Rancailat menurut penduduk setempat adalah wilayah agamis. Banyak sekali hal-hal menakjubkan yang terdapat di sini diantaranya adalah cerita tentang Syeikh Marwani Angin. Menurut cerita, Syeikh Marwani tidak memiliki garis keturunan yang istimewa. Namun berkat ketaatannya yang dalam serta tirakatnya yang kuat, Syeikh Marwani menjadi salah satu ulama hebat di wilayahnya pada masa itu.

Syeikh Marwani hanyalah rakyat biasa yang seumur hidupnya tidak pernah makan nasi. Ia hanya memakan oncom tanpa garam yang dibungkus dengan aci sebagai pengganti makanan pokoknya. Perjalanan rohaninya bermula ketika ia frustasi disebabkan kematian anaknya yang tercebur sumur. Setelah itu, ia memutuskan untuk melalang buana hingga wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Ia sempat dianggap gila oleh sebagaian penduduk setempat. Namun kenyataannya yang mengatakannya gila justru kehidupannya tidak berkah. Menurut informasi, apa yang pernah ia ucapkan dulu, kini menjadi kenyataan. Konon, ketika ia dan rombongannya kehujanan dalam suatu perjalanan, baju orang-orang yang ikut serta basah karena kehujanan, sedangkan ia tidak.

Dalam mengemban misi dakwah, ia mendirikan Masjid Al-Aqsha dengan usahanya sendiri tanpa meminta sepeserpun dari warga. Demikian juga warga setempat, tidak ikut menyumbangkan hartanya untuk membangun masjid ini. Padahal selama hidupnya, ia hanya tinggal di sebuah gubuk. Masjid Al-Aqsha mulai dibangun pada tahun 1990 dan selesai dibangun pada tahun 2002. Masjid ini berasitektur Arab-Jawa.

Syeikh Marwani wafat pada tahun 2007 dan dimakamkan di bangunan yang berseberangan dengan Masjid Al-Aqsha yang berdekatan dengan kediaman keluarga. Sampai saat ini, setiap malam jumat banyak sekali jamaah yang menziarahi pesareannya. Menurut cerita, siapa saja yang memiliki masalah kehidupan kemudian dan datang bertaqarrub serta melaksanakan shalat di lima masjid di Rancailat yang salah satunya adalah Masjid Al-Aqsha ini, maka Insyaa Allah permasalahannya akan segera terselesaikan.

Berdasarkan cerita lain, ada tamu dari Arab yang mengaku bertemu dengan Syeikh Marwani dan diminta untuk datang ke Desa Rancailat. Padahal pada waktu itu sang ulama sudah meninggal. Wallaahu a’lam.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending