Konsensus, Kesepakatan dan Poin-Poin Penting dalam World Sufi Forum

0

KONSENSUS

8-10 April 2019 M/2-4 Sya’ban 1440 H.

Sesungguhnya tarekat sufi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Ia menempati posisi ihsan dan
cermin dari istiqamah yang sesuai dengan ajaran Al Quran Al Karim dan sunnah nabi serta disepakati oleh ulama dan mujtahid.

Tarekat sufi itu telah diwariskan dan bergulir dari satu generasi ke generasi lainnya melalui para pewaris sejati, yaitu para ulama yang mewarisi agama dan mengembannya secara penuh baik dalam pemahaman, rasa, perbuatan, dan otentisitasnya. Para ulama tersebut berasal dari golongan sufi yang menempuh satu-satunya jalan berupa rantai emas yang tersambung dari guru-guru mereka hingga Rasulullah SAW.

Tarekat-tarekat sufi ini telah tersebar luas di seluruh penjuru dunia yang berperan penting dalam menjaga identitas keislaman, dakwah dan meniupkan ruh pada tubuh umat yang satu. Meskipun terdapat perbedaan negara dan kebangsaan, sesungguhnya di antara para mursyid tarekat terdapat hubungan spiritual yang kuat dan ikatan pemikiran yang erat dan tak terpisahkan oleh jarak tempat tinggal dan negara yang berbeda. Tarekat sufi merupakan spirit keisalaman yang melampaui batasan-batasan dimensi jarak, ruang, dan waktu.

Peran tarekat sufi dalam era modern dan globalisasi seperti yang telah dicontohkan dalam pokok-pokok agama serta peran penting dalam menebar kedamaian di dunia, rasa aman pada masyarakat dan meredam ketegangan serta menciptakan ketenangan dalam kondisi yang darurat.

Oleh karenanya, dari beragam tarekat sufi, para sufi mengajak untuk membangun komunitas dunia yang berlandaskan pada nilai-nilai akhlak yang mulia dan menciptakan kerukunan antar golongan. Hal itu tidak akan tercapai kecuali dengan menyatukan kekuatan tasawuf yang dimulai dengan strategi bersama yang efektif.

Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) yang dipimpin oleh Habib Muhammad Luthfi bin Yahya bersama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengundang para pemimpin agama dari berbagai macam tarekat dari berbagai belahan dunia untuk bersama mendiskusikan realita tasawuf Islam modern serta tantangan-tantangan yang mereka hadapi baik internal maupun eksternal guna menyatukan peran, program dan strategi yang efektif untuk masa kini dan nanti.

Berdasarkan hal-hal tersebut, hati-hati ini dipersatukan, niat ini telah sempurna guna mendirikan Organisasi Internasional untuk menyatukan hak-hak ahli tarekat dan aspirasinya, baik guru maupun murid untuk optimalisasi fikir, dan revitalisasi ide-ide revolusioner yang dapat melahirkan rasa aman serta membangun strategi untuk mengembangkan ajaran tasawuf berupa membentuk peradaban dunia yang damai dan umat manusia yang setara melalui sistem autarki, pertumbuhan yang konsisten, penjagaan aset, program dasar, kesepakatan dan kerjasama. Organisasi Internasional ini dinamai Al Muntada As Sufi Al ‘Alami.

Berikut ini adalah pedoman-pedoman Al Muntada As Sufi Al ‘Alami:

Kesepakatan dan Poin-Poin Penting Pada Rapat Pengadaan Konferensi Sufi Internasional Pekalongan

Pekalongan: 8-10 April 2019

Pertama: Pandangan dan Pesan
Pandangan: Orang alim yang tersambung kepada Allah pada jalan Rasulullah SAW.

Pesan: Hakikat iman dalam batasan-batasan syari’ah dan penegakan akhlak untuk kebahagiaan manusia.

Kedua: Tujuan
Tujuan konferensi:

  1. Mengaktifkan peran tasawuf dalam pembentukan individu yang salih dan masyarakat yang unggul serta
    penguatan penegakan wawasan kebangsaan dan kemanusiaan.
  2. Kerjasama dalam mewujudkan kesatuan antara narasumber ahli tasawuf, pakar makrifat, dan pendakwah.
  3. Mengambil manfaat dari keutamaan-keutamaan tarekat dan ciri-cirinya dalam pembentukan kembali naungan
    sufi yang disempurnakan dengan hikmah.
  4. Kerjasama dalam pembentukan pidato-pidato moderat yang efektif dan berpengaruh yang berkaitan dengan
    wahyu yang terjaga dan diikuti dengan kebutuhan zaman ini.
  5. Penyebaran Islam, kedamaian, harmoni, dan keamanan masyarakat zaman ini.
  6. Dokumentasi kaidah-kaidah dan penjelasan-penjelasan tarekat sufi yang mu’tabarah dan penjelasan tentang
    pengenalan sanadnya.
  7. Pembahasan tentang batasan-batasan amal sufi era modern dan jalan keluar dari konflik keamanan, kemasyarakatan, dan ekonomi dengan realisasi autarki (sistem ekonomi swasembada dan perdagangan terbatas), serta pembangunan yang berkelanjutan.
  8. Pembenaran paham-paham yang keliru tentang Islam dan pengembalian pandangan barat tentang Islam.

Ketiga: Sarana dan Prasarana

  1. Penyatuan kekuatan Sufi Internasional dengan undangan yang ditujukan kepada Syaikh-Syaikh tarekat sufi, pakar dalam kebaikan untuk penertiban susunan kegiatan sufi Internasional.
  2. Pengaktifan kantor tetap untuk Organisasi Sufi Internasional.
  3. Penguatan segi keilmuan dan fikih untuk menjaga amaliyyah sufi.
  4. Kegiatan-kegiatan atas naungan pendirian Organisasi Internasional.
  5. Pembuatan saluran TV Internasional yang ber-manhaj-kan sufi.
  6. Kegiatan-kegiatan dakwah dan ilmiah dalam jaminan bank investasi untuk memberi modal pada kegiatan-kegiatan tersebut.
  7. Pengadaan workshop-workshop untuk penyuluhan sosial, kebangsaan, dan kepribadian.
  8. Pengadaan pertemuan-pertemuan terbatas tentang peran sufi di dunia Internasional.

Keempat: Parameter
Kriteria yang wajib diperhatikan untuk tarekat-tarekat sufi yang tergabung dalam organisasi:

  1. Tarekat yang bergabung harus berlandaskan Qur’an dan Sunnah.
  2. Sehatnya nasab tarekat dengan bersambungnya sanad.
  3. Tidak adanya pertentangan terhadap golongan tersebut dari umat Islam.
  4. Tarekat tersebut dikenal luas di masyarakat.
  5. Tarekat tersebut tidak ikut serta dalam politik praktis atau memprovokasi fanatisme golongan atau etnis tertentu.
  6. Tarekat tersebut bertujuan untuk bela negara.
  7. Tarekat itu harus menghindari intervensi politik praktis dan hanya untuk kepentingan pengetahuan dan kesadaran saja.

Comments
Loading...