Connect with us

Hikmah

Kondisi Fana’ dalam Surat Yusuf

Published

on

Fana’ adalah salah satu kondisi ruhani yang dialami oleh seorang sufi. Dalam kajian tasawuf, fana’ diperkenalkan oleh Abu Yazid al Bustami, tokoh yang akan kita bahas pada pembahasan berikutnya.

Lalu apa sebetulnya yang disebut fana’?

Fana’ lebih cocok diartikan sebagai “sirna” atau tidak sadar. Bukan hancur. Semua hal menjadi tidak penting dan tidak jadi perhatian karena pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Jika perhatian kita di fokus pada satu hal, maka tertutuplah panca indera. Dan jika itu terjadi maka kita akan masuk dalam kondisi yang disebut fana’.

Bagaimana proses menjadi fana’?

فمن فنى عن جهله بقى بعلمه، ومن فنى عن شهوته بقى بإنابته، ومن فنى عن رغبته بقى بزهادته، ومن فنى عن منيته بقى بإرادته تعالى

“Barang siapa yang dimusnahkan dari kebodohannya maka ia tetap dengan ilmunya, dan barang siapa yang menghilangkan hawa nafsunya maka ia tetap dengan taubatnya, dan barang siapa yang mensucikan hawa nafsunya maka ia tetap dengan zuhudnya, dan barang siapa yang mensucikan dari hawa nafsunya maka ia tetap dengan kehendak Allah Swt.”

Proses fana’ di dalam al-Quran terdapat dalam Surat Yusuf yang disebut sebagai Ahsanul Qashas. Karena surat tersebut menceritakan pertarungan cinta, nafsu, kemudian masuk ke dalam fana’, sampai berubah cintanya kepada Allah Swt. secara total. Kisah antara Yusuf dan Zulaikha sangat indah jika dilihat secara ruhani. Dimana ketika Zulaikha sudah wushul ilallah, Allah Swt. baru memerintahkan Yusuf untuk menikahinya. Kemudian Zulaikha mengatakan, “Dulu aku tergila-gila kepadamu karena aku tidak pernah tahu ada yang lebih indah darimu. Tapi sekarang aku sudah bertemu yang lebih indah darimu dan aku sudah tidak butuh kamu.”

Itulah mengapa Surat Yusuf menjadi Ahsanul Qashas. Bagaimana Nabi Yusuf yang tidak punya apa-apa kemudian diangkat Allah Swt. menjadi seorang raja. Itu juga yang kemudian bisa diambil pelajaran oleh kita, bahwa kesuksesan di mata Allah Swt. itu tidak butuh teori yang linier.

Lihatlah bagaimana cara Allah Swt. menjadikan Nabi Yusuf seorang raja. Mula-mula ia dibenci oleh semua anggota keluarganya. Namun itulah rupanya jalan untuk menjadikannya raja. Jika tidak dibenci, bagaimana ia bisa dibuang? Jika tidak dibuang, bagaimana ia bisa ditemukan dan dijual? Jika tidak dijual bagaimana ia bisa menjadi budak seorang Al Aziz? Yang kemudian secara bertahap Allah Swt. menciptakan skenarionya.

Dia-lah Allah Swt, yang mengangkat Yusuf dari tanah yang paling rendah di muka bumi dan ke tempat paling tinggi. Sama sekali tidak pernah terduga. Oleh sebab itulah mengapa orang tarekat menyukai zikir Ya Lathif (Yang Maha Lembut), karena Allah Lathifun bi’ibaadih (Maha Lembut terhadap para hambanya). Dimana ketika Allah Swt. menakdirkan untuk mengangkat derajat hamba-Nya, itu lembut sekali, tidak ada orang yang tahu. Begitu pula sebaliknya, ketika Allah Swt. menakdirkan untuk menjatuhkan derajat hamba-Nya, maka tidak akan ada yang menyangka.

Kemudian ketika Zulaikha dicaci maki oleh masyarakat Mesir karena tergila-gila dengan Yusuf, ia justru mengundang perempuan-perempuan itu untuk datang ke rumahnya. Lalu mereka dipersilakan dalam satu ruangan dan diberi buah bersama pisaunya untuk mengupas. Setelah itu, Nabi Yusuf dikeluarkan. Dia berjalan apa adanya.

Selanjutnya apa yang terjadi? Apa yang dikatakan perempuan itu?

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ اَرْسَلَتْ اِلَيْهِنَّ وَاَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَاً وَّاٰتَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّيْنًا وَّقَالَتِ اخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۚ فَلَمَّا رَاَيْنَهٗٓ اَكْبَرْنَهٗ وَقَطَّعْنَ اَيْدِيَهُنَّۖ وَقُلْنَ حَاشَ لِلّٰهِ مَا هٰذَا بَشَرًاۗ اِنْ هٰذَآ اِلَّا مَلَكٌ كَرِيْمٌ

“Maka ketika perempuan itu mendengar cercaan mereka, diundangnyalah perempuan-perempuan itu dan disediakannya tempat duduk bagi mereka, dan kepada masing-masing mereka diberikan sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf), “Keluarlah (tampakkanlah dirimu) kepada mereka.” Ketika perempuan-perempuan itu melihatnya, mereka terpesona kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka (tanpa sadar) melukai tangannya sendiri. Seraya berkata, “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.” (Qs. Yusuf: 31)

Bahkan menurut beberapa riwayat, kata “اَكْبَرْنَهٗ” memiliki dua makna. Yang pertama adalah terpukau, yang kedua adalah berhadas besar. Sehingga ada ulama yang mengatakan bahwa pada saat itu, perempuan-perempuan yang hadir seketika berhadas besar setelah melihat Nabi Yusuf.

Fenomena apa ini sebetulnya?  Itulah Fana, yaitu orang yang kesadaran dirinya hilang dan ia masuk kepada objek yang disadari. Karena itu imam Junaid menyebut dengan fana’ pada dirinya untuk Baqa kepada Allah Swt.

Jadi, fenomena fana’ itu banyak di sekitar kita. Terserap oleh ketampanan Yusuf saja perempuan-perempuan itu mendadak tidak sadar, apalagi kalau Allah Swt. membuka Jamalullah-Nya. Tidak mungkin tidak hilang kesadarannya. Bahkan, Jika pada hari ini kita dikasyafkan oleh Allah Swt. dan diangkat hijab untuk melihat Jamalullah-Nya, maka hanya dua kemungkinannya, kalau tidak gila maka akan mati. Karena itulah tasawuf harus bertingkat, orang harus selalu bermujahadah supaya tidak kaget apabila Allah Swt. secara perlahan menjadikannya kasyaf.

*Tulisan di atas berdasarkan penjelasan Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag. (Pengasuh Majelis al-Dzikir wa al-Ta lim Mihrab al-Muhibbin).

Editor: Khoirum Millatin

Hikmah

Kisah Terompah Syekh Abdul Qadir yang Menolong Orang dari Perampok

Published

on

Dikisahkan oleh al-Sharafaini dan al-Harimi, pada suatu hari Syekh Abdul Qadir sedangmengambil air wudlu dengan menggunakan terompah (alas kaki yang terbuat dari kayu). Setelah ituia langsung sholat dua rakaat dan melepas terompahnya masihbasah terkena air wudlu.

Setelah menyelesaikan shalatnya, tiba-tiba iakeluardanmengambilterompah tersebut kemudian melemparkannya ke sebuah arah. Seketika kedua terompah itu langsung hilang. Orang-orang yang melihatnya termasuk al-Sharafaini dan al-Harimiterheran-heran melihat tingkahSyekh Abdul Qadir.

Selang dua puluh hari berikutnya pasca kejadian itu, barulah kejadian ganjil itu terungkap. Saat itu ada rombongan dagang yang datang ke rumah Syekh Abdul Qadir. Setelah sampai di depan rumahnya, pimpinan rombongan itu mengatakan bahwa mereka hendak sowan kepada Syekh Abdul Qadir dan menyampaikan terima kasihnya karena sudah ditolong.

al-Sharafaini dan al-Harimi yang menemui rombongan semakin penasaran, sebab selama ini Syekh Abdul Qadir tidak pernah bepergian jauh, sementara rombongan dagang itu merupakan orang-orang yang berasal dari kota yang jauh.

Sebagai bentuk terima kasihnya, rombongan itu memberikan kain sutra, perak dan emas kepada Syekh Abdul Qadir. Bukan hanya itu, yang menjadi petunjuk rombongan itu juga mengembalikan sepasang terompah Syekh Abdul Qadir.

Saat kedua terompah itu diberikan, al-Sharafaini dan al-Harimi pun bertanya, dari mana mereka memperoleh terompah Syekh Abdul Qadir itu?

Ketika mendapatkan pertanyaan dari al-Sharafaini dan al-Harimi, ketua rombongan tersebut langsung bercerita bahwa dua puluh hari yang lalu, mereka telah melakukan perjalanan untuk pergi berdagang. Di tengah perjalanan, mereka tiba-tiba dihadang oleh sekawanan perampok. Para perampok ini menjarah seluruh barang dagangan mereka.

Setelah berhasil menjarah seluruh barang dagangan mereka, para perampok itu segera berkumpul di sebuah lembah untuk membagi hasil jarahannya.

Dalam kondisi yang dipenuhi kesialan itu, salah seorang anggota pedagang mengatakan,

“Andai Syekh Abdul Qadir ada di sini, niscaya kami akan bernazar untuk memberikan sebagian harta jika kami selamat.”

Saat itulah, baru saja menyebut nama Syekh Abdul Qadir, mereka langsung mendengar teriakan keras dari para perampok yang sedang membagi hasil rampasannya di sebuah lembah.

Mereka pun segera menuju ke arah suara teriakan. Para perampok itu nampak ketakutan dan kesakitan. Para rombongan pedagang menduga bahwa kawanan rampok itu sedang diserang oleh para perampok lain. Namun ternyata di lembah tersebut tidak ada orang lain kecuali kawanan perampok yang telah menjarah harta mereka.

Semua gerombolan perampok itu mati kecuali satu yang menjadi pemimpinnya. Maka dengan diliputi ketakutan, pimpinan perampok yang masih hidup memanggil rombongan dagang yang tidak jauh dari lembah,

“Kemarilah, ambil ini seluruh harta kalian lagi, teman-temanku sudah mati semua oleh dua terompah basah ini. Sungguh ini merupakan peristiwa aneh.”

Setelah berkata demikian, pemimpin perampok itu segera lari meninggalkan teman-temanya yang sudah mati dan seluruh harta jarahan mereka serta kedua terompah basah itu.

Sumber: JATMAN, Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Hikmah

Kisah Hasan Al-Bashri Ditolak Saat Melamar Rabiah Al-Adawiyah

Published

on

Hasan Al-Bashri dan Rabiah Al-Adawiyah merupakan tokoh sufi yang sangat terkenal di zamannya. Banyak kisah hidupnya diabadikan dalam hasanah kitab klasik. Hasan Al-Bashri merupakan pembesar para tabi’in dan terkenal dengan sifat zuhudnya. Rabiah Al-Adawiyah adalah seorang wali perempuan yang mashur dengan konsep “hub” (cinta) kepada Allah yang begitu besar. Ada cerita menarik di antara kedua wali Allah ini yang patut disimak.

Suatu ketika, suami Rabiah Al-Adawiyah telah meninggal dunia. Kemudian Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya bertamu ke kediaman Rabiah Al-adawiyah. Hasan Al-Bashri dan para sahabatnya meminta izin untuk masuk ke dalam rumah dan Rabiah mengizinkannya. Rabiah segera mengambil sebuah satir (kain penutup) dan duduk di belakang satir (yang memisahkan antara tamunya dan Rabiah).

Hasan Al-Bashri dan Para Sahabatnya berkata:” Wahai Rabiah, suamimu telah meninggal dunia, silahkan kamu memilih di antara orang-orang zuhud itu, siapapun yang kamu inginkan.”

Rabiah segera menjawab: “Benar saya senang dan saya memuliakan kalian semua. Tapi, aku akan bertanya siapa yang paling alim di antara kalian, sehingga aku akan menjadi istrinya”.

Mereka menjawab: “Hasan Al-Bashri lah yang paling alim di antara kami”

Rabiah mengajukan penawaran: “Jika kamu dapat menjawab empat permasalah ini, aku akan jadi istrimu”.

Hasan Al-Bashri berkata: “Baik, tanyalah aku, bila aku mampu menjawab, aku akan jawab”

Kemudian Rabiah mengajukan pertanyaannya yang pertama : “Bila aku mati, aku keluar dari alam dunia ini, aku dalam keadaan muslimah atau kafir ?”

Hasan Al-Bashri menjawab: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk.”

Rabiah bertanya lagi untuk yang kedua kalinya: “Bila aku nanti dikuburkan, dan ditanya oleh malaikat Munkar dan Nakir, apakah aku mampu menjawab atau tidak?”

Lagi-lagi, Hasan al-Bashri menjawab: “ini adalah permasalahan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang ketiga kalinya: “Saat manusia dikumpulkan di padang mahsyar besok di hari kiamat, dan buku catatan amal yang dicatat oleh malaikat hafadzah akan diberikan kepada para pemiliknya. Sebagian dari mereka menerima buku catatan tersebut dengan tangan kanannya (yaitu seorang mukmin yang taat) dan sebagiannya lagi menerima dengan tangan kirinya (yaitu orang-orang kafir). Apakah aku menerima catatan amalku dengan tangan kanan atau kiri?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi dengan jawaban yang sama: “ini adalah urusan ghaib (samar) bagi makhluk”.

Rabiah bertanya untuk yang keempat kalinya: “Suatu saat di hari kiamat, kita dipanggil, sebagian kelompok masuk ke dalam surga, dan sebagiannya lagi masuk ke dalam neraka. Apakah aku termasuk ahli surga atau ahli neraka?”

Hasan al-Bashri menjawab lagi: “Ini juga urusan ghoib (samar) bagi makhluk”.

Kemudian Rabiah bertanya: “Apakah orang yang serius memikirkan empat perkara ini masih membutuhkan suami atau sibuk mencari suami?”

Dari kisah ini Hasan al-Bashri ditolak karena tidak mampu memuaskan pertanyaan dari Rabiah al-Adawiyah. Namun, ada hikmah dibalik kisah ini yakni bagaimana seorang hamba Allah sangat takut dengan akhir hidupnya. Ia merasa sangat takut yang tidak lain karena kejernihan hatinya dari kotoran dan berakarnya ilmu hikmah, yaitu ilmu yang disertai amal.

Kisah ini diambil dari kitab Uqudullujjain Karya Imam Nawawi Al-Jawi

Penulis: Hamzah Alfarisi

Editor: Warto’i

Continue Reading

Hikmah

Berkah Syekh Abdul Qadir Untuk Si Jompo

Published

on

Abu Saleh Nasr mengisahkan, bahwa ada seorang bernama Abdur Razaq yang pergi haji bersama ayahnya. Ketika anak dan ayah ini sampai di tanah suci, mereka berdua menginap di sebuah perkampungan bernama Hullah. Mereka memilih menginap di sebuah rumah orang miskin. Pemilik rumah ini adalah orang tua jompo.

Ketika keduanya masuk, didapatinya Syekh Abdul Qadir sudah berada di dalam rumah itu. Mereka berdua, setelah diizinkan si pemilik rumah, akhirnya tinggal di rumah itu beberapa hari sebelum pelaksanaan haji tiba.

Saat menginap itulah mereka berdua melihat dengan mata kepala sendiri bahwa banyak ulama dan masyayikh yang berdatangan secara rombongan ke rumah tersebut. Bahkan para pejabat di kampung Hullah juga turut datang. Mereka semua menaruh hormat kepada Syekh Abdul Qadir ketika tahu sang Syekh berada disana.

Banyak dari mereka yang meminta kesediaan Syekh Abdul Qadir untuk pindah ke rumah mereka yang terbilang mewah. Namun Syekh Abdul Qadir menolaknya secara halus, sang waliyullah lebih nyaman untuk tinggal di rumah si miskin tersebut.

Karena sang Syekh tidak bersedia pindah, maka para ulama dan kaum elit di Hullah memberikan sebagian harta mereka kepadanya. Di antara mereka ada yang memberikan kambing, emas, perak, kain sutera dan benda-benda berharga lainnya, sehingga terkumpullah harta itu dengan banyak.

Para penduduk kampung dan orang-orang awam juga banyak yang berbondong-bondong menjenguk Syekh Abdul Qadir untuk meminta doa dan berkah darinya. Ketika Syekh Abdul Qadir hendak melanjutkan perjalanan, ia mengatakan bahwa seluruh harta yang terkumpul hasil pemberian kaum elit dan orang kaya di Hullah itu diberikan kepada pemilik rumah yang ia tumpangi.

Karena terinspirasi dari Syekh Abdul Qadir, orang lain yang berkumpul juga memberikan sedekahnya kepada orang tua jompo miskin pemilik rumah. Orang tua itu pun langsung mendapat harta yang luar biasa banyak.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh JATMAN

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending