Portal Berita & Informasi JATMAN

Kyai Asrori Mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsyabandiyah Al Utsmaniyah

0 77

Surabaya – Meninggalnya pimpinan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya, KH Ahmad Asrori al Ishaqi Ra pada Selasa (18/8) dini hari tadi membuat ribuan santri dan jamaahnya kehilangan sosok kharismatik. Tidak sedikit pula yang harus meneteskan air mata.

Hingga berita ini diturunkan, ribuan jamaah dari seluruh pelosok Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong dan Australia masih bertahan di masjid areal ponpes untuk melantunkan doa tahlil dan Yasinan di depan pusara makam Pimpinan Thariqah Qadiriyah Wan Naqsyabandiyah Al Usmaniyah.

Menurut Direktur Pendidikan Ponpes Wisjnubroto ditemui di sela-sela menerima pelayat di kediaman Alm. KH Asrori, Jl Tanah Merah Utara VIII (Kedinding Lor) Surabaya, Selasa (18/8) mengatakan, KH Asrori meninggalkan satu orang istri bernama Hj Sulistyowati dan lima orang anak (2 laki, 3 putri). Yakni, Siera Annadia, Sefira Assalafi, Ainul Yaqien, Nurul Yaqien dan Siela Assabarina.

“Beliau meninggal sekitar pukul 02.00 dini hari tadi dan dimakamkan di dalam serambi masjid kompleks ponpes pukul 10.00. Sebelumnya, mengalami sakit komplikasi dan kanker yang dideritanya selama 4 tahun. Sejak 29 Juli hingga 16 Agustus 2009, beliau dirawat di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya,” jelasnya sebagaimana dilansir.

Berapa usia KH Asrori saat meninggal? Uniknya, tidak ada satu pun kerabat atau orang dekat yang berani memastikan kapan tanggal lahir KH Asrori dan meninggal di usia berapa. Pasalnya, berdasarkan pengakuan salah seorang kerabat yang biasa mengurus paspor, KH Asrori memiliki tiga buah paspor dan tanggal lahir yang berbeda-beda.

“Tapi, yang saya ingat ada salah satu tanggal yakni 17 Agustus 1951. Jadi, beliau meninggal dalam usia 58 tahun,” tutur kerabat yang tak mau disebutkan namanya.

Ponpes Assalafi Al Fithrah, menurut Wisjnubroto, berdiri sekitar tahun 1988-1989. Memiliki santri yang bermukim di areal ponpes sebanyak 1.800 orang putra-putri. Tetapi, di luar ponpes jumlahnya puluhan ribu orang hingga luar negeri.

Keponakan KH Asrori, Melvin menambahkan, seusai acara Haul Akbar di Ponpes Al-Fithrah pada 25-26 Juli 2009 lalu, kesehatan beliau mengalami penurunan dan mengaku kelelahan. Oleh karena itu, pada 29 Juli hingga 16 Agustus 2009, KH Asrori dirawat di Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya. Pada 16 Agustus 2009, beliau pulang ke rumah dan pada hari Selasa (18/8) dini hari dipanggil Allah SWT.

Dari pengamatan beritajatim.com, sejumlah karangan bunga dukacita terpasang di kediaman dan masjid ponpes. Di antaranya dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Menteri Agama Maftuh Basyuni, Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bachrul Alam, Kapolwil Kombes Pol Roni F Sompie, Kapolres Surabaya Timur AKBP Samudi, Walikota Surabaya Bambang DH, Wawali Arif Afandi, Sekkota Surabaya Soekamto Hadi, Kakanwil Depag Jatim Imam Haromain dan Kapolda Sumut Irjen Pol Badrodin Haiti. (mad)

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/18669/tinggalkan-5-anak-dan-puluhan-ribu-santri

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

10 + ten =