Connect with us

Artikel

Komponen-Komponen Agama dalam Perspektif Teori Sistem

Published

on

Sistem adalah suatu kompleksitas elemen yang terbentuk dalam satu-kesatuan interaksi (proses). Masing-masing elemen (unsur) saling terikat dalam satu-kesatuan hubungan yang satu sama lain saling bergantung (interdependence of its parts). Kesatuan elemen itu membentuk satu-kesatuan yang lebih besar, yang meliputi keseluruhan elemen pembentuknya (the whole is more than the sum of its parts).

Melalui pendekataan teori sistem ini, teori samawi terakhir yang dibawakan oleh Nabi Muhammad saw. terdiri dari beberapa elemen yang mana antara satu elemen dengan elemen yang lain saling berkaitan.

Elemen dalam agama meliputi Islam, Imam, dan Ihsan atau dilihat dari perspektif ilmu terdiri dari tauhid, fikih dan tasawuf atau dilihat dari segi pengamalannya terdiri dari syariat, tarekat, dan hakikat. Ketiga elemen agama tersebut membentuk satu-kesatuan yang lebih besar yaitu Makrifat.

Adapun tulisan ini akan menjelaskan hubungan interaksi antara syariat, tarekat dan hakikat serta menjelaskan fungsi dari masing-masing elemen tersebut, di mana ulama-ulama sufi telah menjelaskan keterkaitan dari ketiga komponen tersebut.

Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbil Asy-Syafi’i  menjelaskan,

فمثل الشريعة كالسفينة فى انها سبب الوصول الي المقصد والنجاة من الهلاك، والطريقة مثل البحر الذى فيه الدر فى انها محل المقصود والحقيقة مثل اللؤلؤ العظيم فلا يوجد اللؤلؤ إلا  في البحر ولا يوصل لذلك البحر إلا السفينة فمن نظر إلى حقائق الأشياء كلها بالله وجد ان الشريعة والحقيقة متلازمان تلازم الماء للعود والروح للجسد

“Syariat ibarat perahu kerana menjadi media penghantar untuk mencapai tujuan dan meraih keselamatan dari kehancuran. Thariqah (tarekat) seumpama lautan yang menyimpan mutiara. Sedangkan haqiqah (hakekat) seumpama mutiara besar yang hanya bisa ditemukan di lautan. Seseorang tidak akan bisa sampai ke lautan selain dengan perahu.

Barangsiapa memandang hakikat segala sesuatu dengan Allah, maka ia akan mendapatkan bahwa syariat dan haqiqat merupakan dua hal yang korelatif dan inheren seperti air bagi  sebatang kayu, dan ruh bagi jasad.”
(Kitab Tanwirul Al-Qulub fi Mu’amalah Allam Al-Ghuyub,  Maktabah Al-Tawfikiyah, Al-Qaherah, hal 397)

Sedangkan Sayyidi Abdul Qadir Isa al-Hallabi  menjelaskan

يقول ابن عابدين رحمه الله تعالى في حاشيته المشهورة برد المحتار:  “الطريقة: هي السيره المختصة بالسالكين من قطح المنازل، والترقي في المقامات” ويقول في الصفحة التي تليها.  فالحقيقة: هي مشاهدة الربوبية بالقلب، ويقال: هي سر معنوي لا حد له ولا جهة. وهي والطريقة والشريعة متلازمة، لأن الطريق إلى الله تعالى لها ظاهر وباطن، فظاهرها الشريعة والطريقة، وباطنها الحقيقة. فبطون الحقيقة في الشريعة والطريقة كبطون الزبد في لبنه، لايظفر من اللبن بزبده بدون مخضه، والمراد من الثلاثة (الشريعة، والطريقة، والحقيقة) إقامة العبودية على الوجه المراد من العبد

ويقول الشيخ سيدي عبد الله اليافعي رحمه الله تعالى إن الحقيقة هي مشاهدة أسرار الربوبية، ولها طريقة هي عزائم الشريعة، فمن سلك الطريقة وصل إلى الحقيقة. فالحقيقة نهاية عزائم الشريعة. ونهاية الشىء غير مخالفة له، فالحقيقة غير مخالفة العزائم الشريعة

“Ibnu Abidin dalam kitab Hasyiyah-nya, Radd al-Muhtar, menjelaskan, bahwa Tarekat adalah jalan khusus bagi orang-orang yang menuju Allah, dari satu tingkatan ke tingkatan maqam yang lebih tinggi lainnya.

Hakikat adalah menyaksikan ketuhanan dengan hati, yaitu rahasia maknawi yang tidak ada batas dan arahnya. Hakikat, tarekat dan syari’at saling berkaitan. Sebab jalan menuju Allah itu ada zahir dan batinnya. Zahirnya adalah syariat dan tarekat. Sedangkan batinnya adalah hakikat.

Maka tersembunyinya hakikat dalam syariat dan tarekat ibarat seperti keju dalam susu. Keju tidak diambil dari susu kecuali dengan memeras sari patinya. Adapun maksud dari ketiganya (syariat, tarekat dan hakikat) adalah melaksanakan penghambaan sesuai dengan yang diinginkan dari seorang hamba.

Syaikh Sayyidi Abdullah Al-Yafi’i berkata, hakikat adalah menyaksikan rahasia ketuhanan. Ia mempunyai jalan (tarekat), yaitu dengan melaksanakan syariat. Barangsiapa menempuh tarekat, maka ia akan sampai ke tingkat hakikat. Hakikat merupakan akhir dari pelaksanaan syari’at. Dan akhir dari sesuatu tidak akan bertentangan dengannya. Jadi, hakikat tidak bertentangan pelaksanaan syari’at.”
(Kitab Haqa’id at-Tashawwuf, Dar At-Taqwa, Damaskus hal 385)

Dengan demikian keterkaitan antara syariat, tarekat dan hakikat yang masing-masing tidak dapat dipisahkan. Dalam fungsi dari elemen tersebut masing-masing mempunyai fungsi tersendiri yang masing-masing saling berinteraksi antara satu dengan yang lain.

Sayyidi Ahmad bin Muhammad Al-Ajibah Al-Hasani Asy-Syadzili menjelaskan.

الشريعة لاصلاح الظواهر والطريقة لإصلاح الضمائر والحقيقة لإصلاح السرائر

وإصلاح الجوارح بثلاثة أمور: بالتوبة، والتقوى والاستقامة

وإصلاح القلوب بثلاتة أمور: بالاخلاص، والصدق، والطمأنينة

وإصلاح السرائر بثلاثة أمور: بالمراقبة، والمشاهدة والمعرفة

أو تقول: إصلاح الظواهر باجتناب النواهي وامتثال الأوامر وإصلاح الضمائر بالتخلية من الرذائل والتحلية بأنواع الفضائل وإصلاح السرائر وهي هنا الأرواح بذلها وانكسارها حتى تتعذب وترتاض بالادب والتواضع وحسن الخلق

“Syari’at itu untuk memperbaiki amal zahir, tarekat untuk memperbaiki amal hati, Sedangkan hakikat untuk memperbaiki amal sirri (ruh). Memperbaiki amal fisik diperlukan tiga hal yaitu taubat, takwa dan istiqamah. Untuk memperbaiki amal hati juga diperlukan tiga hal yaitu ikhlas, jujur dan ketenangan. Sedangkan untuk memperbaiki amal sirri (ruh) juga diperlukan tiga hal yaitu muraqabah, musyahadah, dan makrifat.

Cara (metode) memperbagus amalan zahir ini bisa dilakukan dengan menjauhi segala larangan Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya.

Adapun cara memperbaiki hati yaitu dengan mengosongkan diri dari sifat yang jelek serta menghiasi diri dengan akhlak yang mulia.

Sedangkan cara memperbaiki sirri (ruh) bisa dengan merendahkan nafsu dan memecahkannya, sehingga ia menjadi terlatih dan tunduk. Adapun penyebab terlatih dan menjadi tunduk adalah dengan adab, tawadhu’ dan bagusnya akhlak.”
(Kitab Iqazhul Himam fi Syarh Al-Hikam Juz I, Dar Al-Kotob Al-ilmiyah, Beirut hal 23-24)

Dari uraian di atas, Sistem ad-Din akan menjadi baik, bila ketiga elemen tersebut telah baik. Kalau elemen syari’at kita sudah baik, maka marilah kita persiapkan diri untuk memperbaiki dua elemen yang tersisa (thariqat dan hakikat) melalui bimbingan seorang guru (mursyid/murabbi) yang kita yakini bisa memberikan irsyad  yang telah masyhur dan terbukti secara agamis bahwa ia mampu mendidik nafsu, hati, ruh dan sirr kita menjadi lebih baik.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen Prodi Hukum Tata Negara Islam Jurusan Syariah dan Ekonomi Islam STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh-Kabupaten Aceh Barat)
Editor: Khoirum Millatin

Artikel

Tokoh-Tokoh Tarekat Di Aceh Dan Biografinya

Published

on

Dari banyak ulama di Aceh, ternyata ada empat ulama besar yang sangat berpengaruh. Riwayat empat ulama ini bersumber dari Buku ‘Paham Wujudiah’ karya Abuya Syekh Prof. Dr. Tgk H. Muhibbuddin Muhammad Waly yang dirangkum dalam ‘Sejarah Aceh’. Berikut nama dan kisah singkat empat ulama masyhur tersebut:

1. Syekh Hamzah Fansuri

Syekh Hamzah Fansuri adalah tokoh sufi terkenal di Aceh. Ia lahir di Fansur Singkil, Aceh. Ia hidup pada zaman pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV (1589 -1604 atau 997-1011 Hijriyah) hingga awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ia merantau untuk menuntut ilmu hingga ke Jawa, Semenanjung Tanah Melayu, India, Parsi dan Semenanjung Arab. Ia ahli dalam ilmu fiqh, tasawuf, falsafah, sastra, mantiq, sejarah dan lain-lain, serta fasih berbahasa Arab, Urdu, Parsi di samping bahasa Melayu dan Jawa.

Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani merupakan dua tokoh sufi yang sepaham dan hidup lebih dahulu dari dua ulama terkemuka lainnya yang pernah hidup di Aceh, yakni Abdurrauf Singkil Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniry.

Riwayat hidupnya tidak banyak diketahui. Ia diperkirakan telah menjadi penulis pada masa kesultanan Aceh Sultan Alaiddin Riayatsyah IV. Ia menyebutkan Sultan Alaiddin selaku sultan yang ke-4 dengan Sayyid Mukammil sebagai gelarnya. Syahr Nawi mengisyaratkan, bahwa ia lahir di tanah Aceh. Konon saudara Hamzah Fansuri bernama Ali Fansuri yakni ayah dari Abdurrauf Singkil Fansuri.

Ketika pengembaraannya selesai dari Kudus, Banten, Johor, Siam, India, Persia, Irak, Makkah dan Madinah, untuk mencari ilmu makrifat terhadap Allah Swt, Ia kembali ke Aceh dan mengajarkan ilmunya. Mula-mula ia berdiam di Barus, lalu di Banda Aceh yang kemudian ia mendirikan Dayah (pesantren) di Oboh Simpang Kanan Singkil. Di pesantren itulah (ada yang mengatakan antara Singkil dengan Rundeng) ia dimakamkan tepatnya di sebuah pekuburan di desa tersebut.

2. Syekh Syamsuddin As-Sumatrani

Ia adalah tokoh ulama besar dan pengarang kenamaan di Aceh. Nama lengkapnya ialah Syekh Syamsuddin bin Abdillah As-Sumatrani. Sering juga disebut Syamsuddin Pasee. Dia adalah ulama besar yang hidup di Aceh pada beberapa dasa warsa (sepuluh tahun) terakhir abad ke-16 dan tiga dasa warsa pertama abad ke-17.

Gurunya ialah Hamzah Fansuri dan pernah belajar dengan Pangeran Sunan Bonang di Jawa. Ia menguasai bahasa Melayu-Jawa, Parsi dan Arab. Antara cabang ilmu yang dikuasainya ialah ilmu tasawuf, fiqh, sejarah, mantiq, tauhid, dan lain-lain.

Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayatsyah IV dan Sultan Iskandar Muda, Ia memegang jabatan yang tinggi dalam Kerajaan Kesultanan Aceh. Ia dilantik sebagai penasehat kepada kedua sultan tersebut.

Ia juga pernah diangkat menjadi Qadi Malikul Adil yaitu satu jabatan yang terdiri dalam Kerajaan Aceh (orang yang kedua penting dalam kerajaan). Ia mengetuai Balai Gading (balai khusus yang dianggotai oleh tujuh orang ulama dan delapan orang ulee balang), di samping menjadi Syekh pusat pengajaran Baiturrahman.

Sekalipun mengikut faham aliran tasawuf wahdatul wujud, namun ia berlaku adil dalam menjalankan hukum-hukum yang difatwakannya. Keahliannya diakui oleh semua pihak termasuk Syekh Nuruddin. Ia meninggal dunia pada tahun 1630 M di zaman Sultan Iskandar Muda. Banyak karangan-karangan dan fatwa-fatwa yang ia tinggalkan. Di antaranya Syarah Ruba’i Fansuri (uraian terhadap puisi Hamzah Fansuri), dan lain-lain.

Ia adalah seorang ulama besar fiqh dan tasawuf. Seorang pelaut Belanda bernama Frederick de Houtman (1599 M/1008 H) yang ditawan di Banda Aceh, menyebutkan dalam bukunya tentang Syamsuddin Sumatrani adalah seorang syekh dan juga penasehat agung raja.

3. Syekh Nuruddin Ar-Raniry

Nama lengkapnya ialah Nuruddin Muhammad bin Ali bin Hasani bin Muhammad Hamid ar-Raniry al-Quraisyi asy-Syafi’ie. Ia wafat pada 22 Zulhijjah 1069 H/21 September 1658 M di kota kelahirannya di Kota Pelabuhan Ranir (Rander) Gujarat India. Sayang, tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti.

Ia seorang ulama besar, penulis, ahli fikir di India yang merantau dan menetap di Aceh. Ia lahir sekitar pertengahan ke dua abad ke-16. Pendidikan awalnya dalam masalah keagamaan ia peroleh di tempat kelahirannya sendiri.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Tarim, Yaman. Tarim adalah pusat studi ilmu agama pada masa itu. Setelah menunaikan ibadah haji dan ziarah ke makam Nabi saw. pada 1621 M (1030 H), ia kembali ke India.

Setelah kembali ke India dan mengajar, di samping sebagai Syekh Thariqah Rifa’iyyah ia merantau ke Nusantara dan memilih Aceh sebagai tempat menetap. Ia datang ke Aceh karena mengetahui Aceh menjadi pusat perdagangan, kebudayaan dan politik serta pusat studi agama Islam di kawasan Asia Tenggara menggantikan Malaka yang jatuh ke tangan Portugis.

Berkat kesungguhannya ia berhasil menjadi ulama besar yang berpengatahuan luas dan tercatat sebagai Syekh Thariqat Rifa’iyyah dan bermazhab Syafi’i. Hubungan baik Syekh Nuruddin dengan Sultan Iskandar Tsani di Aceh memberi peluang kepadanya untuk mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Ia pernah menentang Paham Wujudiyah yang berkembang di Aceh pada masa itu. Untuk menyanggah Paham Wujudiyah yang dinilainya sesat itu ia sengaja menulis beberapa kitab.

Al Quraisyi pada laqab namanya menunjukkan bahwa ia berasal dari kabilah terhormat yaitu Quraisy. Ia berthariqah Rifa’iyyah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Abdurrauf Al-Fansuri. Sebab, semuanya sama-sama pengikut thariqah suffiyah dan bermazhab Imam Syafi’i.

4. Syekh Abdurrauf As-Singkili

Ia adalah salah satu dari empat ulama terkemuka yang pernah lahir di Aceh pada abad ke-17. Sedangkan tiga ulama lainnya adalah Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Syamsuddin Sumatrani dan Syekh Nuruddin Ar-Raniry. Para ahli sejarah memperkirakan bahwa ia lahir sekitar 1615 M (1035 H) di Singkil yang terletak di ujung paling selatan pantai barat Aceh, sekampung dengan Syekh Hamzah Fansuri dan juga putera dari saudara Syekh Hamzah Fansuri sendiri.

Ia tumbuh dan berkembang sebagai calon ulama di Aceh pada masa negeri itu sedang berada dalam puncak kejayaan di bawah pimpinan sultannya yang terbesar, Sultan Iskandar Muda. Untuk memperdalam pengetahuan agamanya, ia berangkat ke Saudi Arabia sekitar tahun 1643 M (1064 H) pada saat negeri Aceh dipimpin oleh Sultanah Safiatuddin yang berada dalam kekacauan politik dan pertentangan paham keagamaan.

Syekh Abdurrauf tidak segera langsung menuju Mekkah, tapi terlebih dahulu bermukim pada banyak tempat yang menjadi pusat-pusat pendidikan agama di sepanjang jalur perjalanan haji. Setelah Ia sampai di Mekkah dan Madinah Ia melengkapi ilmu lahir (ilmu Al-Qur’an, tafsir, hadits, fiqh) yang telah dimilikinya dan dilengkapi pula dengan ilmu, yakni tasawuf dan thariqat.

Setelah belajar di Madinah pada Syekh Thariqah Syatthariyah Ahmad Al Qusyasyi (wafat 1661 M/ 1082 H) dan kemudian pada khalifah atau penggantinya Ibrahim al-Qur’ani, ia memperoleh ijazah dari pimpinan thariqah tersebut. Banyak guru-guru besar yang memberikan ijazah ilmu pengetahuan kepadanya selama 19 tahun menuntut ilmu. Ketika pulang ke Aceh, Syekh Abdurrauf menjadi ulama besar yang memiliki ilmu yang luas. Menurut perkiraan para ahli sekitar tahun 1662 M (1083 H), peranannya sebagai pengajar Thariqah Syatthariah telah dimulainya di Madinah, menjelang pulang ke Aceh.

Penulis: Budi Handoyo (Dosen STAIN Teungku Diruendeng Meulaboh)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Artikel

Karomah Sampai Wafatnya Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 3)

Published

on

Ilustrasi

Nasehat, Akhlak dan Karomah Syaikh an-Naqsyabandî

Di antara akhlak Syaikh an-Naqsyabandî adalah apabila menjenguk salah seorang temannya, pasti akan menanyakan kabar keluarga dan anak-anaknya serta menghiburnya dengan hiburan yang sepantasnya. Bukan hanya itu saja, Syaikh an-Naqsyabandî juga menanyakan apa yang berhubungan dengannya sampai bertanya tentang ayam-ayam peliharaannya. Ditampakkan rasa belas-kasihan kepada semuanya seraya berkata, “Abu Yazid al-Busthâmî sekembalinya dari laut berdzikir, melakukan hal seperti ini.”

Meski sangat sempurna dalam kezuhudannya, Syaikh an-Naqsyabandî senantiasa memberi dan mendahulukan orang lain. Bila ada orang memberinya, diterimanya. Lalu membalasnya dengan pemberian yang berlipat ganda. Demikian itu karena Syaikh an-Naqsyabandî mengikuti jejak Rasulullah Shalallu ‘Alaihi Wassalam yang sangat terkenal kedermawanannya. Keberkahan akhlaknya yang mulia ini menular kepada murid-muridnya.

Di antara karamahnya adalah sebagaimana yang telah disampaikan oleh Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar. Suatu ketika Syaikh ‘alâ`uddîn al-Aththar bersama dengan Syaikh an-Naqsyabandî. Ketika itu udara diliputi oleh mendung. Lalu Syaikh an-Naqsyabandî bertanya, “Apa waktu dzuhur sudah masuk?” Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar menjawab, “Belum” Lalu Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Keluarlah dan lihatlah langit.”

Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar keluar dan melihat ke atas langit. Tiba-tiba tersingkaplah hijab alam langit sehingga Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar dapat melihat seluruh malaikat di langit tengah melaksanakan shalat Dzuhur. Lalu Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar masuk dan langsung ditanya oleh Syaikh an-Naqsyabandî, “Bagaimana pendapatmu, bukankah waktu dzuhur tiba?”

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar malu dibuatnya dan membaca istighfar dan sampai beberapa hari masih terbebani dengan kejadian tersebut.

Syaikh ‘Alâ`uddîn al-Aththar berkata, “Ketika Syaikh an-Naqsyabandî akan meninggal, aku dan yang hadir pada saat itu membaca surah Yasîn. Ketika bacaan surah Yasin sampai di tengah-tengah, tiba-tiba tampak seberkas cahaya menyinari seisi ruangan. Maka aku membaca kalimat laa ilaaha illa Allah, lalu Syaikh an-Naqsyabandî wafat.”

Wafatnya Syaikh an-Naqsyabandî

Syaikh an-Naqsyabandî wafat pada malam Senin tanggal 3 Rabi’ul awal tahun 791 Hijriyah. Kemudian dimakamkan di kebun miliknya yang memang sudah ditentukan oleh Syaikh an-Naqsyabandî sendiri. Para pengikutnya mem-bangun kubah di atas makamnya dan di kebunnya dibangun masjid yang luas.

Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Artikel

Nasab Keilmuan dan Keturunan Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 2)

Published

on

Ilustrasi

Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl. Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî.

Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.”

Semakin hari Sayyid ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya. Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.”

Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku. Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.”

“Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî.



Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending