Kiai Hamdan Ajak Khatib Sadar Tantangan Di Era Global

0

Jakarta – Di dalam acara bertajuk Halaqah Nasional Dewan Masjid Indonesia, DR. KH. Hamdan Rasyid, MA menjadi narasumber untuk memaparkan “Tantangan Khatib di Era Global” pada Sabtu (22/12) di Hotel Mercure, Jakarta Selatan.

Kiai Hamdan menyampaikan bahwa, “Dewasa ini kita hidup di era globalisasi, era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka setiap khatib harus sadar akan tantangan yang dihadapi,” ungkap Rais Idarah Wustha JATMAN DKI.

Menurut Kiai Hamdan panggilan akrabnya, saat ini penggunaan daya nalar begitu semarak, namun peranan qalbu kurang diperhatikan.

Lanjutnya, “Kita perlu menyadari serangan terhadap umat Islam, terutama serangan yang paling dahsyat melalui pemikiran, karena ini begitu halus,” lugas Pimpinan Ponpes Baitul Hikmah, Depok.

Beliau kembali menjelaskan, “Ada fase untuk ib’adul muslimin ‘an dinihim (menjauhkan umat Islam dari agamanya) diantaranya melalui media, entertainment dan beasiswa pendidikan yang pro liberalisme.

Pertama, At tasykik fi arail ulama (menumbuhkan keragu-raguan terhadap pendapat ulama), mislanya dengan mengatakan bahwa Imam Ghazali dan Imam Syafi’i ialah tokoh yang hebat sesuai dengan masanya, sehingga pendapatnya kini dianggap sudah tidak relevan lagi.

Kedua, At tasykik fil hadis (menimbulkan keraguan di dalam mengamalkan hadis), misalnya ada yang berusaha menganulir (mengharamkan) khitan pada wanita, karena dianggapnya hadisnya dhaif. Padahal menurut Kiyai Hamdan, dalam Islam hukum ditetapkan oleh imam mazahibul arba’ah.

Ketiga, At tasykik fil Qur’an, menumbuhkan keragu-raguan terhadap Al Qur’an.

Tantangan juga lahir dari kaum tekstualis – fundamentalis, yang melahirkan ideologi Takfiri – Jihadis. Mereka menerapkan ayat perang dalam kondisi damai dengan mengusung gerakan mengkafirkan (harakah takfiriyah). Selain itu, tantangan juga hadir dari kaum yang membela ideologi khilafah dengan men-thagut-kan Pemerintah.

Tambahnya, pemahaman masyarakat sudah terkontaminasi oleh paham liberalisme, misalnya poligami diharamkan dan mulai permisif terhadap LGBT (Lesbi, Guy, Bisex, Trans Gender). “Maka tugas khatib meluruskan kembali pemahaman yang salah,” tegas Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.

“Ikatan Khatib dibentuk agar bisa mengembangkan Islam berpaham ahlussunah waljamaah. Dan bagaimana kita menyadarkan kembali paham washatiyah agar tidak menimbulkan konflik antar sesama,” ungkap Ketua Ikatan Khatib Dewan Masjid Indonesia.

Dalam sesi tanya jawab, beliau menyanggah pendapat salah seorang peserta yang mengungkapkan bahwa kajian tasawuf mulai ditinggalkan. Beliau meluruskan pendapat tersebut, pasalnya, banyak halaqah majelis zikir dan kajian tazkiyah nafsu digandrungi masyarakat, “Artinya ada kekosongan spiritual di tengah masyarakat dan ini menjadi tantangan kita,” imbuh beliau.

Menutup paparannya, beliau berharap para khatib meningkatkan kualitas dan mengupgrade kemampuan, sebab kini masyarakat begtu cepat maju. “Jangan sampai khatib stagnan sementara dunia begitu cepat berubah,” tutupnya. (eep)

Comments
Loading...