Kisah Syaikh Bisyr Al Hafi Bersama Seorang yang Mengingkari Kewalian

0

Dalam Kitab Al Tawwajin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi meriwayatkan dari Abu Abdullah Al Qadhi yang mengatakan:

Kami memiliki kawan yang merupakan seorang pedagang. Aku mendengar ia mencela para sufi. Namun, kemudian aku melihatnya bergaul dengan mereka, bahkan sampai berani menginfakkan semua hartanya kepada mereka.

Aku bertanya kepadanya, “Bukankah engkau membenci para sufi?” Ia menjawab, “Pada suatu hari, aku menunaikan shalat Jum’at. Begitu keluar dari masjid, aku melihat Syaikh Bisyr Al Hafi terburu-buru keluar dari masjid. Dalam hati aku berkata, “Lihatlah pria yang dikenal sebagai pria Zuhud itu! Mengapa ia tidak lebih lama diam di masjid?”

Aku pun memilih meninggalkan keperluanku. Dalam hati aku kembali berkata, “Aku akan memperhatikannya sampai kemana ia pergi?”

Aku pun mengikutinya. Ternyata ia pergi ke tukang roti dan membeli “roti air” (jenis roti paling unggul) dengan uang satu dirham. Selanjutnya ia pergi ke tukang panggang. Dari tukang panggang ia membeli sepotong daging panggang seharga satu dirham. Dari tukang panggang, lalu ia pergi ke tukang kue dan membeli faludzaj, sejenis kue puding dengan uang satu dirham.

Dalam hati aku bertekad, “Demi Allah, aku akan membuntutinya hingga ia berhenti dan makan makanan yang dibelinya.”

Setelah belanja, ia kembali ke padang pasir. Pikirku, “Mungkin ia akan mencari sayur dan air.”

Ternyata ia melanjutkan perjalanannya hingga waktu ashar. Tapi aku tetap mengikutinya di belakang.

Akhirnya, ia masuk ke sebuah kampung yang ada masjidnya. Di masjid tersebut ada orang sakit. Setiba di hadapannya, ia duduk dekat kepalanya dan mulai menyuapinya. Sementara aku berdiri dan memperhatikan kampung tersebut. Beberapa saat aku berada di sana, hingga akhirnya aku bermaksud untuk pulang. Sebelum pulang, aku bertanya kepada orang sakit tersebut, “Kemanakah Syaikh Bisyr?”

Orang sakit menjawab, “Ia pergi ke Baghdad.”
Aku kembali bertanya, “Berapa jarak dari sini ke Baghdad?”
“Empat puluh farsakh (satu farsakh sejauh tiga mil).”
Aku berkata, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Apa yang harus aku lakukan terhadap diriku? Tidak memiliki biaya untuk menyewa kendaraan. Sementara aku tidak mampu untuk berjalan.”

Orang sakit menyarankan, “tinggallah di sini, hingga pria itu kembali.”

Akhirnya aku menetap di kampung tersebut hingga Jum’at berikutnya. Singkat cerita, Syaikh Bisyr datang dan kembali membawa makanan untuk orang sakit tersebut. Setelah menyantap makanan yang dibawa Syaikh Bisyr, orang sakit itu berkata kepadanya, “Wahai Abu Nashr (nama panggilan Bisyr, ini pria yang menemanimu dari Baghdad. Ia sudah tinggal bersamaku sejak Jum’at lalu. Kembalikanlah ia ke Baghdad.”

Bisyr pun melihat ke arahku seperti orang yang sedang marah. Tak lama, ia bertanya, “Mengapa engkau mengikutiku?”

Aku menjawab, “Aku bersalah.”

Ia kembali berkata kepadaku, “Berangkatlah bersamaku!”
Aku pun kembali ke Baghdad bersama Syaikh Bisyr. Aku berjalan kaki hingga menjelang Maghrib. Begitu sudah dekat Baghdad, pria itu bertanya, “Dimanakah tempatmu?”

“Di tempat ini”

“Pergilah dan jangan ulangi lagi seperti ini!” pinta Syaikh Bisyr. Sejak itu, aku bertobat kepada Allah. Sejak itu pula aku bersahabat dengan para sufi.

(Dikutip dari Maariful Auliya karya Muhammad Khalid Tsabit)

Comments
Loading...