Krisis Pangan Mengemuka, Produksi Pangan Lokal Jadi Tren Dunia

Pernahkan membayangkan menjadi petani di gurun sahara? Atau menanam tanaman pangan di tengah kota?

Dulu, ini tampak sebagai sesuatu yang mustahil, sebab bagaimana pun pertanian membutuhkan lahan dan sumber air yang memadai.

Tapi, ketika isu krisis pangan dunia mengemuka, sejumlah negara, termasuk yang biasanya tergantung pada bahan pangan impor, mulai memikirkan produksi bahan pangan lokal, tentu saja dengan mengembangkan teknologi pertanian yang canggih, minim lahan dan minim air.

Lebih-lebih, ketika gelombang pandemi Covid-19 menyerang dunia, memproduksi bahan pangan secara lokal seperti menjadi keniscayaan di negeri gurun sekalipun.

Terhentinya transportasi antar-negara karena penerapan lockdown membuat proses impor bahan pangan menjadi terganggu.

Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki lahan pertanian yang subur saja, terhentinya impor bahan pangan pokok karena Covid-19 merupakan hal menakutkan. Bagaimana dengan negara-negara gurun atau negara-negara kota dengan lahan pertanian terbatas?

Tapi, Belanda adalah salah satu contoh negara yang sukses mengembangkan pertanian modern berbasis teknologi. Dengan luas negara yang tak sebesar Jawa Timur, kini Belanda tidak saja mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri tapi juga menjadi eksportir bahan pangan terbesar kedua di dunia.

Prinsip teknologi pertanian modern di antaranya meminimalisasi lahan dan air. Pertanian di Belanda mengurangi kebutuhan air hingga 80 persen dibanding pertanian konvensional.

Contoh yang lebih ekstrem lagi adalah Uni Emirat Arab (UEA), negeri gurun dengan lahan subur hanya kurang dari 1 persen saja, dan rata-rata hujan hanya 12 hari dalam setahun. Wajar jika UEA mengimpor bahan makanan dari negara lain hingga mencapai 80 persen. Hampir seluruhnya impor.

Secara konvensional, negeri ini memang tampak seperti tempat yang tidak menguntungkan untuk membangun pertanian. Tapi teknologi mencoba meruntuhkan semua pendapat itu.

Tahun 2017, sebuah perusahaan pertanian modern milik Sky Kurts didirikan di Abu Dhabi, bernama Pure Harvest Smart Farms. Ia menggunakan teknik pertanian berteknologi tinggi yang mampu meningkatkan produksi tanaman di lahan gurun. Pure Harvest membangun rumah kaca pertama di sana.

“Ketika saya memberi tahu orang-orang bahwa saya akan menanam tomat di padang pasir, mereka mengira saya gila,” kata Sky Kurtz, sebagaimana dikutip DW.

Kondisi alam yang gersang dan keinginan membangun ketahanan pangan yang lebih besar, mendorong UEA berinvestasi jutaan dolar untuk teknologi pertanian, khususnya pertanian vertikal, yang bagi sebagian orang tampak tidak mungkin.

Tapi kenyataannya pertanian vertikal dapat menumbuhkan beragam tanaman yang berbeda-beda dengan menumpuknya di bawah pencahayaan LED di sebuah rumah kaca yang dikendalikan dengan menyiraminya lewat sistem kabut atau tetes.

Prosesnya disesuaikan dengan kebutuhan yang spesifik terhadap setiap tanaman, dan mampu menghasilkan produksi panen yang tinggi sepanjang tahun.

“Butuh 30 hingga 40 hari untuk menumbuhkan sayuran hijau. Kita dapat menanam tanaman yang sama dalam 10 hingga 12 hari,” kata Marc Oshima, salah satu pendiri Aerofarms, perusahaan pertanian modern lainnya yang menerima dana dari Badan Investasi Abu Dhabi untuk membangun pertanian vertikal indoor terbesar di ibukota UEA tersebut. Aerofarms direncanakan bakal mengembangkan 800 tanaman yang berbeda pada tahun 2021.

Kelangkaan Air dan Ketergantungan Bahan Bakar Fosil

Teknologi pertanian modern yang diterapkan di UEA menggunakan lahan yang minimal dan air hingga 95 persen lebih sedikit ketimbang pertanian konvensional.

Sistem hidroponik yang terapkan menempatkan akar tanaman langsung ke dalam larutan cairan yang lebih kaya nutrisi ketimbang tanah.

Sistem pertanian tertutup ini menangkap dan kemudian meresirkulasi air, sehingga tidak membiarkannya mengalir ke luar, ini sangat penting untuk negara-negara seperti UEA yang sangat kekurangan air.

Pada umumnya di seluruh dunia, pertanian konvensional menyumbang 70 persen dari persediaan air tawar yang ada, dan sayangnya UEA menghabiskan air tanah tersebut lebih cepat dari cadangan yang dimiliki.

Untungnya, meski air di UEA sangat mahal, harga bahan bakar (fosil) murah, karena disubsidi negara. Pertaian modern membutuhkan banyak bahan bakar atau energi karena dikontrol secara artifisial dengan energi yang intensif. AC dan lampu LED yang digunakan membuthkan sumber listrik yang konstan.

Energi Terbarukan

Saat ini, sebagian besar energi itu berasal dari bahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan, tapi ke depan sedang dikembangkan energi yang bersumber dari non-fosil alias energi terbarukan seperti tenaga surya.

“Berinvestasi lebih banyak pada energi terbarukan adalah tujuan kami,” kata Kurtz.

Ia mengatakan perusahaannya belum menetapkan target energi bersih tersebut tetapi sedang mengerjakan berbagai proyek terkait hal itu, termasuk rencana untuk mengintegrasikan tenaga surya yang dihasilkan di UEA ke dalam operasi perusahaannya.

Pada tahun 2050, pemerintah UEA menargetkan hampir setengah energinya dari sumber yang terbarukan.

Sumber Pangan Lokal

Pertanian modern atau pertanian vertikal memang menggunakan lebih banyak energi atau bahan bakar daripada pertanian tradisional. Tapi sebetulnya karena pertanian ini untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal, akhirnya bisa memangkas kebutuhan energi (bahan bakar) untuk transportasi baik darat, laut, maupun udara.

Hasil produksi tidak harus diangkut terlalu jauh. Keuntungan lainnya, waktu simpan juga menjadi lebih lama karena tidak melalui proses transportasi yang lama di perjalanan.

Keamanan Pangan dan Coronavirus

Sejak tahun 2018, UEA ternyata sudah menetapkan visi menjadi pusat produksi pangan lokal berteknologi tinggi.

Perusahaan dan investor berbondong-bondong ke negara itu, karena tertarik oleh tarif pajak perusahaan yang 0%, biaya tenaga kerja rendah serta energi murah.

Tujuannya jelas, negeri gersang itu ingin mengurangi ketergantungan impor bahan pangan dan membuat sistem pangan yang lebih tahan terhadap guncangan seperti perubahan iklim dan pandemi seperti sekarang ini.

Pandemi Covid-19, telah menyadarkan sejumlah negara betapa rapuhnya rantai pasokan bahan pangan dan menimbulkan pertanyaan tentang keamanan serta keamanan pangan.

Tapi, ketika UEA menerapkan lockdown pada bulan April 2020, pasokan bahan pangan seperti sayuran yang biasanya impor, digantikan oleh para pemasok lokal dari sistem pertanian modern tersebut. Mereka secara nyata membantu menjaga persediaan pangan negara tersebut selama pandemi.

“Dengan bantuan produksi pangan lokal dan impor yang memadai, sama sekali tidak ada kekurangan pangan di UEA,” kata otoritas pangan setempat.

Nah, jika negara dengan iklim keras dan lahan yang gersang saja berlomba membangun pertanian lokal mereka dengan bantuan teknologi, bagaimana dengan Indonesia, negara yang dikenal memiliki lahan subur serta sejak lama disebut-sebut sebagai negeri agraris? Seharusnya lebih mampu. (sumber: ecowatch.com)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...