Kucing Dalam Tradisi Tasawuf

0

Cerita tentang hubungan antara kucing dengan manusia banyak ditemukan dalam kisah para sufi, misal cerita Ahmad ar-Rifai. Pada suatu hari, ada seekor kucing yang tidur di atas jubah ar-Rifai, dan sampai waktu shalat tiba, kucing tersebut masih tertidur. Melihat jubahnya digunakan sebagai alas tidur kucing, ar-Rifai tidak tega membangunkan. Dia lebih memilih memotong bagian jubah yang ditempati si kucing. Baru setelah ar-Rifai selesai melaksanakan shalat, si kucing sudah bangun dan pergi meninggalkan potongan jubah sang syaikh.

Lalu ada cerita yang sedikit mirip dinisbatkan kepada Syaikh Baqi Billah. Pada suatu malam, Baqi Billah ingin melaksanakan shalat tahajud. Namun, di atas selimut yang dia gunakan ada seekor kucing tidur yang membuatnya tidak bisa bangun. Khawatir si kucing bangun, Baqi Billah rela tidak bangun sampai waktu subuh datang.

Yang lebih mengagumkan tentang kucing terdapat dalam kisah Abu Bakar as-Sibli, seorang sufi dari kota Baghdad meninggal pada 334 H. Setelah kematiannya, di alam baqa salah satu dari sahabatnya bertemu dengan as-Sibli, lalu dia bertanya, “Bagaimana Allah memperlakukan kamu wahai Sibli?”

Sibli menjawab seraya bercerita, “Saya diperlakukan dengan istimewa oleh Allah. Allah bertanya kepada saya, ‘Sibli, tahukah kamu mengapa Aku memperlakukanmu dengan sedemikian baik?”

Sibli menjawab, “Karena saya mengerjakan perbuatan-perbuatan baik”. Kemudian Allah menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “Karena saya beribadah dengan ikhlas dan tulus”. Allah masih menjawab, “Bukan”.

Sibli menjawab lagi, “karena saya haji, puasa, dan shalat”. Allah masıh menjawab, “Bukan”.

Sibli bingung apa yang membuatnya diperlakukan dengan sebaik ini. Lalu Allah menjelaskan, “Kamu ingat? Kamu pernah pergi ke sebuah jalan di salah satu pojok kota Baghdad. Di sana kamu menemukan seekor anak kucing kedinginan, dan dengan penuh kasih sayang kamu merawatnya”.

Lalu Sibli menjawab, “Iya wahai Allah, saya ingat itu”.

“Karena kamu telah memperlakukan kucing itu dengan penuh kasih sayang, maka Aku memperlakukan kamu dengan perlakukan yang sama.”

Tentu memberikan perlakuan baik kepada kucing adalah simbol yang tidak boleh berhenti pada kucing. Apa yang telah dilakukan oleh para sufi kepada kucing juga mesti diterapkan kepada hewan dan makhluk yang lain. Adalah terang bahwa Allah memerintahkan kita umat manusia untuk memperlakukan hewan dengan baik, apalagi dengan sesama manusia.

Oleh: Ahmad Munji  (http://www.pcinuturki.org/2018/12/kucing-dalam-tradisi-tasawuf.html)

 

Comments
Loading...