Kok Belajar Agama Jadi Berat? Ini Pentingnya Belajar Agama Secara Tertib

JAKARTA – Dalam acara teleconference Ngaji Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim dan Bahjatul Mahafil bersama Habib Umar bin Hafidz, turut hadir Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, Lc., M.A atau dikenal dengan Tuan Guru Bajang (TGB). Dalam kesempatan tersebut TGB mengungkapkan bahwa gairah umat Islam di Indonesia sedang memuncak untuk belajar agama Islam. Namun ia menyayangkan, semangat belajar agama yang tinggi tidak ditopang dengan perangkat yang membuat belajar agama secara tertib.

“Tertib dalam belajar agama itu penting, dan menurut saya yang menjadi isu yang seharusnya kita pikirkan bersama adalah ketika arus beragama sedang kuat-kuatnya. Semangat dalam beragama sedang naik-naiknya. Orang dari berbagai macam lapisan ingin mengenal agama. Sayangnya, di arus yang kuat ini kita justru tidak menyiapkan perangkat untuk meresponnya dengan tertib,” singgung TGB pada acara yang bekerja sama antara Syuriah PBNU dengan Majelis Muwashalah tersebut.

TGB menyatakan bahwa saat ini, orang yang semangat belajar agama justru belajar kepada orang-orang yang mengajarkan agama dengan tidak tertib. Sehingga hal-hal yang fardhu yang mesti diketahui terlebih dahulu justru dibelakangi dan hal yang bersifat kamaliyat malah didahulukan.

Misalnya, kata TGB, panjang pendek celana itu benar-benar dihitung, mohon maaf itu masalah memanjangkan jenggot itu menjadi masalah panjang sekali. Bahkan sekarang ini sebelum masuk kurban banyak sekali sampai saya ditanya di wa, sampai nangis-nangis. ”Wah saya ini gimana, saya udah niat sekali berkurban, tapi saya sudah potong kuku, tak ada gunanya berkurban.”

Jadi yang disebarkan sekarang itu bukan semangat berkurban dalam esensi yang utuh. Bagaimana dari kesedian kita berbagi, mengayomi orang yang di sekitar kita. Ini malah yang disebarkan “ingatlah siapa yang mau berqurban, mulai 1 Dzulhijah ini tidak boleh motong kuku, motong rambut.”

TGB menilai, dengan menghadirkan seperti itu, seakan akan yang potong rambut, potong kuku seakan akan menjadi tidak sah qurbannya. Padahal beda antara sah dan ada kekurangan atau kesalahan. Dan terlebih hal tersebut masuk dalam mahalul khilaf (ranah yang bisa ada perbedaan pendapat ulama di dalamnya).

“Jadi sekarang seperti itu, hal-hal kecil diperbesar akhirnya membuat orang kebingungan. Kok berislam jadi berat betul ya? Gara-gara urusan potong kuku, malah tidak jadi berkurban atau rusak kurban, kan tidak begitu,” imbuh mantan Gubernur NTB dua periode tersebut.

TGB yang pada saat itu sedang memberikan ta’liqat terhadap kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya pendiri NU, mengatakan bahwa Hadratus Syaikh di dalam karyanya tersebut sudah mengingatkan tentang pentingnya mengikuti manhaj. Dengan mengikuti manhaj, justru beragama menjadi mudah dan tertib.

“Nah ini yang perlu menurut saya kalau kita baca dari apa yang beliau ingatkan, itu artinya mengikuti manhaj. Ada ketertiban dalam belajar agama. Tahu mana yang diprioritaskan dan mana yang dibahas berikutnya,” tandasnya.

Hadratus syaikh, menurut TGB membalik paradigma atau persepsi sebagian orang yang mempersepsikan bahwa bermadzhab itu menyulitkan diri. Justru, dalam kitab risalah, itu membuat kita bisa beragama dengan lebih tertib.

“Dan masalah tertib ini kalau kita dalam Madzhab Syafii’ kan kuat sekali. Selalu ibadah-ibadah itu ya rukun terakhirnya seperti shalat misalnya ya tertib,” ucapnya.

TGB mengingatkan bahwa semangat beragama dikalangan umat saat ini perlu untuk kita tangkap dengan baik. Sehingga Islam perlu dihadirkan di tengah publik dengan kehadiran yang beradab yang baik yang sesuai dengan fitrah yang sesuai dengan akal sehat.

“Dan salah satu ciri ahlusunnah wal jama’ah kata Syaikh Ali Jum’ah mantan Mufti, Mesir, mereka tidak hanya bicara tataran teks, tapi mencoba menyelesaikan problem-problem yang konkrit,” pungkas ulama sekaligus politisi tersebut.

TGB menggambarkan bahwa kebenaran (al haq), seperti satu lingkaran yang ada 4 garis nya saling berpotongan. Satu bagian itu namanya syariat, satu bagian itu akal, satu bagian itu kenyataan, dan satu bagian lagi itu fitrah. (eep)

Komentar
Loading...