Portal Berita & Informasi JATMAN

Kiai Marogan, Ulama Kharismatik Asal Palembang

0 25

Di Kota Palembang terdapat masjid dan makam Kiai Marogan yang menjadi destinasi wisata ziarah yang hampir setiap hari selalu ramai diziarahi. Masjid Kiai Muara Ogan yang didirikan pada tahun 1870 merupakan peninggalan ulama besar Palembang yaitu KH. Masagus Abdul Hamid bin KH. Mgs. Abdul Mahmud atau lebih dikenal dengan julukan Kiai Marogan.

Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang. Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, ia lahir sekitar tahun 1811 dan ada pula tahun 1802 sementara wafatnya dalam usia 89 tahun, maka yang diduga kuat adalah ia lahir tahun 1802 dan meninggal dunia pada 17 Rajab 1319 H yang bertepatan dengan 31 Oktober 1901.

Dalam buku karya Martin Van Bruinessen, “Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat”, Kiai Marogan dikategorikan sebagai salah seorang guru tarekat Sammaniyah. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, tarekat Sammaniyah telah menyebar secara luas. Ajaran tarekat ini dibawa oleh Syaikh Abdul ash-Shomad al-Palimbani yang merupakan murid pendiri tarekat Sammaniyah, yaitu Syaikh Muhammad Abdul Karim Samman.

Di antara ajaran atau wiridan Kiai Marogan yang masih dipakai hingga sekarang adalah dzikir “Laa ilaaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin Muhammadur Rasulullah Shadiqul Wa’dil Amin”. Dahulu, zikir ini menjadi pertanda bagi penduduk setempat bahwa Kiai Marogan melewati daerahnya. Beliau beserta para muridnya sambil mengayuh perahu mengucapkan zikir tersebut berulang-ulang dengan suara keras di sepanjang perjalanan sungai ketika berdakwah ke pedalaman Sumatera Selatan. Amalan zikir ini hingga sekarang masih dibaca oleh masyarakat Palembang, khususnya bagi ibu-ibu sambil menggendong bayinya dengan irama yang khas dan berulang-ulang. Zikir ini juga dipakai penduduk untuk mengantarkan mayit (jenazah) sambil mengusung keranda sampai ke pemakaman.

Setiap tahun pengurus makam dan zuriah (keluarga) Kiai Marogan menyelenggarakan haul kiai kharismatik ini, diantaranya untuk mengenang perjuangan dakwah beliau dalam menyebarkan agama Islam di Palembang dan sekitarnya. Haul sengaja mengangkat beliau agar masyarakat kota Palembang dan sekitarnya memiliki idola figur keturunan Palembang untuk dijadikan panutan.

Dalam pelaksanaan haul akbar yang ke-117 atau pada 13-15 April 2018 lalu, panitia menggunakan konsep yang kental dengan nuansa Palembang Darussalam. Mulai dari rangkaian acara, dekorasi panggung, acara arak-arakan hingga pakaian dan aksesoris panitia serta tamu undangan semuanya melambangkan ciri khas warga Palembang. Bahkan seluruh panitia penyelenggara melibatkan warga asli Palembang, serta dipadati oleh Ulama, pejabat pemerintah serta warga keturunan Palembang yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam acara haul digelar doa dan zikir bersama, “Festival Mujawadah Syarofal Anam”, silaturahmi antar thariqah se-Sumsel, serta napak tilas dakwah Kiai Marogan dan ziarah akbar ke makam Kiai Marogan dengan menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam menggunakan transportasi sungai dengan kapal tongkang dari masjid Lawang Kidung ke Masjid Kiai Marogan.

Dalam berdakwah Kiai Marogan menitikberatkan pada sikap zuhud dan senang membantu sesama. Hal ini dikarenakan pengaruh dari ajaran thariqah yang ia amalkan, diantaranya yaitu Thariqah Qadiriyah yang ia ketahui sejak kecil dari ayahnya Syaikh KH. Mgs. Abdul Mahmud. Ayahnya sendiri merupakan Guru Mursyid Thariqah Al-Qadiriyah.

Selain seorang yang ahli zikir beliau juga di masa hidupnya dikenal sebagai ahli wakaf. Beliau wakafkan kedua masjidnya dicatat Akta Ikrar Wakaf di hadapan Rad Penghulu Agama (red—KUA). Wakafnya dituangkan dalam “Surat Nazar Munjaz Wakaf Lillahi Ta’ala bernomor 14”. (Eep)

Comments
Loading...