Connect with us

Berita

Launching Internasional Jurnal Islam Nusantara

Published

on

Jakarta, JATMAN.OR.ID – Peluncuran internasional secara virtual ISLAM NUSANTARA Journal for the Study of Islamic History and Culture Fakultas Islam Nusantara – Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta Selasa malam (27/10) berlangsung meriah. Peluncuran dipusatkan di kampus UNUSIA Matraman Jakarta Pusat namun secara virtual diikuti peserta dari banyak negara, khususnya Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di seluruh dunia.

Peluncuran bertajuk Islam Nusantara and the Challenge of World Peace menghadirkan tiga pembucara luar negeri dari Teheran, Maroko dan Berlin. Mereka adalah Prof. Dr. Maryam Ait Ahmad: Senior Lecturer at Ibnu Thufail University Morocco dan Chairwoman Indonesian-Moroccan Brotherhood. Kemudian Prof. Mahmoodreza Esfandiar: Professor of Department of Southeast Asian Studies, Encyclopedia Islamica Foundation, Tehran dan Concellor of Islamic Azad University, Tehran, Islamshahr Branch, Iran, serta Prof. Saskia Schaefer, Senior Researcher at Humboldt-Universtat zu Berlin, Jerman.

Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj bertindak sebagai keynote speakers sedangkan Ulil Abshar Abdalla sebagai moderator. Jugamemebrikan sambutan Editor-In Chief junal Dr. Ahmad Suaedy dan memberikan sambutan Rektor UNUSIA, Profesor Maksoem Mahfoed.  Dalam orasinya kyai Said Aqil i menegaskan, bahwa Islam Nusantara (IN) bukanlah agama baru, bukan madzhab, dan bukan aliran keagamaan tertentu. IN adalah Islam yang secara khusus berkembang di negeri Nusantara. Agama yang menebarkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin yang dalam prakteknya bisa harmoni dengan tradisi lokal dan adat-istiadat masyarakat di Nusantara. Menurutnya, IN bisa menjadi “kiblat” peradaban dunia, karena ia menebarkan nilai-nilai Islam yang damai, harmoni dan toleran guna terciptanya perdamaian di seluruh dunia.

Melalui orasinya, Prof. Dr. Maryam Ait Ahmad menyampaikan beberapa hal: Pertama, gagasan IN yang dikenalkan oleh umat Islam Indonesia dapat memainkan peran penting untuk menjaga perdamaian dan membawa Islam yang berwawasan rahmat di tingkat dunia. Asal dengan syarat, yaitu kemampuan untuk “tawassu’ fil mafahim“, kemampuan memperluas horison konseptual, sehingga terjadi dialog dengan berbagai cara pandang, paradigma dan konsep dari berbagai benua. Menurutnya, IN tidak menyimpang dari ajaran Islam. Sebab, IN adalah Islam yang mempromosikan perdamaian dan kasih sayang. Islam yang menekankan hidup damai bersama liyan (al-ta’ayusy ma’al akhar). Dan Islam yang menerima dan mampu beradaptasi dengan keragaman budaya. Ini semua tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran utama Islam.

Mahaguru dari Universitas Thufail ini juga mengagumi pemikiran dari Kiai pendiri NU, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan menyatakan, saya sangat terkesan dengan ajaran Kiai Hasyim Asy’ari, “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman). Negeri-negeri Islam sekarang ini sedang menghadapi tiga isu besar; perpecahan nasional (furqah), kebodohan (jahl), dan kemiskinan (faqr). Dalam konteks nasionalisme, ajaran ini sungguh relevan dengan tantangan di atas. Dengan tambahan konsep lain yang saya usulkan, “hubbul ‘amal minal iman” (cinta kerja adalah bagian dari iman), dan ajaran Kiai Hasyim tadi dapat membantu kita mengatasi tiga tantangan tersebut. Seperti munculnya ancaman perpecahan nasional (furqah) karena munculnya gerakan-gerakan keagamaan garis keras, tentu dapat diatasi dengan ajaran Kiai Hasyim tentang cinta tanah air ini.

Sebelum mengakhiri sambutannya Prof Maryam kembali menegaskan bahwa selama ini, para ulama (kiai) Indonesia banyak belajar dari ulama dari dunia lain, terutama ulama Arab. Sekarang sudah saatnya ulama Indonesia menyumbangkan ilmu ke dunia, dan mengajari dunia lain dengan cara “ta’shilul ‘ulum“, memproduksi pengetahuan-pengetahuan otentik berdasarkan pengalamannya sendiri.

Sementara itu, Prof. Mahmoodreza Esfandiar menyampaikan pandanganya sebagai berikut; Pertama, perkembangan Islam di kawasan Melayu-Nusantara ditandai dengan fenomena penting, yaitu fusi atau percampuran dengan tradisi-tradisi lokal yang dipengaruhi oleh agama-agama yang datang sebelumnya. Peran dakwah Islam yang dilakukan oleh para wali sangat penting dalam memfasilitasi adanya fusi tersebut. Dengan adanya fusi ini, Islam kemudian diterima dengan mudah di kawasan ini.

Kedua, harus diakui bahwa peran sufisme juga besar dalam penyebaran Islam di kawasan Nusantara. Di kawasan ini pula telah berkembang sejumlah tarekat, seperti Qadiriyyah, Syadziliyyah, Naqsyabandiyyah, dan lain sebagainya. Tarekat ini telah membantu lahirnya visi Islam yang berwawasan kasih sayang dan rahmat. Terakhir dia menegaskan bahwa IN akan berhasil memperjuangkan visinya asalkan tetap berjalan di koridor dakwah kebudayaan, tidak tergoda dengan kepentingan politik.

Sebagai pembicara terakhir pada International Launching adalah Prof. Saskia Schaefer, seorang peneliti senior asal Jerman yang telah melakukan riset di Indonesia. Dalam orasi pada Selasa malam kemarin dia menyatakan, bahwa IN memiliki arti penting pada tiga level sekaligus: internasional, nasional, dan lokal. Pertama, yaitu pada ranah internasional, IN memiliki arti penting dalam aspek yang ingin saya sebut “balancing act“, tindakan menyeimbangkan. Selama ini, yang paling sering dilihat di tingkat internasional adalah Islam di kawasan Timur Tengah. IN berusaha membuat praktek Islam yang sudah berlangsung selama ratusan tahun di kawasan Nusantara agar terlihat oleh dunia luar (making Islam in nusantara land visible). Ini tentu poin pentingnya, agar yang dilihat oleh Barat tidak hanya Islam di kawasan Arab. Kehadiran IN adalah “tindakan menyeimbangkan”.

Selanjutnya, pada ranah nasional, kehadiran IN juga penting. Hadirnya demokrasi di dunia Islam melahirkan apa yang disebut “Islamist majoritarian“, yaitu gerakan-gerakan Islamis (gerakan yang ingin mempromosikan Islam sebagai ideologi, bukan sekedar ajaran agama) yang menganut pandangan “mayoritanianisme”, pandangan yang hendak mendasarkan negara pada pandangan kaum mayoritas, tapi dengan mengabaikan atau malah menyingkirkan kepentingan minoritas. IN membawa wawasan lain yang tidak mayoritarian, karena visinya tentang Islam sebagai dasar pemebentukan komunitas budaya, bukan ideologi politik.

 Terakhir, yaitu pada ranah lokal, IN juga memiliki peran penting. Setelah memasuki demokrasi, terjadi kompetisi antar para pemilik otoritas agama untuk memperebutkan hak mendefinisikan apa itu Islam. Justru di sini kehadiran IN penting untuk memgimbangi gejala kompetisi seperti yang tersebut ini, sebab ada kelompok-kelompok yang hendak memonopoli hak untuk mendefinisikan Islam.

Demikan poin-poin pemikiran yang dapat dirangkum dalam acara webinar terkait agenda “International Launching of Islam Nusantara Journal for study of Islamic history and culture” yang diselenggarakan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta.

Jakarta, 28 Oktober 2020

Oleh: Ahmad Suaedy

Continue Reading

Berita

Perkuat Tim, JATMAN Online Adakan Pelatihan Desain Poster

Published

on

By

desain

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Tim redaksi JATMAN Online mengadakan pelatihan Desain Poster Dasar untuk para desainer relawan yang tergabung dalam Media Center JATMAN secara daring, Rabu malam, 25/11.

Ini adalah pelatihan ke-2 dari rangkaian pelatihan yang diselenggarakan JATMAN Online dalam rangka memperkuat pengelolaan media. Pelatihan pertama yang sudah dilakukan minggu lalu adalah tentang penulisan jurnalistik dasar bersama wartawan senior alumni Kantor Berita Antara.

desain

Kali ini mengangkat tema mendesain poster dengan cara mudah bagi pemula. Tema ini disampaikan dengan apik oleh Wakil Pemimpin Redaksi JATMAN Online, Mas Anam Addimaky. “Malam ini kita akan belajar menggunakan aplikasi Canva dan beberapa aplikasi pendukung lain untuk membuat poster,” terang Mas Anam.

Pelatihan ini diikuti sebanyak 23 peserta dari berbagai daerah yang tergabung sebagai desainer relawan JATMAN Online. Peserta cukup antusias mengikuti sessi sampai akhir. Banyak pertanyaan diajukan dan Mas Anam melahapnya dengan mudah.

desain

“Semoga pelatihan ini dapat secara signifikan memperkuat tim pengelola portal berita JATMAN Online dan kemudian melahirkan banyak karya desain yang dibutuhkan,” harap Pemimpin Redaksi JATMAN Online, Muhammad Sutan Majolelo.[Af]

Continue Reading

Berita

Mengenang Pecinta Para Habib; Kyai Abdullah Saad

Published

on

By

KH. Abdullah Saad
Ketua Umum MATAN, DR. Hasan Chabibie, M.Si., di depan makam KH. Abdullah Saad.

Solo, JATMAN.OR.ID: Selasa, 17 November 2020, seorang Kyai, Pengasuh Pondok Pesantren al-Inshof, Solo, seorang murid kinasih Abah, seorang sahabat dan pengurus Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN), KH. Abdullah Saad dengan tenang menghadap Sang Kekasih.

Kita semua, baik selaku santri beliau, sahabat beliau seperjuangan di MATAN terhenyak mendengar kabar kepergian beliau. Betapa Kyai muda ini begitu cepat dipanggil Allah, Sang Pemilik Ruh.

Kita Sangat Kehilangan

Sabtu malam, 21 November 2020, MATAN Indonesia menggelar acara dengan tema Tahlil untuk Pecinta Haba’ib; KH. Abdullah Saad. Tahlil yang dipimpin langsung oleh Sekjend MATAN, Gus Rosyid, diikuti dengan khidmat oleh puluhan jamaah yang hadir secara daring.

Usai tahlil, satu persatu pengurus MATAN dan sahabat terdekat Yai Saad pun tak kuasa menahan cerita. Semuanya ingin mengenang waktu saat bersama beliau. Demikian pula Ketua Umum MATAN, Gus Hasan, mengawali ceritanya yang hanya beberapa saat bersama almarhum mengenang.

“Apapun, perintahkan kepada saya Gus, akan saya laksanakan,” kenang Gus Hasan menirukan permintaan almarhum saat bertemu pada Silatnas MATAN di Makassar waktu lalu. Kenangan singkat yang sangat sarat makna dan tauladan, tambahnya.

Tidak mau kalah, Kang Syukron Makmun, seorang pengurus teras MATAN dari Cirebon juga menceritakan kenangannya. Pesan yang paling saya ingat dari almarhum adalah nasihat tentang ketaatan kepada pemimpin. “Ketua yang restui siapa? Abah. Berarti perintah Ketua adalah perintah Abah, maka lihat sebagai Abah yang memberikan perintah,” paparnya menirukan.

KH. Abdullah Saad

Gus Dulloh, demikian almarhum dipanggil semasa hidupnya adalah murid kesayangan Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Beliau dikenal sangat senang membantu haba’ib. Tidak sedikit haba’ib dibuatkan tempat tinggal dan majelis untuk mengaji. Almarhum orang yang murah tangan membantu, terutama kepada dzurriyyah Rasulullah. Abah sangat sayang kepada almarhum. Setiap kali Abah menyelenggarakan kegiatan, Gus Dulloh tidak pernah absen membantu, dan jumlah bantuannya selalu lebih besar dari bantuan murid Abah yang lain. Sungguh sosok Gus Dulloh yang sarat tauladan. Semoga Allah memenuhi almarhum dengan rahmat di sana, amin.[Af]

Baca berita lain: Ratusan Warga Sindanglaut Laksanakan Shalat Ghaib untuk KH. Abdullah Saad

Continue Reading

Berita

132 Kader MATAN Menjadi Relawan Pustaka

Published

on

By

Jakarta, JATMAN.OR.ID: Sebanyak 132 orang mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (MATAN) mendaftar sebagai relawan pustaka pada perpustakaan digital JATMAN yang baru dibangun.

“Pustaka Digital JATMAN ini merupakan program kerja jangka panjang JATMAN Online dalam rangka mewujudkan visi menjadi referensi utama dan pertama tasawuf di Nusantara,” ungkap Muhammad Afdhol, inisiator pembuatan pustaka digital JATMAN.

Perpustakaan Digital JATMAN ini dibatasi pada koleksi dengan tema tasawuf dan turunannya. Ia sudah dapat diakses pada link https://pustaka.jatman.or.id. “Beberapa koleksi buku sudah dapat dibaca pengunjung,” imbuhnya.

Seluruh relawan pustaka melakukan inventarisasi koleksi tasawuf, baik koleksi berbahasa Indonesia, Arab maupun Inggris. Buku-buku yang sudah masuk list lalu disubmit ke dalam sistem pengelolaan koleksi. Sistem ini menggunakan aplikasi opensource Senayan versi terbaru yang dirilis oleh Slims.

Dari 132 relawan ini, dibentuk group-group kecil yang menangani bidang-bidang yang berbeda. Mulai dari tim inventarisasi, tim pengetikan dan tim admin yang melakukan submit. “Bila gedung JATMAN nanti sudah memungkinkan dan ruang pustaka juga sudah available, tidak menutup kemungkinan perpustakaan offline juga akan dibangun,” kata Afdhol. Pada waktunya nanti, relawan ini akan dibagi ke dalam beberapa group lain untuk menangani pengadaan buku dan perawatan koleksi.

Untuk menyesuaikan kemampuan relawan pustaka ini, Pengurus Pusat MATAN akan memberikan pelatihan tehnik pengelolaan dan manajemen perpustakaan. “Kita akan carikan narasumber yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan skill dan pengetahuan pengelola perpustakaan JATMAN ini,” dukung Ketua Umum MATAN, DR. Hasan Chabibie, M.Si.[Red]

Continue Reading

Facebook

Trending