Connect with us

Hikmah

Kisah Perpisahan Dua Mistikus Islam Yang Menyedihkan (1)

Published

on

Meskipun sumber mengenai pertemuan pertama Jalaluddin Rumi dan Syams at-Tabriz di Syiria tidak banyak ditemukan, namun banyak sumber-sumber lain yang bercerita mengenai mereka, termasuk perpisahan keduanya.

Syams at-Tabriz oleh masyarakat Konya pada waktu itu dikenal sebagai pribadi yang kuat dengan perilaku aneh. Lelaki ini kerap membuat orang-orang terkejut dengan teguran-teguran dan kata-katanya yang kasar. Ia juga mengatakan bahwa ia telah mencapai tahap keberadaan ‘yang terkasih’ bukan lagi tahap sang kekasih.

Namun siapa sangka, sosok ini mampu memengaruhi mistiskus besar Islam, Jalaluddin Rumi yang kemudian sangat menentukan kehidupannya kelak.

Mereka bertemu sekitar akhir bulan Oktober tahun 1244 di Konya. Namun rupanya pertemuan mereka tidak disukai oleh pengikut-pengikut Jalaluddin Rumi karena menyebabkan ia menelantarkan keluarga dan muridnya selama berbulan-bulan.

Karena tidak menyukai pertemuan tersebut, masyarakat sekitar menuntut Syams at-Tabriz untuk meninggalkan kota. Ia akhirnya pergi dan meninggalkan luka dalam yang dirasakan oleh Jalaluddin Rumi.

Karena melihat kesedihan yang mendalam di wajah Jalaluddin Rumi, Putra pertamanya, Sultan Walad kemudian membawanya kembali dari Syiria.

Setelah lama berpisah, akhirnya mereka berjumpa kembali. Keduanya saling berpelukan dan berlutut di hadapan masing-masing temannya itu. Keakraban hubungan mereka tumbuh sekali lagi dan menjadi begitu meluap-luap sehingga menimbulkan kecemburuan bagi beberapa murid Rumi.

Selanjutnya para murid, yang dibantu oleh putranya itu memutuskan untuk mengirimkan Syams at-Tabriz ke tempat yang tidak ada jalan kembali.

Suatu malam mereka memanggilnya keluar dari rumah Jalaludin Rumi yang terletak berhadapan dengan rumah putranya. Setelah Syams at-Tabriz keluar, mereka menusuknya dan membuangnya ke sumur dekat tempat itu.

Melihat sahabatnya menghilang, Sultan Walad mencoba menenangkan kecemasan ayahnya dengan mengatakan kepadanya bahwa setiap orang mencari Syams at-Tabriz. Sementara ayahnya tidur, ia cepat-cepat menguburkan badan Syams at-Tabriz yang diambilnya dari dalam sumur. Kemudian ia menutupi kuburan itu dengan semen yang dipersiapkan dengan tergesa-gesa.

Dalam pengalaman kasih yang membakar habis jiwanya ini membentuk Jalaluddin Rumi menjadi penyair. Ia yang mencari Syams at-Tabriz dengan sia-sia di segala penjuru negeri akhirnya menemukan bahwa ternyata ia dipersatukan dengan sahabatnya itu dan menemukan dalam dirinya sendiri bercahaya laksana rembulan.

Sejak lirik yang dilahirkan dari pengalamannya ini ditulis, Jalaluddin Rumi lebih memilih nama sahabatnya dari pada namanya sendiri pada akhir sebagian besar sajak-sajaknya. Di mana ia menyanyikan kasihnya, kerinduannya, kebahagiaannya dan keputusasaannya dalam baris-baris sajak yang tidak pernah tertandingi kesungguhannya. Pengalaman inilah yang ia berikan dalam bait-bait terkenal dalam karyanya Al-Masnawi.

Continue Reading

Hikmah

Kisah Perpisahan Dua Mistikus Islam Yang Menyedihkan (2)

Published

on

Kisah penangkapan dan eksekusi atas Abu Mansur al-Hallaj sangat menyentuh. Suatu hari, ia berkata kepada sahabatnya, Asy-Syibli, bahwa ia sibuk dengan tugas amat penting yang bakal mengantarkan dirinya pada kematiannya.

Pada akhir tahun 902 Masehi, Al-Hallaj ditangkap ketika sedang mengadakan perjalanan di Thus. Tiga hari lamanya ia dipamerkan kepada khalayak ramai kemudian dipenjarakan.

Pada tahun 909 Masehi, Menteri Hamid berusaha sekuat tenaga untuk menyeretnya ke hukuman mati. Sehingga mereka harus menemukan bukti-bukti yang dapat membuat Al-Hallaj dijatuhi hukuman mati.

Dalam penggeledahan di rumah-rumah pengikutnya, polisi menemukan bagian-bagian surat yang ditulis dengan huruf-huruf yang tidak jelas yang mungkin merupakan kaligrafi nama Ali dan beberapa nama Allah. Namun beberapa tahun kemudian sang menteri berhasil memaksa hakim tertinggi Irak untuk menandatangani hukuman mati. Dan pada tanggal 26 Maret 922 ia pun dihukum mati.

Sebelum kematiannya, ia selalu menari-nari meski terbelenggu dalam perjalanan menuju tempat pelaksanaan eksekusi sambil membaca syair tentang kemabukan mistik.

Pada saat itu sahabatnya Asy-Syibli selalu menyertainya.  Kemudian Al-Hallaj meminta kepada sahabatnya itu untuk meminjaminya sajadah dan berdoalah ia. Kemudian Asy-Syibli bertanya, “Apa itu tasawuf?”

Al-Hallaj menjawab bahwa apa yang disaksikan Asy-Syibli saat itu adalah tingkatan tasawuf paling rendah. “Adakah yang lebih tinggi dari ini?” tanya Asy-Syibli.

“Kurasa, engkau tidak akan mengetahuinya!” jawab Al-Hallaj.

Lalu ketika Al-Hallaj diikat di tiang gantungan dan orang-orang mulai melemparinya dengan batu, Asy-Syibli justru melemparinya dengan sekuntum mawar dan karena mawar itulah Al-Hallaj mengeluh kesakitan.

Ketika ditanya mengapa seperti itu, dia menjawab bahwa mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, tetapi ia tentunya tahu dengan ungkapan mawar yang dilemparkan oleh sahabat terasa lebih menyakitkan daripada batu manapun.

Menjelang napas terakhirnya, kata-kata terakhir yang diucapkan Al-Hallaj adalah “Hasbul Wajid Ifradul Wahid Lahu”, Cukuplah bagi si pecinta untuk menjadikan Yang Esa Tunggal, yakni bahwa keberadaannya harus disingkirkan dari jalan cinta. Itulah tauhid sejati sepenuhnya batiniah dan dibayar dengan darah si pecinta. Anggota badan Al-Hallaj dipotong-potong dan ia diikat di tiang salib atau mungkin tiang gantungan kemudian dipenggal lehernya, tubuhnya dibakar dan abunya disebar di sungai Tigris.

Continue Reading

Hikmah

Cerita Habib Muhdhor Assegaf, Menikmati Nasi Barakah Manaqib bersama Habib Luthfi

Published

on

Rangkaian Acara Maulid Nabi saw di Kanzuz Sholawat, sejak hari Jum’at 28 Oktober hingga puncaknya hari Minggu siang, 30 Oktober 2022 memberikan kenangan yang indah bagi kami yang terlibat sebagai pengurus acara. Namun, Di antara kenangan-kenangan tersebut, kisah inilah yang paling berkesan bagi kami.

Dimulai dengan acara pertemuan para mursyid, badal, muqadam se-Indonesia di Wonopringgo pada malam Sabtu, lalu silaturahim Ulama Thariqah Se-Indonesia bersama umara, TNI dan POLRI di gedung A.H. Duned yang dilaksanakan pada hari Sabtu pagi hingga siang hari, dan disusul sore harinya jelang maghrib dengan acara pembacaan Dalailul khairat, pembukaan khatmil Qur’an dan kitab Bukhari di Makam Habib Hasyim bin Yahya Sapuro bersama para huffadz dan santri dekat Maulana Habib Luthfi bin Yahya, lalu malam harinya membaca manaqib para auliya, seperti Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Syekh Abul Hasan Ali as-Syadzili,  Syekh Ahmad al-Badawi, Syekh Ahmad ar-Rifai, Sayyidah Nafisah dan lainnya radhiyallahu ‘anhun ajma’in di Kanzuz Sholawat bersama para habaib, ulama dan kiai. Dan alhamdulillah seluruhnya berjalan dengan lancar penuh khidmah.

Semoga kita mendapatkan asrar, barakah, madad dan nafhah dari para shalihin khususnya nadhroh dari guru kita Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Satu hal yang sangat menarik dan paling berkesan bagi kami, saat kami singgah di rumah Habib Husein putra Maulana Habib Luthfi bin Yahya, usai mengikuti acara pembacaan manakib di Kanzuz Sholawat, kami diberi kenikmatan dapat makan malam Nasi Barakah Manaqib bersama beliau guru besar kami Maulana Habib Luthfi bin Yahya  dalam satu nampan, seperti yang terlihat dalam foto yang kami lampirkan.

Kami terkejut saat beliau minta hidangan makan malam kepada santri abdi dalemnya yang mengurus bagian tersebut, lalu mereka segera membawakannya dengan hidangan yang khusus dengan tempat yang khusus pula. Namun ternyata beliau tidak mau makan, lalu menyuruh para habaib dan orang yang berada di depannya untuk meikmatinya, maka mereka menikmatinya bersama-sama.

Tak lama kemudian beliau minta kembali kepada mereka nasi nampan manaqib, yang disuguhkan untuk umum, yang tentunya dengan menu yang sangat sederhana, berisikan lauk khas Kota Pekalongan yaitu megono, tempe dan daging, tapi tentunya penuh barakah dan khasiat.

Setelah agak lama didapatkan, karena tempatnya agak jauh, lalu tak lama kemudian datang dengan satu nampan berisikan nasi manaqib dan segera disuguhkan kepada beliau.

Kemudian beliau segera menyantapnya dengan penuh gembira dan kami yang kebetulan saat itu berada disampingnya mendapatkan anugerah untuk menemani beliau menikmati nasi barakah manaqib tersebut.

Penulis: Habib Muhdhor Assegaf (Pengurus Idarah Aliyah JATMAN)
Editor: Khoirum Millatin

Continue Reading

Hikmah

Menghidupkan Manusia Dari Kubur

Published

on

Pada suatu hari Syekh Abdul Qadir sedang berjalan-jalan di sekitar kota Baghdad. Saat berjalan-jalan itu, di sudut tempat, ia melihat dua orang Islam dan Nasrani yang sedang berdebat. Perdebatan kedua orang ini seputar tentang lebih mulia mana antara Nabi Muhammad saw. dengan Nabi Isa as.

Laki-laki yang beragama Islam jelas mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. lebih mulia dari Nabi Isa as. Sebaliknya laki-laki Nasrani meyakini bahwa Nabi Isa as. lebih mulia dari Nabi Muhammad saw.

Karena perdebatan tersebut sedemikian sengitnya, maka Syekh Abdul Qadir pun menghampiri keduanya. Syekh Abdul Qadir bertanya kepada keduanya, ada apa sesungguhnya di antara mereka. Mereka kemudian melontarkan pendapat masing-masing.

Setelah mendengarkan keduanya, Syekh Abdul Qadir lalu bertanya kepada laki-laki Nasrani, “Apa alasanmu sehingga kau yakin Nabi Isa as. lebih mulia dari Nabi Muhammad saw?” Laki-laki Nasrani itu menjawab, “Karena Nabi Isa as dapat menghidupkan orang mati.“

Mendengar jawaban itu, Syekh Abdul Qadir langsung menjawab, “Aku bukan seorang nabi, melainkan hanya pengikut Nabi Muhammad saw. Jika aku mampu menghidupkan orang mati, apakah engkau akan beriman kepada Nabi Muhammad saw?”

“Baik, aku akan beriman.“ Jawab laki-laki Nasrani.

Maka saat itu juga laki-laki Nasrani menunjukkan kepada Syekh Abdul Qadir sebuah makam tua. Di hadapan makam tua, Syekh Abdul Qadir masih bertanya kepada laki-laki Nasrani itu, “Apa yang dikatakan oleh Nabi Isa as. ketika menghidupkan orang mati?”

“Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa as. berkata: Hiduplah dengan izin Allah.“ Kata laki-laki Nasrani tersebut.

“Sesungguhnya mayat yang ada di dalam makam ini waktu masih hidup, dia termasuk orang yang kaya. Jika engkau meminta saya untuk menghidupkan mayat ini dalam kondisi kaya, maka saya juga sanggup.” Kata Syekh Abdul Qadir.

“baik.“ Kata laki-laki Nasrani.

Setelah itu, Syekh Abdul Qadir langsung menghadapkan dirinya ke makam tua itu dan berkata, “Hiduplah kau mayit atas izinku.”

Seketika itu juga, mayat yang ada dalam kubur langsung bangkit, berdiri dan hidup dalam kondisi kaya raya. Saat menyaksikan karamah dan keajaiban itu, laki –laki Nasrani tersebut langsung memeluk Islam lewat Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending