Connect with us

Berita

Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Published

on

v

Bogor, JATMAN.OR.ID: Pengasuh Pondok Pesantren Al Rabbani Islamic College Cikeas Bogor Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA, Sabtu (06/02/2021), meluncurkan buku berjudul “Sufisme Jawa Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri”. Buku tersebut berasal dari hasil disertasi Kiai Ali M. Abdillah untuk mencapai gelar doktor di Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatullah, Islamic Studies, Jakarta.

Peluncuran buku ini dilakukan secara hybrid, yakni secara online yang bisa diakses melalui fanspage Facebook al-Rabbani Islamic College. Dan secara offline dilaksanakan di sebelah sebelah Astana Girijaya di kediaman RAy. Hj. Tito Ahdiyat yang merupakan cucu dari Kyai Muhammad Santri.

Acara ini dihadiri oleh keluarga Mangkunegaran dan beberapa budayawan. “Hampir tujuh dekade Kyai Muhammad Santri tenggelam dalam sejarah. Padahal, para tokoh nasional pejuang kemerdekaan Republik Indonesia menjadikan Kyai Muhammad Santri sebagai guru besar mereka.” Ungkap RAy. Hj. Tito Ahdiyat dalam sambutannya sebagai perwakilan dari keluarga Mangkunegaran.

Kyai Santri tokoh tersembunyi yang memiliki peranan penting dalam penyebaran ilmu tasawuf falsafi, sebagai tokoh perlawanan kolonialisme dan tokoh penggerak kemerdekaan (nasionalisme). Melalui buku ini pembaca akan mengenal sosok Kyai Muhammad Santri dan bagaimana ajaran tasawufnya dan perannya dalam melawan kolonialisme hingga Indonesia menjadi negara yang merdeka. Demikian kata pengantar Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA. Dalam buku ini.

Pada buku ini, sejumlah tokoh memberikan apresiasi dan penghargaan. Pertama adalah dari Ketua Umum MUI KH. Miftachul Akhyar. Bahwa, “Dalam mengajarkan Martabat Tujuh, Kyai Muhammad Santri berpegang pada ajaran tasawuf yang mu’tabar dengan praktek syuhud dan istiqamah melaksanakan syariat lahir dan batin. Sehingga terhindar dari pemahaman yang menyimpang (ilhad). Buku ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai ajaran tasawuf dapat menjadi inspirasi dalam membangkitkan semangat nasionalisme dan berkonstribusi dalma membangun umat dan bangsa.”

Sufisme Jawa

Selanjutnya, dari Habib Luthfi bin Yahya Rais ‘Am JATMAN dan Anggota WATIMPRES dalam apresiasi beliau juga memberi semangat kepada generasi penerus bangsa sebagai berikut. “Dengan terbitnya buku ini telah berhasil menguak sejarah dan peran para sufi khususnya Kyai Muhammad Santri cucu Pangeran Sambernyawa yang memiliki andil besar dalam melawan penjajah (kolonial). Para Sufi dalam melawan penjajah menggunakan kebersihan hati dan kejernihan pola pikir dalam menghadapinya. Banyak bukti sejarah para sufi yang berjuang hilang sehingga sulit untuk melacak dan menggali sejarahnya. Padahal para sufi memiliki jasa besar yang dapat dijadikan keteladanan dallam cinta tanah air, cinta bangsa, cinta negara sampai bela negara. Karena itu, membaca buku ini dapat memahami sejarah Kyai Muhammad Santri yang yang bersumber dari manuskrip sebagai salah satu perbendaharaan sejarah sehingga dapat mengangkat ajaran tasawuf Kyai Muhammad Santri. Selain itu, dapat memahami jasa besar Kyai Muhammmad Santri yang ikut berjuang melawan penjajah. Jangan sampai kita sebagai generasi penerus mengecewakan beliau. Terlalu kecil apabila kita mengucapkan terima kasih kepada beliau. Namun tidak ada yang lebih indah dari ucapan terima kasih kepada beliau tanpa kita dapat menterjemahkan, mengaplikasikan, mensosialisasikan ajaran beliau sebagai bekal dalam kehidupan sehari-hari.”

 Tidak ketinggalan, Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin, ”Sufisme Jawa artinya orang Jawa yang mengamalkan ajaran Islam, khususnya tasawuf dan tarekat, tanpa kehilangan identitas Jawanya. Perjalanan sejarah bangsa membuktikan bahwa para guru tasawuf, mursyid thariqah, menjadi simpul perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan menegakkan nasionalisme dan kemerdekaan. Buku ini mengurai dengan baik benang merah itu, khususnya dalam memotret Kyai Muhammad Santri, cucu Pangeran Sambernyawa. Sosok sufi pengikut tarekat Sattariyah dan ajaran Martabat Tujuh yang menjadi tokoh perlawanan terhadap kolonialisme sejak zaman Perang Diponegoro (1825-1830), hingga menjadi tokoh penggerak nasionalisme dan kemerdekaan.”

Buku ini, ungkap penulis, diberi judul “Sufisme Jawa” karena Jawa merupakan bumi spiritual. Selain itu, buku ini mengungkap fakta atas tuduhan bahwa sosok Kyai Muhammad Santri hanya sebuah mitos dengan sumber data yang kuat.

“Sebelum membaca buku ini, baiknya berwudhu dahulu. Sebab buku ini lebih memerankan hati dari pada akal. Juga, agar spirit ruhani dalam buku ini dapat masuk pada diri pembaca. Dan. Jangan buru-buru memahaminya. Kalau tidak paham hari ini, bisa dilanjut besok. Asal Istiqamah lakunya, Insyaallah diberi kemudahan Allah Ta’ala dalam memahaminya.” Berikut tips sebelum membaca buku karya Kiai Ali M. Abdillah yang juga Kaprodi Islam Nusantara Pasca Sarjana UNUSIA.[Silvia Bidayah Nafsani]

Continue Reading

Berita

Idaroh Wustho Jambi Masa Khidmah 2021-2026 Resmi Terbentuk

Published

on

Jambi

Muara Bulian, Jatman.or.id: Sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga (ART) Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah (JATMAN) pasal 29 bahwa Idaroh (kepengurusan-red) Wustho dipilih dalam Musyawarah Idaroh Wustho, maka Nahdliyyin pengamal ajaran thoriqoh di provinsi Jambi menyelenggarakan Musyawarah Idaroh Wustho pada Minggu (25/07), di Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang berlokasi di desa Simpang Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batang Hari, Jambi.

Mengingat belum redanya wabah Covid-19 yang melanda Indonesia panitia pelaksana musyawarah Idaroh Wustho tersebut menerapkan protokol kesehatan yang ketat. ” kami menerapkan prokes sesuai anjuran pemerintah” terang Gus Fathullah, SH. MH. selaku ketua panitia. hal itu terlihat dari adanya pembatasan jumlah peserta dan penempatannya yang sangat menjaga jarak.

Musyawarah Idaroh Wustho dengan agenda tunggal pemilihaan Idaroh Wustho Jambi masa Khidmah 2021-2026 dimulai pada pukul 13.30 WIB, dihadiri oleh utusan dari Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Bungo, Kabulaten Merangin, Kota Madya Jambi dan Kabupaten Batang Hari selaku tuan rumah.

Acara diawali dengan pembacaan Ummul Kitab yang dipimpin oleh KH. Imam Muhtar pengasuh pondok pesantren Al-Quran As-Salafiyah, Talang Belido, Muaro Jambi. dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua panitia pelaksana. Gus Fathullah, SH, MH dalam sambutannya mengatakan bahwa salah satu yang memotivasinya dalam menyelenggarakan Musyawarah Idaroh Wustho adalah agar para Nahdliyyin pengamal thoriqoh yang ada di propinsi Jambi memiliki forum untuk menjalin ukhuwah. ” Dengan terbentuknya Idaroh Wustho Jambi nanti saya pribadi berharap dan ini tentu harapan kita semua, agar sesama pengamal ajaran thoriqoh memiliki wadah untuk menjalin ukhuwah sehingga ketika ada permasalahan bisa kita cari solusinya bersama” terang tokoh muda NU Batang Hari yang menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Muhajirin tersebut.

Agenda dilanjutkan dengan pemilihan struktur Idaroh Wustho menggunakan metode Ahlul Halli Wal Aqdi(AHWA) yang dipimpin oleh KH. Imam Muhtar. setelah melakukan musyawarah tim 9 AHWA terbentuk lah Idaroh Wustho Jambi masa Khidmah 2021-2026 sebagai berikut:

Majelis Ifta’:

KH. Ahmad Muzakki

KH. Muhammad Royani Jamil

KH. Zaini

KH. Munib Baidhowi


Rois : KH Muhtar Jauhari

Wakil Rois : Drs. H. Abdullah Sani, M.PdI

Mudir : KH. Abdul Latif, MAg

Wakil Mudir : Fathullah, SH. MH.

Katib : Abdullah Umar Lc.

Sekertaris : Irwan.

“Susunan Idaroh Wustho Jambi tersebut akan disempurnakan sebelum dilaporkan ke Idaroh Aliyah. Alhamdulillah Idaroh Wustho Jambi telah terbentuk, secepatnya akan kita sempurnakan, baru nanti lapor ke pusat,” terang Gus Fath. [Syu’aib]

Continue Reading

Berita

Menuju Sinergi yang Berenergi dan Kebersamaan yang Berbarokah

Published

on

Sidrap

Sidrap, JATMAN ONLINE: Pengurus Cabang (PC) MATAN Sidrap mengadakan kunjungan silaturrahmi kepada Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Sidrap, Kamis, 22 Juli 2021.

Dalam kunjungan kali ini diikuti oleh Ust. Hudri Mattaliu, SH. (Ketua PC MATAN Sidrap) dan Muhammad Rusmin Al-Fajr (Pembina PC MATAN Sidrap) bersama kader MATAN dan jama’ah Majelis Futuhiyyah Haqqani. Kunjungan silaturrahmi ini diterima langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Kab. Sidrap, Gurutta Muhammad Yusuf Marjoni, S. Sos.I. di kediaman beliau di Desa Anrelli, Kec. Kulo.

Menurut Muhammad Rusmin, kunjungan silaturahmi ini selain bertujuan untuk semakin menguatkan ukhuwah islamiyah, juga diharapkan kunjungan silaturrahmi dapat menciptakan sinergi dan kebersamaan antara Tanfidziyah PCNU Sidrap dengan Pengurus MATAN secara khusus dan Ahlith Thariqah secara umum. Dengan sinergi akan menciptakan energi, dan dengan kebersamaan akan mendatangkan keberkahan.

Momentum silaturrahmi ini juga dimanfaatkan untuk mengadakan Majelis Dzikir dan Shalawat. Harapannya, semoga dengan lantunan dzikir dan shalawat tersebut dapat mengundang turunnya rahmat dari Allah, berkah dari Rasulullah SAW serta madad dari para Auliya wal mursyidin.[MRF]

Continue Reading

Berita

Menguatkan Dakwah NU dan Tarekat Mu’tabarah

Published

on

Menguatkan Dakwah NU

Makassar, JATMAN ONLINE: Silaturahim terbatas pasca Idul Adha digelar Habib Puang Makka (Rais Awal Idarah Aliyah JATMAN) di Istana Umat Jam’iyah Khalwatiyah Syeikh Yusuf al-Makassari, jalan Baji Bicara Makassar, Sabtu, 24 Juli 2021, Pukul 09. 00 Wita.

Dalam kesempatan ini Hadir Habib Muhammad Rijas As-Segaf Puang Awing (Mursyid Tarekat Khalwatiyah dan al-Muhammadiyah), Syeikh Dr. K. H. Baharuddin Abduh Al-Shafah, MA. (khadim Tarekat al-Muhammadiyah Indonesia), Syeikh Drs. K. H. Sahib Sultan Karaeng Nompo (mursyid tarekat Khalwatiyah Yusufiyah), Prof. Dr. H. Abdul Kadir Ahmad, M.S. APU (mudir Idarah Wustha JATMAN Sulawesi Selatan), Pengurus JATMAN SULSEL, Dr. K. M. Mahmud Suyuti, M. Ag. (Ketua PW. MATAN SULSEL), Dr. H. Kaswad Sartono, M. Ag. (Ketua Tanfiziyah NU Kota Makassar) bersama sekertaris dan jamaah tarekat Khalwatiyah Syeikh Yusuf.

Berkumpulnya para masyaikh tarekat, pengurus PC. NU Makassar dan warga Nahdliyin menjadi simbol kuatnya hubungan lahir dan batin dalam membangun sinergitas dakwah Ahlu Sunnah wal Jamaah dan menguatkan NKRI disetiap lapisan masyarakat SULSEL.

Menguatkan Dakwah NU

“Dahulukan urusan jam’iyah (NU) dari pada duniamu, kalau kamu urus jam’iyah, dunia ikut, jangan dibalik…, Insya Allah kamu tidak jalan sendiri. Ini pula yang telah sampaikan Hadaratus Syeikh K. H. Hasyim Asy’ari dan juga abah saya Sayyid Jamaluddin As-Segaf Puang Ramma (Muassis NU SULSEL),” Tutur Habib Puang Makka.

Membangun sinergitas dakwah ASWAJA di era sekarang ini sangat perlu digaungkan terus menerus di masyarakat, sebagai bekal ber-aqidah, beribadah maupun bermuamalah dengan mengharap kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Bagi warga Nahdliyin yang berkecimpung didunia tarekat mu’tabarah, seluruh bentuk aktivitas ibadah dikuatkan dan dipoles dengan senantiasa ber-ihsan melalui bimbingan mursyid, yang mengantarkan kepada ridha Allah SWT dan Rasul-Nya.

Acara dilaksanakan dengan penuh khidmat dan tetap menjaga protokoler kesehatan. [Hardianto]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending